
Ella sekarang duduk di pinggiran kasurnya, sejak tadi dia menerutuki kebodohannya. Bisa -bisanya dia tersipu malu saat Angga mengucapkan dua kata yaitu 'kamu cantik' dan satu lagi yang membuatnya menjadi kesal dengan dirinya sendiri saat dia mengingat kalau dia menutup pintu kamar anak - anaknya dengan keras.
Astaga. Pasti Gara dan Fana terbangun tadi saat aku menutup pintu kamar mereka dengan keras.
Rutuk Ella dalam hati.
"Balik gak ya? Balik gak ya? "Tapi kalau aku balik, terus disana masih ada Angga, gimana dong?! Arrgg! Au ah! " Frustasi Ella sambil membaringkan tubuhnya dikasur lalu dia menatap langit - langit kamarnya.
Tiba - tiba terintas nama Leo di pikitannya, buru - buru Ella mengambil gawainya untuk menghubungi Leo.
TUT TUT TUT
"Assalammualaikum. Hallo bang "
"Waalaikumsalam La. Ada apa kamu menelpon abang?" tanya Leo di seberang sana dengan nada malas, sebab Leo tadi mau memasuki alam mimpinya. Tapi, tiba - tiba Ella menekepon dia.
"Aku boleh minta tolong gak bang? "
"Minta tolong apa? "
"Tolongin dong bang, lihatin anak - anakku apa mereka sudah tidur atau belum. "
" ....... "
Tidak ada jawaban dari Leo, hal itu membuat Ella menjadi bingung dan langsung melihat ponselnya, dan ternyata sambungan teleponnya masih tersambung.
"Bang?! Hallo bang?! Bang Leo! Bang Leo gak tidur kan? Bang! " panggil Ella ke Leo.
"Kamu menelepon abang malam - malam begini, cuma hanya minta tolong menengokin Gara dan Fana? Kamu gila dek? Kamar kamu kan yang lebih dekat dari kamar mereka?! Kenapa harus abang sih?! " Ucap Leo kesal.
"Bukan itu bang. Masalahnya dikamar mereka itu ada.... Ada... Anu.... itu... " jawab Ella terbata - bata.
"Anu anu apa sih dek? Abang gak ngerti? " Desak Leo.
"Ada Angga disana. " beo Ella.
HENING
Lagi - lagi tidak ada jawaban dari seberang, dan lagi - lagi Ella dibuat bingung oleh Leo.
"Hallo bang? Kenapa bang? Kok diam lagi? "
__ADS_1
"Bwahahahahah! " Sontak Ella menjauhi handponenya saat mendengar suara tawa Leo yang melengking sampai ke telinga.
"Ish! Apa - apaan sih bang? Kenapa pakai tertawa segala sih?! " Kesal Ella.
"Jadi kamu gak mau kesana cuma karena Angga, hahhah, dek dek. Kamu masih cinta ya sama dia? " goda Leo ke Ella. Sontak Ella merasa gugup oleh pertanyaan Leo itu.
"Si-siapa yang masih suka. A-aku sudah ti-tidak menyukainya kok. " gugup Ella.
Mendengar Ella gugup membuat Leo semakin semangat menggoda Ella.
"Cie.... Cie...., ada yang gugup nih? " Goda Leo.
"Ish, abang ini. Dari pada abang menggoda aku, lebih baik abang pergi tengokin anak - anak aja. Awas aja kalau abang tidak kesana, aku aduin ke Mami Papi supaya nanti fasilitas abang disiti. " ancam Ella. Dan sontak Leo menghentikan tawanya.
"Eh, jangan dong dek. Oke oke, abang bakalan lihatin mereka, tapi jangan aduin ke Mami papi ya. " Leo memang takut fasilitasnya dicabut, sebab Leo yang suka membelikan barang - barang ke para kekasihnya. Maklum lah, Leo itu playboy cap buaya jadi wajar kalau dia mempunyai pacar lebih dari satu. Eh, bukan pacar sih, lebih tepatnya cewek yang dia ghosing.
"Cepetan. Assalamualaikum. "
"Waalaikumsalam. "
Setelah menutup panggilan teleponnya, Leo bergegas ke kamar Gara dan Fana yang dimana berjarak 10 meter dari kamarnya. Saat tiba didepan kamar Gara dan Fana, Leo perpapasan degan Angga yang keluar dari sana.
"Eh Angga. Lo baru lihat Gara sama Fana ya? Gimana? Apa mereka terbangun atau tertidur nyenyak? " Tanya Leo sambil menirukan Ella berbicara. Hal itu membuat Angga mengerutkan keningnya.
(Ps: Sejak di rumah sakit, Anga dan Leo sudah mulai akrab sampai sampai merubah dari panggilan anda dan saya menjadi lo gue)
"Oh itu. Tadi Ella menanyain Gara sama Fana. " Jawab Leo santai.
"Kenapa pakai ditanyain? Oh mungkin, tadi karena Ella tanpa sadar membanting pintu. mungkin dia takut anak - anak terbangun. " Beo Angga. Dan beberapa detik kemudian.
"Eh, kenapa harus lo samperin ke sini? Kan tidak perlu, ada gue yang bakalan menenangin mereka. " Dan beberapa detik kemudian akhirnya Leo tersadar.
"****! Kenapa gue jadi bodoh gini sih? " rutuk Leo ke dirinya sendiri. Melihat apa yang dilakukan oleh Leo membuat Angga menggeleng - gelengkan kepalanya.
"Tapi kenapa bukan Ella yang kesini? " Mendengar pertanyaan Angga, membuat Leo menghentikan kegiatannya dan langsung menatap Angga. Lalu beberapa detik kemudian Leo menampakkan senyum jahilnya.
"Itu karena lo. " Tunjuk Leo ke Angga.
" Kenapa karena gue? " Tanya Angga bingung.
"Karena lo ada disini, makanya dia gak mau. "
__ADS_1
Kenapa Ella tidak mau kesini? apakah dia masih membenciku?
Batin Angga.
Leo bisa menebak apa yang sedang dipikirkan oleh Angga, dari ekspresi yang angga buat.
"Lo jangan berpikiran Ella membenci lo. Sebab dia tidak pernah membenci lo. " ujar Leo.
Hal itu membuat Angga tersentak kaget sekaligus bingung.
"Maksud lo? " bukannya menjawab Leo malah menampakkan senyum mistrriusnya.
"Kalau lo mau tau, lebih baik kita ke ruangan kerja gue. Kita bicara disana, kalau disini takutnya Ella mendengar pembicaraan kita. " Lalu dianggukan oleh Angga. Benar kata Leo, Ella kapan saja bisa mendengar pembicaraan mereka. Sebab, kamar Ella dengan Gara dan Fana hanya berjarak 2 kamar.
Lalu Angga dan Leo berjalan menuju ruangan kerja Leo yang berjarak 6 meter dari sana.
Setelah beberapa saat kemudian akhirnya mereka sampai di depan pintu yang bercat warna coklat dengan ukiran inggris kuno.
Saat mereka masuk, disana terlihat ruangan itu bernuansa klasik inggris. Sebab Leo memang menyukai hal - hal yang berbau inggris klasik, itu Leo dapat dari kakeknya yang juga menyukai hal - hal yang berbau inggris klasik.
Mereka duduk di sofa singel yang ada disana. Yang didepannya terdapat meja bundar yang terbuat dengan kaca dan kayu.
"Jadi jelaskan apa yang lo maksud dengan Ella yang tidak pernah membenci gue? " Tanya Angga dengan mode serius. Leo menatap Angga dengan tatapan dan senyum misterius.
*
*
*
*
*
*
*
**Maaf semuanya lagi lagi aku telat update, sebab kerjaanku didunia nyata masih banyak yang harus aku selesaikan. Bila kalian lupa dengan alur ceritanya, silahkan dibaca ulang dari awal.
Semoga suka.
__ADS_1
See you next chapter😘😘
♪\(*^▽^*)/\(*^▽^*)/