
Sudah setengah jam Mirna berdiri di sebuah halte. Dia bingung harus pergi kemana saat ini. Kalau pulang kampung sekarang anggota keluarga pasti riweh. Apalagi jika mereka tahu dia pulang karena dipecat oleh majikan yang baik.
Selama ini Tama selalu baik kepada para pekerja yang bekerja di rumahnya. Entah itu asisten rumah tangga, tukang kebun, petugas keamanan, dan termasuk kepada Mirna. Tama selalu memberikan hak-hak mereka tepat waktu bahkan ia juga sering memberikan bonus tiap bulannya kepada semua para pekerja itu. Mengingat semua hal itu membuat hati Mirna nelangsa karena belum tentu dia akan mendapatkan majikan yang baik seperti Tama.
"Ini semua salah Kinara, coba saja dia nggak nikah sama Pak Tama, setidaknya sampai sekarang aku pasti masih bekerja. Dan bisa menatap wajah tampan Pak Tama setiap hari." Seperti biasa, Mirna bukanya menyadari kesalahan malah menyalahkan orang lain.
"Uang pesangon dan gaji dari Pak Tama lumayan banyak sih, bisa aku gunain buat ngontrak, setidaknya sampai hpku jadi. Kalau hpku sudah jadi, akan aku kirimkan video itu sama Pak Rangga dan Nyonya Bintang. Aku yakin mereka tidak akan membiarkan wanita yang menikah dengan Pak Tama cuma demi uang untuk tetap tinggal di rumah itu. Apalagi kalau Nyonya Dewi tahu bahwa perempuan bernama itu tidak menyayangi kedua cucunya dengan tulus, dia pasti akan sangat meradang," gumam Mirna. Mirna tersenyum saat menghayalkan Kinara sedang diusir oleh Dewi. Lamunan buyar seketika ketika ia mendengar suara klakson bus.
"Ngapain sih bunyiin klakson? Ngerusak kesenangan saja," omel Mirna pada si supir bus.
"Bu, dari tadi udah kita tanyain mau naik nggak? Eh, si ibu nggak jawab malah diem sambil senyum-senyum sendiri. Persis orang gila, karena takut si ibunya kesambet, ya saya suruh supir bunyiin klakson biar ibunya bangun," jawab si kernet tanpa rasa bersalah.
"Eh, eh, eh, siapa yang gila?" tanya Mirna marah. "Enak saja bilang saya gila! Kamu juga barusan kenapa panggil saya dengan sebutan Bu, saya ini masih muda, masih, cantik, nggak pantes dipanggil Bu. Mata kamu sudah rabun ya?" Mirna terus mengoceh.
"Terus harus manggil apa? Dek?" tanya si kernet. "Muka udah tua gitu masih gak sadar diri," gumamnya lirih, namun masih tertangkap oleh indera pendengaran Mirna.
"Eh, malah ngejek lagi."
"Ya udah, ya udah. Dek mau naik nggak?" tanya si kernet yang akhirnya memilih mengalah.
"Nggak. Nggak level ya naik bus. Aku mau naik taksi saja," jawab Mirna dengan gaya pongahnya.
"Heish. Dasar emak-emak gendeng!" omel Si kernet. "Jalan, Pir!"
Akhirnya bus itu pun berlalu dari Mirna.
"Daripada aku buang-buang duit dengan nyewa kos, mending aku ke rumah kontrakanya Reni dan Susanto sekalian mau nanyain apa mereka sudah mulai bertindak. Lagian kan aku yang udah bayarin uang kontrakan mereka bulan ini." Mirna bermonolog. Akhirnya diputuskan bahwa dia akan menginap di rumah Reni, setidaknya sampai hpnya selesai diperbaiki. Mirna yakin, setelah dia mengirim video itu ke Rangga atau pun Dewi, dia pasti akan dipersilakan untuk kembali bekerja di rumah Tama.
***
Usai sarapan Kinara dan Tama mengantar kedua anak kembar mereka ke sekolah. Kinara dan Tama bahkan sengaja turun dari mobil dan mengantar keduanya sampai di depan kelas. Keduanya ingin menitipkan putra mereka secara langsung kepada wali kelas.
"Taki dan Maki, tidak bersama pengasuhnya ya, Pak, Bu?" tanya Miss Mira, wali kelas Taki dan Maki.
"Iya, Miss. Makanya kami sengaja turun menemui Miss untuk meminta Miss menjaga anak-anak kami. Maksud saya, sebelum saya atau sopir suruhan suami saya datang menjemput tolong jangan biarkan mereka pulang dulu," jawab Kinara.
__ADS_1
"Kalau itu pasti, Bu. Kami tidak pernah melepaskan murid-murid kami, kecuali memang sudah bersama pengasuhnya," jawab Mira.
"Kalau begitu, terima kasih ya, Miss. Kami permisi karena masih ada urusan lain!" pamit Kinara.
Kinara berjongkok di depan Taki dan Maki. "Sayang, mama-papa berangkat kerja dulu ya. Belajar yang baik selama di sekolah. Ingat nggak boleh bandel!" ucap Kinara. Tak lupa ia mengecup kening kedua putra kembarnya bergantian.
"Iya, Ma," jawab Taki dan Maki bersamaan.
Taki dan Maki bergiliran mencium punggung tangan kedua orang tuanya. Setelah itu keduanya kembali berpamitan untuk masuk ke dalam kelas.
*
"Kita jadi ke yayasan sekarang, Mas?" tanya Kinara begitu mereka berada di dalam mobil.
"Iya. Kalau bisa hari ini juga kita harus mendapatkan pengasuh untuk menggantikan Mirna," jawab Tama.
"Mendapatkan pengasuh?" Dahi Kinara berkerut sambil menatap Tama.
Tama mengangguk.
Tuk!
Tama memukul kening Kinara dengan jari telunjuk.
"Iya, tapi yayasan penyalur babysitter. Bukan yayasan yatim piatu atau yang lainya," jawab Tama.
"Ku kira kita mau ke yayasan buat nyumbang. Tapi... kamu yakin mau cari pengganti Mirna sekarang dan harus mendapatkanya hari ini juga?"
"Iya. Kita kan nggak mungkin nyuruh Bik Sumi kerja dobel," jawab Tama. "Kenapa? Kok muka kamu kayak sedih gitu?" tanya Tama ketika melihat ekspresi wajah Kinara yang tiba-tiba berubah sedih.
"Cari pengasuh buat anak itu nggak bisa buru-buru, Mas. Kita harus selidiki latar belakang mereka. Apa dia beneran baik? Apa dia bisa menyayangi anak-anak dengan tulus? Apa dia bisa dipercaya? Pokoknya banyak hal yang harus diperhatikan," ujar Kinara.
"Aku rasa yayasan sudah melakukan hal itu dari awal."
"Bukan begitu. Kan ada tuh di YT Monic siapa itu, dia udah ambil pengasuh dari yayasan, tapi anak-anaknya malah ada yang dipukuli sama pengasuhnya sendiri. Padahal pengasuhnya nggak cuma satu karena anaknya ada dua belas kalau nggak salah. Nah, aku takut Taki dan Maki juga akan mengalami hal seperti itu."
__ADS_1
"Terus kamu maunya bagaimana? Nggak mungkin kan, kita biarkan Taki dan Maki tanpa pengasuh?"
"Iya, sih. Tapi.... "
"Sudah, jangan terlalu dipikirin. Kita akan seleksi mereka secara pribadi. In Syaa Allah kita pasti bisa nemuin pengasuh yang baik dan tulus menyayangi anak-anak. Gimana? Setuju?"
Kinara tidak menjawab. Dia hanya menghela napas panjangnya. Bayangan berita tentang anak yang disiksa oleh pengasuhnya berputar di kepala. Dan itu membuatnya merasa tidak tenang.
Mobil yang Tama kendarai akhirnya tiba di depan sebuah yayasan penyalur babysitter. Keduanya kemudian turun dari dalam mobil. Ada seseorang yang menyambut kedatangan mereka. Mungkin dia adalah salah satu pekerja di yayasan tersebut.
"Ada yang bisa saya bantu?" tanya orang itu. Dia adalah perempuan berhijab, berkulit sawo matang dengan tinggi badan sekitar 155 cm dan kira-kira berumur sekitar 25 tahunan.
"Kami ingin bertemu dengan pemilik.... "
"Maaf, Mbak. Tidak jadi. Kami permisi," potong Kinara. Dia menarik tangan Tama dan membawanya pergi dari sana. Kinara kemudian menyuruh Tama untuk melajukan mobilnya.
"Ada apa? Kenapa tiba-tiba kamu ngajak aku pergi dari sana? Ada yang aneh dengan yayasan itu?" Tama memberondong Kinara dengan berbagai pertanyaan.
Kinara menggeleng.
"Terus?"
"Daripada aku harus menitipkan anak-anak ke pengasuh, lebih baik aku yang akan menjaga mereka untuk sementara," jawab Kinara.
Citttt!
Tama menginjak rem mobilnya secara tiba-tiba. Hampir saja kepala Kinara terbentur dasboard kalau saja Tama tidak melindungi tubuh Kinara dengan satu tanganya.
"Kamu tidak apa-apa?" tanya Tama dengan wajah cemas.
"Tidak apa-apa. Aku hanya sedikit terkejut tadi. Tapi kenapa kamu nginjek rem tiba-tiba sih Mas?" protes Kinara.
"Aku juga terkejut mendengar jawabanmu. Kamu bilang kamu yang akan mengasuh anak-anak. Artinya kamu akan berhenti bekerja dari perusahaan kan? Padahal waktu itu kamu memintaku untuk membiarkanmu tetap bekerja meski kita telah menikah. Apa kamu berubah pikiran?"
Kinara menggeleng. Kini giliran Tama yang bingung. "Terus?"
__ADS_1
"Jadi.... "