
Katakanlah kalau perasaan wanita itu memang susah ditebak, SUSAH sekali. Termasuk pasangan suami istri ini, sudah beberapa hari ini sering terdengar cek-cok hanya gara-gara hal sepele. Misalnya hanya karena asal mengambil baju dari lemari.
"Asal kamu bilang? Ngambil baju itu angkat dulu yang atasnya jangan asal gitu, jadinya berantakan lagi!."Garutu Putri tiada henti melakukan aksi dramanya di pagi hari.
"Iya sayang maaf aku buru-buru kamu tau kan aku telat masuk kantor."
"Aku berangkat dulu ya.."Elang mencium kening Putri dan segera melesat meninggalkan Putri yang masih diam memaku.
Untung aja udah berangkat dan keluar dari dramanya. Itu cewek kenapa sih makin hari tambah aneh aja.
Sampai di basement perusahaan Elang tidak langsung masuk, ia masih harus merapikan dulu pakaiannya yang dikenakannya asal-asalan dan juga dasi masih menempel tidak karuan.
Penderitaannya belum usai masuk ke lift khusus dan melewati beberapa staffnya, Elang masih menjadi topik perbincangan. Entah apa yang mereka bicarakan. Masa bodoh! Pikirnya saat ini.
"Akhirnya sampai juga di sini.. fiuhh."
"Kenapa lo baik-baik aja kan?."Bima mendekat sambil menyerahkan beberapa dokumen ke mejanya.
"Berantakan gitu sih lo!."
"Makanya gue bilang sampai juga di sini."Helaan nafasnya menjadi pertanda ada sesuatu terjadi di rumah.
"Lo cek-cok lagi sama Putri?."Selidik Bima.
"Cek-cok dikitlah biasa gara-gara hal sepele, tapi biasanya dia gak masalahin padahal itu udah jadi kebiasaan gue selama ini. Kenapa dimasalahinnya sekarang."Elang mengekspresikan dirinya seperti orang bingung, mencoba mencari sebuah jawaban dari apa yang dipikirkannya.
__ADS_1
"Udah neug kali sama kebiasaan lo itu, haha."
"Kampret lo!."Dengusnya kesal.
"Pak, mau dibuatin kopi sekarang?."Jihan, sekretarisnya muncul dari balik pintu yang terbuka.
"Iya sekarang buatin jangan pake gula ya.."
"Baik pak.."
"Pak Bima juga mau dibuatin biar sekalian?."
"Gak usah saya sudah dibikinin sama mang Mamat."
Jihan kembali melengos ke pantry membuatkan pesanan sesuai permintaannya.
"Pak, silahkan."
Ketika akan berbalik lagi Elang menahannya.
"Han, kamu bikinnya gak pake air dispenser?."
"Nggak pak, saya bikinnya pake air yang saya masak barusan langsung ko."
"Salah kali kamu, masa beda rasanya."
__ADS_1
"Hmm."Bima memberikan kode pada Jihan agar menyingkir saja dari hadapan Elang dari pada harus berdebat sesuatu hal tidak penting.
"Permisi pak saya masih ada pekerjaan."Elang berdecak kesal.
"Lo santai dikit napa sih! Gue rasa bukan cuma bini lo aja yang bermasalah, lo juga bermasalah. Kalian pasangan klop."Bima mengacungkan kedua jempol tangannya.
"Lo ke sini mau apa?."
"Ini ngasiin agenda hari ini, lo harus dateng langsung ke pertemuan membahas produk baru kita yang akan diluncurkan."Bima menyerahkan sebuah draft.
"Lo yakin kita akan meluncurkan beberapa produk ini? Selama ini kita berkecimpung di dunia property dan sekarang kebalik."
"Gue yakin seyakin-yakinnya, kita harus memanfaatkan pasar dengan sebaik-baiknya. Dengan nama besar perusahaan kita apa salahnya kita juga membuat produk yang sedang hits di pasaran. Disukai oleh semua kalangan, terutama kalangan remaja. Anak-anak sekolah sangat suka makanan ini, gue lihat kalo lagi jalan balik lewat sekolah berjejer tuh yang jualan."Jelas Bima meyakinkan.
"Tapi masalahnya kita bukan home industri, kita perusahaan gede Bima!."
"Emang lo pikir kita mau bikinnya kaya home industri gitu. Kita ini produsen Lang, punya pabrik sendiri, kita yang masarinnya ada bagian marketingnya."
"Ya udah terserah lo lah. Aneh aja gue nama besar perusahaan kita buat brand makanan olahan."
"Jangan salah makanan olahan yang kita buat sehat dan tidak berbahan pengawet Lang."
"Iya terserah lo aja."Ujarnya sambil melambaikan tangannya.
"Emang ya kalo lagi pusing mau diajak ngobrol apapun gak bakalan nyantol. Ya udah gue balik ke ruangan."Bima kesal dan pergi dari ruangan atasannya.
__ADS_1
Elang masih diam di tempatnya semula rasanya tidak ingin beranjak kemana-mana mengingat tadi malam tidurnya tidak nyenyak, tengah malam Putri rewel dan memintanya membuatkan nasi goreng. Elang memberikan opsi untuk membeli di depan komplek perumahan tapi Putri malah ngambek dan memilih tidur. Sampai saat tadi malam sampai pagi menjelang Elang tidak bisa memejamkan matanya kembali.
***