
"Akhir-akhir ini Lo keliatan berantakan banget, lebih berantakan dari pada waktu itu." Romi memulai pembicaraan saat mereka bertiga mampir di sebuah bar selepas pulang kantor.
" Iya.. Kenapa sih Lang?."Bima ikut-ikutan menimpali perkataan Romi. Pernyataan kedua temannya tak diindahkan Elang, ia hanya diam terpaku dengan segelas minuman beralkohol di tangannya. Kepalanya seakan mau pecah dengan masalah yang ia hadapi sekarang. Yang ia tahu saat ini hanyalah menghabiskan minuman untuk memgusir kepenatan di otaknya.
Minuman beralkohol itu sukses membuat kepalanya pusing sampai-sampai Elang tak kuat untuk menyetir mobilnya sendiri. Nama Putri terus-terusan ia sebut, meracau tak jelas minta untuk di antar pulang.
Bel apartemen dipencetnya berulang kali saat Romi dan Bima mengantarnya pulang ke apartemen. Tak lama muncul Putri membuka pintu apartemen, sesaat diam mematung melihat sang tunangan mabuk berat. Seakan Putri tahu masalah apa yang menimpa Elang.
" Makasih ya udah di anterin pulang.."
" Santai aja Put... Eh kita pulang dulu ya.. Udah malem ni."
" Eh iya.. Makasih ya.." Sekali lagi Putri mengucapkan kata terimakasih sampai berulang-ulang.
Putri menatap Elang yang dibaringkan kedua temannya di ruang tengah, tiga kancing atas kemejanya terbuka, dasinya udah tidak pada tempatnya, bau alkohol tercium sangat tajam. Matanya terpejam walaupun nafasnya masih beraturan.
Sampai tak terasa air mata Putri menetes melihat keadaan Elang yang seperti itu.
" Gue nyerah aja ya.. Gue yang nyerah.. Lo gak harus kaya gini.." Suara Putri lirih menatap wajah Elang dan menyentuhnya.. tetiba tangan Putri di pegang erat oleh Elang dan menyimpan di dadanya.
" Gue sayang Lo Put.. " Hanya kata-kata itu yang keluar sebelum Elang benar-benar tertidur sampai pagi.
Aroma kopi hitam pekat tercium nikmat, membuat Elang tersadar.. Kepalanya terasa berdenyut, sisa alkohol semalam masih terasa. Ia merasa aneh kenapa sudah berada di apartemennya.. Apa yang terjadi dengannya semalam.
" Put... " Elang melihat Putri sibuk mengurusi dapurnya, akhir-akhir ini ia memang senang memasak.. Sekedar mengisi luang waktu sekaligus hobi.
"Ya.. Udah bangun?."
" Hmm..." Elang menghampiri Putri, duduk di kursi meja makan lalu menyeruput kopi hitam yang Putri buatkan untuknya.
"Gue udah bilang ke Romi.. Lo hari ini gak masuk.."
Elang mengangguk.. memang hari itu ia berencana ingin menemani Putri seharian, sekedar untuk menebus waktunya yang hilang.
" Kring.. Kring.." Ponsel Elang berdering.. Putri segera mengambilnya di atas nakas.
"Lang.. Tante Fina..."Teriak Putri dari dalam kamar. Seketika Elang langsung menghampiri Putri takut kalau Putri sampai menjawab panggilan untuknya.
" Iya tan.."
" Lang... Gadis..." Tante Fina terdengar menangis histeris.
__ADS_1
Elang seolah tahu apa yang terjadi pada Gadis, tanpa pamit bahkan tanpa kata ia meninggalkan Putri tanpa mengganti pakaian yang ia kenakan kemarin.
"Lang.. Lo bahkan gak ngeliat gue ada.. "
Sakit rasanya.. Ia hanya di anggap sebagai patung bernyawa atau lebih tepatnya tempat pelarian buat Elang.
Putri mengingat kejadian hari kemarin, saat pulang dari kantor, ia bertemu dengan Gadis. Gadis meneleponnya untuk bertemu di sebuah coffee shop dekat apartemen Elang. Kata-katanya cukup menyayat hati, tak terlihat namun membekas cukup dalam.
"Aku tau kamu tunangan Elang. Tapi kamu tau kan aku sama Elang sekarang."Sebuah ungkapan yang menohok kalbu.
" Dan asal kamu tau, Elang itu banyak ceweknya kamu tau kan? Dia gak bisa hidup dengan satu cewek dan juga Elang itu seorang pemain cinta, banyak cewek yang udah dia tidurin, apa kamu ngerti maksud aku?? Dia hanya butuh sex!!"
Belum sepatah katapun dikeluarkan Putri, ia menunggu saat yang pas dimana ia bisa menyerang balik semua kalimat yang menyakitkan hatinya.
" Kamu nyerah aja, aku sama dia sekarang.. Dia gak akan sanggup ninggalin aku."
Sedikit saja hampir air matanya menggenang.. Tapi segera Putri menghempas agar air mata itu dapat masuk kembali.
"Eh.. Tapi apa kamu juga udah pernah tidur sama Elang?." Ekspresi wajah Gadis begitu terlihat penasaran.
Seketika wajah Putri langsung berbinar mendengar pertanyaan yang terlontar dari mulut Gadis.
" Aku kan nanya.. Jawab aja..!!."
"Kan udah tau jawabannya, tadi kan kamu bilang Elang gak bisa kalo hidup tanpa satu cewek.. Dia butuh sex.. Kita tinggal bareng, coba kamu simpulkan sendiri apa yang aku katakan."
Putri berdiri dan pergi meninggalkan Gadis yang terduduk sendiri dengan wajah yang ditekuk.. Menahan emosi dari jawaban Putri.
*****
" Tante.. apa yang terjadi sama Gadis?."
Tante Fina memberitahukan Elang bahwa Gadis di bawa ke Rumah Sakit karena mencoba untuk bunuh diri, Gadis ditemukan terlentang di kamar mandi dengan urat nadi tersayat.
Elang semakin tidak bisa lepas dari Gadis, ia merasa semakin terikat dengan keadaan perenpuan itu sekarang. Batinnya berteriak..
" Lang .. Tante mau bicara!."
Elang mengikuti tante Fina ke depan ruang rawat inap.
Mereka berdua duduk di kursi panjang menghadap pintu masuk.
__ADS_1
" Lang.. Tante bingung sama Gadis. Kamu lihat kan keadaannya sekarang, dia tambah ancur. "
Tante Fina mengusap air mata yang menetes di pipinya.
" Dia begitu menginginkan kamu.. Tapi tante tau kamu udah bertunangan. Kasih tau tante.. Tante harus bagaimana.." Isak tangis tante Fina semakin terdengar jelas. Tante Fina atau dokter Fina adalah saudara kandung ibunya Gadis, Gadis dibesarkan oleh tante Fina. Sementara kedua orang tuanya telah lama bercerai.
Lidah Elang terasa kelu untuk mengucapkan beberapa kalimat yang tertahan di tenggorokannya..
Hening..
Beberapa saat..
" Tante tenang aja.. Aku akan memilih Gadis."
Ucapan Elang membuat tante Fina terhenyak.. Berarti Elang siap untuk melepaskan Putri dari cengkramannya saat ini.
" Tapi.. Kamu udah tunangan.. Gimana tunangan kamu?."
" Itu urusan saya tan.. Sekarang kita fokus aja buat kesembuhan Gadis."
Tante Fina mengangguk pelan.. Ia berhasil membuat Elang untuk memilih Gadis dan meninggalkan Putri.
Setelah sadar dari masa kritisnya Gadis terus menyebut nama Elang..
"Iya.. Aku di sini.."
Elang menggenggam tangan Gadis yang terbaring lemah..
" Jangan tinggalin aku..!."Rintih perempuan itu.
" Nggak.. Kamu tenang aja..."
" Tapi apa yang kamu pikirin sih.. aku, tante kamu dan semua orang yang sayang kamu mencoba buat kamu sembuh.. Tapi kamu malah ngelakuin hal bodoh kaya gini.." Tambah Elang
Gadis menangis merasa Elang memarahi dirinya..
" Kamu marah sama aku?."
" Nggak.. Bukan marah.. "
Wajah Putri tiba-tiba memerah kemudian memanas, ia melihat pemandangan tak biasa dihadapannya dengan gerak refleks ia langsung membalikan badannya saat itu juga.. Mencoba menahan dan menenangkan dirinya.. Ingin rasanya ia lari meninggalkan tempat itu, tempat dimana Elang dan Gadis berciuman, diranjang Rumah Sakit Gadis menarik Elang untuk mendekat padanya lalu mencium bibirnya.
__ADS_1