
Kita balik ke Si embul Gara dan Angga.
Angga tiba di depan gerbang milik keluarga Graham. Sebelum masuk mereka di halangi oleh Penjaga yang menjaga disana. Sebab mobil Angga asing bagi mereka, tapi setelah mereka melihat Si Botak dan Gara akhirnya mereka mengizinkan mereka masuk.
Saat Gara turun dari mobil pengawal yang ada disana tunduk hormat ke Gara.
"Ayo macuk Om! " Bujuk Gara ke Angga.
"Om pulang saja ya Gara. Om ada kerjaan lain. " Ujar Angga, karena dia tidak enak kalau dia main masuk saja disaat pemilik rumahnya tidak ada. Walaupun Gara juga pemilik rumah itu, tapi tetap saja dia tidak enak.
"Gak mau Om. Om halus macuk! Kalau tidak Gala gak mau macuk juga! " Ngambek Gara. Angga hanya bisa mengusap leher belakangnya bingung.
"Lebih baik anda masuk saja. Dari pada tuan muda saya tidak mau masuk. " Ujar Si Botak. Mendengar perkataan Si Botak membuat Rian menjadi kesal.
Dasar! Bukan cuma kepalanya saja yang licin bagaikan seluncuran, Omongan pedasnya juga licin sampai ke hulu hati.
Umpat Rian.
"Baiklah. Om menerima tawaran kamu. " Ujar Angga dengan senyuman di bibirnya.
Angga dan Rian masuk ke dalam rumah milik Graham itu. Di dalam sana bisa terlihat bahwa rumah itu sangat kental dengan gaya London klasiknya. Banyak barang - barang klasik yang tersusun rapi di rak yang dihalangi oleh kaca, dan torobong asap yang dilapisi oleh berbagai macam hiasan yang indah.
Di dinding banyak terpasang foto - foto keluarga Graham dari generasi ke generasi. Saat Angga mau melihat foto keluarga Graham yang sekarang, tiba - tiba Gara memanggilnya.
"Om Angga! Cini! " Panggil Gara. Angga langsung menuju ke tempat Gara. Bagi yang menanyakan dimana Rian? Dia sekarang sedang mencurahkan perasahannya di kamar mandi, alias lagi BAB.
"Ada apa Gara? " Tanya Angga dengan nada halus.
"Om ikuti aku ke kamal aku yuk! Ada cecuatu yang mau aku tunjukin ke Om. " Tanpa menunggu jawaban Angga, Gara langsung menyeret Angga ke lift.
Lift itu berhenti di lantai 2, lantai yang dibuat khusus untuk Gara, Fana, Ella dan Leo.
Mereka masuk di pintu kamar yang berchat biru dan pink, disana juga tergantung Papan nama Anggara & Saffana.
Saat daun pintu itu dibuka, bisa terlihat di dalam kamar itu juga bernuansa biru dan pink. Yaitu sebelah kiri berchat warna biru dan sebelah kanan berchat warna pink. Kedua sisi itu seakan berbeda dunia, karena sebelah kiri sangat kental dengan barang - barang milik anak cowok dan sebelah Kanan sangat kental dengan barang - barang anak cewek.
Ada satu hal yang mencuri pandangan Gara. Yaitu disebelah kanan terdapat kasur, alat tempat pasang impus, alat monitor dan benda - benda lain yang biasanya ada di rumah sakit.
"Gara. Itu semua punya kamu? " Tanya Angga sambil menunjuk ke arah kasur Fana.
__ADS_1
"Enggak Om. Itu cemua milik Fana. " Ujar Gara yang sedang mencari - cari sesuatu.
"Fana? Siapa Fana? " Guman Angga.
"Saffana atau biasa kami panggil dia dengan sebutan Nona Fana. Nona Fana adalah saudara kembar dari Tuan Gara. " Ujar Si Botak yang muncul tiba - tiba saja di belakang Angga.
"Astaga! Dari mana kamu datang? " Tanya Angga kaget. Sedangkan Si Botak hanya memasang wajah tanpa bersalah sedikit pun.
Dari pada Angga kesal sendiri dengan Si Botak. Angga memutuskan untuk pergi membantu Gara mencari sesuatu.
"Kamu mencari apa Gara? "
"Gala mau mencari topi Om. " Ujar Gara yang masih sibuk mencari barangnya.
"Topi? Untuk apa? "
"Untuk dibelikan ke Om. " Angga hanya bisa ber - O ria. Sebab Angga tidak tau, untuk apa Gara memberikannya topi.
Saat Angga membalikkan badannya, dia melihat foto Ella, Gara dan Fana. Dimana Gara dan Fana mencium pipi Ella kiri dan kanan. Angga sejak tadi memang tidak melihat foto itu, sebab foto itu berada di balik pintu.
Itu bukannya Kailana? Eh, maksudnya Ella? Apakah Gara dan saudara kembarnya yang bernama Fana itu adalah anaknya?
"Mmm Gara! "
"Itu foto siapa? " Angga menunjuk ke arah foto Ella, Gara dan Fana.
"Oo itu. Itu foto aku, Mommy dan Fana Om. "
Jadi benar kalau mereka itu anakku. Tapi kenapa fotonya hanya bertiga? Bukankah Gara ada seseorang yang dipanggilanya Papa saat itu?
"Tapi kenapa bertiga? Bukannya Gara mempunyai Papa? Kalau gak salah namanya Maxielleo kan? "
"Papa memang gak ikut. Coalnya Papa bukan Daddy ku. " Perkataan Gara membuat Angga semakin bingung.
"Maksudnya apa Gara. "
"Makcud Gala gini Om. Papa itu bukan daddy aku, Papa itu Paman aku. Dia itu Abang dari Mommy aku."
Jadi Ella itu adalah anak dari pasangan Elena gonul yuniver dan Julio gerart graham yang hilang 26 tahun yang lalu.
__ADS_1
Saat sedang melamun tiba - tiba handpone Angga berdering.
DRRRT DRRRT DRRRT
"Om angkat telepon dulu ya Gara. " Setelah Gara menjawab iya, Angga keluar dari kamar tersebut.
"Hallo Farhan. Bagaimana hasilnya? "
"Hasilnya 99,9% kamu adalah ayah biologianya. Tapi gue masih penasaran, ini anak loe dengan siapa? "
"Anak gue dengan istri gue. "
"Istri loe siapa?...... "
Belum selesai dokter Farhan berbicara, Angga sudah menutup teleponnya. Kalian bisa bayangin umpatan apa yang dokter Farhan lontarkan untuk Angga.
Saat Angga mau masuk ke dalam, ternyata Gara dan Si Botak sudah keluar.
"Bagaimana? Apakah sudah ketemu apa yang dicari?" Tanya Angga.
"Belum Om. Kayaknya sudah hilang deh. " Ujar Gara dengan nada sedih.
"Gak apa apa kok. Kita kembali ke ruang tamu ya, kasihan Om Rian nya kita tinggal sendirian di bawah." Dan dianggukin oleh Gara. Mereka berjalan ke lift menuju lantai bawah.
Sesampai di bawa mereka berpapasan dengan Leo yang baru pulang dari rumah sakit. Dia terkejut saat melihat Angga ada di rumahnya.
"Tuan Graham. Bisakah kita berbicara empat mata?" Tanya Angga serius.
"Baiklah. " Lalu Leo dan Angga pergi ke ruangan kerja Leo.
*
*
*
*
*
__ADS_1
*
*