
"Mama.... "
Kinara mengangguk dan merentangkan kedua tanganya. "Kalian tidak mau memeluk mama?" Kinara berpura-pura memasang wajah cemberut.
"Tentu," jawab Taki dan Maki dengan mata berbinar. Kedua bocah itu menghambur ke pelukan mama sambung mereka, Kinara.
"Mama dan papa tidak jadi berangkat kerja?" tanya Taki sambil mendongak menatap wajah mama sambungnya.
"Tetap jadi, kami berdua tidak bisa membatalkan janji dengan rekan bisnis papa ini."
Mendengar jawaban Kinara kedua bocah kembar tersebut langsung merenggangkan pelukan mereka.
"Mama dan papa pergi saja. Tidak usah membujuk kami lagi, kami tidak akan mencegah kalian berdua untuk berangkat bekerja," ujar Taki. Dia melepaskan pelukanya dan membuang muka.
"Iya, Mama dan papa pergi saja nggak usah peduliin kami!" Maki ikut berbicara. Bocah itu pun ikut membuang muka.
Kinara membuang napasnya. "Kalian beneran ngijinin mama dan papa pergi kerja?" tanya Kinara.
"Iya. Lagian meski kami tahan pun Mama dan papa tetap akan pergi kerja kan karena Tuan Leonardo lebih penting dari kami," jawab Taki ketus. Dia benar-benar sebal karena merasa sudah tidak lagi menjadi prioritas bagi sang papa.
"Sana, Mama pergi saja nanti mama dimarahi papa karena membujuk kami." Kini giliran Maki yang berbicara.
"Yah... padahal mama balik lagi karena mau ngajak kalian ikut kami kerja. Dan rencananya setelah selesai rapat dengan Pak Leonardo kami akan mengajak kalian main ke taman hiburan. Tapi... karena kalian mau papa dan mama pergi kerja tanpa kalian ya sudahlah, mama berangkat sekarang," cicit Kinara. Dia bangun dari posisinya. Dan mulai melangkah untuk keluar dari kamar.
__ADS_1
Taki dan Maki masih diam untuk mencerna perkataan mama sambungnya barusan. Mengajak pergi? Taman hiburan?
Taki dan Maki langsung bangun dan mengejar Kinara.
"Mama, aku mau ikut!"
"Iya, Ma. Aku juga mau ikut," tutur Maki.
"Tapi, ada syaratnya," tambah Kinara.
"Apa syaratnya?" tanya Taki dan Maki antusias. Apa pun itu mereka akan mengiyakan asal hari ini bisa menghabiskan waktu bersama papa dan mama baru mereka.
"Nanti kalian nggak boleh bikin ulah saat Mama dan papa sedang rapat. Janji!" Kinara mengacungkan jari kelingkingnya.
"Janji," jawab Taki dan Maki sambil mengaitkan jari kelingki mereka.
"Apa itu?' tanya Taki dan Maki bersamaan. Kinara tidak menjawab, dia hanya tersenyum misterius. Dan apa pun itu asal bisa ikut pergi dengan kedua orang tuanya Taki dan Maki tidak keberatan.
"Kalau begitu let's go!" ajak Kinara.
Taki dan Maki meraih tangan kanan dan kiri Kinara. Ketiganya bergandengan tangan keluar dari kamar.
"Lho... Nyonya, Den Taki dan Den Maki mau diajak kemana?" tanya Mirna saat berpapasan dengan mereka di tangga.
__ADS_1
"Mereka akan ikut aku dan Mas Tama kerja, Mbak," jawab Kinara sambil mengulas senyum manisnya.
"Kalau begitu saya siap-siap sebentar ya Nyonya."
"Mbak Mirna!" panggil Kinara.
Mirna langsung menoleh karena merasa dipanggil.
"Hari ini, Mbak Mirna boleh cuti. Aku yang akan jaga mereka, ujar Kinara.
"Tapi... Nyonya, setidaknya kalau saya ikut saya bisa.... "
"Taki dan Maki sudah berjanji akan menjadi anak penurut hari ini, jadi Mbak Mirna nggak usah khawatir. Lagian rapat dengan Tuan Leonardo tidak akan memakan banyak waktu. Jadi, aku tidak perlu meninggalkan mereka lama," potong Kinara.
Mirna terpaksa menurut. Wanita itu menunjukan wajah masamnya dan langsung pergi dari hadapan Kinara tanpa berpamitan.
"Haish... kenapa dia? Aneh!" Kinara kadang bingung dengan sikap yang diperlihatkan Mirna kepadanya.
"Ayo, Ma. Kita berangkat! Jangan sampai papa berubah pikiran dan melarang kita ikut!" Maki segera mengajak mamanya untuk kembali melanjutkan tujuan awal mereka.
"Ohya, Ma. Apa yang membuat Papa tiba-tiba berubah pikiran dan mau mengajak kami?" Taki tampak penasaran. Tidak biasanya sang papa tiba-tiba berubah pikiran.
"Hm... aku juga penasaran," Maki ikut menimpali.
__ADS_1
"Rahasia," jawab Kinara. Dia ikut bahagia melihat kedua sambungnya sudah kembali ceria.
"Meskipun kalian hanya anak sambungku, aku berjanji akan berusaha membuat kalian selalu bahagia." Kinara berbicara dalam hati.