
Setelah lelah menangis, Kinara kembali tertidur. Tama membetulkan selimut yang menutupi tubuh istrinya itu. Ada perasaan sesak melihat wajah istrinya yang biasanya selalu ceria kini terlihat begitu menderita.
"Istirahatlah, Sayang. Aku yakin kamu bisa melewati ini. Sama seperti halnya kamu yang berusaha membantuku keluar dari rasa bersalah atas meninggalnya Kiara, aku juga akan selalu mendampingimu buat keluar dari perasaan itu karena memang kamu juga tidak salah." Tama mengecup kening istrinya dengan sayang.
Setelah itu dia keluar dari kamarnya untuk menghibur dua anaknya yang ketakutan karena teriakan histeris Kinara tadi. Tama tidak mau kedua anaknya takut atau membenci Kinara karena hal yang terjadi tadi.
"Bik Sumi, sekarang Bik Sumi bisa istirahat! Biar saya yang bicara sama anak-anak!" suruh Tama kepada wanita paruh baya yang sejak tadi menemani kedua putra kembarnya.
"Baik, Tuan," jawab Bik Sumi. Wanita yang sudah Tama anggap sebagai orang tua keduanya itu melangkah hendak keluar meninggalkan kamar si kembar. Namun, langkahnya berhenti saat tanganya memegang handle pintu. Wanita itu kembali memutar tubuhnya dan menghadap ke arah Tama.
"Ada apa, Bik? Sepertinya ada yang ingin Bik Sumi tanyakan?" tanya Tama.
"Tuan... apa Nyonya Kinara sudah baikan? Kalau boleh saya tahu kenapa tadi Nyonya Kinara seperti itu? Bukankah selama ini dia baik-baik saja? Dia bahkan terlihat selalu ceria? Saya benar-benar mengkhawatirkan keadaan Nyonya Kinara, Tuan," jawab Bik Sumi. Dia menyampaikan keresahan di hatinya kepada Sang Majikan. Bagaimana pun dia sudah menganggap Tama dan keluarganya seperti keluarganya sendiri.
"Kinara memiliki kisah sedih tepat di hari ulang tahunnya, Bik. Kedua orang tuanya meninggal di hari yang seharusnya menjadi hari bahagia untuknya. Dan itu yang membuatnya trauma," jawab Tama.
"Ya Allah, kasihan Nyonya Nara. Pasti setiap tahun dia melewati hari ulang tahunnya dengan sangat berat. Semoga dia bisa segera sembuh dari traumanya itu. Saya ikut prihatin, Tuan," jawab Bik Sumi yang ikut merasa sedih mendengar kondisi istri dari Tuannya tersebut.
"Terima kasih, Bik Sumi," ucap Tama. "Bagaimana dengan keadaan Taki dan Maki? Mereka sudah tidak takut atau sedih lagi kan?"
"Tadi saya sudah mencoba ngasih pengertian. Mudah-mudahan saja mereka tidak takut terhadap Nyonya Kinara karena tadi mereka sempat ketakutan saat Nyonya tiba-tiba melempar kue ulang tahun itu lalu berteriak histeris," terang Bik Sumi menjelaskan keadaan anak dari majikannya tersebut sebelum tertidur. "Kalau begitu saya permisi, Tuan." Bik Sumi pun keluar dari kamar Taki dan Maki.
Tama mengusap kepala kedua putranya. "Papa harap kalian tidak membenci mama Kinara karena kejadian barusan," lirih Tama. Dia takut kalau kedua putranya akan membenci Kinara karena kejadian tersebut.
"Pa, Mama tidak apa-apa kan?" tanya Taki yang ternyata sudah membuka matanya.
"Sayang, kamu sudah bangun?"
Taki mengangguk.
"Mama tidak apa-apa. Dia cuma butuh istirahat," jawab Tama. "Taki tidak takut ataupun membenci mama kan?"
Taki menggeleng. "Tadinya memang Taki sempat takut, tapi bukan benci. Tapi, setelah mendengar obrolan Papa dengan Bibik Sumi, aku tahu kalau mama begitu karena sakit. Sama seperti papa dulu," jawab Taki.
Tama terperangah. Dia tidak menyangka jika anaknya mengetahui keadaannya dulu. "Jadi, Taki dulu tahu kalau papa sakit?"
Lagi. Taki mengangguk. "Taki tahu, karena dulu setiap hari selalu ada dokter yang datang ke rumah. Dan waktu aku tanya sama oma kenapa ada dokter yang datang ke rumah, mereka bilang dia adalah psikolog. Aku tanya sama Bu guru di sekolah tentang psikolog itu apa. Bu Guru bilang, psikolog adalah orang yang membantu kita mengobati sakit mental. Taki tidak tahu alasan apa yang membuat papa sakit seperti itu. Tapi, kehadiran mama Nara membuat papa sembuh. Jadi, Taki juga mau Mama sembuh seperti Papa. Taki dan Maki akan selalu ada di sisi Mama dan tidak akan membenci Mama. Karena Mama membutuhkan kita," jawab Taki.
__ADS_1
Tama kembali mengusap kepala putranya itu. "Terima kasih ya, Sayang. Karena kamu mau mengerti keadaan mama. Saat ini mama memang membutuhkan sport kita sebagai keluarganya. Hm?"
"Maki juga mau membantu mama cepet sembuh." Maki yang baru saja membuka matanya ikut menyahut.
"Wah... kamu juga sudah bangun ya, Sayang?"
Maki bangun dari posisinya, dia memeluk sang papa dan suadara kembarnya. "Kita bertiga adalah keluarga mama, kita sayang mama, jadi kita akan membantu mama untuk sembuh. Semangat!"
"Wah, anak-anak papa hebat. Mama pasti bahagia memiliki anak yang hebat seperti kalian," puji Tama. Dia pun memeluk kedua putranya.
Tidak lama Bik Sumi kembali datang menemui Tama di kamar si kembar.
"Ada apa, Bik?" tanya Tama.
"Itu, Tuan. Om dan tantenya Nyonya Nara ada diluar. Katanya mereka ingin bertemu dengan Tuan. Mereka bilang ingin membicarakan hal penting tentang Nyonya Nara sama Tuan." Bik Sumi memberi tahu.
"Ya sudah, Bik. Suruh mereka masuk. Aku akan segera menemui mereka," jawab Tama.
"Baik, Tuan." Bik Sumi pun kembali meninggalkan kamar tersebut.
"Taki, Maki, papa keluar dulu ya. Kalian bisa bermain dulu atau lanjutkan tidur kalian!"
"Memang di sekolah ada tugas?" tanya Maki dengan wajah bingung.
"Ada. Memang kamu nggak dengar perkataan Miss Linda tadi sebelum pulang?" tanya Taki kepada kembarannya, Maki.
Maki menggeleng. "Memang apa tugasnya?" tanya Maki.
"Kita disuruh gambar. Tema bebas dan besok harus dikumpulkan," jawab Taki. "Padahal aku lebih seneng kalau dikasih tugas hitungan-hitungan."
"Wah asik tugasnya gambar. Aku paling suka menggambar," ujar Maki kegirangan. Dia melompat dari tempat tidur dan langsung mengeluarkan alat menggambar dari dalam tas.
"Hati-hati, Sayang!" tegur Tama.
"Habisnya Maki udah nggak sabar pingin gambar, Pa," jawab Maki. Sementara Taki hanya menghela napas panjang. Dia terlihat malas untuk mengerjakan tugasnya itu padahal dia yang ingat duluan bahwa ada tugas di sekolah.
Taki dan Maki memiliki hal yang mereka sukai masing-masing. Taki lebih suka sesuatu yang mengasah otak dengan logika, seperti berhitung dan pelajaran lain yang pasti. Sementara Maki lebih menyukai pelajaran yang berbau seni. Seperti menggambar contohnya. Dia bahkan sudah pernah ikut kejuaran melukis tingkat nasional meski belum pernah menang.
__ADS_1
"Ya sudah. Papa tinggal ya. Kalian kerjakan tugas kalian dengan baik." Setelah mengatakan itu, Tama ikut keluar dari kamar kedua putranya.
Tama menghela napas panjangnya saat melihat om dan tante Kinara yang sudah menunggunya di ruang tamu. Dia tidak tahu hal apa yang membawa kedua orang itu mendatangi rumahnya.
"Ada alasn apa kalian datang ke rumah ini?" tanya Tama sambil berjalan menuruni anak tangga dari lantai dua.
Reni dan Susanto langsung berdiri saat mendengar suara Tama. Dia mendongak menatap suami dari keponakannya tersebut.
"Saya tahu, kedatangan kami pasti tidak diharapkan oleh kamu. Kami kesini untuk menanyakan kabar Kinara. Bukankah hari ini adalah hari ulang tahunnya, kami khawatir trauma Kinara kambuh," jawab Reni.
Mata Tama memicing. Dia berdiri tepat di hadapan keduanya. "Kalian tahu Kinara memiliki trauma, tapi kenapa kalian tidak memberitahuku? Setidaknya jika aku tahu Kinara memiliki trauma, aku bisa membantunya untuk menyembuhkan trauma itu, meski tidak akan mudah."
"Maaf, Tama. Ku kira Kinara sudah cerita makanya kami diam saja. Iya kan, Ren?" jawab Susanto.
Tama hanya tersenyum sinis. "Bukan itu alasannya. Sejak awal kalian memang tidak pernah menganggap Kinara sebagai keluarga kalian. Apalagi keponakan. Kalian hanya menganggapnya sebagai ladang uang kalian. Itulah sebabnya kalian tidak peduli dengan perasaannya dan selalu memperlakukan Kinara seperti sapi perah."
Entahlah. Hari ini Tama merasa muak dengan dua orang yang sedang berdiri di hadapannya. Orang yang katanya keluarga yang harusnya menjadi sport sistem istrinya kala ia terjatuh. Malah menjadi pihak yang menyalahkan Kinara atas kematian kedua orang tua Kinara itu. Padahal mereka tahu bahwa Kinara lah pihak yang paling kehilangan dan terluka atas kejadian yang menimpa kedua orang tuanya.
"Kamu salah, Tama. Kami tidak seperti itu. Kami sayang kok sama Kinara," Susanto masih berusaha mengelak.
"Sudahlah, aku malas mendengar ocehan kalian. Sekarang katakan saja, apa niat kalian datang ke sini!" seru Tama. Dia sudah sangat jengah dengan kelakuan keduanya.
"Kamu benar, Tama. Selama ini kami memang tidak pernah memperlakukan Kinara sebagai keluarga. Dan aku menyesal," ujar Reni tiba-tiba. Bahkan kedua pipinya sudah dibanjiri dengan air mata.
Tama kembali mengerutkan dahi.
"Aku memang bersalah atas hal ini. Aku terus menyalahkan Nara atas kematian kakakku dan memintanya bertanggung jawab. Padahal aku tahu kematian mereka bukan salah Nara. Aku hanya butuh orang untuk menjadi kambing hitam atas meninggalnya mereka. Aku benar-benar menyesal. Nara pasti menderita karena selama ini harus menghadapi trauma itu sendirian tanpa ada yang memberikan dia pelukan. Maafkan aku." Reni tiba bersimpuh, duduk di lantai. Melihat itu tentu Tama mundur. Dia tidak tahu, tante Kinara itu benaran menyesal atau hanya pura-pura. Yang jelas, dia tidak bisa percaya begitu saja kepadanya.
"Berdirilah, Tan. Aku tidak ada hak untuk memberikan maaf pada kalian. Kinaralah yang berhak untuk itu. Tapi, saat ini dia sedang tidak bisa diganggu. Dia butuh istirahat karena tadi dia sempat histeris dan tremor," jawab Tama.
"Boleh, aku melihatnya?" tanya Reni dengan tatapan menghiba.
"Besok saja kalian datang ke sini lagi. Sekarang biarkan Kinara istirahat. Maaf, aku harus meninggalkan kalian," ucap Tama. Dia kembali ke lantai atas dan membiarkan suami-istri itu di ruang tamu.
"Apaan si Tama itu. Tidak sopan banget!" omel Susanto.
"Dia tidak salah, Mas. Wajar dia bersikap seperti itu karena kita sudah menyakiti istrinya. Sudahlah. Kita pulang dulu, besok kita kesini lagi untuk meminta maaf. Aku juga akan tunjukan agenda milik Mbak Kasih. Siapa tahu dengan melihat agenda itu, Kinara tidak lagi merasa bersalah," jawab Reni.
__ADS_1
"Agenda? Agenda apa? Kok aku nggak tahu?" tanya Susanto penasaran. Selama ini Reni tidak mengatakan apa pun soal agenda.
Reni tidak menjawab. Wanita itu memilih keluar dari rumah Tama. Susanto mengekorinya di belakang.