
Acara makan malam kali ini berlangsung hening,Delice yang biasanya mengoceh kali ini tampak tidak berbicara sedikitpun. Ia bahkan hanya makan sedikit sebelum akhirnya mengambil tisu untun mengelap bibirnya.
"Delice selesai yah,bund. Eliz duluan ke kamar ya." Ujar Delice sambil berlalu meninggalkan meja makan.
Bunda dan ayahnya saling bertatapan.
"Delice kenapa bund?" Tanya Ayah heran.
Bunda menggeleng. "Gak tau. Ngambek mungkin,habis bunda marahin dia. Masa ngerjain Kim habis-habisan kemarin."
Bunda mengadukan perbuatan putrinya pada sang ayah.
Tuan Ivander tampak memandang istrinya dengan mengernyit.
"Delice ngerjain orang lagi? Kayak kejadian pas SMA dulu?" Tanya sang ayah memastikan.
Bunda mengangguk. "Iya ayah. Sama persis,bunda tuh takut sama sikap bar-bar Delice,Agatha dan Clara. Takut kejadian dulu terulang lagi,gimana kalau yang di kerjain mereka tadi bukan Kim? Terus dia dendam dan nyelakain Eliz lagi? Bunda kan gak mau kejadian duli terulang lagi. Delice sampai masuk rumah sakit loh yah."
Bunda benar-benar tampak khawatir.
Ayah langsung menghentikan kegiatan makannya dan mengelus tangan istrinya dengan lembut.
"Jangan khawatir bun. Lagipula Eliz udah minta maaf kan sama Kimberlly? Nanti ayah juga bakalan ngomong sama Eliz dan minta maaf lagi sama Kimberlly. Nanti juga sekalian ayah kasih tau Zergan,biar dia yang nasehatin Eliz. Dia kan takut sama abang sulungnya itu."
Bunda mengangguk. "Untungnya Kim udah maafin Eliz sih yah. Tapi tetep aja,bunda takutnya nanti Eliz berulah lagi sama orang lain. Untung kali ini orangnya Kimberlly,dia baik mau maafin Eliz. Coba kalau orang lain. Haduh,pusing bunda sama kelakuan anak satu itu. Ada aja ulahnya."
Tampak bunda memijit pelipisnya yang terasa berdenyut mengingat kebar-baran Delice.
Sementara ayah yang berada di samping bunda hanya bisa mengelus punggung bunda dengan lembut untuk meredakan emosinya.
"Oh iya yah. Sebenarnya yang masak ini semua bukan bunda tau. Ini masakan Kimberlly,tadinya dia mau bunda ajak makan malam di sini. Tapi dianya nolak karena katanya kasian sama neneknya kalau hatus makan sendiri. Akhirnya bunda bagiin deh masakan ini buat dia dan neneknya."
"Bunda juga gak nyangka loh yah,ternyata Kim itu chef. Bunda baru tau hari ini,terus dia juga punya toko kue. Toko kuenya juga dekat sama kantor ayah. Kapan-kapan bunda mau deh mampir ke sana,lagian kan Kim ini teman kuliah Ar di New York dulu. Dunia sempit banget ya yah." Bunda tampak tertawa kecil saat menceritakam tentang Kim.
Tak tau kenapa,ayah yang mendengar keseluruhan cerita bunda merasa janggal dengan sesuatu.
"Bund,ayah gak salah dengar? Kimberlly tetangga baru kita itu teman kuliah Ar?"
Tanya ayah.
Bunda mengangguk membenarkan. "Iya yah,benar teman dekat malah. Dan sekarang makin dekat karena kita tetanggan,terlebih tempat kerja mereka juga sekarang deketan. Makanya kemarin Kim bilang dia senang tinggal di sini dan kerja di sinu karena ada Arkhan."
Ayah tampak manggut-manggut sebentar, sebelum akhirya kembali berbicara.
__ADS_1
"Bund,kayaknya ayah tau deh kenapa Eliz ngerjain Kim." Ujar ayah tiba-tiba.
Bunda tampak memandang ayah bingung.
"Gimana maksud ayah?"
"Maksud ayah,Eliz itu kayaknya ngerjain Kim karena dia ngerasa Kim itu ancaman buat Ar dan Zee. Bunda lupa kalau Arkhan sekarang udah kembali ke Indonesia dan di sini kan ada pacarnya,pacaranya Arkhan itu sahabatnya Eliz,Eliz tau abangnya punya teman cewek ya dia pasti was-was. Secara kan yang bantu comblangin Zee sama Ar itu kan Eliz dan teman-temannya juga."
Jelas ayah membuat bunda tampak merenung.
"Bisa gitu emangnya yah?" Tanya bunda ragu.
Ayah mengangguk. "Ya menurut ayah sih gitu. Tapi nanti biar ayah tanya langsung sama Eliz kalau emosi dia udah agak reda."
Bunda mengangguk. "Ya udah deh. Bunda percayain sama ayah,tapi apapun alasan Eliz nanti. Ayah harus tetap ingetin Eliz supaya gak ngulangin perbuatan nakal itu lagi. Gak baik ayah,bahaya buat dia. Bisa-bisa dia masuk penjara atas tuduhan bullying. Kan ngeri." Bunda tampak benar-benar khawatir dengan kelakuan Eliz.
""Bunda tenang aja. Ayah janji ayah akan segera bicara sama Eliz."
Ayah menutup pembahasan tentang Delice dengan cara menenangkan kekhawatiran bunda.
Tak lama setelahnya Arkhan tampak masuk ke ruang makan dengan dua buah papper bag di tangannya. Ia baru pulang setelah makan malam di rumahnya selesai.
Arkhan meletakkan papper bag ke atas meja kemudian menyalami ayah dan bundanya secara bergiliran.
"Malam Ar." Bunda dan ayah menyahut berbarengan.
"Kamu udah makan malam? Mau bunda ambilkan piring lagi?" Tanya bunda pada putra keduanya itu.
"Gak usah bun. Ar udah makan tadi di rumah Zee,ini juga ada titipin bolu gulung sama muffin dari Zee dan mamanya." Ujar Arkhan sambil menyodorkan dua buah papper tadi ke hadapan bunda.
Bunda meraih papper bag tadi dan membuka isi di dalamnya.
"Bunda udah kenyang sih. Tapi gak papa,nanti bunda taruh di kulkas aja biar besok masih bisa di makan." Ujar bunda setelahnya.
Ar mengangguk,kemudian memperhatikan ke sekeliling.
"Bun,Delice mana?" Tanya Ar setelah sadar jika adiknya tidak ada diantara mereka. "Eliz gak makan malam?" Tanyanya lagi.
"Eliz makan malam Ar. Cuma tadi kayaknya masih ngambek,makanya duluan naik."
"Kedua alis Arkhan bertaut. "Ngambek kenapa?" Tanya Ar heran. Tak biasanya Delice seperti ini.
"Bunda marahin karena ngerjain Kim." Jelas bunda singkat.
__ADS_1
Kedua alis Arkhan makin menukik heran.
"Kim? Kimberlly tetangga sebelah maksud bunda?"
Bunda mengangguk. "Iya Ar. Nanti biar jelas,kamu ke kamar Eliz aja. Kamu tanya langsung sama anaknya sekalian kamu nasehatin adik kamu itu. Biar di kurangin nakalnya." Bunda tampak kembali emosi saat membahas masalah Delice.
Arkhan tampak manggut-manggut mendengar jawaban bunda.
"Ya udah deh bun. Kalau gitu Ar ke kamar dulu,mau bersih-bersih. Nanti setelah bersih-bersih,Ar bakalan ngomong sama Eliz."
Bunda mengangguk dan membiarkan putranya itu pergi ke kamar.
♡♡♡
Arkhan berlalu ke lantai dua menuju kamarnya. Namun saat menaiki anak tangga,ia melihat ada Delice yang sudah menunggunya di kepala tangga dengan memasang tampak garang dan juga tangan yang bersedikap di dada.
Arkhan mempercepat langkahnya kemudian menghampiri sang adik.
"Kenapa lu?" Tanya Ar heran.
Delice tak menjawab,tapi ia justru menarik Arkhan agar mengikutinya masuk ke dalam kamarnya.
Dengan kasar ia mendorong Ar hingga terduduk di atas sofa.
Setelah itu Delice tampak berkacak pinggang sambil menatap abangnya sinis.
"Sekarang jelasin sama Eliz,tentang hubungan bang Ar dan kikim!!"
♡♡♡
Side story...
Eliz : Bang Ar,jelasin sama Eliz apa hubungan bang Ar dan kikim?
Bang Ar,be like : Kamu nanyeaaaaa? Kamu bertanya-tanya?
Eliz be like : abang kamvrett!!
Author ikutan be like : Ente kadang-kadang enye ya...
Jangan lupa like vote komen ya...
Rawrrr😌😾
__ADS_1