
Selalu mengalah di setiap bentakan Elang adalah solusi terbaik, Elang bukan tipikal orang yang bisa mengalah bahkan untuk perempuan sekalipun, butuh beribu alasan untuk meyakinkannya dan itu memakan waktu yang sangat banyak.
Putri mematikan AC mobil yang dikemudikan Elang dan lebih memilih membuka kaca jendela. Suasana hati yang buruk membuat dadanya sesak... Walaupun udara di malam hari memang tidak baik tapi setidaknya membuat rongga-rongga dadanya sedikit segar.
" Nanti masuk angin Put.. AC nya nyalain ya.. "
" Gak.. Gue gak betah pake AC.. "
" Lo napa sih.. Gak seneng banget gue jemput.."
" Lo sih.. Ini udah malem padahal biarin aja gue nginep.."
" Gada nginep-nginep yang ada nanti jadi kebiasaan.. "
" Lalu?." Putri menengok ke sebelahnya..
" Lalu apa?."
" Lalu Lo sama dia.. Sekarang sering pulang malem, apa itu bukan kebiasaan.. "
Butuh alasan yang tepat agar Putri dapat mengerti posisi Elang saat ini.. Sudah hampir dua minggu pikirannya terbagi antara cinta dan persahabatan. Elang mulai jengah dengan apa yang ada dipikirannya, entah karena kasihan atau karena perasaan lain.
Mobil Elang sudah terparkir di basement apartemennya. Ia dan Putri naik lift menuju lantai 10 tempat dimana mereka tinggal. Suasana malam itu terlihat sudah sepi, hanya tinggal beberapa orang security yang berjaga.
" Lain kali kalo keluar jangan pake yang kaya gituan." Elang menatap baju yang dipakai Putri saat dia menekan passcode apartemennya.
" Tadi kan buru-buru gak sempet ganti.." Putri memgikuti langkah Elang dari belakang, tubuhnya yang tinggi hanya sebatas leher Putri saat mereka berdiri bersama.
" Ya udah gue mau mandi dulu, tadi belum sempet mandi.." Ujarnya sambil membuka dasi yang ia kenakan.. Lalu melemparnya begitu saja di atas ranjang.
" Lang... Suka sembarang deh kalo naro barang.." Seketika Putri langsung memungut dasi yang dilempar Elang kemudian memasukannya ke dalam keranjang.
Butuh waktu setengah jam untuk Elang mandi, ketika keluar dari kamar mandi Elang mendapati Putri sudah tertidur terlebih dahulu.
"Anak itu.. Malah tidur duluan.." Elang yang sudah menahan diri dari tadi untuk tidak mencium gadis yang sedang berbaring di sebelahnya itu, lalu memeluk pelan-pelan Putri dari belakang.. Menciumi leher belakangnya sampai gadis itu menggeliat, menyadari Elang sedang mencoba membuatnya terangsang Putri seolah berbalik menantang, membalas setiap ciuman yang diberikan Elang padanya. Pagutan demi pagutan sampai tangan Elang dimasukan kedalam baju tidur tipis yang Putri kenakan..
" Aah..."
__ADS_1
Putri merasakan sensasi terbakar saat tangan Elang memilin ****** payudaranya, entah kapan Elang berhasil membuka pengait bra nya, tangannya begitu terampil sampai-sampai Putri tak menyadari ketika celana pendeknya ikutan sudah terlempar ke bawah.
" Lo suka??" Elang mengamati setiap ekspresi yang ditampilkan Putri saat itu. Sampai ketika Elang berhasil memasukan jarinya ke dalam lubang senggama milik Putri.
" Aah.. Lang.. "
Elang mempercepat gerakan jarinya sampai Putri menghentakan kedua kakinya pertanda ia sudah melepaskan semua kenikmatan dalam dirinya.
Setelah Putri kembali stabil giliran Elang yang sudah tidak sabaran, semenjak kedatangan Gadis, ia tak sekalipun menyentuh Putri bahkan melakukan kegiatan itu bersama-sama. Hampir terenggut..
Dengan nafas tak beraturan Elang tertidur di sebelah Putri, mereka berdua tanpa busana hanya tertutupi selimut tipis putih..
" Cape?."
Putri mengagguk.. Sudah dua kali ia melepaskan kenikmatan yang diberikan Elang malam itu..
" Siap-siap aja.. Besok lagi.. Besok kan libur.. Giliran kangen-kangenan sama Lo.." Elang mengusap lembut rambut Putri yang terlihat sudah acak-acakan.
"Dasar mesum Lo.."
" Tapi suka kan?."
Elang menggigit cuping Putri pelan..
" Suka banget.. "
*****
Pagi-pagi sekali Elang sudah mendapatkan kabar kalau Gadis dilarikan ke Rumah Sakit, dengan tergesa-gesa Elang segera pergi untuk menemuinya..
Sampai-sampai Elang lupa untuk membawa ponselnya yang di taruhnya di atas meja kamar. Berniat mengejar tapi tak terkejar. Saat itu juga Putri berinisiatif untuk mengantarkan ponsel Elang ke Rumah Sakit tempat dimana Gadis di rawat hanya dengan melihat isi pesan yang Gadis tinggalkan.
Dari kaca jendela kamar ruang perawatan yang kecil, Putri bisa melihat dengan jelas bagaimana Elang memperlakukan Gadis dengan baik, kebutuhannya bahkan Gadis terus memegang erat tangan Elang seperti tak ingin melepaskannya. Perlakuan manis seperti itu biasanya terjadi pada sepasang kekasih, mata Putri tidak buta ia bisa melihat dengan jelas, tunangannya tengah berbagi perhatian dengan perempuan lain.. Mana ada sahabat yang diperlakukan khusus seperti itu.. Dimana orang tuanya, kenapa harus Elang.
Tanpa ingin melihat lebih jauh Putri menyuruh perawat yang saat itu berjaga untuk memberikan ponsel Elang pada pemiliknya. Tak perlu melihat lebih.. Menilai dari yang dilihat pun sudah bisa mewakili semuanya.
" Mas.. Ini ada yang menitipkan ponsel. Punya Mas nya bukan?." Perawat itu menyodorkan ponsel hitam milik Elang.
__ADS_1
Elang mengambilnya dan benar memang itu adalah ponselnya yang tertinggal.
Sudah pasti Putri mengantarkannya kemari, apa yang dilihatnya dengan Gadis pasti akan menimbulkan permasalahan lagi di antara keduanya.. Pikiran Elang semakin berkecamuk.. Hatinya ingin menjelaskan semua tapi kelu.. Lidahnya kelu.
" Put.. Lo tadi dateng?." Tanya Elang hati-hati ketika berada di area smoking.. Ya alasannya pada Gadis keluar hanya sekedar untuk merokok.
" Iya.. Tadi gue nganterin Ponsel Lo.."
" Kenapa gak masuk?."
" Takut ganggu..."
Elang menghela nafas panjang.. Putri pasti sudah melihat perlakuannya pada Gadis.
Entah harus alasan apa lagi yang di lontarkan Elabg pada Putri. Putri bukan perempuan bodoh yang bisa dibohongi begitu saja.
Sementara Putri terdiam di kamar seorang diri, meratap kesedihannya, seolah mengerti yang terjadi pada hubungan keduanya, hubungan Gadis dan Elang. Tadi sesaat sebelum mengantarkan ponsel milik Elang, air mata Putri menetes membaca pesan demi pesan dari Gadis di ponsel Elang.
"Kangen."
"Cinta.."
" Sayang.."
Semua panggilan mesra Gadis untuk Elang.
Persahabatan apa yang seperti itu, dimana-mana persahabatan selalu berkahir jadi cinta...
" BULSHIT!!!."
Kalau ada yang bilang " Enggak ada apa-apa.. Kita cuman sahabatan doang.. Cuiihh..."
*****
Hari itu hampir genap dua bulan Gadis menetap di Jakarta, dan selama itu pula Elang mulai bersikap tak sama pada Putri, seolah ada jarak yang menghadang. Pertemuan keluarga, makan malam.. Hampir tak pernah Elang hadiri, Putri selalu muncul sebagai tameng untuk menutupi supaya semuanya terlihat baik-baik saja..
Rasa lelah mulai muncul bersamaan dengan kebohongan yang Elang sajikan padanya. Rasa lelah itu mulai ia usir jauh-jauh hanya untuk membuat papanya senang. Melihat putrinya bahagia dengan pilihan orang tuanya. Dengan kata lain ia harus mengalah.. Mengalah yang menyakitkan, mengalah untuk kebahagian orang lain... Zaman sekarang mengalah demi kebahagiaan orang lain.. Persetan dengan kata-kata itu.
__ADS_1