Sang malaikat kecilku

Sang malaikat kecilku
CHAPTER 66# Belum terbiasa


__ADS_3

"Berhenti!"Mendengar suara itu membuat gerakan resepsionis itu berhenti. Lalu dia melihat ke arah sumber suara yang ternyata itu adalah suara dari atasannya yaitu Angga.


Dengan sekejab resepsionis merubah raut wajahnya, menjadi sedih. Lalu dia menghampirinya Angga.


"Pak Angga! Pak maafkan saya pak, saya sudah berusaha mengusir wanita dan anak yang tidak tau diri itu, tetapi dia tetap kekuh kalau mereka adalah istri dan anak Bapak. Sehingga saya menjadi bahan olokan di depan karyawan pak."aduh resepsionis itu ke Angga dengan nada suara yang dibuat semanja mungkin.


Tetapi bukannya menanggapi ,Angga malah berjalan ke arah Istri dan kedua Anaknya. Melihat hal itu sang Resepsionis menjadi bingung, dan kebingungan itu berubah menjadi ketakutan saat Fana menangis kencang dan Angga menggendongnya dengan sayang.


"Huaa... Daddy! hiks...hiks... Tante itu jahat Daddy, Fana takut. Tadi Tante itu juga malah-malah dan hampil nampal Mommy Dad..." Aduh Fana dengan suara cendelnya, mendengar aduan dari putrinya Angga yang awalnya bisa mengendalikan emosinya, menjadi marah bercampur khawatir disaat Fana mengatakan kalau Istrinya hampir ditampar.


"Kamu gak kenapa-napa sayang?" Panik Angga sambil meletakkan satu tangannya yang menganggur ke pipi istrinya.


Mendengar nada kekhawatiran dari suaminya itu membuat Ella tersenyum tipis, dan dia mengambil tangan suaminya yang berada dipipinya lalu menggenggamnya.


"It's okey Mas. Aku gak apa-apa, dia tidak sampai menamparku tadi." Walupun istrinya berkata baik-baik saja tetapi tetap saja itu tidak membuat amarahnya mereda. Lalu dia menatap resepsionis itu dengan tatapan tajam. Sang resepsionia yang di tatap berkeringan dingin, dan kakinya lemas seperti jelly.


" Rian, pecat dia. Dan jangan sampai dia diterima bekerja di perusahaan manapun!" Perintah Angga ke Rian yang sejak tadi berada di sebelahnya.


"Baik Tuan." Jawab Rian sambil menyuruh satpam yang berada disana untuk menyeret Cristina.


Melihat beberapa Satpam yang berbadan Kekar itu hendak menyeretnya, dia langsung berlutut dan memohon ampun kepada Angga dengan kedua tangannya menyatu ke depan.


"Pak, saya mohon pak. Jangan pecat saya Pak. Hanya pekerjaan ini saya bisa mencari nafkah pak." Tetapi Angga tidak mempedulikan permohonannya itu, sebab bagi Angga barang siapa yang menyakiti dan membuat Ella dan anak-anaknya bersedih. Jangan harap dia akan menikmati dunia ini lagi. Memang apa yang dilakukan oleh Angga kejam. Tapi bagi Angga, Ella dan anak-anaknya adalah dunianya, hartanya dan tempat pulang baginya. Tanpa mereka Angga tidak tau bagaimana kehidupnya.


"Cepat seret dia,dan jangan pernah saya melihat wajahnya lagi!" Lalu dengan sigap Satpam itu menyeret Cristina.


"PAK ANGGA!PAK! SAYA MOHON PAK,JANGAN PECAT SAYA!PAK!" Tapi Angga hanya menganggap omongan Cristina itu hanya angin lalu. Karena dia tau, bahwa omongan Cristina itu hanya omong kosong saja.

__ADS_1


Setelah Cristina diseret, Angga mengangkul pinggang Ella yang sedang menggandeng Gara.


"Hari ini saya mau mengumumkan, barang siapa yang berani melukai atau menghina istri dan anak-anak saya. Maka dia akan diperlakukan seperti tadi, dan bisa lebih parah. APAKAH KALIAN PAHAM!" Peringatan Angga dan disahuti dengan serentak oleh karyawan yang ada di situ.


Mereka yang tadinya menggunjing Ella dan anak-anaknya, menjadi membisu dan takut saat mendengar dan melihat apa yang Angga lakukan ke Cristina.


...___________🌸🌸🌸🌸___________...


Setelah mengatakan itu, Angga membawa Ella, Gara dan Fana yang etah sejak kapan tertidur di gendongan Angga. Dan setelah tiba di diruangannya, Angga segera masuk ke dalam kamar yang memang di desain untuk Angga jika dia lembur, lalu Angga meletakkan Fana diatas kasur.


Setelah meletakkan putrinya, Angga berjalan ke arah Ella yang sedang duduk di sofa sedangkan Gara berkeliling melihat buku-buku yang tersusun rapi di setiap rak-rak yang ada disana. Tetapi Gara terdiam dan melihat ke atas, bertepatan ke arah rak yang tingginya melebihi tinggi badannya.


Melihat mata Gara yang berbinar saat melihat salah satu buku yang ada disana, hal membuat Angga terkekeh pelan, lalu dia melangkah ke arah putranya. Dan Angga langsung mengambil buku yang berhasil mencuri perhatian putranya itu, sebelum Angga memberikannya ke Gara,dia membaca judul buku itu. Dan betapa kagetnya dia saat mengetahui buku tersebut adalah buku tentang ilmu kedokteran, buku yang awalnya dia beli saat kecil dahulu. Yang dimana dulu saat dia kecil dia bercita-cita menjadi seorang Dokter, tetapi sayangnya cita-citanya itu harus ia kubur dalam-dalam mengingat dia adalah Putra satu-satunya dikeluarganya. Ditambah lagi adiknya juga tidak mau menjadi pengusaha, karena hal itulah Angga harus mengalah dan menuruti keinginan orang tuanya.


Setelah membaca judul buku tersebut, Angga menyerahkan ke Gara. Gara yang menerima itu menampilkan senyum lebarnya.


"Yes Dad. Aku memang suka ilmu kedokteran, karena aku ingin menyembuhkan orang-orang yang terkena penyakit seperti Fana Dad." Mendengar perkataan putranya, perasaan Angga menghangat. Lalu dia mensejajarkan tingginya dengan putranya, kemudian dia memegang kedua bahu putranya.


"Impian kamu sungguh mulia Boy. Apapun keinginan kamu Daddy bakalan dukung, selama itu merupakan hal yang positif. Jadi, kamu jangan ragu untuk meminta sesuatu ke Daddy ataupun ke Mommy ya!" Mendengar dukungan dari Daddy nya membuat senyum Gaar semakin carah.


"Baik Dad!" Angga mengacak rambut putranya sebelum dia pergi ke tempat Ella.


Angga langsung duduk disamping Ella, yang sejak tadi termenung, entah apa yang dipikirkannya.


"Kamu kenapa sayang?" Genggaman tangan Angga berhasil membuat lamuan Ella buyar seketika, dia menoleh ke arah Angga dan melemparkan senyuman ke suaminya itu.


"Engga kenapa-napa kok Mas. Hanya saja_" Ella menjeda perkataannya dan di kembali melihat arah depan.

__ADS_1


"Aku kaget saja,kamu membelaku sampai segitunya. Sebab dahulu, kamu masa bodoh dengan keadaanku. Dan sekarang, kamu membelaku dan melindungiku seperti tadi. Aku hanya saja belum terbiasa saja dengan semua itu." Karena perkata Ella tersebut, ada sesuatu yang menghantam dadanya, Sehingga hal itu membuat dadanya terasa nyeri. Dengan tersenyum seduh, Angga meraih kedua tangan Ella lalu mengecupnya lama.


"Sayang. Maafkan aku yang dulu tidak pernah memperdulikan dirimu. Hingga sampai sekarang, kamu tidak terbiasa dengan perhatianku. Tapi aku mohon padamu, untuk selalu mengandalkanku dalam setiap masalah yang kamu hadapi, dan aku pasti akan selalu menjadi perisai bagi kamu dan anak-anak dalam setiap masalah yang kalian hadapi nanti." Ella yang melihat tatapan tulus dari suaminya itu hanya bisa mengangguk dan membalas senyuman suaminya itu.


"Iya Mas. Aku pasti akan ingat itu_" setelah mengatakan itu Ella membuka tas selempangnya lalu mengeluarkan bekal yang berisi makanan yang dia beli di Mall tadi.


"Oh ya Mas. Aku tadi beli makanan di Mall ssbelum datang ke sini, maaf tadi aku tidak sempat menyiapkan kamu bekal. Karena setelah pulang ke Mall aku jemput Gara dan Fana dan langsung ke sini." Ujar Ella sambil menyajikan makanan diatas meja yang ada disana.


"Gak apa-apa kok. Apapun yang kamu siapkan aku pasti makan." Mendengar perkataan suaminya, Ella menjadi lega karena tadi dia takut Angga tidak suka dengan makanan yang dia bawa.


Setelah semuanya tersaji, Ella menyuruh Gara untuk membangunkan Fana yang pasti putrinya itu akan merengek bila tidak diajak makan bersama. Setelah Fana bangun, mereka makan bersama dengan dipenuhi canda, tawa serta pertengkaran dari Gara dan Fana yang ujung-ujungnya Fana akan mengadu ke Daddynya.


*


*


*


*


*


Hai gays,aku kembali lagi nih. Semoga kalian suka dan gak bosan ya dengan ceritaku(◠‿◕)


Next chapter besok ya.


see you(。・ω・。)ノ♡(。・ω・。)ノ♡

__ADS_1


__ADS_2