
"Brak!!" Pintu tiba-tiba dihempaskan dengan kasar oleh seseorang.
"Berhenti di sana,biar Zee pulang sama gue!!"
Sosok Davian yang entah bagaimana ceritanya mendadak muncul di depan pintu dengan raut sangar.
"Minggir lo berdua!!" Bentak Davian sambil mendorong kasar tubuh Delice yang berada di tepi brankar membuatnya nyaris jatuh jika tidak di tahan Kaivan.
"Vian,lo apa-apaan sih!!"
Kaivan mendorong Davian balik karena tidak terima dengan perlakuan kasar Davian pada Delice.
"Gak usah ngaku jadi teman Zee,kalau gak bisa jagain Zee." Bentak Davian lagi sambil berusaha mengangkat Zee dari atas ranjang pasien dengan cara menggendongnya.
"Heh,lo gak bisa main hakim sendiri gini. Lo kira kita yang bikin Zee luka hah? Lagian dapat info darimana,kalau Zee di rawat di sini?"
"Gak usah sok peduli,istri gue udah cerita semuanya." Jawab Davian cepat.
Kemudian Davian mengalihkan tatapannya pada Delice.
"Lo,kasih tau sama abang playboy lo itu. Jangan temuin adek gue lagi. Gak sudi gue punya adek ipar penghianat kayak dia." Tukas Davian penuh ancaman.
Setelah itu,tanpa berpamitan Davian membawa Zee keluar dari kamarnya meninggalkan Kaivan dan Delice yang hanya bisa terdiam tanpa berniat mencegah karena mereka paham dengan kondisi hati Davian yang sedang tidak baik-baik saja.
"Huh..! Terulang lagi,terulang lagi." Gumam Kai setelah Davian dan Zee benar-benar menghilang dari pandangan mereka.
Delice memandang Kaivan dengan penuh rasa bersalah. "Maafin abang aku ya kak." Pinta Delice kepala tertunduk.
Kaivan mengerutkan keningnya sambil mengangkat dagu Delice pelan.
"Kenapa jadi kamu yang minta maaf? Yang salah kan Arkhan sama si kikim,bukan kamu."
Delice menggeleng. "Ya tapi pas kejadiannya kan di situ juga ada aku. Aku gak bisa ngelindungin adik kesayangan kamu sama bang Vian. Maaf ya." Ujar Delice lagi.
Kaivan menggeleng. "Udahlah. Gak usah nyalahin diri kamu gitu,aku gak suka. Mending sekarang aku anterin kamu pulang,udah larut nih." Ujar Kaivan sambil mengamit jemari Delice dan membawanya keluar dari kamar pasien yang sudah tidak ada pasiennya itu.
Sementara itu di tempat lain,lebih tepatnya di dalam mobil Davian. Davian kini tengah berusaha mengintrogasi Zee yang sedari tadi bertingkah bak prasasti hidup karena sama sekali tidak berbicara ataupun bergeming. Ia hanya menarik napas,membuang napas kemudian memejamkan mata membuat Davian geram bukan baik.
"Azellea William Michelle. Please ya,mama ngelahirin lo itu buat jadi manusia,bukan jadi batu bernafas gini. Ngomong sama gue,ceritain masalah apalagi yang cowok playboy itu lakuin ke lo?"
__ADS_1
"..."
"Zee!!" Bentak Davian kehabisan kesabaran.
"Huh...,udalah bang. Gak usah ikut campur,ini masalah gue bukan masalah lo juga. Jadi lo gak perlu tau."
Zee akhirnya buka suara juga setelah berjam-jam bungkam.
"Gue udah terlanjur tau. Gimana dong?"
Pancing Davian.
Zee membuang mukanya dan memilih menatap ke luar jendela.
"Cukup tau apa yang lo tau aja. Selebihnya biarin itu jadi urusan gue sama Arkhan. Lagian biasa kali di dalam hubungan ada masalahnya. Lo sama Clara juga pernah punya masalahkan?"
Zee malah mengalihkan topik pembicaraan membuat Davian makin geram.
"Iya gue tau masalah itu hal biasa di dalam setiap hubungan. Tapi lo gak bisa bandingin hubungan lo,sama gue sama Clara. Kita beda,gue gak pernah dekat sama cewek lain selama gue pacaran ataupun setelah gue menikah sama Clara. Begitupun Clara,kita gak pernah berantem karena kehadiran orang ketiga."
"Lain halnya dengan lo Zee. Sebelum pacaran sama lo,lo tau kan Arkhan kayak gimana? Tau kan?"
"Fine!! Gue tunggu penjelasan lo di rumah nanti." Kaivan memutar balik arah mobilnya yang tadi sudah terlanjur melewati gang rumahnya.
Lagi-lagi Zee bungkam tak menyahut. Keduanya terlibat kehingan cukup lama hingga akhirnya mobil yang membawa Zee dan Kaivan tiba di mansion William.
"Tunggu dulu!!" Davian mencekal lengan Zee yang hendak keluar mobil.
"Apa sih bang. Liat jam di tangan lo itu!! Udah hampir pukul sepuluh malam,gak ada waktu buat jelasin apapun ke lo. Malam ini gue butuh istirahat karena besok gue harus urus proyek di Malaysia."
"But.."
"No but! But!! Sekarang lo pulang!! Karena apapun yang gue jelasin ke lo gak bakalan bisa jadi bantuan apapun buat hubungan gue sama Arkhan. Gue bisa selesain masalah gue sendiri."
Tanpa mempedulikan Davian lagi,Zee langsung keluar dari mobil dengan sedikit tertatih dan tak lupa ia membanting pintu mobil Davian membuat Davian terlonjak kaget.
"Dasar keras kepala!!" Umpat Davian geram.
Namun tidak ada pilihan lain baginya selain pulang ke rumah. Karena sekeras apapun ia memaksa,jika Zee sudah mengatakan tidak maka jawabannya adalah tidak.
__ADS_1
Sementara itu di dalam mansion,Zee kini tengah di hadang oleh mamanya yang ternyata sudah menunggunya di depan pintu kamar.
"Jam berapa ini Zee? Kenapa baru balik? Kenapa gak ngabarin mama? Kenapa telepon mama gak di angkat? Sengaja mau bikin mama khawatir?" Tanya Diana dengan nada cukup dingin membuat Zee mengusap tengkuknya perlahan.
"Habislah aku." Batin Zee sambil membuang pandangannya ke arah lain tanpa berani menatap Diana.
"Zee,jawab. Muka mama di sini bukan di tembok kamar kamu." Diana menarik dagu Zee agar mau menatapnya.
"Kamu..!" Ucapan Diana terhenti saat matanya menangkap ada perban di kaki Zee yang hanya mengenakan sendal pemberian rumah sakit tadi.
"Astaga Azellea!! Kenapa lagi kaki kamu ini? Kamu berantem? Kena paku?" Tanya Diana panik sambil berjongkok memeriksa kaki Zee.
"Kenapa ini Zee?" Tanya Diana lagi dengan nada sedikit membentak.
Zee segera membantu Diana berdiri kembali.
"Jangan gitu ma. Zee gak papa,cuma luka kecil."
"Luka kecil gimana? Perbannya udah selebar kain kapan gini. Kamu abis ngapain sih siang tadi? Udah pulang telat,luka lagi. Kamu ini ya..."
Diana yang geram hendak menjewer telinga Zee namun Zee segera mundur beberapa langkah menghindari capitan maut dari tangan mungil sosok wanita yang ia panggil mama itu.
"Ma,udah dong. Jangan keras-keras ngomelnya,nanti papa bangun dia ikutan ngomelin Zee lagi." Suara Zee terdengar lirih dan nyaris berbisik untuk menegur suara mamanya yang sudah seperti rantang jatoh.
Diana melengos tak suka mendengar ucapan putri tiri durhakanya itu.
"Makanya,kalau gak mau di omelin,jelasin sama mama kamu dapat luka ini di mana? Hah? Trus kenapa bisa pulang sampai selarut ini? Ada masalah di kantor?"
Zee menggeleng. "Kantor gak ada masalahnya ma,yang bermasalah itu hubungan percintaan Zee..."
♡♡♡
Next... Part...
Kita liat reaksi dari Diana William
Mampir juga ya kecerita baru otor yang judulnya Puisi Cinta DiLara....
Ceritanya beda jauhhhhhhh sama novel2 yang pernah otor buat sebelumnya...
__ADS_1