
"Kamu tahu siapa om itu?" tanya Maki kepada saudara kembarnya, Taki.
Kedua bocah kembar itu berpura-pura fokus dengan mainanya. Padahal kenyataanya mereka terus memperhatikan Kinara yang sedang berbincang dengan seorang laki-laki yang tanpa sengaja bertabrakan dengan mama sambungnya tersebut. Kinara dan laki-laki itu duduk di bangku panjang yang berada tidak jauh dari Taki dan Maki bermain.
"Sepertinya teman mama. Buktinya mereka langsung akrab padahal baru ketemu," jawab Taki.
"Tapi, aku tidak suka," ujar Maki.
"Sama."
Kedua bocah kembar identik tersebut terlihat cemberut.
"Apa kita perlu lapor sama papa soal ini?" tanya Maki. Dia benar-benar tidak suka melihat Kinara berbicara dengan laki-laki selain papanya.
"Jangan!" cegah Taki.
"Kenapa? Memangnya kamu mau mama direbut sama om itu?"
"Tentu saja tidak! Tapi, kalau papa malah salah paham gimana?" Jawaban Taki tentu membuat Maki dilema. Dia tidak suka Kinara dekat-dekat dengan laki-laki lain selain papanya, tetapi kalau ia melapor dan papanya salah paham lalu marah sama mama sambungnya juga bagimana? Pasti semua akan makin runyam.
"Apa kamu punya ide supaya cowok itu cepat pergi?" tanya Maki.
Taki tampak berpikir.
"Gimana? Udah nemu idenya?" cerocos Maki yang merasa tidak sabar ingin melihat laki-laki segera menjauh dari mama sambungnya.
"Ah, aku ada ide," cicit Taki beberapa menit kemudian.
"Apa-apa?" tanya Maki tidak sabaran.
"Sini aku bisikin!" Taki menyuruh kembaranya tersebut untuk lebih mendekat ke arahnya.
***
"Aku kira kamu sudah melupakan aku, Nara. Dan tidak akan mengenaliku saat kita bertemu kembali," ujar Reno.
"Mana mungkin lah, Mas. Kita berteman saat aku kelas 5 SD. Sejak saat itu kita selalu bersama-sama. Kamu selalu menghiburku saat aku sedih. Kamu juga yang selalu membelaku saat om dan tanteku memarahiku. Dan semua kenangan itu akan selalu aku ingat selamanya," ucap Kinara. Dia tersenyum saat mengingat masa-masa yang dilalui bersama Reno.
"Dulu, aku bahkan pernah berpikir untuk menyusulmu ke luar negeri setelah aku dewasa dan memiliki banyak uang. Tapi, manusia hanya bisa berencana dan tetap Allah-lah Sang Penentu takdir," lanjut Kinara.
"Apa sekarang pikiran itu masih ada?" tanya Reno sambil menatap Kinara.
Kinara menggeleng. "Tidak. Aku bahkan melupakan itu," jawab Kinara.
__ADS_1
"Boleh tahu alasanya?" tanya Reno lagi.
Kinara menatap Reno sebentar sebelum akhirnya menatap lurus ke depan. "Skarang yang aku pikirkan bagaimana caranya membuat suamiku jatuh cinta kepadaku. Aku ingin dia menerimaku bukan hanya sebagai ibu sambung bagi kedua anaknya, melainkan istrinya," jawab Kinara kemudian.
"Jadi, maksudmu. Suamimu menikahimu memang bukan karena ia jatuh cinta kepadamu? Tapi, karena dia membutuhkan sosok ibu untuk kedua anaknya? Begitu?" Reno menyimpulkan.
"Aku tak bisa mengelaknya."
"Jadi, semua yang dikatakan oleh om dan tantemu itu benar? Suamimu menikah denganmu karena hanya membutuhkan pengasuh untuk anak-anaknya?"
Mata Kinara memicing.
"Tadi om dan tantemu datang mencariku dan menceritakan alasan kamu menikah. Mereka bilang itu semua karena mereka. Kamu terpaksa menikah dengan Tama Wijaya untuk menebus rumahmu yang digadaikan oleh mereka dan membayar semua hutang-hutang mereka. Dan mereka bilang kamu tidak bahagia dengan pernikahanmu. Apalagi pengasuh dari anak-anak suamimu juga bilang, kalau dia dipecat karena Tama ingin memanfaatkanmu untuk dijadikan pengasuh buat anak-anaknya." Reno akhirnya menceritakan semua hal yang diceritakan oleh Reni, Susanto, dan Mirna saat datang ke rumahnya pagi tadi.
"Dan kamu percaya, Mas?"
"Tadinya aku percaya, tapi setelah melihatmu. Aku jadi meragukan omongan mereka," jawab Reno jujur.
"Semua yang dikatakan om dan tanteku tidak sepenuhnya salah. Aku memang menikah dengan Tama untuk bisa menebus rumah peninggalan almarhum orang tuaku dan melunasi semua hutang om dan tanteku pada rentenir. Tapi, bukan Mas Tama yang memaksaku menikah denganya. Aku sendiri yang mau menikah denganya. Aku juga tidak tahu sejak kapan, aku mulai mencintai dia."
"Apa dia juga mencintaimu?"
"Aku tidak tahu. Kadang aku merasa dia sangat mencintaiku, tapi kadang aku juga merasa sebaliknya. Entahlah. Tapi.... " Kinara menjeda kalimatnya.
"Tapi, apa?"
"Apa kamu bahagia?" tanya Reno lagi.
"Aku bahagia dan sangat bahagia. Berkat pernikahan itu, aku memiliki keluarga yang menyayangiku. Kedua orang tua Mas Tama, adik, dan juga keponakan-keponakannya. Mereka semua menyayangiku, meski aku bukan dari keluarga terpandang seperti mereka." Mata Kinara berkaca-kaca saat mengatakan hal itu.
"Syukurlah kalau kamu bahagia. Aku ikut senang. Untung saja aku bertemu denganmu sebelum aku mendatangi Tama tadi. Kalau tidak mungkin sekarang perusahaan ini akan heboh karena aku memukul suamimu."
Iya, sebenarnya hal pertama yang ingin dilakukan Reno saat datang ke perusahaan Wijaya adalah ingin mematahkan kaki dan tangan dari putra sulung Rangga Wijaya itu. Dia begitu naik pitam saat mendengar semua cerita tentang Kinara. Beruntung dia bertemu dengan teman masa kecilnya itu terlebih dulu sehingga hal yang tidak diinginkan tidak terjadi.
"Mama," panggil Taki dan Maki. Kedua bocah itu berlari mendekati tempat duduk Kinara dan Reno sambil bermain tembak-tembakan dengan menggunakan pistol air. Entah darimana keduanya mendapatkan mainan tersebut. Yang jelas keduanya saling tembak dengan pistol itu. Dan bisa ditebak.
Taki sengaja berdiri tepat di depan Reno dan saat Maki akan menembakan pistol air tersebut. Dia langsung berjongkok alhasil air yang keluar dari pistol itu mengenai wajah Reno.
"Astaga, sayang." Kinara sedikit kaget. Dia tahu kedua bocah itu sengaja melakukanya.
"Mas Reno, maafin anak-anaku ya. Mereka tidak sengaja," ucap Kinara.
"It's ok. No problem," jawab Reno sambil mengelap wajahnya dengan sapu tangan.
__ADS_1
"Taki, Maki. Sini, sayang!" seru Kinara. Taki dan Maki menurut.
"Ayo minta maaf sama Om Reno!" suruh Kinara.
Taki dan Maki masih bungkam.
"Nara, sepertinya anak-anakmu tidak suka melihatmu bersamaku," bisik Reno.
"Aku tahu."
"Kalau kamu menyuruh mereka minta maaf kepadaku, bukankah akan membuat mereka merasa kalau kamu tidak menyayangi mereka karena berpihak kepadaku?"
"Aku mengerti. Tapi, aku tidak mau mereka menjadi anak yang tidak bertanggung jawab. Mereka salah, jadi sudah sewajarnya mereka meminta maaf," jelas Kinara. "Maki, kamu tidak mau meminta maaf?"
"Maafkan Maki, Om," ucap Maki dengan tidak ikhlas.
"Tidak apa-apa. Om tahu kalian tidak sengaja," jawab Reno. Dia mengacak rambut Maki dan Taki.
"Ya sudah, aku pamit ya. Sudah waktunya aku bertemu dengan suamimu."
"Lho... untuk apa?"
"Bisnislah. Sebenarnya aku ada meeting dengan suamimu jam 11 ini. Dan aku datang lebih awal karena termakan omongan om dan tantemu," jawab Reno.
"Anak-anak, om pamit ya. Lain kali om traktir kalian es krim." Taki dan Maki tidak menjawab. "Nara aku pergi ya."
Kinara mengangguk. Reno pun segera meninggalkan taman itu dan berjalan menuju lobil perusahaan Wijaya.
"Taki, Maki, sini sayang!" panggil Kinara. "Kalian marah sama mama karena mama menyuruh kalian minta maaf tadi?"
Taki dan Maki masih enggan untuk membuka mulut.
"Mama tahu kalian tidak suka dengan teman mama itu. Tapi, sengaja menyemprotkan air ke wajah om Reno juga tidak benar sayang. Itu namanya tidak sopan. Lagian Om Reno dan mama tidak melakukan apa-apa kan? Kami hanya ngobrol karena sudah lama tidak ketemu." Kinara berusaha memberikan pengertian kepada dua putra sambungnya.
Kinara membawa kedua putra kembarnya untuk duduk. "Kalian beneran marah sama mama karena itu?"
Taki dan Maki masih belum mau bersuara.
"Kalau kalian marah karena itu mama minta ma.... " Belum selesai Kinara berucap, Taki dan Maki sudah memeluknya.
"Maafkan kami, Ma," ucap Keduanya.
"Kami berbuat begitu karena kami tidak mau om itu membawa pergi mama dari kami. Kami tidak mau kehilangan mama lagi. Kami sangat sayang sama Mama."
__ADS_1
"Mama tahu. Mama juga sangat aayang sama kalian," ucap Kinara. Dia membalas pelukan kedua putranya tak kelah erat.
Dari dalam ruang kerjanya Tama menatap rekaman cctv dengan wajah dingin tanpa ekspresi. Rekaman yang memperlihatkan aktivitas Kinara dan kedua anaknya di taman. Dia sudah melihat rekaman itu bahkan saat Kinara sedang berbincang dengan Reno.