RUNTUH

RUNTUH
Menemui Arrel


__ADS_3

Waktu yang di tentukan untuk menemui Arrel pun tiba. Saat ini Zee tengah mengendarai motor besar miliknya dengan kecepatan full menuju sebuah alamat yang sudah ia kantongi sedari semalam.


Zee memutuskan untuk pergi sendiri hari ini dan mau tak mau Davian dan Arkhan menyetujuinya. Alasan yang Zee gunakan juga cukup tepat,ia yang akan membujuk Zee dan kemungkinan berhasil juga akan cukup besar karena Arrel memang cukup dekat dan sepertinya juga sayang pada Zee.


Motor besar akhirnya tiba di depan sebuah rumah sederhana bertingkat dua dengan pemandangan yang sejuk dan ada beberapa pohon di halaman yang sepertinya di fungsikan sebagai penyejuk.


Zee menatap ke sekitar dengan tatapan yang lumayan miris. Gang masuk ke rumah ini cukup sempit,deretan perumahan di sini juga bisa di bilang kecil dan sederhana. Berbanding terbalik dengan keadaan hidup Zee yang sedari kecil tinggal di kalangan perumahan elit dengan mansion besar bak istana.


Zee jadi merasa bersalah seketika,saat membayangkan ada salah satu saudaranya yang hidup pas-pas-an sementara dirinya dilingkupi kemewahan. Ya walaupun dulu juga Zee tidak bahagia-bahagia amat.


Dia di hantui rasa trauma bertahun-tahun bahkan sampai sekarang pun masih ada satu trauma yang belum bisa Zee lupakan bahkan Zee tak yakin apakah ia bisa melupakan hal tersebut seumur hidupnya. Dan semua hal itu terjadi karena satu orang yang sama. Melissa Bellvara.


"Huh.." Zee menghembuskan napasnya dengan berat sebelum akhirnya melangkah masuk ke teras rumah berlantai porselen warna monokrom yang terlihat sudah retak di beberapa bagian.


"Permisi..!!" Zee mengetuk pintu sambil mengucapkan kata permisi dengan nada cukup tinggi.


Tak perlu menunggu waktu lama. Seorang wanita paruh baya keluar dari dalam rumah tersebut sambil menenteng serbet dan kemoceng. Sepertinya beliau tengah membersihkan debu.


Tatapan wanita paruh baya itu mengeryit saat merasa mengenali wajah yang kini tengah ia lihat. Sekali lagi ia mengamati Zee dari ujung kepala hingga ujung kaki lalu berbalik lagi dari ujung kaki hingga ujung kepala.


Kedua alisnya perlahan berkerut.


"N..nona Michelle?" Tanya wanita paruh baya itu pada akhirnya.


Zee sedikit menarik kedua sudut bibirnya membentuk sebuah senyuman kecil.


"Ya,saya." Jawab Zee singkat dan formal.


Wanita itu bertanya lagi dengan nada heran dan sedikit takut.


"Nona ada keperluan? Atau ada hal yang nona butuhkan? Atau kami melakukan kesalahan yang membuat nona harus turun langsuny ke sini?"

__ADS_1


Wanita itu bertanya dengan perasaan was-was.


Zee menepis semua pertanyaan wanita itu dengan sebuah gelengan.


"Tidak ada masalah ataupun kesalahan. Saya hanya ingin bertemu dengan Arrel Sagara William,jadi apa saya berada di alamat yang benar?" Tanya Zee memastikan.


Mendadak ekspresi wanita itu berubah pucat.


"Apakah benar?"


Zee mengulangi ucapannya sekali lagi.


"B...benar. Ini memang kediaman Arrel dan saya Laras,mamanya Arrel" Jawab wanita itu akhirnya.


Sekali lagi Zee mengembangka senyum kecil di wajahnya.


"Boleh saya bertemu dengan Arrel? Tempo lalu kakak laki-laki saya,Davian Ardana William sudah ke sini menemui kalian. Jadi saya juga yakin jika anda pasti tau apa alasan kedatangan saya saat ini. Jadi apa boleh saya menemui Arrel?"


Wanita di depannya terlihat meneguk ludah beberapa kali. Zee lebih seram daripada Davian. Sikapnya yang dingin benar-benar membuatnya terlihat sangat mirip dengan William,papanya.


"Sebenarnya nona,kemarin anak saya berpesan bahwa dia tidak mau di temui oleh orang luar. Dia.."


"Saya kakaknya,bukan? Saya yakin anda tau itu. Jadi anda hanya perlu mengatakakan pada saya di mana Arrel berada,dan biarkan saya yang berbicara dengannya."


Zee benar-benar memberi intimidasi penuh.


"Saya tidak suka dengan hal yang bertele-tele nyonya Laras. Beritahu saya secara baik-baik atau saya masuk ke dalam dengan paksa."


"B..baik nona. Biar saya beritahu,tadi pagi Arrel pergi ke rumah pohon yang berada tidak jauh dari halaman belakang rumah kami dan sampai siang ini dia belum kembali. Akhir-akhir ini dia memang sering di sana dan baru pulang menjelang malam,jadi anda mau menyusulnya ke sana atau.."


"Saya akan menyusul Arrel. Anda tunjukkan saja jalannya pada saya."

__ADS_1


Zee memberi perintah tanpa mau di bantah.


Wanita paruh baya itu mengangguk patuh dan berbalik masuk setelah memberi kode pada Zee untuk mengikutinya.


Zee mengikuti langkah wanita itu hingga ke halaman belakang. Di sana Zee di beri petunjuk agar mengikuti jalan setapak yang terlihat di halaman belakang tersebut dan nanti di ujung jalan ia akan menemukan dua pohon akasia,di sanalah rumah pohon tempat Arrel berada.


Zee pun mengikuti petunjuk yang di berikan dan berjalan melewati jalan setapak tersebut untuk mengunjungi Arrel.


♡♡♡


Zee mendongakkan kepalanga saat sampai di ujung jalan setapak tadi. Di hadapannya kini ada dua pohon akasia yang di atas sana terdapat sebuah bangunan rumah mini. Itulah rumah pohon yang di maksud Laras tadi.


Tanpa berpikir panjang,Zee pun naik ke atas rumah pohon yang tingginya sekitar delapan meter di atas permukaan tanah tersebut.


Tak sampai lima menit Zee sudah tiba di dahan atas yang terhubung dengan pintu masuk.


Dari depan pintu,Zee bisa melihat Arrel tengah duduk di atas kursi mini menghadap ke sebuah meja yang juga tak kalah mini.


Dari yang Zee perhatikan,Arrel sepertinya tengah makan.


Dengan langkah pelan,Zee masuk dengan cara berjongkok ke dalam rumah pohon tersebut kemudian berjalan dengan posisi berlutut ke arah Arrel.


"Hai.."


Sapa Zee,membuat sosok di depannya menoleh terkejut.


"Kak Zee?"


♡♡♡


Jangan lupa,like vote komen

__ADS_1


__ADS_2