RUNTUH

RUNTUH
PUTUS??


__ADS_3

"Ckkk..,pintunya di kunci lagi."


Delice yang baru sampai di depan unit apartemen milik Arkhan langsung berdecak kesal saat dirinya tidak dapat masuk ke dalam karena pintunya terkunci.


"Gimana kak? Kak Zee ada di dalam?" Tanya Arrel memastikan begitu dirinya berhasil menyusul Delice.


Delice menggeleng. "Pintunya di kunci,tapi gue yakin abang sama Zee pasti di dalam sana. Ckk!! Bang Ar nyebelin banget sih!!"


Delice kembali berdecak sebal sambil menghentak-hentakkan kakinya ke lantai.


"Sabar kak. Mending makan martabak,biar moodnya bagus." Arrel mencoba menenangkan Delice dengan menyodorkan bungkusan martabak yang seharusnya punya Zee tadi.


Delice menyambar martabak pemberian Arrel dengan kasar.


"Makasih!" Ucapnya ketus.


"Sama-sama kak." Jawab Arrel kalem.


"Aneh banget,kenapa dari semua cewek yang gue temuin hari ini. Sikapnya pada galak semua,turunan tirex apa ya?" Batin Arrel sambil menghela napas menambah kesabarannya.


"Btw cil,nama lo siapa?" Tiba-tiba Delice bertanya yang jelas di tujukan pada Arrel.


"Gue Arrel Sagara William kak." Jawab Arrel masih dengan nada kalem.


Berbeda dengan Arrel yang bisa menjawab dengan kalem. Delice malah melotot dengan raut kaget.


"What? W..william? Nama belakang lo William? Lo saudaranya Zee?" Tanya Delice tak percaya.


Arrel menggeleng pelan. "Bukan kak,kebetulan aja namanya mirip. Ketimbang jadi saudaranya kak Zee,gue lebih ngarap jadi calon suaminya." Ujar Arrel lagi dengan sangat terang-terangan mengungkapkan maksud kedekatannya dan Zee.


"Eh,jangan sembarangan ngomong lo ya. Lo sadar sama ucapan lo barusan?" Delice bertanya dengan nada emosi.


Arrel mengangguk yakin. "Gue serius kak. Kak Zee cantik,dan terakhir kabar yang gue denger. Katanya pacarnya kak Zee udah mulai main belakang,gak ada salahnya kan kalau gue mencadangkan diri untuk menggantikan posisi pacarnya kak Ze yang gak setia itu."


Ucapan Arrel semakin memanas-manasi emosi Delice. Dengan kasar Delice menarik tangan Arrel dan membawanya pergi dari depan unit apartemen Arkhan.


"Kak,mau bawa gue kemana?"


"Ikut aja,jangan banyak tanya. Kita perlu bicara!!"


♡♡♡


Arkhan berhasil menyelesaikan kegiatannya mengobati luka di kaki Zee dan memakaikan perban baru di kaki Zee. Setelah memastikan posisi perban benar-benar pas,Arkhan akhirnya bangun dari posisi jongkoknya dan duduk di samping Zee.


Zee menggeser posisinya ke ujung sofa untuk menghindari Arkhan. Pandangannya juga tampak lurus ke depan tanpa riak dengan mulut terkunci rapat.


"Masih sakit banget?" Tanya Arkhan mencoba mengajak Zee berkomunikasi.

__ADS_1


Tak ada jawaban,Zee masih bersikap seperti patung yang di beri napas.


"Mau makan sesuatu? Gue masakin atau kita pesan makanan,mau?"


Masih tak ada jawaban dari bibir Zee.


"Masih semarah itu sama gue?"


Kali ini Zee merespon dengan cara menoleh pada Arkhan dengan satu alis terangkat. Namun hanya beberapa detik dan setelahnya ia kembali menatap ke depan.


"Jadi masih lanjut nih ngambeknya?" Tanya Arkhan memastikan.


"...."


"Ya udah deh. Kalau kamu masih gak mau ngomong,biar aku aja yang ngomong. Ngomong-ngomong,aku udah ambil jalan tengah untuk masalah kita saat ini. Mau dengar?" Arkhan masih mencoba memancing respon Zee.


"...."


"Kamu dengar ya...


Pertama. Aku udah mutusin buat keluar dari rumah untuk menjauhi Kimberlly dan sebagai gantinya aku beli perumahan tepat di depan rumah kamu."


"What!?" Batin Zee.


Pelan-pelan Zee menolehkan kepalanya ke arah Arkhan dengan raut wajah tak percaya.


"Hmm,ya udah kalau gak percaya. Nanti juga kamu bisa liat sendiri. Oh ya,selain itu aku juga mutusin buat keluar dari kantor ayah dan mulai rintis usaha sendiri,kebetulan aku punya tabungan selama di New York dulu dan uangnya aku gunain buat beli beberapa hektar tanah yang nanti bakalan aku olah jadi perkebunan buah dan sayur."


"Aku juga beli beberapa buah ruko yang rencananya bakalan aku jadiin tempat buah jual hasil perkebunan nanti,dan juga aku udah rekrut beberapa pekerja yang nanti akan membantu aku mengelola usaha aku. Semuanya buat masa depan aku sama kamu nanti,aku mau nantinya ngebiayain kamu dan keluarga kita dengan uang hasil usaha aku sendiri bukan dari perusahaan ayah."


"Selain itu,bukan tanpa sebab juga aku sampai keluar dari perusahaan ayah. Aku cuma gak mau terus-terusan ada masalah di hubungan kita karena adanya Kimberlly di dekat aku. Aku gak mau ada kesalahpahaman lagi. Kamu mau kan nemenin aku sampai bisa sesukses papa kamu suatu saat? Mau kan dukung aku?"


Arkhan tiba-tiba menggenggam erat tangan Zee dan berlutut di depan kaki Zee membuat Zee terdiam kaku.


"Maaf ya,kemarin aku benar-benar salah dan gak berguna karena bisa-bisanya ngabaiin kamu. Aku benar-benar salah dan kamu berhak marahin aku,mukul aku,maki-maki aku atau apapun asal jangan diemin aku kayak gini."


Arkhan menatap Zee penuh harap namun masih tak ada respon dari Zee.


"Please...,gue kangen sama lo." Arkhan mengelus pelan pipi kanan Zee dan langsung di tepis dengan kasar oleh Zee.


"G..,gue gak boleh kangen sama lo?" Tanya Arkhan dengan nada tak percaya.


Zee kembali bungkam tanpa memberi respon yang jelas.


"L..,lo gak kangen sama gue?" Tanya Arkhan lirih.


"Gak nyaman lagi sama gue?" Arkhan semakin bertanya dengan nada semakin lirih.

__ADS_1


"Serusak itu gue di mata lo sekarang?" Tanya Arkhan lagi dengan nada nyaris berbisik.


"Menurut lo?" Zee akhirnya buka suars.


Bukannya mendongak menatap Zee,Arkhan malah semakin menunduk menahan perasaan hancurnya mendengar jawaban Zee yang sepertinya benar-benar kecewa akibat perbuatannya.


"Jadi gimana caranya biar gue bisa di maafin sama lo?"


"Menurut lo?" Sekali lagi Zee memberi jawaban sekaligus pertanyaan yang tidak membuat Arkhan puas.


"Zee,lo tau kan sesayang apa gue sama lo? Segimana kuatnya gue dulu ngejar-ngejar lo. Gue rela lakuin apa aja asalkan lo mau maafin gue."


Arkhan memberanikan dirinya mengangkat kepala dan menatap Zee lekat. "Lo udah bosan denger permintaan maaf dari gue?"


"Zee,gue gak suka di diemin kayak gini. Lo selalu bilang untuk selesai setiap masalah dengan kepala dingin,dan gue sedang mencoba melakukan sesuai kemauan lo tapi kenapa lo malah bersikap kayak gini?"


"Zee,gue sayang sama lo,gue gak akan pernah bosan buat bilang kayak gini karena gue beneran sayang sama lo. Sedari dulu sampai sekarang,gak pernah ada sedikitpun niat di hati gue buat ninggalin lo dengan alasan apapun itu.


Kalau gue gak sayang sama lo,gak mungkin gue ninggalin perusahaan ayah. Itu semua demi lo Zee,sekarang apalagi yang harus gue lakuin biar lo percaya kalau gue beneran sayang sama lo??"


Zee melepaskan tangannya dari genggaman Arkhan kemudian menatap Arkhan lekat.


"Bukan pertama kali gue kasih lo kesempatan Ar,gue tau ini udah yang kesekian kalinya semenjak adanya Kimberlly. Gue gak bisa semudah itu percaya sama ucapan lo lagi,perlu waktu buat ngeredam kekecewaan gue sama lo,dan gue rasa sebaiknya kita..."


"NO! Please!! Apapun itu,please jangan lanjutin kata-kata lo. Gue mohon..,gue gak mau!"


Arkhan tersungkur di bawah kaki Zee dengan punggung bergetar. Ya,dia menangis untuk pertama kalinya setelah sekian tahun dan itu karena seorang perepuan yang kini menjadi pacarnya.


"Jangan katakan apapun lagi. Gue mohon." Arkhan menyembunyikan wajahnya di lutut Zee dengan suara serak.


Zee mengangkat kepalanya ke atas menahan gejolak di matanya yang juga ingin tumpah saat ini.


"Sorry Ar,Ada baiknya kita break buat meredam ego masing-masing."


♡♡♡


Jangan lupa.............


Jejaknya......


Judika said : Coba tanyakan lagi pada hatimu...


Apakah sebaiknya kita putus atau terus? Kita sedang mempertahankan hubungan? Atau hanya sekedar,menunda perpisahan?


Me : Kamu nanyeakk??


Skippp

__ADS_1


__ADS_2