
Angga hanya bisa memandang lesu dua orang yang tertidur sambil memeluk istrinya, Ella.
"Mas kenapa tidak ikut tidur? Mas tidak mengantuk? " tanya Ella.
"Aku mau tidur meluk kamu. Tapi, Gara dan Fana malah yang memeluk kamu. " cemberut Angga dengan menatap kedua anaknya yang memeluk Ella dengan posisi Fana disamping kanan dan Gara disamping kiri Ella.
"Mas mau meluk aku? " tanya Ella yang tertawa geli melihat tingkah suaminya itu.
Dengan semangat empat lima Angga mengangguk Kepala.
"Nanti malam aja ya Mas, kalau kamu meluk aku sekarang takutnya nanti mereka terbangun. Kasihan mereka bangun pagi - pagi tadi. " dengan nada lesu Angga mengiyakannya.
Lalu Angga berjalan ke kasur dan mengambil bantal yang tersisa disana.
"Mas mau kemana? " tanya Ella saat melihat suaminya mengambil bantal.
"Aku mau tidur di sofa. " tunjuk Angga ke arah sofa panjang yang posisinya berada di dekat kasur.
"Loh? Kenapa tidur di sofa? Nanti badan Mas Angga sakit. Tidur di sini saja, ini masih muat untuk satu orang lagi kok Mas." ujar Ella sambil menunjuk ruang yang tersisa di samping fana.
"Aku tidur di sofa aja. Walaupun masih ada ruang untuk aku tidur, tapi takutnya nanti Fana dan Gara tidak leluasa bergerak. Jadi aku tidur di sofa saja, kamu tenang saja, nanti malam kita bisa bebas tidur berdua kok. " goda Angga yang berhasil membuat wajah Ella memerah.
"Ish! Dasar! " guman Ella yang wajahnya sudah memerah.
Angga terkekeh geli melihat ekspresi Ella. Angga akui setelau dia bertemu dengan Ella lagi, dia memang sering tersenyum dan tertawa karena tingkah istrinya itu.
Mereka berdua masuk ke alam mimpi yang dimana Angga tidur di sofa dan Ella yang tidur dengan diapit kedua putra putrinya.
Jam 11.00 Ella dan Angga bangun untuk siap - siap melakukan resepsi yang akan dilaksanakan jam 13.30 Wib.
MUA sudah tiba di kamar mereka sejak jam 11.15 tadi, dan Fana dan Gara terbangun jam 12.00.
Pukul 13.10 mereka berdua sholat jamaah setelah mereka sudah siap dan sudah rapi dengan pakaian yang bewarna putih dan hitam. Begitu pula dengan Gara dan Fana yang sudah rapi dengan baju yang dikenakan mereka.
Ella memakai gaun bewarna putih yang panjang dengan kerudung yang dilengkapi dengan tiara di atas kepalanya yang menambah kesan anggun dan indah. Sedangkan Angga memakai jas bewarna hitam dengan dasi kupu - kupu yang merekat di lehernya, yang menambah kegagahan dan kegantengan Angga.
Jangan lupa si kembar Gara dan Fana. Gara yang ganteng dan gagah dengan setelan jas bewarna hitam dan dengan dasi kupu - kupu yang bewarna merah di lehernya. Sedangkan Fana sudah cantik dengan gaun yang panjang dibagian belakangnya sampai betis sedang di depan panjangnya hanya sampai selutut, rambut Fana juga disanggul tidak lupa pula ditambah dengan tiara kecil di atas kepalanya.
Sebelum ke tempat resepsi, mereka berfoto bersama sebentar yang difoto oleh fotografer yang disewa oleh Angga untuk foto pernikahannya.
Semua tamu undangan sudah banyak yang sudah datang, dan saat sang raja dan ratu sehari semalam sampai di aula resepsi, sang pembawa acara dan semua orang menyambut mereka dengan meriah.
Acara dimulai dengan dansa oleh mempelai wanita dan pria lalu lanjut dengan acara lempar bunga. Semua hal Itu tidak luput dari wartawan yang hanya ada beberapa disana, karena Angga tidak memperbolehkan untuk membawa banyak cameraman di resepsi itu, dia takut nanti putra putrinya tidak nyaman dengan semua itu.
"SEMUA SIAP YA! " teriak Ella sambil mengambil kuda - kuda untuk melempar bunga yang terbuat dari kertas itu bersama dengan Angga.
"Satu...... Dua..... Ti..... Ga... " bukan melempar Ella kembali menahan sebuket bunga kertas itu, hal itu membuat semua orang yang ada disana riuh dengan sorakan kecewa.
Hal itu membuat Ellla terkekeh, lalu Ella kembali memulai hitungannya dari angka satu.
__ADS_1
"Oke, oke. Aku mulai lagi ya. Satu..... Dua... Ti.... Ga! " Ella dan Angga melempar buket bunga itu, dan bunga itu ditangkap oleh Lisa Anamila Graham, sepupu Ella kakak dari Mona.
Dan beberapa detik kemudian datanglah pria bule dan pria bule tersebut langsung berlutut didepan Lisa, sambil membuka sebuah kotak yang berisikan cincin.
"Will you married me? " ujar pria bule tersebut yang ternyata merupakan pacar dari lisa.
"Yes, I want to! " mendengar perkataan Lisa membuat pacarnya itu sangat senang, dia langsung memasang cincin itu di jari manis Lisa, semua orang yang melihat itu banyak yang bersorak karena melihat keromantisan Lisa dan pacarnya.
Setelah kejadian itu, Ella dan Angga menyalami para tamu, dimulai dari rekan bisnis Angga, rekan bisnis Papi Johan, sampai rekan bisnis Papa Lio dan Leo.
Hingga seseorang yang dinantikan oleh Ella dan Angga kedatangan akhirnya tiba.
"Semalat ya Lana, semoga pernikahan kaluan kali ini tidak ada lagi badai yang menerjang sehingga membuat kalian berpisah. " doa seorang itu dengan tulus.
"Terima kasih Rin. Kamu juga, semoga pernikahan kamu sampai hari H dengan lancar tanpa halangan. " balas Ella kepda seorang itu yang tidak lain adalah sepupu Ella sendiri, yaitu Karina.
"Aamiin! "
"Oh iya, Paman mana Rin? " memang sejak tadi Ella tidak melihat keberadaan ayah Karina, hanya Edo saja yang Ella lihat.
"Ayah tidak bisa ikut Lana, mengingat. Kondisi ayah yang tidak memungkinkan untuk naik pesawat. Tapi ayah titip salam buat kamu. " ujar Karina.
"Waalaikumsalam. Katakan ke Paman, jangan banyak pikiran dan sering berjemur di bawah sinar matahari pagi ya Rin. " lalu karin mengangguk mengiyakan.
Setelah mengucapkan itu Karina bergeser ke Angga, dan tibalah saatnya Edo mengucap selamat ke Ella dan Angga. Hal tersebut langsung membuat Angga memeluk pinggang Ella dengan posesif.
Melihat keposesifan Angga terhadap Ella membuat Edo dan Karin terkekeh geli.
"Tenang aja bro, gue gak akan mengambil Kailana dari loe. Gue sudah punya seseorang yang mengisi hati gue" jelas Edo sambil melihat ke arah Karina, mereka berdua melemparkan senyum satu sama lain.
"Siapa tau kamu punya niat terselubung " kata Angga tanpa dosa, karena hal itu membuat Ella menghadiahkan cubitan di pinggang Angga.
"Aduh..! Kenapa kamu cubit aku sayang?! " sambil mengusap - usap pinggangnya yang terkena cubitan Ella.
"Mulut kamu itu di kontrol Mas! " lirih Ella sambil menatap Angga dengan tatapan tajam. Hal itu membuat Angga mengerucutkan bibirnya.
"Gak pa pa Kai. Aku sudah biasa, aku kalau jadi suami kamu, pasti akan melakukan hal yang sama juga. "
"Dan saya tidak akan membiarkan kamu menggantikan saya! " ancam Angga. Karena hal itu membuat Edo menggelengkan kepalanya melihat tingkah Angga.
"Mas.... " Lirih Ella dengan penuh ancaman.
"Sudah, gak pa pa. Aku disini hanya mau mengucapkan selamat kepada kalian berdua. Dan aku juga mau berterima kasih ke kamu Kai, berkat perkataan kamu tempo hari menyadarkan aku, persaanku yang sebenarnya. " ungkap Edo dengan tulus, dengan tangan Karina yang tidak lepas dia genggam sejak tadi.
"Syukurlah, akhirnya kak Edo menyadarinya. Aku sangat bahagia mendengarnya. " setelah itu Edo dan Karina turun dari pelaminan.
Beselang berapa saat kemudian, tibalah Sisi dengan Irwan beserta putra mereka.
"LANA! " teriak Sisil heboh, dan dia langsung memeluk tubuh Ella dan hal tersebut membuat pelukan Angga lepas dari Ella.
"Ya ampun Lana. Kamu cantik banget, aku sampai panling lihat kamu. " puji Sisil tanpa mempedulikan tatapan tajam Angga.
"Kamu bisa aja Sil. Kamu juga cantik kok " puji Ella balik.
"Ouh.. Makasih Lana sayang. " ujar Sisil dengan senang.
"Maaf ya Lana, kita tidak bisa lihat acara akad kamu. Itu semua karena dia itu! " sindir Sisil ke arah Irwan suaminya.
__ADS_1
Sedangkan yang disindir berpura - pura tidak mendengarkan dan malah bermain dengan putranya.
"Kenapa? " tanya Irwan tanpa dosa.
"Ish! Dasar! " umpat Sisil dengan anda lirih.
Irwan mengucapkan selamat kepada Ella tanpa mempedulikan umpatan istrinya.
"Selamat ya Lan. Gak nyangka gue loe bakalan rujuk dengan Pak Angga, selamat ya. " ujar Irwan.
"Terima kasih Wan. Hai Alex! " sapa Ella ke anak Sisil dan Irwan.
"Hai tuante. " ujar Alex sambil menyalami Ella lalu beralih ke Angga. Lalu mereka bertiga turun dari pelamian setelah mengucapkan selamat kepada sang pengantin.
Semakin lama berdiri, Ella akhirnya tidak sanggup lagi berdiri, mengingat para tamu yang datang tidak habis - habisnya.
Melihat istrinya kalelahan, akhirnya dia memutuskan untuk pergi dari sana, dan membawa istrinya pergi ke kamar.
Awalnya Ella menolak mengingat tamu yang datang masih banyak, tapi Angga mengatakan kalau semua tamu sebenarnya hanya ingin bertemu dengan Papa Lio, Papi Johan dan Leo.
Akhirnya Ella mau menuruti perkataan Angga.
******
Angga dan Ella duduk dipinggir kasur dengan berjarak. Mereka sudah mengganti pakaiannya, dan sekarang belum ada diantara mereka yang memulai percakapan satu sama lain.
HENING
CANGGUNG
Itulah kalimat yang tepat dikatakauntuk mereka saat ini.
"Ehem! " deheman Angga untuk menghilangkan situasi ini.
"Mmm, Ella! " panggil Angga.
"Eh? I-iya mas. " kaget Ella, sebab tadi dia melamun.
"Apakah Mas boleh, meminta hak Mas? " tanya Angga ragu.
"I-itu..... " belum selesai menjawab, wajah Angga sudah dekat dengan Ella.
Dan terjadilah kejadian yang akan terjadi.
*
*
*
*
*
*
*
__ADS_1