Sebatas Ibu Sambung

Sebatas Ibu Sambung
Bab 29


__ADS_3

Kinara hanya melongok si kembar sampai di depan pintu setelah itu ia pergi tanpa diketahui oleh Tama. Jawaban Tama beberapa saat yang lalu masih membuat hatinya terasa sakit. Meskipun pernikahan mereka memang hanya berdasarkan sebuah kesepakatan, tapi sungguh Kinara sangat menyangi kedua putra sambungnya tersebut dan tak pernah terbesit sedikit pun untuk melukai mereka apalagi membuat mereka sampai masuk rumah sakit. Dia harus membuktikan bahwa dia tidak seperti yang dituduhkan oleh Mirna. Jika memang si kembar diare karena obat pencuci perut, maka ia harus membuktikan bahwa ia bukan pelakunya. Kinara meninggalkan rumah sakit setelah melihat kedua putra sambungnya baik-baik saja. Sebelum mencari tahu siapa pelakunya dia ingin menenangkan diri, mengobati rasa sakit karena tidak dipercaya.


"Sayang, bagaimana keadaan kalian? Apa yang kalian rasakan?" tanya Tama ketika berada di ruang rawat kedua putranya.


Melihat kedua putranya yang biasanya petakilan dan ceria kini terkulai lemah membuatnya ikut merasakan sakit. Taki dan Maki adalah harta yang paling berharga buat Tama. Dia bisa melakukan apa pun demi kedua putra tercintanya tersebut.


"Kami baik-baik saja kok, Pa. Hanya saja kami seperti tidak bertenaga," jawab Taki.


"Itu karena seluruh isi perut kalian keluar semua. Nanti setelah makan banyak kalian akan kembali bertenaga."


Taki dan Maki mengangguk sambil tersenyum.


"Pa, Mama mana? Apa dia tidak ikut?" tanya Maki ketika tidak melihat keberadaan ibu sambung mereka.


"Ikut kok dia.... " Tama tidak melanjutkan perkataanya ketika tidak melihat keberadaan Kinara di sana.


"Eh, Kemana Kinara pergi? Bukankah tadi wanita itu ikut bersamaku ke ruangan ini?" Tama membatin, ia celingukan mencari keberadaan Kinara.


"Mirna kemana Nyonya?" tanya Tama kepada pengasuh anaknya.


"Tadi perasaan dia mengikuti kita kok, Pak. Kenapa Nyonya tiba-tiba ngilang? Apa dia merasa bersalah karena sudah membuat Den Taki dan Den Maki seperti ini?" jawab Mirna. Dia kembali memprovokasi majikanya agar membenci Kinara.

__ADS_1


Tama memilih tidak menanggapi. "Taki, Maki, sekarang kalian istirahatlah. Papa janji saat kalian bangun tidur nanti, mama sudah udah di sini nemenin kalian."


"Papa tidak bohong kan?" tanya Taki.


"Tidak sayang, papa janji. Sekarang kalian bobo ya." Tama mengusap rambut kedua putranya bergantian.


Taki dan Maki pun mulai memejamkan mata mereka.


"Mirna, jaga anak-anak sebentar. Aku mau nyari Nara!" titah Tama begitu Taki dan Maki sudah tidur.


"Tapi, Pak, kenapa harus dicari sih kan Nyonya yang udah bikin Den Taki dan Den Maki terbaring disini," protes Mirna sambil mengikuti langkah Tama.


Tama berbalik. "Itu bukan urusanmu! Tugasmu hanya menjaga kedua anakku, bukan ikut campur dengan sesuatu yang bukan menjadi urusanmu!"


"Kembali ke kamar anakku, jika terjadi sesuatu dengan mereka kali ini, aku tidak akan mengampunimu!"


"Baik, Pak," jawab Mirna.


Setelah mengatakan hal itu Tama pergi meninggalkan rumah sakit untuk mencari keberadaan Kinara.


"Kenapa sih Pak Tama masih mencari wanita itu," gerutu Mirna. Wanita itu mengepalkan dengan kuat.

__ADS_1


*


Berkali-kali Tama mencoba menghubungi nomor ponsel Kinara. Namun nomor wanita yang sudah menjadi istrinya itu masih tidak dapat dihubungi.


"Kemana sih dia? Ngapain juga pakai kabur-kaburan segala." Tama terus menggerutu.


Tama menghubungi nomor rumah untuk bertanya kepada Bik Sumi.


"Hallo, Bik Sumi. Nyonya ada di rumah nggak?" tanya Tama melalui sambungan telepon tanpa basa-basi.


"Tidak, Tuan. Memangnya ada apa dengan Nyonya, Tuan?"


"Tidak ada apa-apa, tapi kalau dia pulang ke rumah suruh telepon balik ke nomorku."


"Baik, Tuan."


"Ya sudah, aku tutup ya, Bik. Assalammualaikum."


"Waalaikumsalam warahmatullahi wa barakatuh."


Setelah mendapat balasan salam dari Bik Sumi, Tama langsung mengakhiri panggilan.

__ADS_1


"Kemana dia? Apa mungkin ke rumah om dan tantenya? Tapi, sepertinya nggak mungkin," gumam Tama. Sambil menyetir Tam mencoba memikirkan tempat yang mungkin dikunjungi oleh istrinya itu.


"Apa mungkin dia ke sana ya?" pikir Tama, dia segera berbalik arah karena tempat yang menjadi prakiraanya berada di arah sebaliknya.


__ADS_2