RUNTUH

RUNTUH
Harus Nikah


__ADS_3

Zee dan Arkgan menegang di tempat mendengar teriakan berat yang barusan keluar dari bibir tebal seseorang yang biasa di panggil papa dan mamanya itu.


Dengan setengah gemetar Zee dan Arkhan berbarengan bangkit dari posisinya kemudian berlutut di atas tanah.


"P..papa sama mama ngapain di sini?" Tanya Zee dengan nada gugup.


Posisinya dan Arkhan barusan pastinya akan menimbulkan kesalahpahaman di antara mereka dan Zee takut kedua orangtuanya malah melakukan hal yang belum siap Zee terima.


"Mama yang harusnya nanya kayak gitu! Ngapain kamu di rumah cowok malam-malam begini? Belum lagi kejadian barusan? Apa itu Zee?"


"Ya ampun kalian ini!"


Diana menyambar dengan nada shock sekaligus marah melihat kelakuan putra-putrinya ini.


Dengan ekspresi marah Diana dan William berjalan menghampiri Zee dan Arkhan kemudian menarik telinga dari masing-masing kedua remaja itu dan membawanya pergi menuju ruang tamu.


Di ruang tamu,Zee dan Arkhan di hempaskan ke atas sofa dab langsung di bentak oleh William.


"Papa tidak habis pikir dengan kelakuan kalian berdua! Papa sudah beberapa kali bilang,jaga batasan jika belum siap menikah! Tapi apa? Lihat kelakuan kalian barusan!"


"Andai papa sama mama barusan tidak datang,entah apalagi yang akan kalian berdua perbuat."


"Intinya malam ini juga,papa akan hubungi orangtua Arkhan. Kita bahas tentang pernikahan kalian malam ini juga!"


"APA!??!"


♡♡♡


"Papa...,kenapa harus nikah sekarang sih. Zee belum lulus kuliah pa...,papa sendiri kan yang bilang kalau Zee harus kuliah dulu baru nikah. Papa lupa?"


Zee terus merengek sambil membuntuti sang papa kemanapun pria itu melangkah.


Saat ini mereka sudah kembali ke rumah,rencana membahas pernikahan yang akan di langsungkan malam ini nyatanya di tunda karena cuaca mendadak hujan.

__ADS_1


"Pa.."


Zee kembali merengek saat sang papa sibuk dengan handphone di tangannya dan mengabaikan Zee.


"Mama,bantuin dong!"


Zee membalikkan badannya ke belakang dan menjadikan Diana sebagai objek sasaran rengekkannya.


"Mama gak bisa sayang. Itu kan keputusan papa kamu." Diana menjawab dengan berbisik  sambil mengusap-usap kepala Zee.


Zee berdecak kesal kemudian menarik paksa sang mama agar mengikutinya hingga ke sofa ruang tengah.


"Tapi mam. Zee belum siap nikah." Zee melanjutkan rengekannya dengan tatapan memohon.


Diana mendelikkan kedua bola matanya lalu menundik kepala Zee dengan sinis menggunakan jari telunjuknya.


"Belum siap nikah tapi kelakuannya udah di luar nalar. Memangnya kamu mau hamil dulu baru nikah?"


"Astaga mama!" Zee berkata dengan shock. Satu tangannya refleks memegang dada dengan ekspresi sok sedih.


Diana kembali mencibir. "Waras kamu bilang? Terus tadi apa? Kalian ngapain timpuk-timpukan di ranjang? Main gulat?"


"Ma....!!"


Zee makin merenggut malu dengan ledekan sekaligus teguran dari mamanya itu.


"Mama kira ya Zee,kamu sama Arkhan itu beneran putus terus saling benci. Eh gak tau..."


Diana menatap putrinya itu dengan sinis sambil geleng-geleng kepala.


Astaga....


Demi apapun,jika saja Zee bisa menghentikan waktu kemudian memutarnya lagi ke kejadian sebelum ia ke rumah Arkhan. Maka bisa di pastikan Zee akan melakukannya agar kejadian malam ini tidak terjadi. Namun apa daya. Zee hanya bisa pasrah.

__ADS_1


Dari arah ruang kerjanya,William tampak keluar sambil menelpon seseorang.


"Iya. Siapkan gedungnya pernikahannya mulai besok pagi dan harus selesai dalam waktu dua hari."


"Siapkan reporter juga sekalian. Lalu untuk kartu undangan,nanti akan saya kirimkan list para tamunya."


"Iya. Baik. Nanti saya hubungi lagi."


William tampak menurunkan ponsel dari telinganya kemudian menatap ke arah Zee dan Diana yang tengah duduk di sofa.


"Zee,besok kamu,Arkhan dan mama ke butiq-nya Clara. Kalian cari baju pengantin di sana sekalian cari cincin."


"Minggu depan pernikahan kalian AKAN di langsungkan!"


William berkata dengan nada tegas.


Setelahnya tanpa menunggu respon dari Zee,William kembali menelpon seseorang.


"Iya halo Van. Baik-baik,datang saja ke sini besok pagi. Iya. Bisa kita bicarakan besok pagi,saya akan liburkan Zee untuk satu minggu ke depan."


"Iya Van. Terimakasih."


William kembali memasukkan ponselnya ke dalam saku,kemudian menatap tajam ke arah Zee.


"Ingat Azellea! Minggu depan adalah hari pernikahan mu dan Arkhan. Tidak ada penolakan. Karena papa tidak mau ada hal yang lebih parah lagi dari semalam. Papa harap kamu mengerti."


Setelahnya William benar-benar pergi meninggalkan Zee tanpa menoleh lagi. Tak lama setelahnya,Diana juga beranjak dari tempatnya meninggalkan Zee yang hanya bisa duduk termenung memikirkan rangkaian kejadian yang terjadi beberapa saat lalu.


"Why?"


♡♡♡


Next...

__ADS_1


Sepuluh bab lagi akan otor tamatkan..


__ADS_2