RUNTUH

RUNTUH
Mengenang


__ADS_3

"Kak Zee??"


Arrel menatap tidak percaya saat melihat siapa sosok yang ada di dalam rumah pohon rahasianya ini.


"Yes,I,m." Zee menjawab dengan datar.


"N..ngapain kakak di sini?" Tanya pria itu keheranan.


Zee mendengus. "Kenapa? Emangnya kakak sendiri di larang nemuin adiknya?"


Mata Arrel seketika membulat. "Maksud kak Zee apa?" Tanya pria itu dengan raut kaku.


Zee memposisikan duduknya menjadi bersila kemudian memelongokan kepalanya ke arah mangkuk yang sepertinya berisi makanan yang tengah Arrel makan tadi.


"Ckk..,ck...,jangan kebanyakan makan mie instan. Gak baik." Tegur Zee tanpa menjawab pertanyaan Arrel barusan.


Arrel mendengus. "Suka-suka aku lah."


"Lagian lo ngapain sih ke sini?"


"Kan udah gue bilang. Gue mau nemuin adik gue."


Arrel membuang mukanya ke arah lain. "Lo anak bungsu. Lo gak punya adik."


Jawab Arrel ketus.


Zee tersenyum sumbing. "Gue bukan anak bungsu. Gue punya dua adik,lo dan Sassya." Jawab Zee datar.


Arrel kembali mendengus. "Gue ataupun Sassya bukan adik lo. Dan selamanya kita gak pantes buat jadi adik lo ataupun Davian."

__ADS_1


Zee menatap tak suka pada Arrel. "Jangan ngomong gitu. Gue benci sama orang yang suka nyalahin diri sendiri." Tegur Zee dingin.


Zee kemudian meraih mangkuk berisi mie instan tadi dan mulai memakannya dengan perlahan.


Arrel bisa melihat jika Zee agak ogah-ogahan menelan makanan tersebut. Zee tebak,Zee pasti belum pernah memakannya. Melihat raut Zee yang seperti menahan mual,Arrel berusaha menghentikannya dan mengambil alih mangkuk tersebut.


"Jangan di lanjutin kalau gak suka. Gue tau kok,lo pasti gak pernah makan-makanan kayak gitu."


"Sok tau!" Zee langsung menyambar bak elang.


"Kehidupan gue dulu gak sebaik yang lo bayangin tapi juga gak seburuk yang sempat gue kira."


Tatapan Zee perlahan mulai menerawang, mengingat kejadian belasan tahun silam yang masih cukup melekat di otaknya.


"Huh,kalau di kenang-kenang nasib kita berempat bersaudara itu gak ada yang enak-enak banget Rel."


"Ya mereka gak salah juga sih,mama meninggal karena ngelindungin gue dari tabrakan maut tiga belas tahun silam. Sedangkan Grandma Chatterine meninggal karena nyelamatin gue yang saat itu jatuh di tangga."


"Butuh waktu bertahun-tahun buat gue sembuh dari trauma gue dan saat gue hampir berniat melupakan segala kenangan buruk,masalah baru muncul lagi."


"Gue akhirnya tau satu fakta kalau ternyata mama dan Grandma meninggal karena campur tangan seseorang yang.."


"Adalah mama kandung Arrel dan kak Sassya."


Arrel memotong ucapan Zee dengan tegas dan lantang.


Zee menatap datar ke arah Arrel dan di tantang balik oleh pria sembilan belas tahun itu.


"Kenapa? Jawaban Arrel benarkan? Kalau gitu kakak bunuh aja Arrel sekarang,atau kasih hukuman apapun yang sekiranya bisa tebus kesalahan mama kandungnya Arrel. Ayo lakuin sesuatu!!"

__ADS_1


Arrel menarik tangan Zee dan menampar-namparkan tangan Zee ke pipinya sendiri.


Zee segera menahan tangannya kemudian mencengkram balik tangan Arrel.


"Gak ada yang harus gue lakuin Arrel. Mau gue bunuh lo juga gak bakalan bangkitin mama gue atapun Grandma. Cukup dengan pemikiran bodoh lo itu."


"Gue datang ke sini sebagai kakak lo. Bukan sebagai orang yang mau balas dendam atas kematian nyokap dan grandma. Gue udah terima takdir,toh sekarang juga sudah ada mama Diana yang lebih dari cukup buat gantiin peran nyokap kandung gue."


"Gue udah cukup bersyukur dan gak ngerasa perlu untuk menuntut lebih dari ini. Mama Melissa dan Sassya sudah dapar karmanya sendiri sedangkan papa,dia juga sudah sadar dengan kesalahannya di masa lalu dan bang Vian. Dia berhasil bangkit dan kini jadi kakak terbaik buat gue."


"So,gak ada lagi kan yang perlu di tuntut. Kematian nyokap ataupun grandma adalah skenario takdir yang gak bisa di lawan oleh gue ataupun elo."


Arrel tertegun kaku mendengar setiap ucapan dari bibir Zee.


Tidak ia sangka gadis yang selama ini selalu terlihat dingin,ternyata berhati sangat besar dan lapang dalam hal memaafkan seseorang.


Rasa berdosa itu juga semakin bertambah,namun Arrel cukup tau diri untuk tidak membuat Zee marah dengan tentangan yang ia berikan.


"Jadi apa mau kakak sekarang?" Pria itu memberanikan diri untuk bertanya setelah mencerna baik-baik ucapan Zee tadi.


Zee mengusap kepala Arrel pelan.


"Ikut gue pulang ke mansion,temuin papa bersama bang Vian. Nanti dia akan bantu lo buat jelasin semuanya ke papa. Setelah lo jelasin semuanya ke papa,kita semua akan temenin lo buat nemuin mama Melissa dan untuk keputusan akhirnya nanti ada sama lo."


"Jadi gimana? Lo mau kan ikut sama gue?"


Arrel menggaruk-garuk kepalanya yang mendadak gatal. Sebenarnya ini terlalu cepat baginya,tapi jika ia menunda. Singa di depannya ini bisa marah. Alhasil Arrel pun mengangguk.


"Gue mau ikut sama lo."

__ADS_1


__ADS_2