
Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:
اَلْخَبِيْثٰتُ لِلْخَبِيْثِيْنَ وَا لْخَبِيْثُوْنَ لِلْخَبِيْثٰتِ ۚ وَا لطَّيِّبٰتُ لِلطَّيِّبِيْنَ وَا لطَّيِّبُوْنَ لِلطَّيِّبٰتِ ۚ اُولٰٓئِكَ مُبَرَّءُوْنَ مِمَّا يَقُوْلُوْنَ ۗ لَهُمْ مَّغْفِرَةٌ وَّرِزْقٌ كَرِيْمٌ
al-khobiisaatu lil-khobiisiina wal-khobiisuuna lil-khobiisaat, wath-thoyyibaatu lith-thoyyibiina wath-thoyyibuuna lith-thoyyibaat, ulaaa`ika mubarro`uuna mimmaa yaquuluun, lahum maghfirotuw wa rizqung kariim
"Perempuan-perempuan yang keji untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji untuk perempuan-perempuan yang keji (pula), sedangkan perempuan-perempuan yang baik untuk laki-laki yang baik, dan laki-laki yang baik untuk perempuan-perempuan yang baik (pula). Mereka itu bersih dari apa yang dituduhkan orang. Mereka memperoleh ampunan dan rezeki yang mulia (surga)."
(QS. An-Nur 24: Ayat 26)
Kita masih flasback dimana Sisil bisa menikah dengan Irwan ya.
DEG
"Loe! " ujar Sisil dan Irwan bersamaan.
"Ngapain loe disini?! " kaget pria itu.
"Seharusnya gue yang nanya ke loe, ngapain loe di rumah gue?! " tanya Sisil yang tidak kalah kaget.
"Rumah loe? " lalu pria tersebut menatap ke arah Bundanya. "Bun. Maksudnya apa ini bun? " tanya pria itu bingung.
"Eh, sebelum Bunda jawab pertanyaan kamu, Bunda mau tanya. Kalian saling kenal? " tanya tante Indri.
"Ini cewek yang sering Irwan bicarakan ke Bunda itu. " tunjuk pria itu ke Sisil.
"Jadi cewek rese dan bar-bar yang sering kamu omongin itu adalah Sisil Wan? "
"Apa! Cewek rese dan bar-bar! Enak aja loe ngomong ya! " ngamuk Sisil, dan dia mengambil bantal yang ada di dekatnya.
Tapi sebelum Sisil melayangkan bantal ke pria itu, suara Papa Sisil dan suara Om Reno menghentikan pergerakan Sisil yang pastinya akan mendatangkan perang.
"Lia berhenti! " tegur Papa Sisil
"Irwan kamu jangan mencari keributan! " sambung Om reno. Benar, pria itu adalah irwan yang merupakan sahabat Ella dan Sisil plus musuh berbuyutan Sisil.
"Sudah. Kalian berdua ini kenapa malah ribut, kamu duduk Irwan! " perintah Om reno, dan Irwan duduk.
"Kamu juga duduk Lia. " perintah Papa Sisil, dengan mendengus kesal Sisil kembali duduk di tempatnya duduk tadi.
"Maaf ya Jeng, atas kelakuan anakku. " maaf Tante Indri.
"Gak pa pa Jeng. Aku juga minta maaf, atas tingkah laku putri aku yang tidak sopan ke anak kamu. " balas Mama Sisil.
"Karena kalian sudah saling kenal, jadi kami tidak perlu mengenalkan kalian lagi. " Papa Sisil mulai membuka topik yang akan dibahas.
"Kita hari ini berkumpul disini untuk membahas pernikahan Sisil dan Irwan. " mendengar perkataan Papa Sisil sontak membuat mereka berdua memekik kaget.
"APA! MENIKAH! " pekik mereka berdua bersamaan.
"Apa maksud Ayah?! " tanya Irwan ke Om Reno.
"Iya Pa, apa maksudnya Papa menjodohkan aku sama manusia rese ini! " sambil menunjuk-nunjuk Irwan.
"Gak usah nunjuk-nunjuk bisa gak loe! " kesal Irwan.
"Apa loe! Terserah gue lah mau nunjuk elo atau mau gue apalah kan tangan tangan gue!" balas Sisil dengan pedas.
"Loe...!"
"Sudah, kalian ini kenapa malah ribut sih!" potong Mama Sisil.
"Papa dan Om reno tidak mau tau, kalian harus menerima perjodohan ini, kalau tidak kalian akan tau akibatnya. " ancam Papa Sisil. Mendengar itu mereka berdua hanya bisa mendengus kesal, mereka tidak bisa lari dari perjodohan itu.
Astaga, bagaimana nanti hidup gua, kalau gue dijodohkan sama si Irwan yang rese. Kalau dijodohkan dengan Park seo jun gue mau-mau aja, lah dia. Membayangkannya saja gue gak kuat.
Batin Sisil
Damn! Kenapa harus Sisil sih yang jadi jodoh gue, bunda sama ayah cari cewek tidak ada yang lain lagi apa? Ini malah milih cewek modelan kayak si Sisil, bisa-bisa telinga gue sudah tuli sebelum waktunya.
Batin Irwan.
Mereka berdua hanyut dengan pikiran masing-masing, namun tiba-tiba perkataan Ayah Irwan membuat mereka kaget untuk yang kedua kalinya.
"Baiklah, jadi sudah kita sepakati kalau pernikahannya akan dilaksanakan 5 hari lagi. "
"APA! LIMA HARI LAGI! " kaget mereka.
"Yah, apakah itu tidak kecepetan, yah? " ujar Irwan.
__ADS_1
"Iya Pa, fhiting bajunya sama beli cincinnya saja belum di beli Pa. Belum juga persiapan untuk acaranya, waktu lima hari itu tidak cukup pah. " sambung Sisil.
"Cukup kok sayang. Kalian tinggal duduk manis di rumah sambil menunggu hari pernikahan Kalian. Masalah Fhiting baju, cincin dan persiapan acaranya semuanya sudah kami urus. " jelas Mama Sisil.
Mendengar itu mereka hanya bisa mengangguk pasrah.
Lima hari setelah kejadian itu, tibalah hari yang dimana mereka akan mengikat janji pernikahan. Akad itu berlangsung dengan lancar sampai resepsi, tanpa ada Ella yang memang saat itu Ella sudah dihubungi, karena acaranya juga mendadak, dan ditambah lagi mereka berada di Bogor. Jadi akhirnya mereka memutuskan untuk tidak memberi tahu Ella tentang pernikahan mereka. Setelah acara itu sudah mulai sepi, Irwan dan Sisil pergi ke kamar yang sudah disiapkan oleh kedua orang tuanya, dengan ogah-ogahan mereka memasuki kamar pengantin yang sudah dirias secantik mungkin.
Mungkin jika mereka menikah dengan dasar cinta, mereka pasti akan melakukan ritual yang di lakukan oleh pengantin pada umumnya, tapi mereka menikah kerena perjodohan yang tidak mereka inginkan. Jangankan melakukan ritual itu, masalah tidur saja mereka malah bertengkar. Tapi bertengkaran itu dimenangkan oleh Sisil yang tidur di kasur, sedangkan Irwan tidur di sofa.
Banyak lika-liku yang terjadi selama mereka berdua menikah, dari sakit hati, marah, kecewa dan penyesalan, hingga akhirnya mereka mengungkapkan perasaan mereka satu sama lain, dan akhirnya tepat saat pernikahan mereka berusia 8 bulan, Sisil akhirnya dinyatakan hamil oleh dokter. Hal itu menambah kebahagiaan mereka berdua, hingga putra mereka yang diberi nama Aldino Alex Sanjaya, atau yang biasa dipanggil El atau Alex.
FLASHBACK OFF
"Seperti itu ceritanya Lan, sungguh sebenarnya aku tidak percaya, kalau aku akan menikah dan mempunyai anak bersama Irwan. Yang merupakan musuh perbacokanku waktu kuliah dulu. " ujar Sisil sambil terkekeh mengingat bagaimana dia dan Irwan dulu yang seperti minyak dan air, susah untuk berdamai apalagi bersatu.
Melihat perkataan Sisil, membuat Ella ikut tersenyum.
"Itu yang dinamakan takdir dari Allah Sil, tidak tau bagaimana Allah menetapkan tadir kita, bisa jadi Allah menetapkan suatu hal ke kita, yang tidak pernah kita bayangkan akan terjadi ke kita. Contohnya kamu dan Irwan, kalian tidak percaya akan bersatu dan hidup bersama seperti sekarang, itu semua karena Allah tau, apa yang terbaik untuk kita, Allah tidak pernah menetapkan takdir yang sangat kejam ke kita, kalau menurut kamu itu kejam pasti dibalik itu ada hal yang indah menanti kita. Jadi kita hanya bisa berdoa dan beriktiar kepada Allah, karena dia lah yang maha menetapkan takdir dan kepada dialah kita memohon dan meminta." mendengar perkataan Ella membuat Sisil menyinggungkan senyumnya.
"Sama seperti takdir kamu dan Angga." celutuk Sisil yang langsung dianggukan oleh Ella.
"Oh iya Lan. Kamu dulu nanyakan, tentang keadaan Angga setelah dia mengetahui semau kebenaran itu?"
"Iya Sil. Mmm, emang Mas Angga gimana keadaannya dulu?" tanya Ella sambil menggigit bibir bahwanya, karena dia sebenarnya takut dia tidak kuat menahan tangisnya saat mendengar cerita Sisil nanti.
FLASHBACK ON
Sisil dan Irwan langsung kembali ke Indonesia saat mendengar kabar pertunangan Angga dan Joel. Berita itu sangat membuat Sisil dan Irwan kaget plus marah dengan keputusan Angga. Mereka tau kalau hubungan Angga dan Ella tidaklah baik-baik saja semenjak Joel dan Angga kepergok ketahuan bermesra mesraan dengan Joel.
"Tenang Sil, kita akan menanyakan keberadaan Lana ke Angga. " bujuk Irwan.
"Nanya nanya bapakmu! Ini sudah lewat hampir dua bulan Wan, semenjak berita pertunangan Angga dan cewek ja*a*g itu! Kalau saya kamu memperbolehkan aku untuk membuka sosial media, aku pasti akan langsung menemui Lana dan memeluk Lana. Aku tidak kebayang betapa hancurnya Lana Wan, " Lirih Sisil di akhir kalimatnya.
"Iya aku tau Sil. Dan aku minta Maaf, aku tidak tau kalau ada berita yang kurang mengenakkan seperti ini. Kamu juga tau kan, kalau kita di Paris itu lagi Honeymoon. " jelas Irwan sambil menarik Sisil dalam dekapannya.
Sisil mengangguk mengerti, memang itu bukan salah Irwan. Apa yang terjadi kepada Lana itu murni jalan takdir yang tuhan tetapkan, dan kita tidak bisa mengelakkan takdir itu. Dan mungkin saja itu jalan yang terbaik oleh tuhan untuk Lana.
Sisil dan Irwan tiba di bandara Seokarno Hatta, awalnya Sisil nekat langsung pergi ke kediaman Angga. Tapi, Irwan langsung melarangnya dikarenakan kondisi Sisil yang memang kurang baik sejak kemarin.
Awalnya Sisil protes, tapi Irwan langsung mengancan Sisil kalau dia tidak akan memperbolehkan Sisil untuk bertemu dengan Angga. Dan mau tidak mau Sisil harus menuruti perkataan suaminya itu.
"Maaf Non dan Aden, kalian mencari siapa ya? " tanya Art itu.
"Kami mau mencari tuan Angga Bik, Angga nya ada Bik? " tanya Irwan sebelum Sisil mau berteriak-teriak memanggil Angga.
"Oh, Aden sama Non temannya Tuan Angga ya? Mmm... Tuan Angga nya ada di kamar Den, tapi ya itu den. Tuan Angga Sudah beberapa hari ini tidak keluar kamar den. " jelas Art tersebut. Lalu Irwan mengangguk mengerti.
"Kami boleh kan Bik, untuk bertemu tuan Angga? Soalnya ada urusan yang sangat penting yang ingin kami bicarakan dengan Angga Bik? " mohon Irwan.
Setelah di pikir sejenak, akhirnya art itu mengangguk mengiyakan.
"Tapi bibi gak jamin ya den, kalau Tuan Angga bakalan membuka pintunya. " setelah mereka berdua mengerti, mereka dibawa ke depan kamar Angga.
"Kalau begitu bibi pamit kebelakang dulu ya den. " pamit art itu.
"Oh iya, silahkan Bik. Dan makasih ya bik. "
"Sama-sama den. "
Setelah kepergian art itu, Irwan ingin mengetuk pintu kamar Angga dengan hati-hati. Tapi, Irwan didahului oleh Sisil.
BUK BUK BUK
"WOI, ANGGA! BUKA PINTUNYA! ANGGA! WOI!! BUKA GAK! KALAU ENGGAK LOE BUKA GUE DOBRAK PINTU KAMAR ELO! ANGGA! WOI!" Sisil berteriak dari luar.
"Udah Sil, kamu jangan bertriak seperti ini. Gak sopan Sil, " Irwan menenangkan Sisil.
"Tenang? Loe suruh gue tenang?! Mikir dong Wan! Mana bisa aku tenang di saat sahabat gue disakiti begitu saja!" emosi Sisil yang meledak ledak.
"Iya, aku tau. Tapi,tidak begini juga Sil! Kita harus menyelesaikannya dengan kepala dingin, bukan dengan berteriak begini." Irwan menangkup pipi Sisil supaya dia tenang.
Sisil terhipnotis oleh mata Irwan yang bewarna agak kehijauan itu, walaupun Irwan mempunya nama yang sangat lokal, tapi sebenarnya Irwan adalah basteran Eropa Indonesia.
Dengan satu tarikan nafas Sisil mengatakan:
"Baiklah, gue akan tenang dan menyelesaikan dengan kepala dingin." putus Sisil.
"Gitu dong, ini baru istrinya Irwan putra sanjaya," puji Irwan sambil memegang kepala Sisil.
__ADS_1
"Ish! Apaan sih, " Sisil melepaskan tangan Irwan dari kepalanya, karena dia dibuat blusing oleh perkataan Irwan.
Setelah itu Irwan mengetuk pintu kamar Angga dengan pelan.
TOK TOK TOK
"Tuan Angga, bisa tuan membuka pintunya sebentar? Kami ingin berbicara dengan tuan?" tapi tidak ada sahutan dari Angga, hingga Irwan kembali mengetuk pintu itu, dan lagi-lagi tidak ada sahutan dari Angga. Hal tersebut membuat Sisil kembali emosi, dan untung saja Irwan bisa menenangkan Sisil kembali.
Beberapa saat terdengar suara pecahan kaca di dalam kamar, karena takut terjadi sesuatu hal dengan Angga. Akhirnya Irwan meminta kunci kamar Angga ke art tadi, dan di saat pintu telah terbuka mereka menemukan Angga sudah tergeletak tak berdaya di samping kasur.
"Ya Allah, den Angga! " teriak art itu kaget.
Irwan langsung mengcek keadaan Angga, setelah dicek Irwan bernafas lega karena Angga hanya pingsan.
"Tuan Angga hanya pingsan saja bik, tapi saya tidak tau pingsan karena apa. Sebaiknya kita bawa tuan Angga ke rumah sakit, takutnya terjadi hal yang tidak diinginkan."
Irwan memopang tubuh Angga yang dibantu oleh sopir pribadi Angga yang tinggal dekat di apartemen Angga.
Irwan dan Sisil duduk dikursi tunggu saat Angga sedang ditangani dokter.
"Mungkin ini karma dari Allah, karena dia telah menyakiti Lana. Kalau bisa sekalian aja dia tidak selamat." celutuk Sisil yang langsung ditegur oleh Irwan.
"Huss, tidak baik ngomong kayak gitu. Biar bagaimanapun kelakuan seseorang, kita tidak ada hak untuk mendoakan orang tersebuat meninggal, karena masalah hidup dan mati itu menjadi urusan Allah." Sisil membenarkan perkataan Irwan tetapi tetap saja masih ada rasa kesal didalam hati Sisil.
Beberapa saat kemudian Mami Aluna dan Papi Johan datang.
"Bagaimana keadaan anak saya?" tanya Mami Aluna panik.
"Saya tidak tau tante, karena tuan Angga masih ditangani oleh dokter," balas Irwan dengan sopan.
"Biar kita tunggu saja sayang, kamu lebih baik tenang dulu." mami Aluna menangguk mendengar perkataan suaminya.
Dan beberapa saat kemudian dokter keluar dari ruangan ICU tempat Angga ditangani.
"Bagaimana keadaan anak saya dok?" Mami Aluna langsung bertanya saat dokter keluar.
"Keadaan tuan Angga sudah stabil, tapi tadi keadaan tuan Angga hampir saja kritis karena stress yang berkepanjangan, tidak makan, dan diparah dengan meminum minuman keras." mami Aluna kaget sambil membekap mulutnya dengan kedua tangannya.
"A-apa dok, anak saya melakukan hal itu dok? Ya ampun...... Angga...... " lirih Mami Aluna.
"Apakah kami bisa melihat anak kami dok?" tanya Papi Johan.
"Bisa tuan, tapi tunggu tuan Angga di pindahkan ke ruang rawat inap ya tuan."
Angga dibawa ke ruang rawat inap yang VVIP, beberapa saat kemudian Angga mengejapkan matanya menstabilkan cahaya.
Angga melihat sekelilingnya, dia melihat mami dan papinya yang sedang mengobrol. Lalu Angga berusaha bangun untuk bangun, tetapi karena kepalanya masih pusing akhirnya Angga terjatuh.
BRAKK
"Ya Allah Angga! Kenapa kamu bisa jatuh begini nak?" tanya Mami Aluna dengan nada sedih.
"Aku mau cari Lana Mi," lirih Angga sambil berusaha untuk berdiri.
"Kamu boleh mencari Lana Angga, tapi kamu harus memikirkan kesehatanmu juga! Kalau kamu begini sama terus, kamu sama saja memperkeruh masalah!" tegas Papi johan.
"Tapi aku gak butuh dibawa ke sini Pi! Aku tidak butuh semua ini, aku hanya butuh istri aku Lana!" Angga berusaha membuka impus yang ada di tangannya.
Irwan dan Sisil yang mendengar suara ribut dari dalam ruangan Angga langsung masuk kedalam. Mereka melihat Angga yang berusaha melepaskan impusnya, tetapi dihalangi oleh Mami Aluna.
Sisil yang memang sudah mulai kasihan plus kesal ke Angga langsung berucap,
"Angga! Kalau loe begini terus gue pastikan Lana tidak akan pernah kembali ke elo!" perkataan Sisil itu langsung menghentikan kegiatan Angga.
"Maksud anda apa?" tanya Angga yang menatap Sisil dengan tajam.
"Gue sudah tau dari dokter kalau elo itu sakit bukan karena gak makan saja, tapi juga karena elo meminum minuman keras! Minuman yang diharamkan di agama kita, dan elo tau gak kalau Lana itu agamanya kuat?! Gue heran, bisa-bisanya Allah mentakdirkan Lana menikah dengan Elo yang notabe adalah orang yang menganggap agama sendiri hanya sebagai status saja. Tapi gue bersyukur, Allah sudah memisahkan elo dan Lana karena memang kalian berdua mungkin tidak berjodoh," mendengar perkataan terakhir Sisil membuat Angga emosi.
"Maksud anda apa? Hah?! Saya dan Lana itu memang ditakdirkan untuk berjodoh!" Sisil tertawa sumbang mendengar tutur kata Angga.
"Memang berjodoh? Hahahh... Angga.... Angga... Elo tau gak ada yang mengatakan bahwa 'jodohmu adalah cerminan dirimu sendiri'? Dan gue mau tanya, apakah elo dan Lana itu mempunyai itu? Tidak! Elo adalah tipe orang yang egois, kejam, keras kepala dan yang lebih parahnya lagi tidak mengangap kalau Allah itu ada. Sedangkan Lana, dia mempunyai bertutur kata yang lembut, lebih mementingkan orang lain, baik hati dan taat dengan Allah. Dan saking baiknya Lana sampai-sampai tidak ada sedikitpun didalam hatinya bahwa dia membenci elo saat dia tau elo selingkuh dengan perempuan lain, dan yang lebih parahnya lagi dia masih saja bisa tersenyum." Sisil tidak kuat lagi melanjutkan perkataannya, air matanya membendung saat mengingat betapa baiknya sahabatnya itu. Irwan yang melihatnya itu langsung membawa Sisil ke dalam dekapannya.
Mami Aluna dan Papi Johan hanya bisa diam. Mereka tidak tau harus bicara apa, sebab semua yang dikatakan Sisil itu benar adanya. Sedangkan Angga hanya diam membisu, merenungkan apa yang Sisil katakan.
"Gue bicara seperti itu ke elo bukan karena gue peduli sama elo, tapi karena gue kasihan sama Lana.... Gue kasihan melihat sahabat gue yang kanapa harus mengalami semua hal ini? Dari penghianatan sampai dia harus kehilangan orang tuanya. Gue menjadi bertanya-tanya ke Allah, kenapa harus orang sebaik Lana yang harus mengalami semua ini? Tapi gue sadar, mungkin ini cara Allah supaya Lana bisa berpisah dari elo, dan mungkin itu juga sebagai teguran untuk elo untuk memperbaiki diri lebih baik lagi." Sisil memandang Irwan sebentar lalu melanjutkan perkataan lagi.
"Gue harap elo bisa berubah menjadi lebih baik lagi, karena itu semua adalah impian Lana supaya elo bisa dekat dengan Allah. Oke, cuma itu yang gue katakan ke elo, gue pamit undur diri dulu." Sisil dan Irwan keluar dari ruangan itu setelah pamit ke Mami Aluna dan Papi Johan.
Setelah mendengar perkataan Sisil itu, Angga berubah dan dia berusaha berubah diri menjadi lebih baik, supaya dia pantas mendampingi Lana saat mereka dipertemukan lagi nanti.
__ADS_1
FLASHBACK OFF