
Mereka semua sudah sampai di depan rumah yang akan mereka tempati rumah yang memiliki taman yang luas, bernuansa asri. Walaupun rumah ini tidak sebesar Penthouse Graham di London, tapi ini cukup untuk mereka tinggalin mengingat Ella nanti akan menikah dengan Angga.
"Wahh.... Lumahnya cantik Glandma, Fana cuka! " senang Fana sambil meminta turun dari gendongan Angga. Fana sudah riang dan bugar lagi saat Angga menenangkannya tadi dimobil.
"Iya Grandma! Jadi nanti Gara tidak perlu lagi menemanin Fana ke toilet dengan alasan rumahnya terlalu besar dan takut jika dia diculik sama hantu" ejek Gara dan langsung membuat Fana protes.
" Ih! Gala! Fana gak da takut cama hantu! Fana cuma takut telcecat! " elak Fana, mendengar perkataan Fana membuat Gara menghembuskan nafasnya kasar.
"Udah - udah jangan bertengkar lagi. Lebih baik kita masuk yuk! " ajak Mama Ele dan mereka semua masuk ke dalam.
"Daddy endong! " ujar Fana sambil merentangkan tangannya, dan dengan senang hati Angga menggendong putrinya itu.
"Cih! Dasar manja. "Ejek Gara lagi. Karena dia sungguh jenah dengan tingkah kembarannya itu.
"Bialin! " ujar Fana yang sedang menggulungkan tangannya ke leher Daddy nya.
"Udah dong sayang, kenapa jadi berantem. Gak baik berantem itu, sekarang kita masuk yuk. Grandma, Grandpa dan Papa Leo udah masuk sejak tadi. " ajak Ella sambil menggandeng tangan mungil Gara.
Gara dan Fana dibuat terpukau lagi dengan ruang tamu yang bernuansa warna abu - abu dan biru, tidak sampai di situ saja.
Dan tidak hanya itu saja, ruangan keluarga nya juga tidak kalah indah dan cantik, perpaduan warna putih dan warna lainnya yang terkesan cantik tepi juga kalem.
"Fana mau lihat kamal Fana! " ujar Fana sambil turun dsri gendongan Angga, dan langsung berlari ke atas. Tetapi beberapa saat kemudian Fana balik lagi ke bawah.
"Loh? Kenapa my princess, kok turun lagi? " tanya Angga sambil mengsejajarkan badannya dengan Fana.
"Kamal Fana dimana Dad? " mendengar perkataan Fana itu sontak membuat tawa orang yang ada disaan pecah. Kecuali Gara yang hanya memandang kembarannya dengan tatapan jenah.
"Hahah, Fana... Fana. Sini ikut Papa, kita pergi lihat kamar kamu dan Gara diatas! " ajak Leo sambil menggendong Fana di gendongannya.
"Kamu gak ikut Boy? " tanya Leo ke Gara. Bukannya menjawab Gara malah menarik tangan Mommy nya.
"Mommy ikut juga ya " ajak Gara ke Ella.
"Eh? Kenapa sayang? Bukannya Papa Leo juga akan temanin? " tanya Ella bingung, sebab Gara tidak pernah meminta Ella menemaninnya kalau sudah ada Leo atau Mama Ele, atau Papa Lio dan Angga.
__ADS_1
"Gara pengen Mommy ikut aja. " Harap Gara, melihat tatapan memeras anaknya, Ella akhirnya menemani Gara.
"Yaudah, kalau gitu. Mama, Papa, Angga aku pamit menemanin Gara dulu ya. " pamit Ella.
"Gak apa - apa kamu pergi aja. Nanti barang - barang kamu biar pembantu yang bereskan. " ujar Mama Ele, setelah mendengar itu, Ella dan Gara pergi ke atas menyusul Leo dan Fana yang sudah lebih dulu pergi karena Fana sudah tidak sabar melihat kamar barunya.
Sebelum pergi Gara tersenyum dulu ke Angga, saat melihat senyum dari anaknya. Angga mengerti kalau Gara mencoba membantunya, karena dia akan berbicaraa dengan orang tua Ella seputar suatu hal yang akan dia lakukan untuk Ella.
"Mama, tuan Graham. Ada yang ingin saya sampaikan kepada kelian berdua, ini berhubungan dengan Ella. " ujar Angga, sedang Mama Ele dan Papa Lio menggerutkan dahi mereka tanda penasaran apa yang akan Angga bicarakan dengan mereka berdua.
Ditempat lain Ella, Leo, Gara dan Fana sekarang sedang berada di ruangan Leo setelah puas melihat kamar mereka. Kamar Leo yang dominan bewarna hitam, yang dimana dilengkapi dengan televisi di bagian depan kasur dan tempat gantungan pakaian di sampingnya, lalu disamping lemari itu ada pintu yang menghubugkan ke room pakaian dan kamar mandi.
"Gimana kamar Papa? Keren kan? " Sonbong Leo, mendengar perkataan sombong Papanya itu membuat Fana angkat bicara.
"Huh, kelen dali mana, kamar Papa walnanya gak lucu. " ejek Fana dan hal itu membuat Ella dan Gara terkekeh melihat ekspresi Leo yang berubah menjadi masam.
"Dasar! untung keponakan sendiri, kalau keponakan orang udah aku penyet - penyet nih anak. " umpat Leo sangat pelan, tapi itu masih terdengar oleh Ella. Dan Ella langsung melihat Leo dengan tatapan tajam, menyadari bahwa adeknya menatapnya dengan tatapan yang tajam Leo langsung menunjukkan senyumnya dengan berkata.
"Gak kok dek, Fana itu anak kesayangan aku. Iya kan Fana! " ujar Leo sambil memeluk Fana yang sedang berusaha naik ke atas kasurnya, sedang orang yang sedang dipeluk dibuat bingung dengan tingkah Papanya.
Ella hanya bisa menggeleng - gelengkan kepalanya. Lalu dia melihat sekeliling kamar abangnya.
"Ini memang didekor sesuai keinginan Abang dek. " kata Leo sambil memangku Fana yang sedang menonton televisi dengan Gara.
"Oh iya, kalau tidak salah kamar kamu juga didekor persis seperti keinginan kamu. " Sambung Leo lagi.
"Benarkah Bang? Tapi kenapa Mama dan Papa tau keinginanku? " tanya Ella bingung karena dia tidak bilang apa - apa kepada kedua orang tuanya itu.
"Kamu ingat gak majalah desain rumah yang Mama perlihatkan ke kamu? " tanya Leo.
"Majalah?..... Oh! Majalah itu! Aku ingat. " ingat Ella.
"Nah, dari majalah itu Mama tau desain rumah kesukaan kamu. "
"Benarkah Bang?! Kalau begitu aku lihat kamar aku dulu ya Bang! " senang Ella.
"Oke! " sahut Leo yang sedang menonton televisi bersama dengan Gara dan Fana.
"Gara, Fana! Kalian mau ikut Mommy gak? " tanya Ella kepada kedua anaknya.
__ADS_1
"No Mommy! " jawab mereka berdua serentak tanpa memalingkan wajahnya dari televisi.
"Yaudah kalau gitu, Mommy pergi dulu ya? Kalian baik - baik disini! Jaga anakku ya Bang! " Perintah Ella ke mereka
"Oke Mommy! "
"Oke Mommy! "
"Oke dek! "
Jawab mereka berbarengan.
Ella pergi ke kamarnya setelah mendengar sahutan dari anak - anaknya dan Abangnya.
Kamar Ella berada di ujung sisi rumahnya itu, didepan pintunya tertulis nama dirinya, dan Ella sudah tahu ini semua pasti ulah Mamanya.
Ella membuka daun pintu itu, dan dia dibuat takjub dengan kamarnya yang sangat persis seperti apa yang dia inginkan.
"Wah... Semuanya sungguh sesuai keinginan aku. Mama sungguh the best. " kagum Ella sambil melihat sekeliling kamarnya.
Lalu Ella berjalan menuju kasurnya, dia merebahkan tubuhnya disana.
"Hahhh.... Nyamannya.... " lirih Ella lalu dia memejamkan matanya. Tetapi beberapa saat kemudian dia kembali membuka matanya karena pintu kamarnya diketuk oleh seseorang.
"SIAPA! " teriak Ella dari dalam.
"Ini aku! " teriak seseorang pria yang ada di luar, yang tidak lain adalah Angga.
"Iya sebentar! " sahut Ella yang sedang merapikan jilbabnya, setelah merasa rapi Ella membuka ganggang pintu itu.
"Ada apa Angga? " tanya Ella.
"Bisa kita bicara berdua sebentar? " tanya Angga, lalu Ella mengangguk dan langsung berjalan keluar.
*
*
*
__ADS_1
*
Sebenarnya ada gambarnya, tapi karena prosesnya gak bisa jadinya gak jadi deh pakai gambar