
"Dari mana kamu, Wi?" tanya Nando yang memang sedari tadi menunggu istrinya pulang sambil membaca koran di teras rumah.
"Dari rumah Tama," jawab Dewi singkat.
Nando menghela napas panjang kemudian melipat koran di tanganya.
"Sampai kapan sih, Wi?" Dewi yang baru saja mendaratkan bokong di kursi yang ada di sebelah kanan suaminya itu pun menoleh.
"Apanya yang sampai kapan?" jawab Dewi dengan nada ketus karena dia sudah tahu arah pembicaraan sang suami.
"Wi, Tama sudah bukan lagi menantu kita karena Kiara sudah meninggal. Jangan kamu terus mencampuri urusan pribadinya!" tutur Nando memberikan nasehat.
"Aku hanya mempertahankan posisi Kiara. Lagian Kiara meninggal kan karena.... "
"Sudah takdir," potong Nando.
Dewi terdiam. Sejujurnya dia juga sudah paham dengan itu. Namun, ego di hati membuatnya sengaja menutup mata dan terus menyalahkan Tama atas kematian putri sulungnya tersebut.
"Wi, kamu tahu. Aku malu dengan Rangga karena sikap egoismu ini. Apa kamu tidak malu dengan sahabatmu Bintang? Kamu tidak malu terus menyalahkan anak dari sahabatmu atas kematian Kiara yang sudah jelas itu karena takdir?"
Dewi kembali terdiam. Sejak kematian Kiara, dia memang sengaja menjauhi Bintang karena tidak mau merasa tidak enak dengan ibu dari menantunya tersebut.
"Tapi... jika Kiara mau dikemo mungkin dia masih hidup sampai sekarang," lirih Dewi. Air mata kembali meluncur dari sudut matanya.
"Apa kamu yakin?"
Lagi. Dewi tidak menjawab.
__ADS_1
"Belum tentu juga kemo itu bisa menyelamatkan Kiara. Bukan hanya Tama yang menginginkan anak, tapi putri kita. Kiara sangat ingin menjadi seorang ibu dan itu berhasil ia wujudkan sebelum meninggal. Jadi, seharusnya kamu ikut berbahagia karena putri kita berhasil memperoleh keinginanya sebelum meninggal, bukan malah menyalahkan Tama. Ingat, Wi. Bukan hanya kita yang sedih dan terluka atas kepergian Kiara, Tama juga. Dan mungkin dia lebih hancur dari kita. Asal kamu tahu, dia bahkan sampai berkonsultasi dengan psikolog untuk bisa menjalani hidup normal seperti sekarang ini. Apa kamu tahu kalau Tama pernah mencoba mengakhiri hidupnya selang beberapa hari setelah Kiara meninggal?"
Dewi menatap Nando.
"Kamu tahu soal itu?" tanya Dewi.
Nando mengangguk. "Aku tahu semua hal yang terjadi pada Tama. Aku tahu bagaimana hancurnya dia saat putri kita meninggal. Dia berusaha bangkit demi bisa membesarkan Taki dan Maki hingga akhirnya dia bisa. Jadi, sekarang aku minta padamu biarkan Tama menjalani hidupnya tanpa bayang-bayang Kiara. Biarkan dia hidup bahagia dengan istri barunya. Biarkan dia merasakan cinta lagi, jangan kamu tahan dia dengan rasa bersalah. Aku mohon, Wi! Aku mohon!" Nando sampai habis kata-kata untuk memberikan pengertian kepada Dewi dan berharap istrinya itu mau mengerti.
Dewi tidak menjawab. Dia hanya menatap suaminya sebentar kemudian masuk ke dalam rumah.
"Kiara, maafkan ayah karena ayah belum bisa membuat bundamu sadar." Nando berbicara dalam hati.
Dewi masuk ke kamar Kiara dulu dan duduk di tepi ranjang tersebut. Semua barang-barang milik Kiara masih tertata rapi disana. Mulai dari boneka semasa dia kecil hingga foto saat usia kandungan Kiara baru 5 minggu.
Dewi mengambil foto itu dan menatapnya. Sebelum mengetahui bahwa kanker putrinya kambuh, Kiara datang ke rumah orang tuanya untuk memberitahu bahwa dirinya hamil. Saat itu Kiara terlihat sangat bahagia.
"Bunda, lihat akhirnya aku hamil. Dan dokter bilang anakku kembar. Lihatlah ini hasil USGnya. Dua titik kecil itu katanya embrio mereka." Dengan bahagianya Kiara menunjukan foto USG kepada Dewi.
"Iya, Bunda aku bahagia sekali. Akhirnya aku akan segera menjadi seorang ibu." Kiara bersandar pada bahu Dewi. Dia terus tersenyum sambil menatap foto USG di tangan.
"Bunda."
"Hm."
"Kalau suatu hari nanti Bunda disuruh nyelametin aku atau janin yang ada di kandunganku, aku harap Bunda akan memilih mereka, ya?"
"Kamu ini ngomong apaan sih, Kia? Bunda yakin kamu dan bayimu pasti akan selalu sehat. Bunda yakin itu." Dewi mengusap rambut panjang sang putri.
__ADS_1
"Aku tahu. Tapi... seandainya hal itu terjadi dan Bunda diharuskan memilih antara aku dan janinku, aku mohon Bunda harus memilih janinku ya? Dan saat mereka lahir nanti, Bunda juga harus ikut membahagiakan dia. Tapi, apa pun yang terjadi jangan jauhkan dia dari Mas Tama. Janji ya, Bunda!" Kiara mendongak menatap wajah Dewi.
"Bunda," rengek Kiara ketika Dewi tak kunjung memberikan jawaban.
"Iya-iya, Bunda janji," jawab Dewi kala itu.
"Dan satu lagi, jika suatu hari nanti Kia nggak bisa bahagiain Mas Tama lagi, berjanjilah kalau Bunda akan membuat Mas Tama bahagia. Karena saat Mas Tama bahagia, aku juga akan ikut bahagia. Dan sebaliknya, jika dia sedih, maka aku akan lebih sedih darinya. Jadi, Bunda harus janji ya apa pun yang terjadi Bunda akan memenuhi dua keinginanku itu! Ya?"
Dewi mengangguk. Meski ia merasa ucapan dan permintaan putrinya itu aneh, tapi Dewi tidak merasa curiga apa pun. Dia terus mengusap rambut putrinya berkali-kali. Kiara kemudian memeluk Dewi dengan erat.
Dewi tersentak dari lamunannya dan mengusap foto putrinya tersebut. Di foto itu terlihat sekali kalau Kiara sangat bahagia.
"Pasti saat itu kamu sudah merasa kalau hidupmu tidak akan lama lagi, makanya kamu memintaku untuk berjanji." Buliran bening jatuh dari sudut mata Dewi.
"Kiara. Bunda kangen sama kamu, Nak. Kenapa kamu harus pergi secepat itu. Kenapa?" Sambil menangis Dewi memeluk foto sulungnya tersebut.
Nando yang melihat dari luar hanya bisa menghela napas panjang. Dia tidak tega melihat Dewi terus menangis dan meratapi kepergian Kiara.
"Yah, sampai kapan Bunda akan seperti itu? Kasihan Kak Kia, kalau Bunda terus-terusan seperti itu." Arya, adik laki-laki Kiara berdiri di samping ayahnya.
"Doakan saja semoga bundamu bisa secepatnya mengikhlaskan kepergian Kiara."
Arya mengangguk. "Pasti, Yah. Arya pasti akan mendoakan Bunda," jawabnya.
"Arya kapan kamu akan menikah? Keenan saja sudah punya anak, kamu pacar aja belum punya."
"Aku belum memikirkan itu, Yah. Aku ingin fokus dengan karir dulu," jawab Arya sambil menunjukan cengiran kudanya.
__ADS_1
Nando hanya menggeleng mendengar jawaban dari putranya tersebut.
...BERSAMBUNG...