
Mansion William
Saat ini Zee dan keluarganya tengah melakukan kegiatan sarapan di ruang makan,ketika salah satu pelayan di kediman mereka datang dengan sedikit tergopoh-gopoh.
"Permisi Non Zee. Maaf menganggu." Panggilnya agak pelan,karena takut menganggu kegiatan keluarga kecil itu.
Zee menoleh,begitupun dengan kedua orangtuanya.
"Kenapa bi Ijah?" Tanya Zee heran,tak biasanya pelayan menganggu di saat mereka tengah sarapan.
"Maaf sebelumnya non. Tapi di depan ada den Arkhan. Nungguin non,bibi suruh tunggu di ruang tamu atau panggil ke sini non?" Tanya bi Ijah memastikan.
Zee tampak terdiam sebentar.
"Arkhan ke sini?" Tanyanya memastikan.
Bi Ijah mengangguk.
"Suruh ikut ke ruang makan ini aja bi. Bilang di suruh mamanya Zee ikut sarapan gitu."
Diana tiba-tiba nyeletuk diantara pembicaraan Zee dan bi Ijah.
Mendengar perintah dari nyonya besarnya,bi Ijah tampak meminta persetujuan Zee. Zee hanya mengangguk tanpa berniat protes. Ia malas jika nanti mamanya memberi pertanyaan macam-macam.
Melihat isyarat setuju dari Zee,bi Ijah pun kembali ke ruang tamu untuk memanggil Arkhan. Tak lama,bi Ijah kembali lagi bersama Arkhan yang tampak berjalan di belakangnya sembari menenteng sebuah rantang.
Setelah mengantarkan Arkhan,bi Ijah pamit dan Arkhan melanjutkan langkahnya mendekati meja makan.
"Selamat pagi,pa,ma." Sapanya pada kedua orangtua Zee.
"Pagi boo." Sapanya juga pada Zee yang tampan cuek-cuek saja dengan kedatangannya.
"Pagi Ar. Ayo duduk dulu,sarapan sama kita. Kamu bawa apa itu?" Diana terlihat antusias pada Arkhan.
"Ah,ini titipan nasi goreng dari bunda."
Ujar Arkhan sambil mendudukkan badannya di kursi sebelah Zee dan meletakkan rantang bawaannya ke atas meja makan.
Diana menyodorkan piring berisi sandwich ke hadapan Arkhan di tambah segelas susu hangat juga.
"Ar,kamu minum susu atau mau di buatin yougurt? Biar mama suruh bibi buatin."
__ADS_1
Diana kembali memberi opsi.
"Ini aja ma,lagian Ar udah sarapan tadi. Gak usah repot-repot. Atau Ar,tunggu di ruang tamu aja deh."
Arkhan memang terbiasa dengan keluarga Zee karena dulu ia sahabat Davian,tapi keberadaannya yang seperti tak terlihat oleh Zee saat ini membuatnya tak nyaman. Hampir saja Arkhan beranjak dari kursinya,namun suara tuan William mencegatnya.
"Duduk di sini saja Ar. Makan sarapan kamu, mamanya Zee biasanya marah jika suguhannya tidak di nikmati." Tuan William tampak ikut membujuk dengan nada suara rendahnya namun bahasanya kaku dan agak aneh untuk ukuran orang membujuk.
Karena tak enak hati,Arkhan akhirnya duduk sambil melirik ke arah Zee yang tampak tidak berbicara sedikitpun dari tadi.
Tanpa Arkhan sadari,gerak-geriknya dan Zee di perhatikan dengan detail oleh Diana yang sudah menyadari jika ada yang janggal dari Arkhan dan Zee sejak awal Arkhan datang tadi.
Apa mereka bertengkar? Batin Diana mulai menganalisa.
"Zee,Arkhan." Panggil Diana yang sudah lebih dahulu menyelesaikan sarapannya.
Zee melihat ke arah Diana dengan alis terangkat. "Kenapa? Mama mau minta di temenin shopping?" Tanya Zee asal.
Sesungguhnya ia sedang tidak fokus saat ini.
Diana menatap Zee dengan mulut setengah menganga.
"Yang beneran aja dong Zee. Sejak kapan mama suka shopping. Aduh kamu ini gimana sih,di sebelah ada pacar kamu loh. Kok dari tadi mama perhatiin kamu diem-diem aja? Cuek banget,kalian bertengkar?"
Arkhan tersedak mendengar pertanyaan Diana.
Perlahan ia menegakkan badannya kemudian menatap Diana,Zee,dan William secara bergiliran.
"Ma,Zee sama Ar gak bertengkar kok. Cuma ada sedikit salah paham aja,dan di sini Arkhan yang salah." Ujar Arkhan dengan raut wajah tak enaknya.
Diana menatap memicing ke arah dua pasangan itu,namun di lihat dari sudut manapun tak ada ekspresi nyambung sedikitpun dari wajah keduanya.
William yang melihat gelagat aneh dari dua sejoli yang ada di depannya ini jadi ikut penasaran.
"Zee? Kenapa pertanyaan mama tidak kamu jawab?" Tanya William pada sang anak.
Zee melengos kemudian meletakkan garpu dan sendok milikknya ke atas piring dengan sedikit hentakan.
"Bisa bahas ini nanti?" Tanya Zee dingin.
Arkhan yanh merasa sudah menganggu kegiatan sarapan pagi itu jadi merasa bersalah.
__ADS_1
"Pa,ma,boo. Aku pamit ke depan dulu,maaf menganggu dan terimakasih untuk sarapannya. Aku tunggu kamu di depan ya."
Arkhan berkata sambil beranjak dari kursinya. Kali ini tidak ada yang mencegah karena kedua orangtua Zee juga masih sibuk memperhatikan anak mereka.
"Zee? Jawab mama dong sayang,kamu sama Ar kenapa?" Tanya Diana masih di mode keponya.
Zee mendengus malas. "Gak papa ma. Cuma salah paham,Zee yang salah." Ujar Zee akhirnya buka suara.
Kini giliran Diana yang di buat bingung.
"Kalian ini gimana sih? Tadi katanya Arkhan yang salah,sekarang kamu yang salah. Jadi yang salah sebenarnya siapa?" Tanya Diana dengan raut greget.
"Hah..." William menghela napas malas melihat kelakuan kedua perempuan yang ia cintai itu.
Akhirya mau tak mau William ikut buka suara.
"Zee,papa menyarakan kamu untuk menyusul Arkhan ke luar. Kalau memang ada kesalahpahaman. Cepat selesaikan,hubungan kalian sudah berjalan hampir empat tahun. Tidak baik jika membiarkan masalah berlarut-larut." Ujar William memberi nasihat.
Malas berdebat panjang,Zee akhirnya bangun dari tempat duduknya.
"Ya udah,Zee susulin Arkhan sekalian langsung ke kantor. Zee bakalan selesain masalah Zee sama Arkhan pagi ini juga,papa sama mama gak usah khawatir." Ujar sambil beranjak dari kursinya kemudian menyalami kedua orangtuanya.
Melihat putrinya beranjak ke luar,Diana jadi hendak menyusul. Namun pergelangannya di cekal oleh sang suami.
"Mau kemana?" Tanya William heran.
"Nyusulin anak kita. Mama penasaran tau sama problematika rumah tangga mereka,kira-kira mereka berantem kenapa ya pa?" Tanya Diana masih dengan posisi berdiri.
William mengangkat bahunya dengan kepala menggeleng. "Mana papa tahu." Jawabnya logis.
Diana mendengus. "Ih papa,makanya itu mama mau keluar buat nyari tau."
Kekeh Diana,namun William tidak memberinya kesempatan dan malah menarik Diana hingga jatuh ke pangkuannya.
"Sudahlah. Tidak usah di cari tahu,nanti juga Zee akan bercerita sama kamu. Dia kan dekat sama kamu,tanpa di suruh pun dia akan cerita jika itu perlu,sekarang biarkan dia Arkhan menyelesaikan masalah mereka. Tugas kamu di sini,menemani saya sarapan." Ujar William mulai mengeluarkan jurus mautnya dalam membujuk sang istri.
Dan mau tak mau,Diana harus menekan jiwa keponya untuk sesaat karena ada bayi kolor ijo yang harus ia urus saat ini.
Sedangkan di luar rumah,Arkhan tampak menjalankan mobilnya ke luar gerbang. Ada Zee di sana dan sepertinya masalah mereka sedikit mulai teratasi karena buktinya Zee mau semobil dengan Arkhan.
Ya walaupun dari raut Zee,masih belum menunjukkan perubahan apapun.
__ADS_1
♡♡♡
Jangan lupa Like vote komen.