
Susanto sudah berdiri di depan rumah Tama. Dia tidak diizinkan masuk kedalam rumah karena itu interuksi langsung dari sang pemilik rumah yang tidak ingin keluarganya diganggu dengan ulah suami-istri yang tidak tahu diri itu. Beberapa kali Susanto menjelaskan bahwa dia ingin bertemu dengan suami dari keponakannya itu karena ada sesuatu yang harus is sampaikan.
"Ayolah, Pak. Buka pintunya! Aku capek larena sudah berdiri di sini hampir satu jam," ujar Susanto memelas.
"Maaf, Pak. Tuan Tama dan Nyonya belum pulang. Jadi, kami tidak berani mempersilakan Anda masuk," jawab salah seorang security yang kebetulan berjaga di
pos keamanan.
"Haish. Tama benar-benar ya," Susanto mendesis kesal.
"Kalau Anda keberatan, Anda bjsa pergi dari sini. Besok Anda bisa datang lagi ke si.... "
"Iya ya ya, aku tunggu di sini," potong Susanto. Dia benar-benar geram karena Tama dan Kinara sudah menyuruh orang-orang itu untuk menghalau kedatangannya.
Akhirnya setelah lebih dari satu jam menunggu, orang yang dinanti muncul juga. Susanto senang melihatnya. Bayang-bayang akan mendapatkan banyak uang dari suami keponakannya itu sudah menari-nari di kepala. Susanto bahkan sudah merencanakan banyak hal dengan uang itu.
"Aku yakin Reni akan mendukung saat uang itu sudah ada di tangan. Dia hanya sok baik saja tadi," gumam Susanto.
Seorang security langsung menghampiri Tama saat pria itu keluar dari dalam mobil. Entah apa yang dikatakan oleh si security karena setelahnya Tama menatap Susanto yang berdiri tepat di depan pintu pagar. Kinara dan kedua putra kembar mereka ikut turun dari dalam mobil.
"Ngapain sih Om Susanto datang lagi?" keluh Kinara. Rasanya dia masih sangat lelah jika harus bertemu dengan suami dari tantenya itu.
"Kamu dan anak-anak masuk saja. Biar aku yang menemui dia!" seru Tama.
Kinara mengangguk, dia bersama Taki dan Maki melenggang masuk ke dalam rumah. Setelah memastikan istri dan kedua anaknya masuk ke dalam rumah. Tama pun langsung menghampiri Susanto.
"Ada apa lagi kamu datang ke sini?" tanya Tama yang tidak mau berlama-lama dengan manusia tidak tahu diri itu.
"Kamu tidak mempersilakan Ommu ini masuk?" tanya Susanto dengan kepercayaan diri yang tinggi.
"Sayangnya pintu rumahku tertutup untuk manusia sepertimu," jawab Tama.
Susanto justru tertawa mendengar jawaban dari Tama. "Yakin kamu nggak mau mempersilakan aku masuk?" tanya Susanto memastikan.
"Sudah kubilang, rumahku tidak bisa menerima manusia tidak tahu diri sepertimu! Jadi, silakan pergi dari sini!" seru Tama.
"Pak. Kalau dia datang lagi ke sini, langsung usir saja! Jangan biarkan dia menungguku di depan pintu pagar seperti itu!" Tama kembali memberi perintah kepada Security yang berjaga.
"Baik, Tuan. Kami mengerti," jawab Si Security. Dia segera lari le arah pintu pagar dan berniat mengusir Susanto.
"Hei, Tama! Kamu benar-benar tidak sopan ya! Aku kesini mau membicarakan sesuatu denganmu," teriak Susanto.
__ADS_1
Tama masih mengabaikan.
"Maaf, Pak. Silakan pergi!" usir Si Security. Dia berusaha mendorong tubuh Susanto agar menjauh dari pintu pagar yang terbuat dari besi itu.
"Lepaskan aku! Jangan dorong-dorong!" Sentak Susanto kepada Security tersebut.
"Maaf, Pak. Tapi, Pak Tama menyuruh kami mengusirmu, dia bahkan melarang kami membiarkanmu berdiri di sini," ujar Si Security sambil berusaha mendorong Susanto untuk menjauh dari sana.
"Hei, Tama. Aku punya sesuatu yang mungkin bisa mengurangi rasa bersalah istrimu itu!" Perkataan Susanto kali ini sukses membuat Tama menghentikan langkahnya. Dia berbalik dan menatap Susanto.
Susanto menunjukan sebuah buku pada Tama. "Buku ini adalah jadwal perjalanan kedua orang tua Nara," ujar Susanto.
"Pak lepaskan dia!" suruh Tama kepada security rumahnya itu. Dia kemudian berjalan menghampiri Susanto dan hendak meraih buku tersebut dari tangan pria itu. Namun, Susanto lebih dulu menjauhkannya.
"Ada uang ada barang," tutur Susanto.
Tama menghela napasnya. "Sebutkan berapa yang kamu mau!" suruh Tama. Dia tidak keberatan mengeluarkan uang berapa pun asal bisa membantu istrinya sembuh dari rasa traumanya.
Susanto menunjukkan kelima jarinya.
"50 juta?" tanya Tama.
Susanto menggeleng. "500 juta. Harga ini termasuk murah karena aku yakin setelah melihat agenda ini, rasa bersalah yang menjerat hati Nara akan sedikit berkurang atau bahkan berkurang," jawab Susanto.
Susanto mengacungkan jari telunjukanya dan menggerakkan ke kiri dan ke kanan. "Aku mau uang cash," jawabnya dengan menaik turunkan alis.
"Aku tidak menyimpan uang cash sebanyak itu."
"Kalau begitu buku ini akan aku pegang dulu," balas Susanto.
"Kita ke bank sekarang!" ajak Tama. Susanto tentu senang mendengarnya.
"Pak, tolong bawa mobilku ke sini!" suruh Tama kepada sopir yang biasa mengantar jemput Taki dan Maki ke sekolah.
"Baik, Tuan." Si Sopir kemudian membawa mobil yang baru terparkir di car port itu ke hadapan Tama.
"Mau saya sopiri atau.... "
"Aku akan bawa sendiri," potong Tama. "Jika Nara menanyakan keberadaanku bilang saja kalau aku harus ke perusahaan sebentar." pesannya.
Tama tahu, Kinara tidak akan suka jika ia memberikan uang lagi kepada om dan tantenya apa pun alasannya. Jadi, dia memilih untuk merahasiakan hal ini kepada istri cantiknya itu.
__ADS_1
"Baik, Tuan," jawab Sang Supir sambil memberikan kunci mobil di tangannya kepada Tama.
"Masuklah! Kita ke bank sekarang. Aku nggak banyak waktu!" suruh Tama. Bukan Susanto namanya kalau dia tidak bisa memancing emosi Tama. Om dari Kinara itu malah berdiri di tempat dan berpura-pura tidak mendengar.
"Aku malas membuka pintu. Kaki pegal karena dari tadi berdiri di sini," ujar Susanto.
Sopir Tama itu berinisiatif membukakan pintu untuk Susanto. Tapi, pria itu malah menolak.
"Aku ingin keponakanku yang membukakan pintu untukku," jawab Susanto dengan senyum mengejek.
Tama menggenggam erat kunci mobil di tangannya. Kalau saja bukan demi Kinara, dia tidak akan membiarkan orang seperti Susanto menginjak harga dirinya. Dengan terpaksa, Tama membukakan pintu mobil untuk pria yang tidak punya hati itu.
Susanto tersenyum puas. Dirinya begitu bangga karena berhasil membuat putra sulung Rangga Wijaya itu menuruti perintahnya.
Tama kemudian masuk ke dalam mobil dan duduk di belakang kursi kemudi. Ia mulai menyalakan mesin mobil tersebut.
"Tunggu!" seru Susanto. "Nyalakan ac-nya. Gerah!"
Tama menghela napas kesal. Dia mencengkeram kuat setir mobil saat Susanto mengangkat kakinya ke atas sandaran kursi yang diduduki oleh Tama.
"Begini pasti pegalku cepat hilang," ujar Susanto penuh percaya diri. "Buruan jalan! Jangan sampai banknya tutup!"
Tama pun mulai memacu kuda besi itu menuju ke bank terdekat. Dia juga tidak ingin berlama-lama dengan manusia seperti Susanto. Manusia yang tidak hanya tidak memiliki hati nurani, tetapi juga tidak memiliki urat malu. Tama tidak habis pikir, bisa-bisanya seorang om tega memanfaatkan keponakannya untuk mendapatkan uang.
Mobil itu pun berhenti tepat di depan halaman parkir sebuah bank swasta. Tama turun terlebih dulu, kemudian dia membukakan pintu untuk Susanto. Keduanya berjalan masuk ke dalam bank. Tama berbincang sebentar dengan petugas teller. Mengisi formulir yang diberikan petugas tersebut. Setelah beberapa saat menunggu, akhirnya teller itu memberikan lima amplop coklat kepada Tama yang masing-masing amplopnya berisi seratus juta.
"Berikan buku itu sekarang!" seru Tama.
"Uangnya dulu," balas Susanto.
Tanpa banyak bicara lagi, Tama memberikan kelima amlop coklat tersebut kepada Susanto. "Sekarang serahkan buku itu!"
Susanto memberikan buku di tangannya kepada Tama. "Terima kasih buat uangnya," ucap Susanto sebelum akhirnya pergi dari sana.
Tama membuka buku itu. Buku itu berisi jadwal perjalanan kedua orang tua Kinara selama enam bulan. Tama berharap buku itu bisa sedikit mengurangi perasaan bersalah yang isttinya itu rasakan.
Tama tidak sabar ingin menunjukan buku tersebut kepada Kinara. Dia pun kembali masuk ke dalam mobil dan melajukannya kembali ke rumah.
"Pak, tolong bawa mobil ini ke car port!" suruh Tama kepada sopirnya begitu ia tiba di halaman rumahnya.
"Baik, Pak Tama."
__ADS_1
Tama kemudian melangkah masuk ke kediamannya. Langkahnya terhenti saat melibat sorot horor Kinara.