
"Sekarang jelasin sama Eliz,tentang hubungan bang Ar dan kikim!!"
Pinta Delice dengan setengah membentak.
Arkhan berdecak kesal dengan kelakuan adiknya ini.
"Apaan sih dek. Gak jelas banget lo,gue ini baru pulang. Mau bersih-bersih,malah di introgasi gini." Decak Arkhan malas.
"Jangan ngehindarin gue. Gak ada bersih-bersih sebelum lo jelasin sama gue tentang hubungan lo sama kikim itu!!"
"Kikim siapa sih dek? Lo jangan aneh-aneh deh. Kenal kikim aja kagak,gimana mau ngejelasin? Apanya yang harus gue jelasin?" Tanya Arkhan dengan raut bingung.
Delice makin emosi melihat raut wajah Arkhan yang malah kebingungan.
"Kikim itu Kimberlly,cewek nyebelin yang sekarang lagi ngejar-ngejar bang Ar! Masa gitu aja gak peka! Makanya sekarang jelasin,hubungan bang Ar sama kikim itu udah sedekat apa sih? Jangan-jangan di New York sana bang Ar main belakang? Bang Ar selingkuh?" Tuduh Delice ngaco membuat Arkhan langsung menendang pelan tulang kering adiknya.
"Lo kalau ngomong gak di saring dulu ya!! Kalau ada yang dengar bisa bahaya dek,jadi fitnah nanti." Ujar Arkhan sedikit geram dengan ocehan Delice.
"Fitnah apaan,orang jelas-jelas gue ngomongin fakta. Asal abang tau ya,kemarin sore cewek centil di depan rumah kita itu datang ke kampus gue. Lo mau tau dia bilang apa? Dia bilang,dia minta gue nemenin dia jalan-jalan atas perintah lo. Gila aja,dia kira gue pembokat lo apa? Gue dekat sama dia aja enggak. Terus tadi,dia datang ke sini deketin bunda,gak tau deh cerita apa aja sampai-sampai bunda kayaknya senang banget sama dia."
"Kira-kira dong bang,kalau Zee tau gimana? Bisa mampus hubungan lo sama Zee bang. Emang lo udah siap di tinggal sama Zee? Siap lo kehilangan dia?"
Delice bertanya dengan nada berapi-api.
Arkhan sendiri tercekat mendengar ucapan Delice. Ia tidak menyangka jika Kimberlly sudah berbuat sejauh ini hanya dalam waktu beberapa hari.
"Dek,jangan bilang lo kemarin ngerjain Kim karena hal ini?" Tanya Arkhan menyelidik.
Delice mengangguk. "Apalagi emang? Lo pikir gue senang liat ada orang yang berusaha ngerecokin hubungan lo sama Zee? Enggaklah."
"Dan satu lagi,jangan berpikiran buat belain Kimberlly karena gue ngelakuin ini semua demi lo. Masih bagus gue yang bertindak,kalau sampai Kai,bang Vian dan Zee sendiri yang tau kejadian hari ini. Gue pastiin,gue pastiin bang. Mampus lo."
Delice benar-benar mengungkapkan unek-uneknya dengan penuh emosi.
Di sisi lain,diam-diam Arkhan merenungkan setiap ucapan Delice. Setelah ia pikir-pikir memang sepertinya Kim menaruh hati padanya jadi ada benarnya jika ia menjaga jarak pada gadis itu.
Arkhan menghela napas kemudian bangkit dari posisinya dan mengusap pelan puncak kepala Delice sambil berkata.
"Lo tenang aja dek. Gue tau batasan,seperti yang lo tau. Gue cuma anggap Kimberlly teman,gak lebih. Gak ada niatan sedikitpun di benak gue buat ngehiatin Zee apalagi main belakang sama cewek lain. Urusan Kim suka sama gue,itu hak dia. Kita gak bisa ngelarang perasaan dia karena emang yang namanya suka gak bisa di atur jatuhnya sama siapa. Yang harus gue lakuin adalah jaga jarak dan batasin diri gue sendiri. Toh ibarat tamu,Kim gak bakalan bisa masuk kalau gue gak bukain pintu kan?"
Delice terdiam sebentar sebelum akhirnya mengangguk membenarkan.
Melihat reaksi Delice,Arkhan tersenyum tipis.
__ADS_1
"Thanks udah peduli sama hubungan gue dan Zee. Dan untuk masalah Kim yang datang ke sini tadi sore,gue sendiri yang akan cerita sama Zee setelah ini. Karena gue gak mau,Zee sampai tau kejadian ini dari orang lain. Gue gak mau ada kesalahpahaman lagi antara gue sama dia."
Ujar Arkhan sungguh-sungguh.
Delice menelisik ke dalam mata Arkhan sejenak sebelum akhirnya mengangguk yakin.
"Gue percaya sama lo bang." Ujar Delice akhirnya.
Arkhan mengacak-acak rambut Delice lagi sambil tertawa kecil.
"Udah kan? Gak khawatir lagi kan sama gue?" Tanya Arkhan lagi yang di sambut gelengan Delice.
"Ya udah,kalau gitu gue balik ke kamar ya. Mau ngebucin!!"
Ujar Arkhan sambil menekankan kalimat terakhirnya sebelum akhirnya lari bersamaan dengan bantal sofa yang melayang ke belakang punggungnya.
♡♡♡
Sesampainya di kamar,Arkhan berniat ingin mandi sekaligus mengistirahatkan tubuhnya yang sudah teramat lelah karena beraktifitas seharian penuh.
Namun belum sampai tangannya membuka lemari untuk mengambil handuk,handphone yang tadi ia letakkan di atas nakas terdengar berdering membuat Arkhan menghela napas sebal. Lihat saja jika yang menelpon ternyata tidak penting maka Arkhan akan langsung memblokir nomornya. Lihat saja. Batin Arkhan sambil berjalan ke arah nakas dengan kaki di hentak-hentakkan ke lantai.
"Grep!!" Arkhan merain ponselnya dengan kasar.
Buru-buru Arkhan berlari menuju kasur dan langsung menghempaskan tubuhnya ke atas kasur kemudian menggeser ke fitur penghubung panggilang.
"Halo sayang,hai!!" Sapa Arkhan sedikit gugup dengan napas memburu begitu panggilan vidio tersebut terhubung.
Di seberang telepon,Zee tampak mengerutkan alisnya melihat kelakuan aneh Arkhan.
"Kamu kenapa?" Tanya Zee heran.
Buru-buru Arkhan menggelengkan kepala ke kanan ke kiri sambil menyengir. "Gak,gak kenapa-napa. Senang aja kamu telepon duluan,perasaan kan dua hari ini kamu cuek banget sama aku. Kalau udah nelepon duluan kayak gini,artinya udah gak marah lagi kan?" Ujar Arkhan dengan raut tengilnya.
Zee mendengus malas mendengar rayuan Arkhan. "Anda terlalu percaya diri tuan muda Arkhan Ivander." Sahut Zee dengan sinis.
Arkhan semakin memamerkan deretan gigi putihnya mendengar kekesalan Zee.
"Ya terus? Kamu nelpon aku buat apaan,kalau bukan buat nanya aku udah sampai apa belum? Ngaku aja,kamu kangen kan sama aku?"
"Gak. Aku nelpon karena mau nanyain Sandra,dia di sana kan? Ada berkas yang tadi belum dia periksa. Aku udah kirim filenya ke email dia tapi kayaknya belum di buka. Telepon dia juga gak di angkat. Tadi sore kan dia pulang duluan,katanya mau izin ke rumah kamu di suruh Delice. Dia ada di sana? Kamu udah sampe rumah kan?" Tanya Zee beruntun.
Arkhan menggeleng takjub mendengar alasan Zee yang terdengar berbelit-belit. Ia kemudian menjawab pertanyaan Zee dengan nada malas.
__ADS_1
"Aku udah di rumah. Tapi Sandra,gak ada di sini. Gak ada tanda-tanda juga kalau dia ke sini tadi,bunda gak ada bilang juga." Ujar Arkhan yakin.
Zee tampak tak percaya dengan ucapan Arkhan.
"Kenapa? Kamu gak percaya? Kalau gak percaya aku tambahin bang Zergan deh sekalian. Biar kita tanya langsung sama dia,kemana pergi bininya itu." Ujar Arkhan kesal sambil menggeser layar handphonenya untuk mencari kontak Zergan.
Tak lama panggilan terhubung,tampak Zergan seperti tengah duduk di dalam restoran membuat Zee dan Arkhan mengeryit heran.
"Kenapa?" Tanya Zergan pada kedua orang di layar handphonenya itu.
"Cewek gue nyariin bini lo. Ada gak?" Tanya Arkhan to the point dengan nada bicara kurang ajar.
Zergan mengangguk. "Ada." Jawabnya singkat sambil membalikkan kamera ke arah Sandra yang tampak tengah makan.
"Buset. Kencan lu berdua? Kagak ngajak-ngajak. Malam jumat ini woi!! Bukan waktunya kencan." Ujar Arkhan sewot pada saudara kembarnya itu.
Zergan tak menanggapi ledekan sang adik tapi malah mengajak Zee berbicara.
"Lo nyari Sandra Chelle?" Tanya Zergan pada Zee.
Zee mengangguk sedangkan Arkhan memberenggut sebal karena di cueki oleh abangnya itu.
"Kasih handphonenya ke Sandra. Gue ada perlu." Ujar Zee.
"Kenapa?" Tanya Sandra setelah ponsel berpindah ke tangannya.
"Ada berkas yang harus lo periksa buat meeting besok pagi. Gue udah kirim ke email lo,tolong di cek."
"Sip,nanti sampe rumah gue cek. HP gue lowbat." Jawab Sandra lagi.
Zee mengangguk mengiyakan.
Sandra beralih pada Arkhan,kemudian berkata. "Ar,bilang sama adek lo. Gue tadi gak jadi ke rumah,keburu di ajak jalan sama suami." Ujar Sandra sambil menyengir.
Namun sesaat raut wajah Sandra tampak berubah. Ia kemudian bertanya pada Arkhan dengan nada serius.
"Ar,tadi kata Delice Kim datang ke rumah lo buat masak sama bunda. Dia masih di sana?" Tanya Sandra penasaran.
Dan tanpa Sandra sadari,pertanyaannya membuat Arkhan panik sedangkan Zee dan Zergan langsung memasang raut dinginnya.
♡♡♡
Like vote komen...
__ADS_1