
Saat Angga memasuki ruangan operasi, dia melihat putrinya yang sedang terbaring lemah tidak sadarkan diri di brankas operasi.
Saat Angga mendekati Fana, dia bisa melihat wajah anaknya itu yang sangat mirip dengan dirinya dan Gara. Fana dan Gara itu bagaikan pinang terbelah dua, hanya satu saja yang membedakan mereka, yaitu jenis Gendre mereka.
Maafkan Daddy nak. Karena daddy kamu harus mengalami semua ini, andai saja waktu bisa Daddy putar kembali. Pasti Daddy tidak akan menceraikan melakukan tindakan bodoh di masa lalu. Maafkan Daddy sayang.
Batin Angga, lalu dia mengecup kening putrinya.
Setelah itu Angga berbaring miring di brankas operasi yang berada di sebelah Fana atas suruhan dokter . Angga terus melihat putrinya sampai Angga tidak sadarkan diri karena obat bius yang disuntikan dokter.
...___________🌸🌸🌸🌸___________...
Diluar ruangan operasi, Rian, Ella dan beserta keluarganya sudah menunggu dengan harap - harap cemas selama kurang lebih 1 jam.
Mereka semua tidak henti - hentinya memanjatkan doa untuk Fana dan Angga supaya operasi mereka lancar tanpa ada halangan.
Beberapa saat kemudian, lampu ruangn ICU itu berubah warna menjadi warna hijau, yang artinya operasi sudah selesai.
Mereka berbondong - bondong memberi pertanyaan saat dokter yang menangani operasi Angga dan Fana keluar.
(Seperti biasa. Anggap saja mereka pakai bahasa inggris bicara dengan dokternya.)
"Bagaimana dok?! Apakah semua lancar?!"
"Keadaan mereka baik - baik sajakan dok? "
"Operasinya berhasil kan dok? "
Dan bla bla bla, masih banyak lagi pertanyaan yang mereka lontarkan. Hingga semua orang yang bertanya itu terdiam saat sang dokter menyuruh mereka diam.
"Saya mohon! Diam! Pak, buk! " Ujar dokter tersebut. Dan setelah semua diam, sang dokter mulai mengatakan apa yang akan dia katakan.
__ADS_1
Dokter itu menerik nafas sedalam - dalamnya terlebih dahulu sebelum melontarkan apa yang akan dia katakan.
"Pertama - tama saya mengucapkan selamat kepada bapak ibuk sekalian, karena operasinya berjalan lancar tanpa hambatan. " perkataan dokter itu disambut dengan rasa syukur kepada Allah oleh mereka.
"Nona Fana dan tuan Angga sebentar lagi akan dipindahkan ke ruangan intesif. Oh ya, nanti kalau nona Fana mengalami gejala seperti mual, demam, nyeri atau sakit kepala. Itu adalah hal yang normal saat pasien menjalankan operasi transplantasi tulang sumsum. " Jelas dokter itu, dan mereka semua mengangguk paham.
Apakah Angga juga mengalami gejala ya? Lebih baik aku tanya deh.
Batin Ella. Tapi Ella mengurungkan niatnya untuk bertanya ke dokter itu tentang Angga. Sebab Rian sudah lebih dulu menanyakannya.
"Bagaimana dengan pendonornya dok? Apakah ada gejalanya juga dok? " Tanya Rian.
"Kalau buat pendonor biasanya hanya mengalami gejala nyeri punggung atau pinggul, kelelahan, nyeri otot dan lemas. "Lalu Rian menangguk mengerti.
Setelah mengatakan itu, dokter tadi pamit undur diri karena tugasnya sudah selesai, dan dia bersiap - siap untuk melakukan operasi berikutnya.
Setelah kepergian dokter itu, pintu ruangan operasi itu terbuka. Para perawat yang ada disana mendorong dua brankas operasi, yang disana ada Angga dan Fana terbaring tidak sadarkan diri akibat obat biusnya yang belum hilang.
...___________🌸🌸🌸🌸___________...
Setelah puas melihat keadaan putrinya, Ella izin ke orang tua dan Abangnya ke luar sebentar. Katanya sih mau melihat keadaan Angga, karena biar bagaimanapun Angga telah mendonorkan Tulang Sumsumnya untuk Fana.
Sesampai di ruangan Angga, Ella melihat Rian sedang duduk di sofa yang ada disana. Saat Rian tau kalau Ella mau masuk, Rian langsung berdiri.
"Nona mau menjenguk tuan Angga ya? Maaf ya Nona, saya tidak bisa menjenguk Nona Fana. Sebab, saya sedang menjaga tuan Angga, kan kasihan kalau tuan Angga sendirian disini, tidak ada yang jagain. " Maaf Rian.
"Tidak apa - apa kok kak. Sekarang kakak bisa jenguk Fana dulu. " Tutur Ella.
"Tapi nanti tuan Angganya? " Tanya Rian yang tiba - tiba saja tidak peka.
"Biar akus saja yang menjaganya. " Setelah Ella mengatakan kalau dia yang menjaga Angga. Rian langsung pamit pergi.
__ADS_1
Setelah kepergian Rian, tinggalah Ella dan Angga yang tidak sadarkan diri di ruangan itu.
Ella duduk di kursi yang ada di samping brankas Angga. Saat telah duduk, Ella memandangi Angga dengan tatapan yang sulit diartikan.
Lalu tiba - tiba saja Angga memegang tangan Angga dan mengigau memanggil nama Kailana.
"Kai.... Kailana... Maafkan aku. Jangan tinggalin aku.... Kailana..... Kembalilah sayang..... Maafkan aku ini.... Kai..."
Ella tersentak lalu dia resplek menarik kembali tangannya yang dipegang oleh Angga dengan kasar.
"Kenapa? Kenapa Angga...? Kenapa kamu begini..? Bukannya kamu hanya memanfaatkan aku saja. selama dulu...? Tapi kenapa kamu sangat menyesal Angga...? Tolong Angga, jangan membuat hatiku bimbang dengan sikapmu itu. Tolong jangan membuat diriku ini susah untuk melupakanmu. " Guman Ella. Setelah mengatakan itu, Ella berlari ke Angga kamar mandi yang ada di ruangan itu.
Tanpa Ella sadari. Bahwa Angga sudah bangun saat Ella nenhentakkan tangannya tadi dengan kasar. dan Angga juga mendengar apa yang dikatakan Ella tadi.
Maafkan aku Ella. Maafkan semua perbuatanku yang membuat hatimu itu tersakiti. Aku memang lelaki br**gsek, yang hanya pandai menyakitimu saja. Tapi aku pasti akan berusaha untuk mengobati luka yang ada di hatimu itu.
Batin Angga.
*
*
*
*
*
*
*
__ADS_1