
Mendengar satu nama yang agaknya tidak asing di telinganya,Sassya yang semula tidak banyak bicara tiba-tiba bersuara.
"Bentar guys. Tadi kalian sebut nama cewek itu Kimberlly? Dia chef bukan sih? Soalnya tadi gue ngikutin Aska yang lagi rapat di dekat Ivander's group. Nah pas pulang kita sempat mampir ke salah satu toko kue yang baru buka,gak jauh dari gedung Ivander's group. Gue sempat kenalan sama yang punya toko dan namanya Kimberlly,dia bule juga loh."
Ucapan Sassya seketika membuat suasana dunia pergosipan semakin panas.
"Yang bener lo Sya,jangan bikin pernyataan palsu deh." Ujar Agatha agak kurang yakin dengan pernyataan Sassya.
"Beneran Tha. Bisa lo cek sendiri deh besok,di dekat Ivander's group itu ada ruko yang di buka buat toko kue dan yang punya toko kuenya itu ya Kimberlly namanya. Ya gue gak bisa pastiin sih Kimberlly yang kita maksud ini sama atau enggak. Tapi kalau menurut ciri-ciri yang di bilang sama Delice,gue yakin mereka itu orang yang sama."
Ujar Sassya dengan raut wajah sangat yakin.
Mendengar penjelasan Sassya,semua pasang mata dari masing-masing layar HP kini terfokus pada Zee.
"Zee,gak tau perasaan gue atau gimana. Tapi kayaknya tuh cewek sengaja ngikutin Ar deh. Gue gak nuduh ya,tapi firasat gue bilangnya gitu." Ujar Agatha dengan raut agak kesal. Kesal karena kisah percintaan sahabatnya yang berjalan hampir empat tahun tampak mendapat gangguan.
Zee menghela napas pendek. "Ya udah lah Tha. Mau gimana lagi? Gue juga gak bisa kan ngelarang tuh cewek mau tinggal di mana dan mau ada di mana. Masalahnya ibukota bukan punya gue." Zee menjawab logis dengan nada malas.
Pusing sudah kepalanya memikirkan kehadiran Kimberlly yang seperti virus. Ada hampir di setiap tempat,hem.
"Udah Zee. Lo tenang aja,lo gak usah mikir macam-macam. Kalau sampai abang gue berani kasih ruang ke cewek itu,gue yang hajar dia duluan. Enak aja dia nyakitin kakak ipar pilihan gue,awas aja kalau dia berani." Delice tampak berapi-api menyampaikan dukungannya pada Zee.
Zee tertawa kecil. "Gak usah berlebihan Liz. Kim gak bisa lo salahin sepihak,siapa tau nanti Arkhan yang baper sama dia. Kita bisa apa? Semua tergantung hati sama yang punya hati. Di satu sisi Kim udah kenal sama gue dan tau siapa gue,kalau dia tetap mau ngejar Arkhan ya itu urusan dia. Anggap aja itu ujian buat Arkhan,kalau sampai dia gagal dan ujung-ujungnya tergoda sama Kimberlly,ya gue siap buat ngelepasin Ar. Se simple itu,gue gak perlu berjuang untuk sesuatu yang gak wajib gue perjuangin."
Zee berujar bijak walau ada setitik rasa cemburu di hatinya saat ini. Tapi sebisa mungkin ia berpikir positif,toh hubungannya dan Arkhan bukan baru sehari dua hari. Hampir empat tahun,dan masalah seperti pasti selalu ada di setiap hubungan baik yang baru maumpun lama. Tergantung pada pribadi masing-masing,mau menyikapi seperti apa. Dan Zee memilih diam,untuk saat ini. Tidak tau nanti.
"Gue di pihak Zee sih,kalau nanti misalkan kehadiran cewek itu bikin Arkhan berubah. Ya udah,Zee berhak memutuskan mempertahankan hubungannya atau end. Lagian Zee gak sebodoh itu kan? Ngapain menetap di gedung yang udah mau roboh kalau ada rumah baru yang lebih nyaman. Bener gak Zee?"
Clara kakak ipar Zee tampak ikut mengeluarkan mode bijaknya membuat Zee mengangguk diikuti yang lainnya.
"Btw Liz,thanks ya. Lo udah peduli sama hubungan gue dan Ar. Gue usahin kita akan baik-baik saja,sehebat apapun masalah ke depannya. Semoga bisa kita selesain tanpa nyakitin gue ataupun dia." Ujar Zee pada sang sahabat.
__ADS_1
Delice mendengus. "Apaan sih Zee,kayak sama siapa aja lo. Udah kewajiban gue buat bantuin lo,selain calon kakak ipar. Lo itu sahabat gue,gue yang duluan kenal sama lo di bandingkan abang gue,gak rela gue kalau dia sampe nyakitin lo. Pokoknya tenang aja,gue bakalan basmi pencokor pirang satu itu. Lagian gue emang harus balas budi,lo dulu juga banyak bantu hubungan gue sama Kai. Intinya gue bakalan kawal lo sama abang gue sampe married. Oke!!"
Zee mengangguk-angguk saja.
"Thanks all." Ujar Zee sebelum mematikan sambungan telepon dengan teman-temannya.
♡♡♡
Malam berlalu dan pagi akhirnya datang. Arkhan tengah memanaskan mobilnya di halaman rumah bersama dua orang sopir yang saat ini juga tengah memanaskan mobil milik adiknya Delice dan ayahnya. Arkhan memang terbiasa memanasi mobilnya sendiri dan menyetir sendiri di bandingkan meminta bantuan sopir,berbeda dengan ayahnya dan Delice juga bundanya yang memang kemana-mana menggunakan sopir.
"Den,di gerbang kayaknya ada yang lagi nungguin den Arkhan." Sopir di sebelah Arkhan tiba-tiba berbicara membuat Arkhan yang baru hendak masuk kembali ke rumah mengurungkan niatnya.
"Siapa mang?" Tanya Arkhan tanpa melihat ke arah gerbang.
"Tuh,enengnya ada di luar." Ujar sopir tersebut sambil menunjuk pada seorang gadis yang tampak berdiri dengan posisi membelakangi di depan gerbang rumahnya.
Arkhan akhirnya mengikuti arah telunjuk supir tersebut.
Arkhan mengernyit. "Kim? Ngapain dia ke sini pagi-pagi?" Batin Arkhan heran. Namun kakinya tetap melangkah ke arah Kimberlly berada.
Kimberlly sontak menoleh dengan senyuman cerahnya.
"Morning Ar!" Sapanya ceria seperti biasa.
Arkhan mengangguk kaku. "Too." Jawab Arkhan singkat.
"Ngapain di depan rumah gue pagi-pagi?" Tanya Arkhan lagi dengan nada heran. Semalam kan ia sudah bilang,jika ia tidak bisa berangkat kerja bersama Kimberlly. Tidak mungkin kan Kimberlly lupa?
"Gak papa kok Ar. Aku gak mau ngajak kamu berangkat bareng kok,aku cuma mau ngasih ini." Kim menyodorkan dua buah papper bag ke hadapan Arkhan.
"Subuh tadi aku coba bikin menu baru di toko aku. Ada mathcha greentea molten lava,ada chocholatte cake lava,ada red velved lava cake dan thai tea lava cake. Aku jamin rasanya lumer banget di mulut,terus aku juga masakin kamu ayam saus telur asin. Nenek aku yang kasih resepnya,aku udah coba. Rasanya enakkkk banget,makanya aku mau kamu coba juga. Nah nanti reviewnya kamu kasih tau aku,gimana penilaian kamu. Di coba ya..."
__ADS_1
Kimberlly kembali menyodorkan papper bag tadi semakin ke depan tangan Arkhan agar Arkhan raih. Karena sedari tadi Arkhan tak melakukan reaksi apapun.
"Ar. Ambil dong!"
Kim meminta pada Arkhan dengan nada memaksa.
Arkhan menggaruk kepalanya yang sama sekali tidak gatal.
"Harus banget ya?" Tanyanya memastikan.
Kim mengangguk. "Harus Ar,lagian kenapa sih? Kamu kayak panik gitu? Bukannya dari dulu aku sering nyuruh kamu nyoba masakan aku? Kamu dulu juga gak nolak tuh,aku kan nyuruh kamu nyoba buat minta penilaian. Kamu keberatan? Aku udah jadi sahabat kamu selama dua tahun setengah loh Ar...,masa gini aja kamu keberatan.
Arkhan kembali menatap Kimberlly bimbang. Namun setelah melihat mata Kim memelas,ia jadi tidak tega.
"Ya udah deh. Gue ambil ya,tapi habis ini gue harus masuk ke dalam. Ortu gue udah nunggu buat sarapan,gue juga gak bisa ajak lo masuk karena setelah ini gue harus berangkat kerja. Gak papa kan?"
Kimberlly tertawa mendengar penuturan Arkhan. "Kamu lucu deh,kayak orang lagi selingkuh terus takut ketahuan. Kamu takut pacar kamu lihat ya?" Tanya Kim memancing.
Arkhan kembali menggaruk-garuk kepalanya.
"Ah,itu. Emm,gue.."
"Udah gak usah di pikirin. Aku bercanda kok,aku juga habis ini mau berangkat ke toko. Kamu masuk aja ke dalam,gak papa." Ujar Kimberlly dengan raut tanpa beban.
Arkhan lega setelah mendengar tanggapan Kimberlly.
"Soryy ya Kim. Kalau gitu gue masuk dulu."
"Oke...,bye Ar.." Kimberlly melambaikan tangannya pada Arkhan sebelum cowok itu masuk. Dan setelahnya ia juga berjalan kembali ke rumah miliknya dan bersiap berangkat ke toko bersama neneknya.
Tanpa mereka sadari,ada sepasang mata tajam yang sedari tadi memperhatikan mereka dari jarak kurang lebih delapan meter. Setelah merasa puas melihat drama pagi yang tayang live di depannya itu,ia pun memutuskan untuk memutar balik mobilnya dan melajukan mobilnya ke jalan raya dengan raut wajah datar tanpa ekspresi.
__ADS_1
♡♡♡
Like vote komen..