
Hallo Ganks.... Selamat Membaca...
Elang masih berada di tempat tadi menunggu ditemani dengan derasnya air hujan, sejak Putri meninggalkan dirinya di sana. Pikirannya melayang pada keluarganya, kedua orang tuanya dan juga orang tua Putri. Berpikir bagaimana perasaan mereka kalau tahu bahwa pertunagan mereka dibatalkan. Nama baik keluarga, hubungan persahabatan orang tua mereka dan masih banyak lagi, cukup membuat kepala Elang rasanya mau meledak.
Otaknya masih berpikir mencari jalan keluar tapi masih tetap buntu. Sudah tiga batang rokok ia habiskan, mengambil satu batang lagi dari bungkusnya dan menyalakannya, menghisapnya lalu mengepulkan asapnya ke udara.
Jalan yang ditempuhnya pasti menuai pro dan kontra..Disisi lain ia hanya kasihan pada Gadis hanya kasihan, berusaha membuat Gadis sembuh dan berjuang dari penyakitnya, disisi lain hatinya yang ia korbankan. Mengutamakan antara priorotas dan memgorbankan perasaan.
Setelah hujan reda ia mampir sebentar ke Rumah Sakit menemui Gadis, memberikannya alasan untuk mengerjakan beberapa pekerjaan yang dibawanya pulang.
Sampai di apartemen Elang mendapati Putri selesai mandi.
Kata orang tua "kalau habis hujan-hujannan harus segera mandi biar tidak sakit."
Elang berinisiatif untuk mengambil handuk kecil dan membantu Putri mengeringkan rambutnya, hal itu biasa ia lakukan tak kala Putri selesai keramas.
" Gak usah.. Biar gue aja.." Putri mencegah Elang untuk melakukan hal yang biasa mereka lakukan, hal itu dilakukan karena Putri telah membangun tembok pembatas antara dirinya dan Elang.
Putri masih ingat kejadian tadi sore saat Elang menyelesaikan hubungan mereka berdua.
Setelah apa yang mereka lakukan selama ini, semuanya Putri kasih bahkan kesuciannya. Tapi kini semudah membalikan telapak tangan Elang membuang Putri begitu saja.. Perumpaan memang tak pernah salah..
Habis manis sepah dibuang..
Menyedihkan..
Pandangan Elang tertuju pada dua koper besar yang ada di dekat pintu kamar.
" Itu koper mau di apain ko ada di luar, jangan bilang Lo mau pergi.."
" Iya.. Gue mau pindah dari sini.."
Elang cukup terkejut..
" Kenapa pindah.. Lo bisa tinggal disini semau Lo.. Gue gak nyuruh Lo pindah.."
" Gak lah.. Gak enak.. Masa hubungan kita sudah selesai gue masih tetep tinggal di sini. Apa kata orang nanti."
"Sejak kapan gue peduli kata orang.. Apa bedanya dengan dulu saat masih tunangan. Belum nikah udah tinggal bareng.."
"Sini.. Duduk.." Menyuruh Putri untuk duduk di tepi ranjang.
"Put.. Lo gak mikir perasaan kedua orang tua kita gimana kalo mereka sampe tau kita udahan?."
" Gimana perasaan papa Lo.. Lo gak takut papa Lo sakit.. Hah?."
__ADS_1
Putri menghela nafas panjang.. Pandangannya beralih ke depan tembok putih kamar itu.
Tembok putih mengisyaratkan pikirannya sekarang.. Kosong.. Tak tahu harus menyusun kata-kata seperti apa.
Kedua pelupuk matanya meneteskan air mata yang bening.. Elang berhasil melihat air mata Putri turun. Padahal ia sudah berusaha sekuat tenaga menyembunyikan air mata di balik air hujan saat hubungan mereka SELESAI.
Ia tetap akan selalu menjadi pion bagi Elang, menutupi semua permainan sandiwaranya. Hati Putri entah terbuat dari apa, terlalu baik atau terlalu bodoh.. Beda tipis.
Ia memang tidak bisa setega itu terutama menyangkut papanya. Ia akan menyetujui setiap apa yang Elang inginkan.. Tanpa ada penolakan.
"Lo tetep tinggal di sini.. Seperti biasa. Gue mohon ma Lo.. Entah sampai kapan.. Terserah Lo mau caci maki gue apapun gue terima. Gue emang brengsek Put.. "Genggaman tangan Elang terasa semakin kuat, apa itu suatu isyarat kalau hatinya juga tak ingin melepaskan.
" Gue mau keluarga kita jangan sampai tau hubungan kita seperti ini.."
"Lo emang brengsek Lang.. Hati gue udah Lo sakitin tapi gue masih aja mau terima perlakuan Lo.. Gue masih tetap aja sayang ma Lo.."
Tanpa di sangka Putri menghambur masuk ke dalam dekapan lelaki yang ada dihadapannya, sudah lama ia tak merasakan kehangatan seperti itu, kehangatan yang semakin lama semakin pudar dan hilang.. Dekapan yang menenangkan. Air matanya mengalir deras, begitupun dengan Elang, lelaki itu meneteskan air matanya tanpa Putri tahu.. Air mata yang ia rahasiakan, air mata kepiluan untuk semua yang ia lakukan pada wanita dalam pelukannya.
Suasana sedih saat itu di dukung dengan lantunan lirik lagu yang terdengar dari suara tv yang menyala di ruang tengah sangat kencang cukup untuk membuat suasana hati keduanya tambah pilu.. Lirik lagu yang pas untuk keduanya saat itu..
🎵 Ketika malam telah tiba
Aku menyadari, kau takkan kembali
Tuhan kembalikan
Izinkan aku tuk memeluknya mungkin tuk terakhir kali
Agar aku dapat merasakan cinta ini selamanya
Ketika malam telah tiba
Aku menyadari, kau takkan kembali🎵
Alunan lirik lagu Samson sukses membuat Putri semakin menangis sejadi-jadinya dalam pelukan Elang.
" Maafin gue Put...."
*****
Elang mencari Putri di setiap ruang apartemennya, ia gusar karena saat ia bangun tidur Putri sudah tak nampak lagi di kamarnya bahkan kopernya pun yang semalam Elang rapikan lagi ke dalam lemari sudah ikut tidak ada di tempatnya.
Ia mengerang tinjuan demi tinjuan ia arahkan ke dinding tembok, kulit tangannya yang lecet terlihat mengelupas. Perasaannya sangat tidak enak, bagaimana bisa Putri meninggalkannya setelah mereka sepakat tadi malam.
Bukan karena kesepakatannya
__ADS_1
Tapi separuh hatinya telah hilang...
Sudah berulang kali Elang menghubungi ponsel Putri, hanya seorang perempuan yang menjawab panggilannya.. Memberitahukan bahwa ponsel Putri sedang tidak aktif..
Bukan hanya dinding tembok yang ia tinju bahkan beberapa benda pecah belah ikut jadi korban kekesalan Elang saat itu.
Elang pergi ke kantor dalam keadaan kalut, ia mengira dapat menjumpai Putri di sana. Tapi semakin siang sosok wanita cantik itu belum juga muncul.
" Udah dapet kabar belum?." Elang bertanya pada Romi, siapa tahu Putri memberikan kabar pada Romi tentang keberadaannya atau tentang cuti kerjanya, diketahui kalau Putri adalah wakil Romi di kantor.
" Belum Lang.. Lo gak coba nyari kerumahnya siapa tau Putri di sana..."
" Gak mungkin.. Putri gak mungkin pulang ke rumahnya.." Elang semakin frustasi ia tak tahu harus mencari Putri dimana lagi, yang ia tahu Putri tidak punya banyak teman hanya satu atau dua itupun teman sekantornya otomatis teman sekantor Elang juga.
Susan pun sudah ia tanyai lebih awal.. Dan jawabannya juga tetap sama "Tidak tau pa..."
Elang mendengus kesal.. Mengambil sebatang rokok dari atas meja kerjanya.
" Fuuh..."Mengepulkan asap rokok dengan kasar, tak peduli dengan AC yang menyala di ruangannya.
*****
Ini sudah hari ke tiga dimana Putri masih belum kembali pulang.. Dan jalan satu-satunya adalah kembali menanyakannya pada Susan.
"Lang..."
" Lang..."
"Heii Lang..."
" Iya.. Put.. Eh Sorry.. Dis.."
Panggilan Gadis membuyarkan lamunannya seketika. Gadis menatap nanar wajah Elang sebentar, ketika ia menggoyang-goyang bahu lelaki itu.. Yang di ucapkan adalah nama Putri bukan Gadis.
"Kamu masih mikirin Putri ya..?" Gadis menunjukan rona wajah tak sukanya.
Elang menggeleng..
"Jangan bohong.."
" Apa sih.. Engga.. Udah kamu jangan banyak gerak tidur aja."Elang berusaha menutupi perasaannya pada Gadis, takut kalau Gadis akan berbuat nekat lagi. Untunglah Gadis sudah bisa pulang kembali ke apartemennya.
*****
Terimakasih yang udah mau baca..
__ADS_1
❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤
Semoga suka dengan jalan ceritanya ya.. Jangan sungkan untuk memberikan saran demi masukan yang dapat penulis lakukan.