Sebatas Ibu Sambung

Sebatas Ibu Sambung
Bab 52


__ADS_3

"Aku... aku memikirkanmu setiap.... " Tama menjeda kalimatnya sebentar.


Senyum Kinara semakin melebar, dia berharap jawaban Tama sama seperti yang ada di dalam kepalanya saat ini, yaitu setiap saat. Namun, kenyataan kembali menamparnya dan membuat senyum itu musnah seketika ketika jawaban ternyata berbeda.


"Setiap akan meeting karena takut kamu membuat kesalahan," jawab Tama.


"Haish, ku kira karena hal lain. Dasar!" Kinara cemberut.


"Sudah, sana mandi! Hari ini kita yang akan msngantar anak-anak ke sekolah. Setelah itu kita pergi ke yayasan!" suruh Tama.


"Tapi, bukanya hari ini ada rapat pagi ya? Terus kenapa pergi ke yayasan? Mau nyumbang? Biasanya juga kalau nyumbang ke sebuah yayasan kamu cuma transfer doang karena tidak mau diekspose?"


"Pertanyaanmu terlalu banyak dan aku malas menjawabnya," jawab Tama. "Sudah sana buruan mandi!"


Timbul ide jahil saat Tama terus mendesaknya untuk terus mandi.


"Mau bantuin aku mandi, nggak?" tanya Kinara dengan senyum menggoda.


"Gak," jawab Tama. Seperti biasa wajah pria itu akan tegang saat Kinara menggodanya. Sebelum Kinara melakukan hal lain yang membuat bagian bawahnya bereaksi, buru-buru Tama keluar dari kamar tersebut.


"Kamu terlihat menggemaskan saat gugup, Mas," ucap Kinara. Dia kemudian masuk ke dalam kamar mandi.


***


"Ini pesangon dan gaji kamu bulan ini." Tama meletakan amplop coklat di atas meja tepat di depan Mirna.


"Bapak memecat saya?" tanya Mirna. Dia tak percaya kalau hari ini sang majikan benar-benar akan memecatnya.


"Tapi, salah saya apa, Pak? Bukankah waktu itu kita sudah sepakat ya kalau saya masih bisa bekerja disini sampai ada pengganti saya. Tapi, kenapa Bapak pecat saya sekarang kan belum ada pengganti saya?" tanya Mirna.


"Yang ingin kamu pergi setelah ada penggantimu adalah Kinara, bukan aku. Tapi, melihatmu tidak menghargai dia, rasanya tidak pantas kalau aku terus mempertahankanmu lebih lama lagi," jawab Tama dengan wajah datar tanpa ekspresi.


"Pak, saya.... "

__ADS_1


"Satu lagi, aku paling tidak suka ada orang yang mengusik urusan pribadiku, apalagi ikut campur soal pernikahanku dengan Nara!" tambah Tama dengan tatapan dingin. "Kemasi barangmu dan cepat pergi dari sini!"


Mirna langsung bersimpuh di kaki Tama. "Pak, tolong jangan pecat saya sekarang! Saya belum menemukan tempat kerja baru, jika Bapak memecat saya sekarang bagaimana nasib anak dan orang tua di kampung. Saya mohon, Pak. Setidaknya izinkan saya bekerja disini sampai ada yang menggantikan saya. Saya mohon, Pak Tama, saya mohon!" Mirna terus memohon sambil berlutut.


*


Tiga puluh menit kemudian Kinara sudah keluar dari kamar dengan baju kantornya. Kali ini dia memakai atasan dan celana panjang berwarna krem. Tak lupa rambut panjangnya ia ikat semua ke belakang agar tidak mengganggu aktivitasnya saat bekerja.


Namun, langkah Kinara terhenti saat melihat Mirna sedang berlutut di hadapan suaminya. Buru-buru Kinara menghampiri mereka.


"Mas, ada apa? Kenapa Mbak Mirna berlutut begini?" tanya Kinara. Dia ingin tahu hal apa yang terjadi saat dirinya sedang mandi.


"Hari ini aku memecatnya," jawab Tama singkat.


"Tapi, kenapa? Apa ini karena masalah tadi? Kalau iya, biar aku yang akan menyelesaikanya."


"Aku sudah menyelesaikannya, jadi kamu tidak perlu melakukan apa-apa lagi!" ujar Tama dengan tegas.


"Aku benci dengan orang yang tidak bisa menghormatimu," potong Tama.


Kinara terdiam. Hatinya berbunga karena alasan Tama memecat pengasuh Taki dan Maki itu karena pria itu tidak suka ada orang yang tidak menghormati dirinya.


"Cepat, kemasi barangmu lalu pergi dari sini!" seru Tama. "Bik Sumi, bantu Mirna mengemasi barangnya!"


"Baik, Tuan," jawab Bik Sumi. Wanita paruh baya itu segera berdiri di samping Mirna. "Ayo, Mir!"


Tama pergi meninggalkan Mirna begitu saja. Tak peduli dengan wanita itu yang terus berlutut sambil menangis memohon belas kasih.


Kinara menatap Mirna. Ada rasa kasihan saat melihat perempuan yang tidak mau menganggapnya nyonya tersebut memelas seperti itu.


"Mbak Mirna, berdirilah! Kemasi barangmu! Percuma kamu berlutut seperti ini, Mas Tama tidak akan merubah keputusanya!" tutur Kinara.


Mirna kemudian bangun dari posisinya. "Kamu kan yang meminta Pak Tama memecat saya? Pasti tadi kamu ngadu macam-macam sama Pak Tama, makanya Pak Tama marah dan langsung memecat saya. Ini semua salah kamu, salah kamu!" ucap Mirna sambil menunjuk-nunjuk wajah Kinara.

__ADS_1


Kinara menggeleng. Dia tidak habis pikir dengan kelakuan pengasuh itu, sudah jelas salah, masih saja menyalahkan orang lain.


"Terserah kamu deh. Tadinya aku mau membantumu membujuk Mas Tama lagi untuk menangguhkan pemecatanmu. Tapi sepertinya kamu memang tidak membutuhkan bantuanku. Jadi, pergilah!" Setelah mengatakan itu, Kinara pun beranjak dari sana.


"Ayo, Mir! Bibik bantu beresin barang bawaan kamu!" ajak Bik Sumi.


"Bik Sumi setuju saya dipecat?" tanya Mirna sambil menatap wajah rekan sejawatnya tersebut.


"Ya... mau gimana lagi, itu kan memang salah kamu. Kemarin kan sudah dikasih kesempatan, eh, malah ngelunjak dan menghina istri majikan. Apapun hubungan mereka, bagaimana pun hubungan mereka, itu bukan urusan kita. Urusan kita ya cuma berusaha bekerja dengan baik. Makanya jadi orang itu tahu diri sedikit, jangan ikut campur urusan majikan. Dan satu lagi harus menghargai majikan!" jawab Bik Sumi.


"Tapi kan yang aku katakan ke Kinara tadi semuanya benar."


"Mau benar atau pun tidak, itu bukan urusan kita, bukan urusan kamu! Sadar, Mirna!" Bik Sumi gemas melihat cara berpikir Mirna yang masih tidak tahu diri. Padahal sudah dipecat.


"Mau aku bantuin beresin baju-baju kamu nggak? Kalau enggak, aku mau melanjutkan pekerjaanku?" tanya Bik Sumi yang kesabaranya mulai habis oleh perilaku Mirna.


"Nggak, perlu. Aku bisa sendiri," jawab Mirna ketus. Tak lupa dia segera menyambar amplop coklat yang sempat ia telantarkan di meja tadi.


Mirna pun masuk ke kamarnya yang berada tepat di sebelah dapur. Tidak lama kemudian dia keluar dengan membawa tas besar.


"Aku pamit ya, Bik Sum. Semoga secepatnya aku bisa dapet pekerjaan lagi," pamit Mirna pada orang yang sudah menjadi rekan kerjanya selama 3 tahun ini.


"Iya, aku doain."


"Bik, nanti kabari aku ya kalau Pak Tama cerai dari wanita itu!" pinta Mirna dengan berbisik.


"Gendeng kamu!" Bik Sumi memukul lengan Mirna. "Wes sana pergi. Sebelum halumu makin menjadi, semoga begitu keluar dari sini kamu bisa cepet sadar dan dapat hidayah!"


"Memangnya ini film azab yang ada di saluran tv ikan terbang?"


"Bodoh, ah. Mumet aku sama kamu! Udah dipecat saja masih gak sadar-sadar." Bik Sumu menggeleng.


Mirna mencebik kesal. Tanpa berpamitan lagi, dia pun pergi meninggalkan rumah yang selama tiga tahun ini menjadi tempat ia mengais rezeki.

__ADS_1


__ADS_2