
Maaf sebelumnya atas update yang maju mundur. Jujur guys...
Azell lagi sibuk banget,akhir tahun banyak acara guys...
Banyak turnamen dan perlombaan yang di mana Azell terlibat di dalamnya sebagai kakak pembina yang membuat Azell jarang banget sempat ngetik.
Alhasil novel Azell terbang kalai..
Azell benar-benar minta maaf tapi Azell janji kendati sibuk Azell akan tetap up walaupun cuma dua bab per dua atau tiga hari..
Oh ya,kendati sudah lewat otor tetap ingin mengucapkan selamat hari raya natal bagi yang merayakan dan selamat menyambut tahun haru bagi semua...
I Love U guys...
♡♡♡
"APA?!!"
Suara William terdengar menggelegar memenuhi ruang kerjanya.
Satu jam yang lalu Zee pulang ke rumah bersama dengan Davian dan satu pria asing yang cukup William kenal karena akhir-akhir sering datang ke rumah atas permintaan Diana.
Awalnya tidak terjadi kericuhan apapun,Arrel datang bersama Zee dan Davian. Mereka mengobrol biasa di ruang tamu,awalnya hanya obrolan ringan sampai tiba-tiba Zee mengalihkan dengan menceritakan tentang siapa itu Arrel.
Bukan main kagetnya William mendengar cerita Zee hari itu.
"Melissa sungguh keterlaluan. Tidak ku sangka jika dia masih menyimpan rahasia sebesar ini,apa dia tidak kapok dengan hukuman dua tahun lalu. Harus ku apakan lagi wanita sialan itu."
William benar-benar terlihat penuh emosi.
Di sebelahnya ada Diana yang tengah mengelus-elus punggung tangan William,berusaha menenangkan suaminya yang terlihat sangat emosi.
Zee berdehem pelan dengan tangan bersedikap di dada.
"Zee rasa tidak ada yang perlu papa lakukan karena semuanya sudah terjadi. Seperti yang pernah Zee bilang jika akan ada masalah maka silahkan cegah tapi jika memang sudah terjadi ya biarkan saja."
"Papa tidak bisa merubah apapun kecuali jika bisa memutar waktu. Daripada memikirkan bagaimana memberi karma pada masa lalu,lebih baik pikirkan bagaimana cara menata masa depan."
"Lagipula minggu depan pernikahan Zee dan Arkhan harus di langsungkan bukan? Undangannya juga sudah di sebar,jika mau memperpanjang masalah ini maka pernikahan ini harus di tunda dan bisa berakibat pada reputasi papa. So,sekarang terserah. Semua keputusan ada di tangan papa dan Arrel."
"Temui tante Melissa dan bicarakan tanpa memperpanjang masalah. Atau perpanjang masalah kalian lalu batalkan pernikahan aku dan Arkhan."
Setelah mengatakan kalimat itu,Zee berbalik hendak keluar dari ruang kerja William.
"Kak Zee tunggu."
Arrel mengejar langkah Zee dan berhasil mencekal tangan Zee yang akan memutar handle pintu.
"Arrel sudah punya keputusan." Kata pria itu dengan tergesa-gesa.
__ADS_1
Kedua alis Zee bertaut dengan ekspreis seolah berkata.
"Oh ya?"
Arrel melanjutkan lagi kalimatnya barusan.
"Arrel akan memaafkan mama Melisaa tapi untuk sementara Arrel belum siap bertemu dengan beliau. Arre juga meminta papa untuk tidak memperpanjang masalah ini setidaknya sampai pernikahan kak Zee dan bang Ar di laksanakan."
"Arrel tau di sini papa adalah korban,tapi Arrel juga korban dari ego kalian dulu jadi Arrel berhak mengambil keputusan."
"Keputusannya lainnya adalah,Arrel akan tetap tinggal di rumah papa Bagaskara,menjalani kehidupan selayaknya Arrel yang dulu sebelum Arrel tau siapa Arrel sebenarnya. Itu adalah semua keputusan yang Arrel buat,dan Arrel berharap kalian tidak keberatan."
Arrel berkata dengan nada tegas dan terselip permohonan di sorot matanya.
Zee menepuk pundak Arrel pelan.
"Keputusan yang bijak. Tapi kakak sarankan untuk beberapa hari ini tinggalah di sini,setidaknya sampai gue dan Arkhan menikah. Lagipula lo kan adik gue,gue mau lo hadir di hari pernikahan gue. Bawa papa sama mama angkat lo juga ke sini."
"Lo tenang aja,rumah ini banyak kamarnya. Jadi mau lo bawa sepuluh orang ke sini juga gak bakalan bikin sesek. Pembantu di sini aja jumlahnya puluhan."
Zee sedikit menyombongkan kekayaan keluarga mereka pada Arrel.
Arrel melengos malas mendengarnya.
"Ya..,ya..,terserah anda nona muda William. Tapi walau bagaimana pun juga,Arrel cukup tau diri. Arrel akan.."
"Jangan menentang kakak kamu Arrel. Jika kakak kamu sudah bilang kamu harus tinggal di sini maka kamu harus tinggal. Jangan membuat Zee marah,karena akibatnya bisa fatal."
Arrel tercekat,sulit berkata-kata lagi. Sejujurnya ia masih takut pada sosok William yang menurutnya sangat dingin dan kaku. Jadi yang bisa di lakukan oleh Arrel adalah mengangguk pasrah karena tidak punya pilihan lain.
♡♡♡
Dua hari berlalu,kini permasalahan runyam yang sempat terjadi di keluarga William akhirnya terselesaikan. Pernikahan Zee dan Arkhan juga tak terasa tinggal menunggu hari.
Saat ini Arkhan tengah duduk di ruang kerjanya sambil menatap standing-kalender di depannya. Di sana ada dua tanggal yang ia kolom menggunakan spidol.
Tanggal pertama adalah tanggal ulang tahun Zee yang akan berlangsung lusa dan tiga hari setelahnya adalah hari pernikahan Zee dan Arkhan.
Lusa,bertepatan dengan hari ulang tahun Zee. Arkhan rencananya ingin memberi gadis itu kejutan spesial dan antimainstream.
Berbagai konsep sedang Arkhan pikirkan, intinya di ulang tahun Zee kali ini Arkhan mau memberikan sesuatu yang nantinya akan terus Zee kenang,sesuatu yang sebelumnya tidak pernah di lakukan oleh orang lain dan hanya dialah orang pertama yang akan melakukan itu.
Namun permasalahannya,untuk menyiapkan kejutan tersebut. Arkhan butuh patner,kejutan yang ingin ia rancang tak hanya melibatkan aksi tapi juga perlu teori dan isi otak yang memadai.
Seperti yang sudah di ketahui,Zee ini di kenal sebagai gadis terpintar di kampusnya dulu. Jadi Arkhan berniat menguji kepintaran gadis itu di ulang tahunnya nanti.
Namun untuk memberi Zee ujian,Arkhan butuh patner karena ia yakin jika otak ceteknya tidak akan mampu mewujudkan rencananya jika tidak di bantu seseorang yang memang sepadan di bidangnya.
Arkhan tersandar di kursi kerjanya,sejenak. Memikirkan siapakah patner yang harus ia hubungi untuk melakukan ini semua dan darimana ia harus memulai agar rencananya berjalan dengan lancar? Semua pertanyaan itu membuat Arkhan melamun hingga akhirnya tersadar saat mendengar HP-nya berbunyi.
__ADS_1
Nama Davian tertera di sana. Seperti sebuah Ilham yang di cari langsung ketemu,nah begitulah perasaan Arkhan saat ini. Ia senang karena seperti di beri petunjuk dengan kemunculan calon kakak iparnya itu.
Buru-buru Arkhan menjawab panggilan tersebut.
"Halo,Vian. Kebetulan banget! Gue butuh bantuan lo."
Arkhan tanpa tendeng aling-aling langsung mengungkapkan isi hatinya membuat umpatan terdengar di seberang sana.
"Kagak tau diri emang lo ya!! Orang nelpon bukannya di sapa baik-baik. Malah langsung lo todong,mau di depak lu?"
Davian terdengar emosi di seberang sana.
Arkhan mengabaikan omelan Davian dan tetap melanjutkan permintaannya.
"Bisa gak? Genting nih! Kalau gak bisa,gue matiin aja nih teleponnya. Apaan! Gak guna!"
"Eh,kampret!! Ngomong mah ngomong aja,gak usah ngatain gitu! Bikin gue darah tinggi aja! Buruan bilang,apa mau lo??"
Arkhan langsung sumringah mendengar jawaban Davian. Ia pun menjawab,
"jadi gini bro,gue mau ngasih Zee kejutan di hari bronjolnya dia. Gue tau selama ini dia selalu gak suka ulang tahunnya di rayain karena ada kenangan pait di hari itu,tapi kali ini gue ngerasa udah saatnya Zee ngelupain kenangan buruk itu dan ganti semuanya dengan memori baru."
"Gue mau bikin sesuatu yang benar-benar berkesan yang gue jamin Zee bakalan suka dan dia bakalan mengganti ingatan buruknya dengan lembaran baru lewat kejutan yang gue buat. Gimana menurut lo? Kira-kira sebagian dari ide gue ini menarik gak?"
Di seberang sana terdengar helaan napas.
"Lumayan sih Ar. Sebenarnya gue nelepon elo juga karena mau ngebahas masalah hari ulang tahun Zee. Gue kira lo lupa,tapi untungnya lo ingat. So,jadi,gimana rencana lo selanjutnya?"
Arkhan menjawab dengan semangat. "Gue butuh bantuan lo bro. Lo dateng ke rumah bunda gue sepulang kerja nanti,kita bahas tentang hal ini d rumah bunda. Bisa?"
"Bisa. Pulang kerja gue langsung ke sana. Tungguin aja."
"Key sip. Gue tungguin,jangan sampe telat."
"Hm.."
Telepon di matikan,Arkhan memasang senyun Devil. Ia tidak sabar menunggu lusa,momen kali ini benar-benar akan menjadi momen mendebarkan dalam hidup Arkhan dan Arkhan tak sabar menantinya.
"Semoga tidak ada halangannya." Doa Arkhan sungguh-sungguh dengan senyum lebar.
Namun senyum di wajah Arkhan pudar seketika saat otaknya mengingat sesuatu. Sesuatu yang sepertinya akan membuat rencana Arkhan berjalan dengan tidak lancar buru-buru Arkhan menekan panggilan balik pada nomor Davian dan tak lama panggilan terhubung.
"Kenapa lagi?" Terdengar Davian bertanya tanpa basa-basi.
Arkhan memerosotkan bahunya dengan lemas kemudian berkata.
"Lusa gue ada kerjaan di Bandung."
♡♡♡
__ADS_1
Okey...
Anggap aja Arkhan lagi apes...