
Sudah Seminggu lebih Angga dan Ella menikah, semua berjalan dengan bahagia dan dengan semestinya.
Seperti sekarang ini, Ella sedang menyiapkan makanan untuk anak-anaknya dan suaminya, dia oleh Bibi Ijem. Bibi Ijem adalah pembantu yang bekerja dengan Angga setahun setelah Angga dan Ella bercerai.
"Sudah Nyonya, biar bibi saja yang menyiapkannya." ujar Bibi Ijem, karena dia tidak enak kalau majikannya membantu pekerjaan yang sudah menjadi kewajibannya.
"Bibi, sudah berapa kali Ella bilang, jangan panggil Ella dengan sebutan nyonya. Bibi lebih tua dari Ella! Kalau soal membantu bibi, Ella lakukan untuk melayani anak-anak dan Mas Angga. karena Ella bosan tidak ada kerjaan dirumah. " jelas Ella halus.
Memang benar, semenjak mereka rujuk, Angga melarang Ella melakukan pekerjaan rumah, katanya sih
"Kamu itu istri aku sayang, aku menikahi kamu untuk mendampingi aku dan melahirkan anak-anakku, bukan menjadi babuku. Kalau urusan pekerjaan rumah dan lain-lain, biarlah itu menjadi urusan bibi Ijem "
"Tapi kan, Bibi Ijem sudah tua. Kasihan Bibi ijem Mas, kalau harus membersihkan rumah ini. Biar aku yang mengerjakan setengah ya? " mohon Ella.
"Kalau begitu, biar aku panggilkan pembantu yang ada di rumah Mami untuk membantu Bibi Ijem. "
"Hah! Ta-tapi aku bosan Mas... Mas pergi ke kantor. Gara dan Fana sebentar lagi bakalan masuk sekolah, terus aku ngapain dirumah? " bujuk Ella.
"Kamu kan bisa pergi shopping, atau pergi ke tempat sahabat kamu atau ke tempat Mami dan Mama. Ada banyak kegiatan yang bisa kamu kerjakan selain di rumah." Angga membelai pipi Ella.
"Ah! Oke oke, aku gak akan mengurus berkerjaan rumah lagi. Tapi, kalau urusan memasak makanan pagi, membuat bekal dan makanan malam, biar itu menjadi urusan aku. Deal! " putus Ella. Mau tak mau Angga menyetujui keputusan Ella.
"Oke Deal! Tapi, hanya itu saja, tidak ada yang lain. "
"Makasih Mas! " senang Ella, lalu dia memeluk tubuh Angga dengan erat, dibalas dengan kecupan di kening Ella oleh Angga.
"Tapi nanti kita buat Angga dan Ella junior lagi ya?," mesum Angga dengan menaik turunkan alisnya.
PLAKK
"Ish! Dasar mesum! " saking kesalnya Ella memukul lengan Angga. Bukannya sakit Angga malah tertawa ngakak.
Lamuan Ella terhenti saat ada sepasang tangan yang melingkar di pinggangnya. Siapa lagi kalau bukan Angga, yang semenjak nmenikah, Angga malah semakin manja kepada Ella, bahkan sekarang sudah sebelas dua belas dengan Fana.
"Mas! Lepasin! Malu dilihat sama bibi Ijem!" Bukannya melepaskan pelukannya Angga malah lebih mengeratkan pelukannya dan menyembunyikan wajahnya di leher Ella yang tertutup dengan kerudung.
"Bibi Ijem, sudah aku suruh istirahatnya. Jadi sekarang hanya ada kita di meja makan. " guman Angga yang sejak tadi tidak henti-hentinya mengendus-ngendus leher Ella.
Walaupun tertutup dengan kerudung, rasanya masih saja tetap geli.
"Udah lepas Mas, nanti dilihat sama anak-anak! " dan benar saja, Gara dan Fana datang dengan suara cemprengnya Fana.
"Mommy! Daddy! " mendengar suara putrinya, mau tidak mau Angga harus melepaskan kegiatan nyamannya.
Angga duduk di kursi dengan wajah masamnya, bagaimaan tidak masam itu wajah, lagi asik-asiknya meluk istri, eh! Ada dua manusia yang masih polos, dan dua manusia itu anaknya sendiri. Tidak mungkinkan Angga tidak menghentikan kegiatannya di saat anak-anaknya datang. Bisa-bisa otak polos anaknya tidak suci lagi, dan lebih parahnya anak-anaknya juga mengpratekkan kepada temannya. Oh tidak! Bisa-bisa anak terjerumus pergaulan bebas.
"Good Molning Mommy! Daddy!
"Good morning, Mon, Dad! "
"Morning sayang! " jawab Angga dan Ella bersamaan.
Setelah itu mereka makan, dan tidak lupa mereka membaca doa.
"Mas, nanti aku mau Quality time sama Sisil. Boleh gak Mas? " izin Ella.
"Boleh dong sayang. Asalkan kamu gak pulangnya lama, kasihan anak-anak, nanti mereka pulang kamu gak ada dirumah. "
"Oke Mas. Aku gak akan lama-lama kok Mas, aku bakalan pulang setelah menjemput anak-anak. " Angga tersenyum menanda mengiyakan.
Suasana meja makan itu sangatlah heboh karena perdebatan antara Gara dan Fana. Dan yang pastinya perdebatan itu berakhir saat Ella atau Angga melerai mereka berdua.
...____________🌸🌸🌸🌸___________...
__ADS_1
Setelah drama yang terjadi di meja makan. Ella sekarang sedang mengantarkan Suami dan anak-anaknya ke depan pintu rumah.
"Gara berangkat dulu ya Mom. " pamit Gara sambil mencium tangan Ella dan diikuti oleh Fana.
"Fana juga pamit Mommy! "
"Hati-hati ya sayang. Nanti di sekolah jangan nakal ya, dengar kata guru. " nasehat Ella.
"Oke Mommy! " seru Gara dan Fana bersamaan.
"Kalian masuk aja ke mobil dulu, Daddy mau bicara dengan Mommy. " perintah Angga.
"Oke Daddy! " dan mereka berdua pergi masuk ke dalam mobil.
"Mas pamit dulu ya Sayang. " Angga kening Ella saat Ella mencium tangannya.
"Hati-hati saat jalan bersama Sisil ya, jangan pakai make up dan jangan terlalu cantik, nanti cowok yang ada disana terpesona sama kamu lagi. Aku tidak mau ya, kalau istriku ini dilirik oleh banyak cowok. " mendengar perkataan Angga membuat Ella terkekeh.
"Iya Masku sayang, nanti aku pakai jilbab yang panjang banget kalau bisa aku pakai cadar deh, biar tidak dilirik oleh orang lain. " canda Ella.
"Gak boleh, nanti mata kamu yang indah ini lagi yang dilirik mereka. " Ella menggeleng-gelengkan kepalanya mendengar perkataan Angga yang posesif kepadanya.
"Terus aku harus gimana Mas perginya. Kalau begitu sama saja Mas menyuruh aku tidak pergi itu. " gemes Ella.
"Inginnya aku gak mau kamu pergi. " guman Angga.
"Apa mas? " tanya Ella saat samar-samar mendengar gumanan suaminya.
"Gak ada apa-apa kok Sayang. Oke, kamu boleh pergi, tapi jangan pakai make up ya, cukup pakai bedak sama lipstip aja. Dan lipstipnya jangan menor. " Ella hanya bisa mengangguk mengiyakan perkataan suaminya, dari pada dia tidak bisa pergi lebih baik dia mengiyakan perkataan suaminya.
Lalu terdengar suara teriakan putrinya dari dalam mobil.
"Daddy cepetan! Nanti Fana cama Abang telat! "
"Yuk! kamu pergi Mas. Anak kamu sudah mau ngamuk itu. " terkekeh Ella saat mendengar putrinya mengomelin Daddy nya.
"Aku pergi dulu ya Sayang. Ingat kata-kataku tadi, Assalammualaikum! " pamit Angga dan dia menciun kening dan bibir Ella lagi.
"Oke Mas. Waalaikumsalam, hati-hati ya Mas. " lalu Angga pergi masuk ke dalam mobil, takut putrinya itu mengamuk.
"Dadah Mommy! Fana pelgi dulu! " pamit Fana sambil melambai-lambaikan tangannya di jendela dan diikuti oleh Gara.
Setelah mobil itu tidak lagi terlihat dari pandangannya, Ella memutuskan masuk ke dalam rumah. Dia mau membersihkan tubuhnya sebelum dia bersama Sisil.
___________🌸🌸🌸🌸___________
Sekarang Ella dan Sisil berada di sebuah restoran yang ada di Mall, mereka memesan makanan setelah lelah berbelanja. Ya, walaupun yang banyak belanjan adalah Sisil, Ella hanya belanja yang diburuhkannya, berbeda dengan Sisil yang hampir memborong setiap barang yang menurutnya menarik dimatanya.
Sebenarnya Ella bertanya kepada Sisil kenapa harus belanja banyak-banyak, yang ujung-ujungnya tidak semua kepakai. Dan kalian tau, apa jawaban Sisil? Ia menjawab.
"Kepakai kok Lan. Kalau gak kepakai tinggal di sumbangkan aja, hitung-hitung sedekah. Lagian Lan, kalau punya suami Sultan itu di manfaatkan, dia itu kerja untuk istri dan anak-anaknya. Kalau kita terlalu hemar, sayang dong kerja keras suami kita. "
Mengingat perkataan Sisil membuat Ella geleng-geleng kepala. Dan tiba-tiba Ella teringat sesuatu yang ingin dia tanyakan kepada Sisil.
"Oh iya Sil. Aku mau tanya sesuatu kepadamu, "
"Tanya apa Lan? "
"Aku itu penasaran tentang kamu dan Irwan. Gimana ceritanya kalian bisa menikah, bukannya kalian dulu seperti Tom and Jerry ya?" pertanyaan Ella membuat Sisil tertawa. Hal itu membuat Ella menatap Sisil bingung.
"Kalau kamu dengar ceritanya, pasti kamu tidak akan berhenti tertawa Lan. " ujar Sisil di sela-sela tawanya.
"Emangnya kenapa? " tanya Ella penasaran.
__ADS_1
"Kami itu dulu dijodohkan. " mendengar pelanturan Sisil membuat Ella kaget.
"Dijodohkan? Kok bisa? "
"Ceritanya begini..... "
FLASHBACK ON
Seminggu setelah hari kelulusan, Sisil dan keluarganya dengan menunggu tamu, kata Papa dan Mama Sisil, yang datang itu tamu spesial. Tapi Sisil tidak tau siapa, karena sejak tadi bertanya kepada orang tuanya tapi mereka kata:
"Kamu lihat saja nanti. "
Begitu juga Abang dan adiknya, sungguh ingin rasanya dia pergi dari sini dan menikmati kegiatan favoritnya yaitu rebahan. Tapi apa dayanya, dia tidak mau di cap sebagai anak durhaka, mau tidak mau Sisil harus menuruti apa yang diperintahkan kedua orang tuanya. Dari pada bosan Sisil memutuskan untuk memainkan handpone nya.
Beberapa saat kemudian orang yang di tunggu-tunggu akhirnya datang.
"Apa kabar jeng, lama tidak jumpa. " sapa Mama Sisil kepada wanita yang seumuran dengan Mama Sisil.
"Alhamdulillah, baik jeng. " balas wanita itu.
"Apa kabar Reno. Sudah lama gue tidak lihat lo, wajah loe tidak banyak berubah ya, " canda Papa Sisil kepada Pria paruh baya yang bernama Reno itu.
"Loe bisa aja Ndo" balas orang itu sambil tertawa.
"Oh iya, mereka anak-anakmu ya jeng?" tanya wanita itu.
"Iya jeng, perkenalkan ini putra sulungku bernama Arsya putra Baswara, dan ini putra bungsuku namanya Rayyan ananda Baswara. Dan kalau ini putriku namanya Sisilia Juliana Baswara. " Mama Sisil memperkenalkan anak-anaknya satu persatu.
"Ayo sayang. Beri salam sama tante Indri, " lalu satu persatu mereka mencium tangan tante Indri dan Om Reno.
"Ya ampun Jeng, anak kamu Sisil tambah cantik aja jeng. " puji tante indri.
"Cantik sih iya Jeng. Tapi sayang, ini anaknya kerjaan rebahan mulu" Sisil yang awalnya diangkat ke awan-awan oleh Tante Indri, eh Mamanya malah menghempaskannya ke tanah. Sungguh miris nasibnya punya Nyokap seperti ini, untung sayang. Kalau tidak, sudah dia buang ke rawa-rawa.
"Gak pa pa jeng. Maklum masih muda, nanti kalau udah nikah dia pasti gak malas lagi kok. " Sisil hanya sibul memainkan Hp nya sambil mendengarkan pembicaraan semua orang, karena dia kesal kepada Mamanya. Dan Sisil mendengar tentang kata "Nikah" jangankan nikah, punya pacar saja Sisil tidak punya apalagi menikah. Sungguh, itu tidak pernah terlintas di pikirannya saat ini.
"Oh iya Jeng. Anak kamu mana Jeng? "
"Anakku Devan sudah berkeluarga Jeng, dia sekarang menetap di Belanda. Kalau anakku Wawan kata dia sebentar lagi datang, maaf dia terlambat karena jalannya macet, dia tadi baru balik kerja. " semua orang mengangguk paham.
Dan beberapa saat kemudian tibalah seseorang pria yang memakai jas, sungguh itu membuat penampilannya semakin gagah dan tampan.
"Maaf semuanya jalannya tadi Macet. " Maaf pria itu dengan nafas yang ngos-ngosan.
Mendengar suara pria itu Sisil mengangkat wajahnya untuk melihat wajah pria itu.
DEG
*
*
*
*
*
**Hai, ketemu lagi dengan aku dan novelku. Maaf ya, aku lama banget updatenya, soalnya aku lagi merancang ke mana jalan cerita ini bakalan aku bawa nanti, dan supaya pembacaku tidak bosan dengan ceritaku.
Jadi mulai hari ini, dan seterusnya aku bakalan updatenya.
See you**
__ADS_1