RUNTUH

RUNTUH
Rival (Saingan)


__ADS_3

Zee menepati ucapan semalam. Terbukti,sore ini sepulang bekerja,Zee langsung meluncur ke rumah Arkhan.


Sebelum berangkat ke rumah Arkhan,Zee sudah menyempatkan dirinya untuk menghubungi Clara dan Agatha agar mereka juga datang ke rumah Delice karena Zee akan menuntut penjelasan dari mereka.


Sesampainya di kediaman Delice,Zee yang memang sudah di kenal oleh penjaga gerbang langsung di persilahkan masuk bersama mobilnya.


Setelah memarkirkan mobil,Zee langsung turun dan berjalan menuju pintu rumah yang tampak sudah terbuka.


Namun,walau pintu sudah terbuka. Zee masih menjaga etika dengan memberi ketukan sebelum akhirnya melangkah masuk ke dalam rumah.


"Onty Cela!!"


"Onty Zella!!"


Teriakan dua anak kecil terdengar menyapa indra pendengaran Zee begitu kakinya memasuki ruang tamu.


Dari arah dapur,tampak ada dua anak perempuan hampir sebaya berlari ke arah Zee.


Raut kaku Zee sedikit berubah lebih cerah ketika melihat kehadiran dua keponakannya itu. Tanpa di minta,Zee segera berjongkok dan merentangkan kedua tangannya untuk menyambut mereka ke dalam pelukannya.


"Onty Cela,anen au.." Salah satu dari kedua anak itu terdengar berbicara dengan suara cadelnya,membut Zee makin gemas dan langsung mendaratkan ciuman di pipi chubby mereka.


"Onty juga kangen sama kalian." Balas Zee sambil memeluk erat keduanya,setelah puas berpelukan dengan dua keponakannya yang merupakan anak Agatha dan Clara itu,barulah Zee melepaskannya dan kemudian berdiri dari posisi jongkoknya.


"Mami sama mommy kalian di mana?" Tanya Zee pada kedua bocah itu dengan nada lembut.


Kedua bocah itu kompak menunjuk ke arah dapur.


"Di cana onty. Mami,di cana."


"Mommy juga di sana onty. Di taman belakang,sama onty Elis."


Kedua bocah itu memberi tahu posisi masing-masing induk mereka ke arah yang sama yaitu arah dapur yang terhubung ke halaman belakang.


Zee mengangguk paham dan langsung meraih tangan kedua bocah itu untuk di gandeng menuju ruang belakang menemui masing-masing induk mereka yang merupakan sahabat sekaligus ipar-ipar dan juga calon iparnya.


♡♡♡


"Zee!!" Teriak Delice begitu melihat kemunculan Zee di ambang pintu belakang.


Tanpa ba bi bu,Delice berlari ke arah Zee,menyingkirkan dua bocah tadi dan memeluk Zee dengan erat.


Seperti biasa,Zee yang cuek tentu tidak membalas ataupun merespon pelukan Delice. Ia hanya bisa menghela napas,karena heran dengan kelakuan Delice yang menurutnya terlalu lebay.


Belum selesai pelukan Delice,dua pelukan lain sudah menggelayuti tubuh kecilnya juga. Ketiga sahabatnya ini benar-benar bertingkah seolah mereka tidak pernah bertemu selama bertahun-tahun.


Zee yang risih langsung menurunkan tubuhnya ke bawah dan keluah lewat celah tubuh mereka,sehingga kini hanya tersisa Clara,Agatha dan Delice yang berpelukan bak teletubies.


"Ih Zee,kita kangen tau." Kesal Delice sambil mencubit pipi Zee dengan geram karena pelukannya di lepas begitu saja.

__ADS_1


Zee mendengus malas. "Kita cuma kepisah dua atau tiga hari yang lalu. Gak usah lebay." Keluh Zee malas.


"Ya namanya juga rindu Zee. Kalau di pendam kan berat. Kita gak bakalan kuat,makanya harus di ungkapkan lewat pelukan biar rasanya tersalurkan." Jawab Agatha sok bijak.


Malas berdebat,Zee memilih mengangguk-angguk mengiyakan.


"Arkhan belum pulang?" Tanya Zee sambil mendudukkan dirinya di atas karpet lesehan.


Delice menggeleng. "Belum,bentar lagi mungkin. Kenapa? Lo kangen ya??" Ledek Delice.


Zee mendengus. "Cuma nanya." Jawabnya datar.


"Bunda kemana?" Tanya Zee lagi.


Sebenarnya sedari tadi ia juga sudah mencari keberadaan sang bunda dengan mengedarkan pandangannya di dapur,karena biasanya di sanalah bunda berada.


Mendengar Zee menanyakan keberadaan bunda,raut wajah Delice jadi terlihat jengkel.


"Bunda di ajak jalan sama si kikim." Jawab Delice ketus.


Agatha dan Clara juga tampak mengangguk dengan raut wajah jengkel.


Zee mengerutkan kedua alisnya. "Kikim siapa?" Tanya Zee heran.


Delice tampak mendengus,seolah malas menyebut nama asli orang tersebut.


"Bentar Zee,sebelum mulai ngerumpi. Ada baiknya nih bocil-bocil di bawa ke play ground di lantai dua deh. Soalnya kita mau rapat serius nih." Ujar Delice sambil menunjuk kedua bocil yang tampak berguling-guling di atas karpet.


Setelah kedua bocah itu pergi,barulah Delice,Agatha,Clara dan Zee duduk melingkar di atas karpet.


"Jadi gini." Delice memberi aba-aba untuk memulai acara ghibah mereka siang itu.


"Tadi sore,sekitaran jam setengah tiga. Agatha sama Clara ke sini,duluan sebelum elo ngchat mereka. Terus,gak tau darimana datangnya,si kikim itu nongol dan ngajakin bunda gue keluar jalan-jalan. Najis ya tuh cewek caper banget,anehnya bunda gue kayak senang banget pas di ajak jalan sama dia. Kesel tau Zee!!" Gerutu Delice panjang lebar namun malah membuat Zee tambah bingung.


"Lo ngomong apa sih? Bunda di ajak jalan sama kikim? Kikim siapa sih?" Tanya Zee bak orang bodoh karena memang ia kurang paham dengan cerita Delice.


Delice yang gemes langsung menggetok kepala Zee dengan cukup keras membuat Zee melotot.


"Liz!!" Bentaknya dingin.


Delice mengerucutkan bibirnya hingga maju beberapa senti sebelum akhirnya kembali berbicara.


"Makanya jangan oon Azellea William Michelle!! Ampun deh,lo jadi CEO oon gini,gimana caranya mimpin perusahaan? Heran kok bokap lo mau ya nyerahin perusahaan ke elo?" Delice geleng-geleng tak habis pikir dengan kebodohan serta ketidakpekaan Zee yang sudah berada di stadium akhir.


Agatha dan Clara tertawa kecil mendengar ucapan Delice yang tidak ada takut-takutnya dalam urusan mengatai orang termasuk Zee.


"Kikim itu si Kimberlly Ameera Barika. Tetangga baru gue yang rumahnya di depan sono noh,yang kayaknya naksir berat sama abang gue. Si Ar,pacar lo. Kenal kagak? Sampe lo bilang kagak kenal lagi,gue lelepin ke kolam piranha ginjal lu Zee!!" Geram Delice sambil memperagakan tangannya seolah hendak meremukkan kepala Zee.


"O" Mulut Zee membentul huruf O dengan raut yang benar-benar tidak punya beban.

__ADS_1


Agatha,Clara dan Delice kompak melongo melihat ekspresi Zee.


"Plak!" Kali ini Agatha menempelkan punggung tangannya ke kening Zee dengan kuat.


"Waras lo Zee??" Tanyanya tak yakin.


"Kalau waras,lo harusnya marah Zee. Sekarang gue runutin alasan kenapa lo mesti marah,pertama."


Agatha mengacungkan jari telunjuknya ke depan hidung Zee.


"Lo pacarnya Arkhan dan dia diam-diam deketin Arkhan bahkan di depan mata lo. Artinya apa? Dia rival lo oon."


"Kedua." Agatha mengacungkan dua jarinya semakin mendekat pada cuping hidung Zee yang mancung.


"Dia kemarin mau deketi gue,Elis dan Clara. Lo tau dia bilang apa alasannya? Dia bilang itu permintaan Arkhan. Caper banget anjir!! Dia pikir dia siapa?? Hah? Siapa? Coba jelasin sama gue." Agatha tampak berapi-api meluapkan emosinya di depan wajah Zee.


"Ketiga Zee!!" Telunjuk Agatha akhirnya menempel di hidung Zee.


"Dia sekarang deketin camer lo,oh my ghost!! Yang kali ini benar-benar keterlaluan. Dia pikir dia siapa hah? Kayaknya tuh bocah belum kapok ya abis di kerjain kemarin. Minta di mutilasi emang tu orang Zee."


"Astaga Zee,gue aja se-emosi ini dan wajah lo bisa setenang ini? Lo waras gak sih??"  Tanya Agatha sambil mengguncang-guncang tubuh Zee dengan penuh tenaga.


Zee menghela napasnya malas sebelum akhirnya melepaskan tangan Agatha dari pundaknya saat matanya menangkap satu sosok yang cukup ia kenal.


Dengan santai Zee mengamit tangannya ke arah pintu masuk ruang belakang sembari berteriak.


"Kimberlly,sini!!"


♡♡♡


Like vote komen...


Uyyyy readers..


Ketemu tuh calon masa depan vs calon pencokor masa depan...


Haruskan kita siapkan dua lobang kuburan? Gue takut ada pertumpahan darah wkwkw...


Btw karya Azell levelnya naik....


Masuk rekomen dua kali...


Makasih ya sayang-sayangku...


Atas dukungan kalian...


Azell sayang kalian...


Muaaachhhhhh😘😘😘

__ADS_1


😘😘😘


__ADS_2