
Pagi itu,suasana di ruang tengah mansion William tampak ramai oleh perkumpulan dua keluarga yaitu keluarga Willian dan Ivander.
Di samping dua keluarga itu,ada juga sepasang remaja yang akan di adili hari ini. Keduanya menampakkan raut wajah muram,sangat aneh dengan kenyataan bahwasanya mereka dulu pernah menjalin kasih.
"Makanya! Jangan aneh-aneh kalau gak mau di nikahin." Sindir Davian pada sang adik yang duduk di apit Clara dan Diana.
"Diem!" Zee mendelik sebal ke arah Davian dengan nafas memburu. Tangannya gatal ingin menampol kepala Davian.
Kemudian kepapa Zee beralih ke arah tuan Ivander dan Nyonya Tania. Dengan wajah di buat semelas mungkin,Zee pun berkata.
"Bunda,Ayah. Yang semalam itu tidak seperti yang papa dan mama Zee pikirkan. Itu cuma salah paham."
"Begini bunda,biar aku jelaskan kronologinya. Semalam,setelah makan malam Zee pergi keluar rumah. Hanya iseng-iseng saja ingin bertamu tetangga..."
"Bilang aja kangen." Sewot Davian.
"Diem." Zee melempar biskuit ke wajah Davian.
"Nah bunda,saat di sana. Arkhan lagi masak,Zee kan tau kalau masakan Arkhan enak apalagi steak buatannya. Jadi Zee minta di bikinin juga. Eh taunya malah di ajak barbequean di halaman belakang."
"Zee gak nolak dong bun. Tapi setelah di halaman belakang,ada tragedi lain. Terus papa sama mama datang. Tapi sumpah bun,sebenarnya kita itu gak lagi ngapa-ngapain. Beneran. Iya kan Ar?"
Zee kini minta pembelaan pada Arkhan.
Arkhan dengan bodohnya menggeleng.
"Ngapa-ngapain dong. Kita kan manggang daging semalam. Emang itu gak termasuk konsep ngapa-ngapain?"
"ARKHAN!!"
Zee kehabisan kata-kata mendengar jawaban Arkhan yang malah makin memperkeruh suasana hatinya.
William dan Ivander hanya bisa geleng-geleng kepala,tidak mengerti dengan konflik rumah tangga yang tengah di alami oleh dua sejoli yang sebentar lagi akan di satukan itu.
"Sudah-sudah. Zee,Arkhan,ada yang ingin ayah tanyakan." Tuan Ivander mulai buka suara. Ia berkata sambil menatap lekat kedua putra putrinya ini.
"Apa sudah ada tanda-tanda kehamilan? Berapa cucu yang akan kalian berdua berikan pada kami?"
Bagai di sambar listrik bertegangan tinggi,Zee terdiam kaku sekaligus takjub dengan pertanyaan calon mertuanya ini.
Di sisi lain,ada Arkhan yang menampar jidatnya sendiri dengan pelan saat mendengar pertanyaan tak masuk akal yang keluar dari bibir sialan ayahnya itu.
"Ayah...,serius ih." Bunda berbisik pada ayah sambil menahan malu sekaligus kesal.
Ayah ikut berbisik dengan nada yang tidak pelan. "Ayah juga serius bunda. Kan mereka minta anak kita tanggung jawab,berati Zee lagi hamil dong. Kita ini sebentar lagi akan punya cucu."
"Iya kan Zee?"
"Nggak!" Gadis itu malah nyolot.
__ADS_1
"Kesal-kesal,ku tampol juga bapakmu Ar." Batin Zee sambil meneganggkan jempol kakinya.
Arkhan memijat hidungnya yang mendadak kesemutan mendengar ocehan sang ayah. Setitik rasa geram muncul di sudut hatinya.
"Ayah. Bicara yang serius! Zee belum hamil tau! Orang belum di apa-apain juga." Arkhan ikutan nyolot dengan mata melotot.
Delice mendadak bergidik di tempatnya.
"Apa? Belum hamil? Jadi ada rencana mau di hamilin dong? Wah? Kapan?" Tanya anak itu makin memperkeruh suasana.
"DELICE!!" Teriak Zee dan Arkhan kompak.
Setelahnya keduanya saling toleh dan kembali saling bentak dengan nada kompak.
"APA?"
"APA?"
"APA LO??!"
"Zee..,udah." Clara mencubit pinggang adik iparnya itu dengan sedikit kuat membuat Zee berhenti bersuara.
"Ekem. Biarkan saya bicara terlebih dahulu." William memotong pembicaraan tak berfaedah tadi.
"Begini semuanya,sebelumnya saya ingin meminta maaf atas kesalahan putri kami yang.."
"Pttff.." Davian menutup mulutnya dengan segera saal menyadari ia akan kelepasan tertawa.
"Davian. Papa sedang serius!!"
"Di sini memang letak kesalahannya ada pada Zee karena dia yang duluan datang ke rumah Arkhan."
"Coba bayangkan jika papa yang jadi Arkhan. Ada gadis cantik yang datang ke rumah papa malam-malam,pasti akan papa tindaki juga sama seperti kelakuan Arkhan tadi malam. Kalian semua di sini kan pasti tau kalau laku-laki itu suka di pancing."
William menyeplos asal tanpa menyadari ada dua tanduk fatamorgana yang tumbuh di kepala sang istri.
"Ohh...,jadi begitu..." Diana tersenyum iblis menatap wajah sang suami yang mendadak pucat pasi.
"Hah,kau mampus!" Batin Zee tersenyum puas.
"Mam,sebaiknya batalkan saja acara konyol ini. Zee dan Arkhan kan sudah putus."
Zee mencari kesempatan untuk membatalkan pernikahan mereka.
"Oh. Tidak bisa!" Bunda bersorak cepat.
"Bunda sudah hubungi pihak katering untuk menyediakam konsumsi di acara pernikahan kalian. Bunda juga sudah hubungi WO untuk mendekorasi gedung pengantinnya,belum lagi cincin sudah di beli...."
"Dan yang paling utama! Undangan sudah di sebarkan pagi tadi. Bukan begitu Din?"
__ADS_1
Bunda menatap calon besan perempuannya sambil mengerlingkan matanya.
"What? S..sudah di sebarkan? Bukannya papa baru menghubungi orang-orang semalam ya?" Tanya Zee tak percaya.
Diana mengangguk. "Iya memang. Tapi mama sudah suruh Arrel,Jessie,Bella dan Sandra dan Nathan untuk membantu menyebarkan undangan. Betul tidak mbak?" Diana bertanya balik pada bunda.
Bunda mengangguk mantap dan setelahnya keduanya bertos ria.
"Sudahlah sayang. Pernikahan ini memang harus berlangsung,kamu kan tau kolega bisnis kita itu banyak. Malu dong kalau pernikahannya harus batal sementara undangan sudah di sebar."
Diana menakut-nakuti Zee.
Zee merenggut sebal kemudian menoleh pada Arkhan.
"Ar,gimana sih ini? Gue gak mau nikah sama lo!" Zee merengek pada sang mantan.
"Tapi gue mau!" Jawab Arkhan santai.
"Tuh kan liat. Anak ayah itu mau bertanggung jawab Zee,kamu harus menghargai niat baiknnya." Celetuk ayah Ivander.
"Tapi ayah..,Zee gak hamil. Apanya yang mau di tanggung jawab?"
"Tentu saja calon anak kalian nanti." Ayah kembali mengutarakan sesuatu yang seharusnya di selatankan.
"Ayah..,tidak ada anak di sini." Zee menunjuk-nunjuk perutnya yang datar itu dengan kesal.
"Ayah bisa lihat sendiri,perut Zee masih berotot."
Zee mengangkat piyama doraemonnya yang menampakkan keempat roti sobek yang selama ini ia bentuk.
Refleks ayah menutup matanya sedangkan Diana langsung menutupi perut Zee dengan bantal sofa.
"Astaga. Adek gue!" Batin Davian miris.
"Gak usah lo tunjukkin juga bego!" Bentak Clara merasa kesal dengan tindakan adik iparnya itu.
"Pokoknya hamil tidak hamil. Kalian berdua tetap harus di nikahkan. Pacaran kalian itu sudah terlalu lama,kalau harus di tunda lagi. Kapan kami akan menggendong cucu? Kami ini sudah tua. Mau menggendong cucu,betul tidak??"
Ayah bersorak seperti sedang menyampaikan orasi.
"BETUL!!" Diana,William dan Bunda bersorak kompak.
"Sekarang,Arkhan,Zee. Kalian ikutlah dengan mama dan bunda ke butiq. Kalian harus fitting baju pengantin."
Bahu Zee seketika melemas,sedangkan Arkhan bersorak senang dan segera bangkit dari duduknya.
Sunggung pemandangan yang membagongkan.
♡♡♡
__ADS_1
Maaf atas penulisan cerita yang entah apakah ini....
Intinya aku tuh lagi sibuk banget,jadi akan jarang up tapi mungkin sekali up akan ada beberapa bab gitu...