
Pagi ini suasana sangat cerah,suara para burung-burung peliharaan tuan William juga terdengar bersiul merdu menambah kesan indah di pagi minggu yang cerah itu.
Dan kebetulan hari ini Zee ada agenda jalan-jalan bersama Arrel atas perintah mamanya. katanya agar Zee tidak galau memikirkan masalahnya dan Arkhan.
Padahal Zee sebenarnya tidak terlalu galau,cuman yeahh...
"Healing sedikit gak masalah lah. Asal mama gue seneng.." Celoteh Zee sambil mengeringkan rambutnya dengan hair dryer.
Tak lama setelahnya pintu kamar Zee di buka dan sosok mama tiri yang barusan Zee sebut itu muncul dengan membawa ransel doraemon lucu yang dapat di pastikan isinya bekal.
"Udah siap buat pikniknya sayang?" Tanya Diana lembut sambil meletakkan ransel doraemon tadi ke tepi kasur Zee.
"Hm." Jawab Zee singkat sambil terus mengeringkan rambutnya.
"Udah tenang aja. Hari ini mama jamin,Arrel akan bikin kamu have fun dan gak galau lagi."
"Ma,siapa yang galau sih. Zee itu.."
"Stttss. Udah mama tau perasaan sama hati kamu itu gak bisa bohong. Udah mama ngerti. Sekarang biar mama bantu keringin rambut kamu,biar cepet."
Bukannya mendengar protes dari Zee,Diana malah dengan santainya mengambil alih hair dryer di tangan Zee dan mulai mengeringkan rambut Zee dengan lembut.
Usai mengeringkan rambut Zee,Diana mulai mengambil sisir dan sedikit memberikan tatanan di rambut Zee agar terlihat menarik.
Zee hanya pasrah saja saat sang mama memperlakukannya bak anak kecil.
Ada perasaan haru yang selalu menyeruak di saat Diana memperlakukannya selembut ini. Setetes air mata jatuh tanpa Zee sadari,Diana yang menyadari jika putrinya ini tengah menagis langsung membalik tubuh Zee pelan.
"Sayang? Kamu kenapa? Mama terlalu kuat narik rambut kamu?" Tanya Diana panik.
Zee mengusap sudut matanya yang basah sambil memasang senyum manisnya. Tanpa di duga,Zee menubruk kuat tubuh munggil sang mama membuat Diana nyaris terhuyung.
"Thanks mama Diana. Terimakasih karena sudah hadir di keluarga William terutama di hidup Zee. Tiga belas tahun tanpa sosok mama membuat Zee merasa hidup Zee nyaris tidak berguna,sampai sampai akhirnya mama datang dan merubah semua pandangan Zee tentang hidup Zee yang menurut Zee gak beruntung. Zee sayang banget sama mama."
Ujar Zee sambil mengeratkan pelukannya membuat Diana ikut meneteskan air matanya.
Zee kemudian melonggarkan pelukannya dan menatap Diana dalam dan lekat.
"Mama mau janji satu hak sama Zee?"
Diana mengangguk.
"Mama mau janji buat tetap ada di samping Zee walau semua orang ninggalin Zee?"
__ADS_1
Diana mengangguk cepat,satu tangannya terulur mengusap rambut Zee dengan lembut.
"Mama janji sayang." Jawab Diana yakin.
Sekali lagi Zee memeluk erat Diana,kali ini sangat erat membuat Diana sedikit sesak napas.
"Udah ih. Bisa-bisa mama meninggoy kalau kamu peluk sekuat ini." Celetuk Diana membuat Zee panik dan langsung melepas pelukannya.
"Maaf ma. Zee kebawa suasana,hehe." Ujar Zee sambil menyengir kuda.
Diana hanya bisa mencebikkan bibirnya dengan eksprsi malas.
"Hmm,ya udah. Itu di tas ada bekal buat kamu. Ada telur gulung,sosis gulung,bolu gulung,pokoknya semua yang gulung-gulung mama simpen di situ." Ujar Diana asal membuat Zee memutar bola matanya malas.
"Gak sekalian permadani di ruang tamu mama gulung,terus masukin ke tas Zee biar lengkap."
"Nah ide bagus itu. Nanti mama suruh papa pesan tas doraemon jumbo biar karpetnya muat di sana."
Zee geleng-geleng kepala mendengar jawaban mengagumkan yang keluar dari mulut mama tirinya ini.
"Terserah mama deh. Zee mau ke bawah,kasian si bocil kelamaan nunggu."
Dan setelah mengatakan hal itu,Zee turun ke bawah meninggalkan Diana yang tampak sibuk merapikan sprei miliknya yang memang masih berserakan karena Zee belum merapikannya sedari bangun tidur tadi.
♡♡♡
Davian berwajah kaku dan dingin di kesehariannya,berbeda dengan Arrel yang tampak imut dan kekanak-kanakan. Bahkan mungkin jika Arrek marah,wajahnya tidak jadi seram tapi malah menggemaskan.
"Morning cill..." Sapa Zee riang,ia sudah memutuskan untuk berdamai dengan bocil satu ini.
"Morning kak Zee....." Arrrel menjawab dengan nada tak kalah riang. Pandangannya beralih pada Zee. "OMG!! Cantik banget kak Zee pagi ini. Udah siap banget buat kencan sama Arrel?"
"Mimpi aja sampai mampos." Hilang sudah niat Zee untuk berdamai dengan bocil satu ini. Mau bagaimana lagi,Arrel memang benar-benar mirip Davian sang abang. Suka sekali mencari ribut dengannya.
"Mau kemana Azellea?" William tiba-tiba muncul dari tangga membuat Zee sedikit terkejut.
Papanya tampak berkeringat dan mengenakan kaos olahraga membuat Zee yakin jika papanya pasti habis nge-gym di lantai dua.
"Mau piknik pa." Jawab Zee apa adanya.
Arrel berdiri dari duduknya dan langsung membungkuk hormat ke arah tuan William.
"Selamat pagi tuan besar." Sapa Arrel.
__ADS_1
"Saya Arrel,yang bakalan ngajak kak Zee jalan-jalan. Mohon izinnya tuan besar." Pinta Arrel ramah namun tegas.
William tercekat sebentar karena kaget dengan sikap Zee,dengan sedikit terkekeh William berjalan menghampiri Zee dan bocah satu itu.
"Sudah-sudah. Tidak usah sungkan begitu,panggil om saja. Saya Jerremy William. Papanya Zee. Jadi kalian mau piknik? Sama Arkhan juga?"
Zee tercekat. Papanya memang belum tahu jika ia dan Arkhan sudah putus.
"Haha,iya pa. Kita piknik ramai-ramai hehe." Jawab Zee gugup sambil menginjak kaki Arrel yang masih membungkuk.
"Ohh,gitu." Jawab William manggut-manggut.
"Em,kamu Arrel. Jangan terus membungkuk begitu,nanti pinggang kamu sakit." Tegur William membuat Arrel langsung menegakkan badannya.
"Iya tuan,eh om. Maaf." Jawab Arrel gugup.
Arrel langsung menatap lurus ke arah William,begitupun dengan William. Namun saat sudah menatap Arrel lekat,William tercekat.
"D..Davian?" Pekik tuan William dengan ragu sambil berusaha mengusap pipi Arrel.
Tingkah tuan William membuat Zee dan Arrel geram.
"Kok bang Vian sih pa? Ini Arrel,hei." Zee menjauhkan tangan papanya dari wajah Arrel karena pria itu tampak takut dengan perlakuan spontan William barusan.
"Eh,iya Arrel. Maaf. Saya terbawa suasana,wajah kamu mengingatkan saya pada Davian kecil. Putra pertama saya,kamu sangat mirip dengan Davian ketika remaja dulu,saya jadi terbawa suasana. Sekali lagi maaf." Pinta William canggung.
"Huh,papa sepertinya kangen sama bang Vian. Lebih baik papa telpon bang Vian dan suruh dia main ke sini sama Clara dan Claudia juga. Biar papa gak halu lagi." Suruh Zee seenaknya.
"Sekarang Zee sama Arrel pamit dulu. Keburu tinggi langitnya pa." Ujar Zee lagi sambil menyalami William dengan cepat dan berlalu keluar.
Tinggalah Arrel yang kini menatap William canggung.
"Ma..maaf ya om. I..ini,Arrel mau pamit dulu." Ujar Arrel sambil mengulurkan tangannya dan langsung di sambut oleh William.
"Iya Arrel,jaga kakak kamu. Eh maksud saya Zee,silahkan kalau begitu."
William tampak salah tingkah karena kedapatan gugup beberapa kali.
"Kenapa aku merasa sangat dekat dengan anak itu? Kenapa wajahnya mirip Davian kecil? Siapa sebenarnya Arrel ini?" Batin William sambil terus menatap punggung Arrel yang semakin menjauhinya.
♡♡♡
So???
__ADS_1
Jangan lupa like vote komen....