
"Papa dengar dari mama semalam,katanya kaki kamu terluka?"
Zee yang baru akan menuruni tangga menuju ruang makan menoleh dengan sedikit kaget ketika mendengar suara berat yang berada tepat di belakangnya.
"Papa,sejak kapan di situ?" Bukannya menjawab Zee malah bertanya balik pada sang papa yang kini tengah menatap ke arah kakinya yang di balut perban baru. Baru ia ganti tadi pagi.
"Sejak kamu keluar dari kamar tadi." Jawab William sekenanya. "Biar papa bantu." Ujar William lagi sambil membantu memapah Zee menuruni tangga dan berjalan ke arah meja makan.
"Kenapa bisa terluka?" Tanya William lagi,sambil menarik kursi untuk Zee duduk.
"Biasa itu pa,dia berantem sama beling terus yang menang belingnya."
Bukan Zee yang menjawab,melainkan Diana yang baru keluar dari dapur sambil membawa semangkuk sup yang masih mengepul. Di belakangnya ada mbok Nah dan mbok Ijah yang juga membantunya membawa menu makanan lain.
"Nih mama buatin sup tulang. Buat nebus sup tulang yang kamu tumpahin di rumah bunda kemarin." Bisik Diana di telinga Zee sambil terkekeh kecil.
Sedangkan Zee yang merasa tengah di ledek mamanya hanya bisa menggemeretakkan giginya pasrah. Ingin melawan,di situ ada papanya. Ia tidak mau papanya tau kalau kemarin terjadi masalah di rumah Arkhan juga pada hubungannya dan Arkhan.
"Kasian Arkhan kalau papa sampai tau. Bisa bonyok dia di tangan papa." Batin Zee sambil menghela napas berat.
"Hari ini kamu tidak usah ke mana-mana. Biar kantor jadi urusan papa saja,masalah pertemuan di Malaysia itu nanti Vian yang akan mengurus. Papa sudah hubungi dia pagi tadi. Mama hari ini juga tidak pergi ke toko kue,katanya dia mau menjaga kamu di rumah. Jadi hari ini kamu papa berikan cuti." Jelas William panjang lebar.
Zee menatap papanya sebentar sebelum akhirnya mengangguk.
♡♡♡
Setelah selesai makan,kini Zee memilih duduk di ruang tengah sambil membaca buku. Sesuai perintah papanya,ia benar-benar memanfaatkan luka di kakinya untuk beristirahat dan tidak kemana-mana.
"Kenapa tidak istirahat di kamar?"
Suara papanya kembali terdengar dan dalam hitungan detik pria itu sudah duduk di samping Zee. Pakaiannya sudah rapi,lengkap dengan stelan jas kerjanya.
"Zee malas jalan ke lift ataupun naik tangga. Di sini aja dulu,kaki Zee kesemutan." Jawab Zee,sambil masih fokus dengan buku bacaan di depannya dan sesekali ia memberi tanda dengan menggaris bawahi beberapa kata menggunakan bolpoint yang di jepitkan di sampul buku tersebut.
"Papa belum berangkat?" Tanya Zee lagi karena sebelumnya terjadi keheningan di antara mereka.
"Nanti agak siangan. Mungkin sekitar jam sepuluh,papa sudah suruh asisten papa untuk ke kantor duluan tadi." Jawab William lagi.
"Apa kamu ada masalah akhir-akhir ini?" Tanya William tiba-tiba.
Zee menghentikan aktifitasnya sejenak,sambil menoleh ke samping di mana sang papa tengah menatapnya intens.
__ADS_1
"Maksud papa?" Tanya Zee heran. Tak biasanya sang papa bertanya demikian.
"Kuliah online kamu lancar? Atau kamu merasa terkendala dengan kegiatan kamu di kantor? Atau kamu mau fokus menyelesaikan kuliah kamu dulu dan biar kantor di kembalikan pada Davian seperti dulu,bagaimana? Papa lihat akhir-akhir ini raut wajah kamu seperti kelelahan. Kamu merasa terbenani dengan urusan kuliah dan perusahaan?"
Sang papa bertanya dengan nada sangat serius.
Zee menghela napas sebentar sambil meletakkan buku dan bolpoint yang ia pegang ke atas meja.
"Nggak ada kendala di kuliah Zee pa. Semuanya lancar,perusahaan juga imbang. Zee melakukan pekerjaan Zee dengan sebaik mungkin bahkan bulan lalu saham perusahaan meningkat 25%. Hampir menyaingi peningkatan di perusahaan pusat milik papa yang ada di Eropa. Papa sudah dengarkan berita itu?"
William mengangguk. "Ya,papa sudah dengar. Lalu kalau begitu kenapa dengan wajah kusut kamu akhir-akhir ini? Terakhir semalam,kenapa kamu sampai pulang larut dan dalam keadaan terlukan? Apa yang sebenarnya terjadi? Kamu belum menjawab pertanyaan papa pagi tadi nona Michelle."
Suara William terdengar tegas kali ini.
Zee kembali terdiam sejenak, menimang-nimang apa yang harus ia katakan pada William kali ini.
"Tidak ada maslaah serius pa. Kalaupun ada,itu hanya masalah kecil. Just about my personal problem,gak lebih."
"Tentang Arkhan maksud kamu?" Tanya William memastikan.
Zee mengangguk kecil.
Kali ini Zee menggeleng.
"Zee ada masalah dengan Ar,itu memang benar. But not about my leg. Kaki Zee luka karena kecerobohan Zee,bukan karena Arkhan." Jawab Zee tegas tanpa menoleh ke arah sang papa.
Mendengar nada suara Zee berubah,William jadi mengurungkan niatnya untuk mengintrogasi lebih lanjut. Biarlah nanti Zee bercerita pada Diana dan Diana yang akan menceritakan padanya,karena menurut William Zee lebih terbuka pada Diana dan pasti akan menceritakan apapun masalahnya pada Diana ketimbang dirinya yang merupaka ayah kandung.
Hal itu wajar,karena mengingat jika hubungannya dan Zee sudah memburuk sejak belasan tahun lalu, semenjak kematian istri pertamanya dan baru benar-benar membaik setelah kedatangan Diana ini.
"Ah iya Zee,sebelum berangkat. Papa mau memberikan ini untuk kamu. Kemarin papa membelikannya di Eropa saat menjenguk perusahaan di sana dua minggu yang lalu.
William tiba-tiba menyodorkan sebuah kotak kristal bening yang berisikan satu set perhiasan emas bertahtakan batu Zamrud yang di bentuk menjadi doraemon mini.
Mata Zee seketika berbinar hebat menyaksikan benda menggiurkan yang tampak berkilauan itu.
"For me?" Tanya Zee memastikan sekali lagi.
William mengangguk. "Tentu saja. Papa harap kamu suka." Ucap William,terdengar berharap. Dan memang mengandung harapan agar hubungannya dan sang putri semakin mencair.
"Wahh...,dapat hadiah bagus!! Bagi-bagi dong sama mama. Nyicip megang kotaknya doang,boleh kan ya?"
__ADS_1
Suara cempreng Diana terdengar muncul bersamaan dengan badan munggilnya yang juga muncul sembari membawa sepiring bolu coklat yang keliatannya baru selesai di panggang.
"Papa gak jadi berangkat?" Tanya Diana sambil mendudukkan badannya di sofa yang berhadapan dengan William dan Zee.
"Bukan tidak jadi. Tapi belum dan akan berangkat."
Zee yang menjawab pertanyaan Diana dengan lengkap dan jelas.
"Ohh..,gwi...twu..." Diana menjawab dengan mulut penuh brownies membuat Zee bergidik ngeri.
"Ya sudah,kalau begitu papa berangkat dulu." Ujar William sambil merapikan kerah jasnya dan beranjak dari duduknya.
Setelah mendapat salam dari Zee,dan memberi kecupan di pipi dan di dahi sang istri William akhirnya berangkat meninggalkan Diana dan Zee yang tampak saling berebut piring brownies. Kebiasaan anak kecil.
"Ini buat Zee aja. Mama buat lagi sendiri sana!!"
"No. No. No. Ini punya mama,dan mama gak ada nawarin kamu ya tadi. Gak usah kepedean gitu."
"No ini punya..."
"Ting..,tong.." Terdengar bel di luar rumah berbunyi nyaring membuat Zee dan Diana menghentikan aktivitas berebut brownies tersebut dan malah saling tatap satu sama lain.
Hingga beberapa saat setelahnya terdengar suara yang asing bagi mereka.
"PERMISI PAKET!!!
♡♡♡
Nah loh,kang paket datang....
Kiri-kiri siapa yahh?
Clue : bukan Arkhan,bukan Vian,bukan papanya Zee dan juga bukan siapa-siapa.
Wkwkwkw
Lanjut sebelah guys...
Udah seribu lebih di sini,rugi gue nanti😂😂
Jangan lupa jempol!!
__ADS_1