
Jam sudah menunjukkan hampir pukul tujuh malam,terdengar pintu kamar mandi terbuka dan Zee keluar dari sana dengan mengenakan bathdrobe.
"Udah mandinya?"
Tanya Arkhan pada Zee.
"Udah." Jawabnya logis setengah malas. Pertanyaan Arkhan terlalu basi untuk di jawab.
"Udah jam tujuh loh,kamu mandinya lama banget sih. Ngapain aja di dalam?" Tanya Arkhan jengkel.
Dimalam pertama mereka Zee sudah membuat ulah,bagaimana tidak jengkel coba.
Zee berbalik dan berjalan mendekati Arkhan.
"Sorry ya,tadi aku berendam dulu. Badan aku pegal-pegal semua Ar,nih liat sama kamu. Belakang kaki aku aja masih memerah karna kelamaan pakai heels. Aku tuh.."
Zee mengurungkan niatnya mengoceh saat telunjuk hangat Arkhan menempel di atas bibirnya.
"Berisik." Tegur Arkhan dengan nada berbisik.
Perlakuan Arkhan barusan membuat rasa panas kembali menjalar di wajah Zee menampilkan rona merah muda yang menjalar sampai ke pipi.
"Astaga."
Batin Zee.
"K..kamu gak mandi?" Tanya Zee dengan gugup sambil menurunkan telunjuk Arkhan dari bibirnya.
Arkhan mengernyit kemudian mendengus dan menbuang mukanya ke arah lain.
"Gue mogok mandi!" Jawabnya ketus membuat Zee heran sendiri.
Zee langsung dagu Arkhan agar wajah pria itu menghadap kearahnya.
"Kenapa memangnya?" Tanya Zee heran.
"Arkhan mendengus lagi. "Ya habis..,kamu sih. Tadi kan aku bilangnya MAU MANDI BARENG!! Trus kenapa kamu bentak??"
Arkhan bertanya dengan nada merajuk. Persis seperti anak kecil yang tidak dibelikan mainan oleh ibunya.
Zee semakin heran dengan kelakuan Arkhan.
"Masa kamu ngambek karena gak diajakin mandi sih Ar? Aneh deh. Lagian kan biasanya kamu mandi sendiri. Baik-baik aja tuh,gak harus di mandiin? Sejak kapan kamu jadi manja gini?"
Entah yang Zee tak peka atau memang Zee bodoh,atau sengaja bodo amat. Intinya saat ini Arkhan ingin sekali mencekik gadis itu saking kesalnya.
"Untung sayang." Batin Arkhan sambil mengusap dadanya pelan.
Sesaat setelahnya Arkhan berdiri dan menunjuk di sini.
"Lihat aja nanti malam. Aku bikin kamu gak bisa jalan sampai besok pagi!!"
Ketus Arkhan sambil berbalik dan berjalan dengan kaki dihentak-hentakan hingga kendepan pintu kamar mandi.
Dan
"Brak.."
Arkhan membanting pintu dengan kuat membuat Zee harus mengusap dadanya karena kaget.
♡♡♡
Lima belas menit berlalu,Arkhan keluar dari kamar mandi dengan raut masam.
Ia berjalan begitu saja melewati Zee yang tampak belum berganti baju dan masih duduk di posisi yang sama. Di tepi ranjang,persis seperti sebelum Arkhan masuk ke kamar mandi.
"Kenapa liat-liat?" Sewot Arkhan kesal karena Zee terlihat mengikuti pergerakannya dengan sudut matanya.
Zee mengerutkan keningnya seraya beranjak mendekati Arkhan dan menelusupkan tubuhnya ke hadapan Arkhan yang tengah menghadap lemari.
"Kamu marah?" Tanya Zee hati-hati sambil mendongak agar bisa menatap wajah Arkhan.
Arkhan membuang mukanya ke arah lain.
"Menurut kamu??"
"Ya mana aku tau." Jawab Zee yang malah ikutan kesal.
Mau tak mau Arkhan mengalihkan pandangannya ke arah Zee seraya menarik wajah Zee agar menatap dirinya.
__ADS_1
"Aku gak marah,cuma kesel aja. Kamu kan tau ini malam pengantin kita,tapi bukannya ninggalin kesan romantis kamu malah...
Arkhan yang sengaja menggantukan kalimatnay seraya menatap Zee dengan lekat.
Zee yang merasa bersalah segera menunduk. Ia paham sudah kemana arah pembicaraan Arkhan saat ini.
Perlahan Zee melingkarkan tangannya ke pinggang Arkhan dan memeluknya erat.
"Sorry.."
Bisik Zee pelan di sela-sela pelukannya.
Arkhan masih belum membalas pelukan Zee membuat gadis itu semakin merasa bersalah.
"Lo belum siap?" Tanya Arkhan tiba-tiba,tanpa panggilan 'aku kamu' seperti yang sebelumnya ia lakukan.
Zee semakin resah dengan pertanyaan Arkhan barusan. Apalagi Arkhan sama sekali tidak membalas pelukannya.
"Jawab Zee,gue gak marah. Gue cuma nanya." Bisik Arkhan. Kali ini dengan nada yang lebih bersahabat.
Zee menggeleng. "G...gue..,gue.."
"Gue gak maksa kalau emang lo belum siap.."
Arkhan akhirnya membalas pelukan Zee dengan singkat dan melepaskannya secepat mungkin.
Karena tidak bisa dipungkiri,berpelukan dengan Zee yang memakai bathdrobe dan dirinya yang hanya memakain handuk sepinggang membuat sesuatu di dalam diri Arkhan bergejolak dan Arkhan tidak mau menyiksa dirinya dengan rasa itu. Sedangkan Zee sepertinya belum siap di sentuh olehnya.
Arkhan menyingkirkan badan Zee ke samping dan memilih membuka lemari untuk mengambil baju ganti.
Namun pergerakan Arkhan terhenti saat sepasang tangan munggil kembali memeluknya dari belakang bahkan kali ini badan Zee menempel dengan posisi yang lebih intim dari sebelumnya.
Arkhan menggeram frustasi seraya berusaha melepaskan tangan Zee dari pinggangnya.
"Zee..,lo tau kan apa akibatnya kalau meluk gue kayak gini?"
Tanya Arkhan dengan suara berat dan serak.
Zee mengangguk dengan kepala masih menempel di belakang Arkhan.
Arkhan segera membalikkan tubuhnya hingga kini posisinya menghadap ke arah Zee dengan posisi wajah Zee berada tepat di depan dadanya.
"Zee..??"
Jawab Zee tegas sambil kembali memeluk Zee.
Arkhan mengurungkan niatnya untuk mengganti baju dan beralih menggendong Zee dengan posisi anak koala.
Arkhan membawa tubuh Zee hingga ke tepi kasur dan mendudukkannya di sana.
"Yakin??" Tanya Arkhan memastikan.
Zee menunduk sambil mengangguk.
Arkhan mendorong pelan tubuh Zee hingga terbaring di atas ranjang. Kemudian dengan gerakan cepat,Arkhan mengukung tubuh Zee dari atas.
"Gue gak maksa Zee,tapi kalau memang lo udah siap. Gue bakal lakuin sekarang juga. Lo yakin udah siap?" Tanya Arkhan lagi.
Sekali lagi Zee mengangguk.
Dan detik berikutnya tanpa banyak kata lagi,Arkhan membenamkan bibirnya di kening Zee seraya mengecupnya pelan membuat Zee memejamkan matanya.
Dari kening,gerakan Arkhan perlahan turun menuju bibir,suara kecapan perlahan terdengar hingga dirasa pasokan oksigen berkurang. Arkhan pun melepaskan pangutannya dan menatap dalam raut wajah Zee yang terlihat memerah.
"Boleh?" Tanya Arkhan dengan suara yang semakin berat.
Tak ada jawaban karena Zee sudah memejamkan matanya dengan kedua tangan yang melingkar erat di tubuh Arkhan.
Arkhan mulai mengalihkan gerakannya menuju leher jenjang Zee dan membuat beberapa tanda kepemilikan di sana dan perlakuan Arkhan berhasil membuat suara lenguhan Zee terdengar.
Tubuh Zee terlihat meliuk-liuk saat tangan Arkhan dengan nakalnya menggoda titik-titik sensitif di tubuhnya.
"Eghh.."
Lenguhan Zee terdengar lagi saat Arkhan menyingkap bathrobe yang Zee kenakan dan bermain di kedua area sensitifnya.
"Your mine Zee..." Bisik Arkhan sambil mengecup leher Zee seraya melepaskan bathdrobe yang menutupi tubuh Zee dan membuangnya ke lantai.
Arkhan juga melepaskan handuk ia kenakang hingga menyisakan tubuh polosnya saja. Kemudian Arkhan meraih selimut untuk menutupi keduanya dan mulai melakukan penyatuan.
__ADS_1
"Tahan ya,mungkin akan sedikit sakit. Lo boleh gigit ataupun jambak gue sebagai pelampiasannya."
Bisik Arkhan sebelum benar-benar menyatukan tubuh keduanya.
Zee terlihat mengangguk. Sembari mengalihkan pegangangannya menuju ke lengan Arkhan.
"Shh..."
"Sakit Ar..."
Ringis Zee saat Arkhan mulai melakukan penyatuan mereka.
Arkhan menghentikan sebentar pergerakannya,membiarkan Zee rileks sejenak.
Arkhan juga memberi kecupan-kecupan kecil di leher Zee untuk membangkitkan gairah Zee agar rasa sakitnya teralihkan.
Setelah dirasa Zee cukup rileks.
Arkhan kembali melakukan penekanan di area int*m mereka dan...
"Jleb.."
Berhasil.
Arkhan berhasil membuka segel kemasan milik Zee diiringi jeritan yang cukup kuat dari bibir Zee.
Sejenak Arkhan tidak melakukan pergerakan apapun. Menunggu sampai Zee benar-benar siap dengan kehadiran adik kecilnya itu.
Hingga tiga puluh detik berlalu. Zee yang tadi memejamkan matanya kini perlahan membuka matanya dan menatap Arkhan sendu.
"Masih sakit?" Tanya Arkhan dengan lembut.
Zee mengangguk. "Sedikit."
"Boleh aku gerakin?" tanya Arkhan lagi.
Sekali lagi Zee mengangguk.
Arkhan perlahan mulai menggerakkan pinggulnya,awalnya dengan gerakan pelan namun semakin bertambah seiring sensasi aneh yang kian muncul di setiap pergerakan keduanya.
Cengkraman tangan Zee di pinggang Arkhan semakin mengeras seiring gerakan Arkhan yang semakin tak terkendali hingga dirasa segalanya sudah mencapai puncak.
Arkhan mengeraskan pergerakannya hingga beberapa menit kemudian. Suatu cairan yang hangat mengalir memenuhi liang Zee,Arkhan mencapai pelepasannya begitupun dengan Zee.
Tangan Arkhan terulur merapikan helaian rambut yang menutupi wajah Zee dan memgusap lembut sisa-sisa keringat yang membahasi hampir keseluruhan dari wajah Zee.
"Terimakasih Zee,aku mencintaimu."
Bisik Arkhan sambil membenamkan sebuah kecupan sayang di puncak kepala Zee.
Zee mengangguk seraya menatap Arkhan dengan dalam.
"Terimakasih." Balas Zee dengan napas yang masih tersengal.
Arkhan menatap Zee dengan penuh keheranan sambil melepaskan penyatuan mereka.
"Lo gak mau balas ungkapan cinta gue?"
Tanya Arkhan dengan nada kecewa.
Zee menggeleng. "Tidak sebelum kamu jelasin tentang kejutan di bioskop tempo lalu."
Arkhan seketika menjatuhkan kepalanya diantara ceruk leher Zee dan mengecupnya pelan membuat Zee tertawa.
"Geli Ar.." Rengek Zee membuat Arkhan kembali menindih tubuhnya.
"Lo mau denger ceritanya?" Tanya Arkhan lagi.
"Mau.." Jawab Zee semangat.
Arkhan mengangguk singkat.
"Akan gue ceritain...
"Tapi nanti..."
"Setelah ronde dua.."
Seru Arkhan sambil kembali melakukan penyatuan yang membuat Zee mendesah keras.
__ADS_1
Malam yang panjang sekaligus pembuka lembaran baru di kehidupan rumah tangga mereka selanjutnya...
~Tamat~