RUNTUH

RUNTUH
Fakta Arrel


__ADS_3

Ivander's Hospital


Sebuah amplop putih panjang kini tengah berada di atas tangan Zee. Ia baru saja datang ke rumah sakit dan Davian memintanya untuk masuk ke ruangan Zergan. Saat sampai di sana,tanpa mengatakan apapun. Davian tiba-tiba menyodorkan padanya sebuah amplop yang kini berada di tangannya. Belum ia buka karena tidak paham apa maksud Davian memberinya amplop tersebut.


Affaan tuh?? ~skip~


"Apaan nih?" Tanya Zee sambil mengerutkan kedua alisnya.


"Buka aja." Jawab Davian dengan nada datar.


Kedua alis Zee makin mengerut. "Apaan sih? Surat wasiat? Lo mau mati?" Tanya Zee asal.


Arkhan langsung menyikut rusuk Zee dengan pelan. Mulut Zee kadang-kadang memang kurang ajar.


Dengan masih memasang jidat dan alis berkerut,Zee akhirnya membuka amplop tersebut dan mengambil isi di dalamnya.


"HASIL TES DNA?"


Zee bertanya dengan raut bingung.


"Punya sia.."


Zee tidak jadi melanjutkan kalimatnya saat matanya menangkap nama siapa yang tertera di sana.


"Arrel Sagara William? Jerremy William?"


"What the...?"


Zee menatap Davian penuh tanda tanya.


"Apa maksud semua ini?"


Davian mengangkat bahunya. Ia juga sebenarnya tidak menduga hal itu.


"Gue juga gak tau Zee. Kemarin saat pertama kali gue liat Arrel,gue udah heran liat wajah dia. Aneh aja gitu,kenapa bisa mirip banget sama wajah gue pas masih kecil dulu."


"Karena penasaran gue ajak dia ngobrol. Lo inget kan kejadian di depan gerbang waktu itu? Sebelum lo sama Ar balikan?"

__ADS_1


Zee mengangguk.


"Inget."


"Nah waktu itu gue ngajak Arrel ke halaman belakang. Kita ngobrol banyak di sana dan lo tau apa?"


"Arrel bilang dia itu cuma anak yang di adopsi dari panti asuhan. Dia sama sekali gak tau siapa orangtuanya,satu fakta yang bikin gue mendadak curiga walaupun semuanya kerasa gak mungkin."


"Arrel bilang dia punya satu petunjuk tentang orangtuanya,tepatnya mama kandung dia. Dia punya liontin yang di dalam sana ada nama mamanya sama sebuah foto usang kecil yany juga terselip di dalam liontin itu."


"Gue ngerasa makin penasaran sama jati diri Arrel,so besoknya gue putusin buat nemuin Arrel. Kejadiannya tepat sebelum lo sama Arkhan ketangkap basah." Davian sedikit menyindir di kalimat akhirnya.


Zee hanya mendelik malas.


"Next."


"Gue ke rumah Arrel. Gue ketemu sama orangtuanya Arrel di sana dan bener aja,mereka kaget ngeliat gue. Bahkan Pak Sagara,papanya Arrel langsung nanya kenapa gue bisa ada di sana dan bareng sama Arrel."


"Dia ngomong kayak gini : "Kenapa kamu bisa bersama Arrel? Apa kamu sudah tau semuanya?"


"Aneh banget kan? Makanya gue tambah curiga. Akhirnya gue minta penjelasan sama orangtua Arrel,dan lo tau apa faktanya?"


"Mereka ini dulunya teman mama Melissa. Sebenarnya mereka sudah tau dari lama.kalau Arrel ini anaknya papa dan mama Melissa,cuma karena mereka gak tega ceritain faktanya sama Arrel. Akhirnya mereka bungkam."


Mata Zee seketika membulat.


"Mama Melissa? Punya anak? Bukannya udah gak bisa? Bukannya mama Melissa punya masalah rahim? Lo inget kan mama Melissa berapa kali keguguran dulu. Makanya kita gak punya saudara sedarah dari mama Melissa,itu gak mungkin banget bang. Gue inget banget,mama Melissa tiga kali keguguran. Lo yakin gak salah info?"


Zee terlihat meragukan sesuatu yang saat ini tengah ia pegang dan penjelasan yang kini ia dengar.


Davian menggeleng. " Zee,mama Melissa gak pernah keguguran. Semua jabang bayi yang dia kandung itu meninggal karena aborsi dan Arrel satu-satunya anak dia yang masih selamat."


Mata Zee seketika membelalak. "I can't believe it." Gumam Zee lirih.


"Lo tau kan kalau kita pernah diperdaya mama Melissa selama tiga belas tahun sampai akhirnya lo berhasil bongkar kedok mama Melissa."


"Tapi ternyata masih ada satu info yang gak terendus sama lo,dan ternyata mama Melissa juga gak berniat cerita. Entah karena lupa atau bagaimana,tapi kenyataannya memang begini Zee. Arrel adik kita,anak dari papa William dan mama Melissa."

__ADS_1


"Kita gak mungkin tutup mata kan? Bagaimanapun juga dia adik kita,adik gue dan lo. Dan gue berniat buat pertemukan dia sama papa sebagai anak dan ayah. Bukan sebagai orang asing."


"Menurut lo kapan waktu yang tepat buat mempertemukan keduanya?"


Zee masih terdiam sambil menatap kertas yang ia pegang dengan nanar. Otaknya mendadak blank dengan semua kenyataan yang barusan ia dengar.


"Padahal gue udah berusaha maafin mama Melissa dan Sassya,bahkan gue udah nerima keadaan kalau mama Melissa pernah jadi mama tiri gue dan Sassya adalah adik gue. Tapi kenapa mesti ada fakta lain lagi yang terungkap?"


Zee terdengar berbicara dengan nada kecewa serta tatapan yang terlihat kosong namun menyiratkan luka.


Davian mengusap puncak kepala Zee dengan pelan.


"Sorry kalau berita ini bikin lo kecewa. Gue gak bermaksud ngerusak suasana hati lo apalagi sebentar lagi lo bakalan menikah. Tapi berita ini memang secepatnya lo harus tau,biar nanti kita bisa jelasin ke papa juga minta penjelasan pelan-pelan sama mama Melissa."


"Biar nanti bagaimana keputusan akhir,kita serahkan sama Arrel dan papa. Karena memang di sini Arrel dan papa adalah korban dari mama Melissa. Terutama Arrel,dia kemarin kecewa dan marah banget sama mama Melissa setelah denger semuanya."


"Bahkan sampai sekarang pun Arrel belum mau di temuin,dia malu sama kejahatan mama Melissa sama keluarga kita,dia juga ngerasa kecewa karena lahir dari wanita yang,ya bisa di bilang sejahat mama Melissa."


"Gue kemarin udah coba buat nemuin dia. Tapi orangtua angkat Arrel bilang kalau Arrel lagi gak di rumah,dia pergi ke suatu tempat buat nenengin diri dan gue di saranin buat gak maksa nemuin Arrel karena takut dia malah tambah marah dan akhirnya kabur atau melakukan hal nekat lainnya."


"Jadi? Gimana rencana lo selanjutnya? Tanya mama Melissa langsung,atau bujukin Arrel supaya dia mau di ajak ketemu sama mama Melissa dan nanti kita temuin mama Melissa sama-sama,bareng papa juga. Biar kita bisa langsung cari keputusan akhir."


"Menurut gue opsi kedua lebih baik." Arkhan yang sedari tadi diam kini ikut menjawab.


Davian dan Zee menatap Arkhan dengan tatapan penuh tanda tanya.


"Kenapa lo seyakin itu?"


"Yeah feel gue aja. Menurut gue mending bujukin Arrel dulu,lunakin rasa marah dan kecewa dia lalu temuin tante Melissa dengan kepala dingin. Sebelumnya juga gue saranin kalian jelasin pelan-pelan masalah ini sama papa William untuk menghindari segala kemungkinan buruk."


"Bagaimana pun juga berita ini gak main-main,jadi ada baiknya di bicarakan ketika semua persiapan sudah matang. Bicara dengan emosi dan amarah gak bakalan bikin masalahnya selesai dengan baik,malah mungkin bisa nimbulin masalah baru. Iya kan?"


Davian dan Zee akhirnya mengangguk paham.


"Gue akui kali ini ucapan lo bener. Besok kita temuin Arrel dan orangtua angkatnya."


Putus Davian yang di setujui oleh Zee.

__ADS_1


♡♡♡


Jangan lupa Like Vote Komen...


__ADS_2