
"Why?" tanya Tama yang merasa bingung dengan sikap istrinya itu.
"Aku dari kemarin belum mandi dan gosok gigi. Aku takut kamu.... "
Belum selesai Kinara menjelaskan, Tama sudah membungkam mulut Kinara dengan bibirnya.
Mata Kinara melotot. Dia sedikit mendorong tubuh suaminya dan kembali menutup mulut. Tentu saja hal tersebut membuat Tama terkekeh. "Kenapa aku tidak boleh nyium istriku sendiri?"
"Aku takut Mas Tama ilfil gara-gara mulutku bau," lirih Kinara. "Badanku juga bau keringat karena dari kemarin belum mandi."
Tanpa berkata apa pun lagi, Tama langsung menggendong tubuh istrinya ala brydal style.
"Mas, kamu mau bawa aku kemana?"
"Mandi. Bukannya barusan kamu bilang kalau kamu belum mandi dari kemarin."
"Iya, tapi nggak gini juga kali, Mas. Aku bisa.... "
"Aku mau mandiin istriku, memang nggak boleh?" potong Tama.
"Tapi, Mas.... "
"Hussttt. Jangan berisik! Kamu tinggal diam dan nikmati saja!" Perkataan Tama membuat tubuh Kinara meremang.
"Mas.... " Sekali lagi Tama membungkam bibir mungil itu dengan bibirnya. Tanpa melepas tautan ia membawa istrinya masuk ke dalam ke kamar mandi untuk memandikannya. Tentu saja bukan hanya mandi biasa, melainkan mandi plus-plus tentunya
Mandi yang seharusnya bisa selesai dalam waktu 15 menit itu terpaksa memakan waktu lebih lama. Tama dan Kinara baru keluar ruangan berukuran 2 meter kali 2,5 meter tersebut setelah satu jam.
"Mas Tama kebiasaan, selalu ninggalin jejak di leher. Gimana kalau anak-anak melihat dan bertanya ini kenapa?" desis Kinara yang saat ini berdiri di depan cermin memperhatikan bagian lehernya. Ternyata suaminya itu tidak cukup meninggalkan satu tanda berwarna merah keunguan itu, tetapi ada beberapa. Dan jumlahnya lebih dari tiga jejak. "Mana banyak ini," tambahnya.
"Maaf, Sayang. Aku kelepasan. Habisnya tiap melihat leher jenjangmu itu bikin aku tak tahan ingin terus menyesapnya," jawab Tama tanpa merasa berdosa.
"Dasar mesum!" omel Kinara.
"Aku hanya mesum terhadapmu." Tama membela diri.
"Ck. Dulu ku kira seorang Tama Wijaya itu dingin, jutek, dan nggak tahu hal-hal begituan. Ternyata... Ck ck ck." Kinara mencebik.
"Hei, kalau aku nggak mesum gak akan ada Taki dan Maki," jawab Tama.
"Bener juga sih." Kinara membernarkan. "Tapi, kukira tidak separah ini."
Tama memeluk istrinya itu dari belakang. Menempelkan dagu di pundak itu. Menghirup aroma sabun yang menempel disana. "Aku berharap di sini akan segera hadir adik untuk Taki dan Maki. Anak perempuan yang cantik dan lucu, mirip seperti kamu," ucap Tama sambil mengusap perut Kinara yang datar.
__ADS_1
Kinara terdiam.
"Kenapa? Apa kamu tidak mau hamil anakku?" tanya Tama saat melihat perubahan ekspresi di wajah istrinya.
"Bukan itu, Mas. Tapi, saat ini kamu tahu sendiri kan bagaimana kondisi mentalku? Aku hanya takut, aku akan membuat anak-anak kita malu nantinya."
"Makanya, berusahalah untuk sembuh. Hm?" jawab Tama.
Kinara mengangguk kemudian tersenyum. "Aku akan berusaha sembuh demi kalian. Kamu, Taki, Maki, dan calon anak kita kelak," ujar Kinara. Dia mengusap lembut rahang suaminya.
"Apa kamu sengaja menggodaku?"
"Menggoda apanya? Aku cuma mengusap rahangmu saja dan tidak melakukan hal-hal yang aneh."
"Tapi, si jeri kembali bangun," jawab Tama. Sambil menempelkan benda kesayangannya yang kini sudah kembali mengeras dibalik celana. Tentu saja hal tersebut membuat mata Kinara melotot.
"Mas, aku tidak melakukan apa pun lho."
"Tapi, dia sudah bangun dan minta ditidurkan. Ayo kita kita lakukan lagi," bisik Tama tepat di telingan Kinara.
"Kita baru saja mandi dan aku nggak mau mandi lagi. Lagian aku capek karena barusan kamu terus menyerangku tadi."
"Sayang.... " rengek Tama. "Aku janji kali ini cuma sebentar. Kita lakukan quick ***."
Iya, benar. Tanpa menunggu jawaban dari Kinara. Tama kembali menyerangnya. Dan sesuai dengan ucapannya. Kegiatan itu mereka lakukan dengan cepat. Keduanya kembali mandi karena Taki dan Maki sudah menunggu mereka untuk sarapan bersama.
Di ruang makan....
"Menurutmu ulang tahun kita bisa kita rayakan nggak, Ta?" tanya Maki kepada saudara kembarnya Taki.
"Entah," jawab Taki seraya mengedikan bahu. "Tapi, kalau mama belum sembuh mau bagaimana lagi. Bukankah yang penting kesehatan mama dulu?"
"Iya, sih. Tapi, ku pikir ulang kita kali ini kita bisa merayakanya ersama Mama Nara." Maki menghela napas panjang.
"Tidak apa-apa. Kalau tahun ini kita tidak bisa meniup lilin bareng Mama Nara, semoga tahun depan kita bisa melakukan itu. Kalau tahun depan masih tidak bisa, semoga tahun depannya lagi bisa. Yang terpenting kita bantu Mama Nara buat sembuh dari sakitnya," jawab Taki sambil menepuk-nepuk punggung saudara kembarnya.
Maki menatap Taki kemudian tersenyum. "Kamu benar. Yang paling penting adalah kesehatan Mama Nara dulu," balasnya.
Kinara yang sudah berdiri di belakang kedua anaknya itu pun merasa terharu mendengar pembicaraan mereka. Mereka rela tidak tiup lilin demi dirinya.
"Kamu lihat kan, Sayang. Taki dan Maki sangat sayang sama kamu. Jadi, berusahalah untuk sembuh dari trauma itu. Hm?" tutur Tama sambil merangkul bahu istrinya.
"Iya, Mas. Aku pasti akan berusaha keras untuk sembuh. Nanti kamu jadi kan nganter aku psikolog?"
__ADS_1
Tama mengangguk. "Aku membuat janji dengan Dokter Petra jam sepuluh. Jadi, kita bisa mengantar anak-anak dulu ke sekolah. Lalu mampir ke kantor sebentar. Aku harus memberikan dokumen fisik untuk rapat hari ini kepada Doni. Setelah itu kita langsung ke rumah sakit," jawab Tama.
"Kamu tidak berniat menemui sekretaris barumu itu kan?" tanya Kinara dengan memberikan sorotan tajam kepada Tama.
"Astaghfirullah, Nara. Kamu masih cemburu dengan dia? Aku saja nggak ingat wajahnya lho."
"Tapi, kamu ingat namanya, Mas!" sergah Kinara.
"Itu karena aku sempat membaca biodata dia kemarin."
"Sudahlah. Aku nggak mau bahas soal sekretaris barumu itu. Lebih baik sekarang kita sarapan karena ini sudah jam 7 lebih." Pungkas Kinara. Dia berjalan menghampiri Taki dan Maki.,
"Pagi, Sayang. Maafin mama dan papa ya karena telat. Kalau kalian mau marah tuh marahi papa kalian, karena mama telat kesini gara-gara papa kalian," ujar Kinara sambil menghempaskan bokongnya di salah satu kursi yang ada di ruang makan.
"Papa!" teriak Taki dan Maki sambil menatap tajam papanya.
"Maaf, Sayang. Papa nggak sengaja," ucap Tama. "Ya, udah kita sarapan yuk terus berangkat ke sekolah!"
Mereka pun mulai menyantap sarapan mereka.
"Taki, Maki, maafin mama ya. Kalian pasti takut karena kemarin mama seperti itu," ucap Kinara di sela-sela makan.
"Tidak apa-apa kok, Ma. Kami pasti akan bantu Mama buat menyukai kue tart lagi. Iya kan, Pa?" jawab Maki sambil melempar pandangan ke arah papanya.
"Iya. Kita akan buat Mama Nara kembali menyukai kue tart dan tiup lilin lagi," jawab Tama.
"Nanti kalau Mama sudah tidak takut dengan kue tart, Maki mau minta dibeliin kue tart yang segede ini," jawab Maki dengan kedua tangan membentuk lingkaran.
"Jangan khawatir, papa akan belikan sepuluh buat Maki."
"Kok Taki, nggak?" protes Taki.
"Iya-iya, papa belikan masing-masing sepuluh. Oke?"
"Oke, Pa," jawab Taki dan Maki.
Mereka berempat akhirnya tertawa bersama. Tawa Maki tiba-tiba berhenti dan hal itu membuat yang ada di ruang makan menatap ke arahnya.
"Ada apa Sayang?" tanya Kinara dan Tama. Keduanya menatap Maki bingung.
"Ma," panggil Maki.
"Iya."
__ADS_1
"Kenapa leher Mama merah?" tanya Maki sambil terus menatap leher ibu sambungnya tersebut.
"Mampus!" pekik Kinara dalam hati. Sudah dia duga kalau mereka pasti akan bertanya soal tanda merah yang Tama tinggalkan pagi tadi.