Sang malaikat kecilku

Sang malaikat kecilku
CHAPTER 57#


__ADS_3

"Kamu salah nama, namaku sekarang Ella bukan Lana lagi Sisil. " larat Ella sambil tersenyum ke arah orang itu yang tidak lain adalah Sisil teman Ella saat kuliah dulu.


Kalau kalian udah lupa, kalian bisa baca lagi Chapter 8.


Tanpa ba bi bu, Sisil Langsung memeluk Ella dengan erat. Dan dibalas oleh Ella dengan pelukan yang erat juga.


"Gimana kabar kamu selama ini, kamu sudah menikah ya, gimana suami kamu. Dia baik gak dari pada suami kamu yang dulu. Dan dimana saja kamu selama ini? " tanya Sisil secara berturut turut.


"Satu satu Sisisl tanyanya. Gimana aku menjawabnya kalau kamu tanya seperti itu? " tegur Ella dengan nada lembut.


"Ups, sorry La-El.. Ah! Aku panggil kamu Lana aja ya, seperti dulu. Soalnya lidahku tidak mendukung kalau memanggil nama kamu yang sekarang " cemberut Sisil, yang membuat Ella terkekeh.


"Baiklah terserah kamu saja Sil, apapun namaku yang kamu panggil. Aku tetap teman kamu kok. " ujar Ella. Dan dibalas dengan anggukan mantap oleh Sisil


"Oh ya Lan. Kamu kemana aja selama ini? Kenapa gak ada kabar sama sekali? " tanya Sisil yang sudah mendudukkan dirinya bersama dengan putranya dibangku yang ada disana.


"Ceritanya panjang Sil. Nanti kalau ada waktu aku ceritain ke kamu ya. "


"Oke, aku tunggu janji kamu. Mmm.... Ini anak kamu ya Lan? " tanya Sisil yang sejak tadi penasaran dengan Fana. Sedangkan Fana hanya diam, dia diam bukan karena Mommynya lagi sedang bicara dengan orang lain, Fana diam karena dia penasaran dengan anaknya Sisil.


"iya Sil, ini anak aku. " lalu Ella beralih menatap anaknya. " Sayang, kenalin ini teman Mommy, namanya tante Sisil. Beri salam dong tante Sisilnya. "


"Accalamualaikum tante. " salam Fana


"Waalaikumsalam sayang. Nama kamu siapa sayang? " tanya Sisil


"Namaku Caffana nacha Fawziah Blamasta. "


(Namaku Saffana nasha Fawziah Bramasta)


(Ps: bagi yang nanya kenapa nama belakang Fana menjadi Bramasta bukan Graham. Itu karena atas usulan Mami Aluna kepada anggota keluarga Ella, untuk mengubah nama belakang Gara dan Fana menjadi nama keluarga Angga, yaitu Bramasta.)


Mendengar nama belakang Fana membuat Sisil membulatkan matanya.

__ADS_1


"Lana, jangan bilang kal- "


"MOMMY! " Teriak Gara yang membuat Sisil menghentikan ucapannya.


Lalu Sisil dan Ella melihat ke sumber suara, betapa terkejutnya dia saat melihat Angga yang sedang menggendong seorang bocah laki - laki, yang tidak lain adalah Gara.


"Eh, sayang. Udah selesai buang airnya? " tanya Ella.


"Udah Mom. " lalu Gara duduk disebelah Fana.


"Ella, jangan bilang kalau kamu dan dia...? " Ella menjawab pertanyaan Sisil dengan menganggukan kepalanya.


"Kamu Gila Lan! Kamu masih mau sama dia?! Sedangkan dia sudah......! "


"Sisil lebih baik kamu jangan ungkit masa lalu itu didepan anak - anak. Karena bagaimana pun juga itu sudah menjadi masa lalu, jadi tidak perlu dibahas lagi. Karena kita sekarang hidup dimasa sekarang, yang dimana kita berusaha untuk memperbaiki yang telah terjadi dimasa lalu. " Potong Ella.


"Tapi kenapa kamu percaya kalau dia sudah berubah. " tunjuk Sisil ke Angga yang sejak tadi hanya terdiam mendengar perkataan Sisil.


"Aku..... "


"Udah Sil, percaya deh sama aku. Mas Angga udah berubah. " ujar Ella sambil menepuk tangan Sisil pelan.


"Huff. Baiklah, tapi kalau anda menyakiti sahabat saya lagi. Saya tidak akan lagi menolong anda seperti dulu. " ancam Sisil.


"Dan saya pastikan saya tidak akan seperti dulu lagi. " jawab Angga tanpa ragu.


"Saya pegang kata - kata anda tuan Bramasta! " ujar Sisil. Sedangkan Ella bingung dengan apa yang di bicarakan oleh Sisil dan Angga.


"Maksudnya apa ini. Kejadian apa? " tanya Ella penasaran.


"Ceritanya panjang Ella. Nanti aku cerita ke kamu, saat kamu cerita ke aku dimana saja kamu selama ini. " Ella mengangguk mengiyakan.


"Oh iya. Ini anak kamu Sil? " tanya Ella yang sejak tadi memang prnasaran dengan bocah laki - laki yang lebih muda kurang lebih 1 tahun dari Gara dan Fana.

__ADS_1


"Dia putraku Lan. Namanya Alex. Sayang yuk beri salam ke tante Ella, Om Angga, kakak Gara dan kakak Fana. " suruh Sisil ke anaknya. Walaupun Sisil agak benci dengan Angga, tapi dia tidak mau membuat anaknya membenci Angga juga. Itu juga sama dengan menanamkan dendam ke anaknya saat usia dini.


"Hao Om, tante nan tatak - tatak. Namatu Aldino Ales canjaya. "


(Halo Om, tante dan kakak - kakak. Namaku Aldino Alex Sanjaya.)


"Hai juga Alex. " balas mereka berempat serentak. "


"Hai sayang, Kamu lucu banget sih. " ujar Ella sambil mencubut pipi gembul Alex dengan pelan. Hal tersebut membuat Fana langsung melayang protes.


"Ih! Mommy! Mommy gak boleh pegang - pegang pipi dia. Cuma pipi Fana sama Gala aja yang boleh Mommy prgang! " cemberut Fana membuat semua orang yang ada disana terkekeh, kecuali Gara yang hanya memutar kedua bola matanya malas dan Axel yang bingung dengan protes Fana.


"Jadi ceritanya ponakan tante ini cemburu ya? " Goda Sisil dan langsung membuat wajah Fana menjadi semakin masam.


"Udah sayang. Ini itu juga adeknya Fana loh, masa Mommy gak boleh pegang pipinya Alex?, " nasehat Ella.


"Adek? Adek dali Mommy? " tanya Fana masih belum mengerti.


" Bukan sayang. Alex itu anak tante Sisil, bukan anak Mommy. " jelas Ella.


"Kalau Alex itu anaknya tante Cicil, kenapa jadi adeknya Fana Mom? " tanya Fana lagi.


"Dasar otak udang! Alex itu jadi adek kita karena tante Sisil itu sahabat Mommy! " jelas Gara yang sejak tadi memang sudah jenah melihat ketidakpahaman Fana.


"Ich! Fana bukan otak udang ya! Gala tu yang otak udah! " sungut Fana.


"Terserah! " ketus Gara.


"Eh, udah dong sayang. Jangan bertengkar lagi. Gak malu sama adeknya, masa kakaknya suka bertengkar. " tegur Ella dengan nada lembut.


"Maaf Alex. " cicit mereka bersamaan.


"tak pa pa tok tatak. " balas Alex.

__ADS_1


Lalu Ella dan Sisil bercerita - cerita tentang ayahnya Alex, yang tidak lain adalah Irwan teman debat Sisil dulu saat kuliah. Dan Gara, Fana dan Alex bermain bersama yang diawasi oleh Angga.


__ADS_2