Sebatas Ibu Sambung

Sebatas Ibu Sambung
Bab 79


__ADS_3

"Tante, aku tut.... "


Kinara menggantung kalimatnya saat mendengar suara seseorang seperti berusaha menenangkan tantenya. Dia kembali menempelkan ponsel di tangannya ke telinga.


"Nyonya Reni, Anda tenang dulu. Saat ini Anda sedang sakit dan butuh istirahat. Jadi, tenanglah, Nyonya."


"Tidak, Suster. Saya harus berbicara dengan keponakan saya apa yang terjadi dengan suami saya, Sus. Saya harus tahu suami saya kenapa, Sus. Tolong berikan ponsel itu ke saya."


"Maaf, Nyonya. Tapi, Anda harus beristirahat. Biar saya yang bicara."


"Tidak, Sus. Saya.... "


Setelah itu tidak terdengar lagi suara dari Tante Reni.


"Hallo, saya Nara. Apa yang terjadi dengan Tante saya? Terus dia sekarang dimana?" tanya Kinara.


"Maaf, Nyonya. Saya Suster Ida. Perawat yang berjaga di kamar Flamboyan kelas 2 A. Saat ini Tante Anda pingsan." Orang yang mengaku bernama Suster Ida itu memberitahu.


"Memangnya Tante saya kenapa, Sus?" tanya Kinara.


"Tadi sore dia kecelakaan dan gegar otak. Dia dibawa oleh suaminya kesini. Tadi suaminya pamit katanya ada urusan sebebtar, tapi kelihatannya sampai sekarang dia juga kembali," jawab Suster.


Kinara menghela napasnya. "Om saya kena musibah tadi, Sus. Ohya, kalau boleh tahu di rumah sakit mana Tante saya dirawat?"


"Di Rumah Sakit SUMBER SEHAT."


"Terima kasih, Sus. Nanti saya akan kesana untuk mengurus segala sesuatunya," ujar Kinara sebelum akhirnya mengakhiri panggilan tersebut.


"Ada apa dengan Tante Reni?" tanya Tama. Dia tahu kalau tante dari istrinya itu juga kenapa-napa.


"Kita urus dulu urusan Om Susanto, setelah itu baru kita urus Tante Reni," jawab Kinara.


Tama mengangguk. Dia kemudian menatap ke arah Pak Joko yang napasnya mulai teratur.


"Ada apa, Pak? Apa terjadi sesuatu pada operasi Om Susanto?" tanya Tama dengan wajah khawatir. Begitupun Kinara, dia juga menunggu dengan tidak sabar jawaban dari Pak Joko.


"Tidak Tuan Tama, Nyonya. Saya cuma mau memberitahu kalau operasi Om Anda sudah selesai dan Dokter sudah memindahkannya ke ruang rawat," jawab Pak Joko.


Tama dan Kinara bernapas lega. "Alhamdulillah," ucap keduanya bersamaan.


"Tapi, kenapa tadi Pak Joko lari-lari?"


Pak Joko menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Hp saya low bat, Tuan. Makanya saya sengaja lari ke sini untuk memberitahu, soalnya saya yakin Tuan dan Nyonya sangat mengkhawatirkan om kalian," jawab Pak Joko.


Dan Pak Joko tidak salah. Kinara dan Tama memang sedang menunggu kabar itu.


"Dia dipindahkan ke kamar mana?" tanya Tama.


"Di kamar VVIP lantai 3, Nyonya, Tuan," jawab Pak Joko.

__ADS_1


"Baiklah, Pak Joko. Terima kasih karena sudah mengabari kami. Pak Joko bisa pulang untuk beristirahat. Sisanya biar saya yang urus," tutur Tama. Dia tahu kalau sopirnya tersebut juga lelah.


"Tidak apa-apa, Tuan. Saya bisa pulang nanti. Siapa tahu, Tuan masih membutuhkan tenaga saya di sini," ucap Pak Joko. Dia berusaha untuk tidak terlihat mengantuk dan lelah.


"Tidak apa-apa, Pak. Pak Joko pulang saja. Besok kan Bapak masih harus mengantarkan anak-anak dan Bik Surti ke sekolah."


"Baiklah, kalau begitu. Tuan, Nyonya, saya permisi. Kalau butuh sesuatu kalian bisa msnelpon saya." Pak Joko pamit.


Tama mengangguk. "Iya, Pak," jawabnya.


"Mas, ayo kita jenguk Om Susanto!" ajak Kinara. Dia hendak bangun dari tempat tidurnya, namun dicegah oleh Tama.


"Kamu tidak boleh banyak aktivitas dulu, Sayang. Kamu juga harus beriatirahat. Biar aku yang ke ruang rawat Om Susanto."


"Mas.... "


"Sayang, please! Ini demi calon anak kita!" pinta Tama.


"Tapi, Mas.... " Kinara terdiam sejenak. "Apa? Anak? Maksud kamu aku.... " Kinara menatap wajah suaminya kemudian beralih ke perutnya.


"Iya, Sayang. Kamu sedang hamil anak kita. Jadi, kamu nggak boleh banyak pikiran, stres, apalagi beraktivitas. Hm?"


Kinara mengusap perutnya yang masih rata. Tama berjongkok dan mendekatkan kepalanya di perut Kinara.


"Disini ada calon putri kita. Dia pasti akan sangat cantik sepertimu," ucap Tama. Dia mengusap dengan lembut perut istrinya itu, lalu menciumnya.


"Kita akan buat lagi sampai benar-benar mendapatkan putri. Lagian aku bisa kok biayain meski nanti kita punya anak selusin. Aku juga mampu buat bikin kamu puas tiap hari," jawab Tama yang langsung mendapat cubitan dari Kinara.


"Sakit, Sayang. Memang yang aku katakan salah?"


"Pikiranmu, Mas. Mesum! Lagian memang aku kucing yang harus brojol terus?" Kinara mencebik.


Tama terkekeh. "Enggaklah. Meski aku berharap anak kita ini perempuan, tapi jika Tuhan ngasihnya laki-laki, aku nggak masalah kok. Aku cuma mau kamu dan calon anak kita baik-baik saja," ucapnya.


Kinara tersenyum mendengarnya.


"Astaga, Mas. Bukankah kita mau ke ruang rawat Om Susanto? Kenapa kita malah membicarakan hal random sih?" Kinara memekik.


"Sudah ku bilang, biar aku yang ke ruang rawat Om Susanto. Kamu disini saja. Istirahat!"


"Mas, tapi, aku mau lihat keadaan Om Susanto," protes Kinara.


"Baiklah. Kamu boleh ikut ke sana sebentar. Setelah itu kamu harua beristirahat. Ingat, didalam sini ada nyawa yang juga harus jaga," ucap Tama yang kembali mengelus perut Kinara.


Kinara mengangguk setuju. "Mas, ada satu lagi yang ingin aku minta."


"Apa itu?"


"Kamu bisa kan urus kepindahan Tante Reni ke rumah sakit ini? Perawat yang berbicara di telepon tadi bilang, kalau Tante Reni sedang dirawat di Rumah Sakit SUMBER SEHAT. Katanya dia mengalami kecelakaan tadi dan gegar otak. Kondisinya pasti sedang tidak baik. Aku yakin, Tante Reni juga mengkhawatirkan keadaan Om Susanto. Apalagi barusan perawat itu juga bilang kalau Tante Reni pingsan. Aku tidak tenang kalau dia sendirian!" pinta Kinara. Seburuk apa pun perlakuan Tante Reni dan Om Susanto terhadap Kinara dulu. Kinara tidak bisa mengabaikan keduanya. Bagaimana pun, mereka adalah keluarga.

__ADS_1


"Aku akan urus semuanya. Aku akan meminta Doni untuk memindahkan perawaran Tante Reni ke rumah sakit ini."


"Terima kasih ya, Mas," ucap Kinara.


"Sama-sama, Sayang. Sudah menjadi kewajibanku untuk membantu keluargamu. Karena keluargamu berarti keluargaku juga."


"Kamu tahu, Mas. Aku benar-benar beruntung bisa menikah denganmu. Berkat kamu, aku memiliki dua anak tampan yang lucu-lucu, ibu yang baik, saudara yang baik, dan suami yang juga baik. I love you, Mas."


"Hanya kata i love you saja?"


"Memang maunya apa?" desis Kinara.


Tama menunjuk bibirnya.


"Ish. Nggak mau. Udah yuk, kita ke ruang rawat Om Susanto!"


"Ya... Sayang. Bentar doang. Cuma kiss bentar, masa gak bisa sih?" keluh Tama.


"Udah ah, Mas. Jangan banyak drama. Kalau kamu nggak mau jalan sekarang. Aku jalan sendiri lho," ancam Kinara.


"Iya, Sayang. Jangan gerak dulu! Aku ambil kursi roda untuk kamu!" cegah Tama.


Tama keluar dari ruang rawat Kinara dan beberapa menit kemudian dia kembali dengan membawa kursi roda. Tama memindahkan tubuh Kinara ke kursi roda dengan membopongnya. Padahal Kinara sudah memberitahu bahwa dia bisa sendiri Tetapi, Tama tetap memaksa.


"Aku sudah menghubungi Doni barusan. Saat ini dia sedang pergi ke rumah sakit SUMBER SEHAT untuk mengurus kepindahan Tante Reni ke rumah sakit ini. Aku juga sudah mengatur agar Tante Reni bisa dirawat di ruangan yang sama dengan Om Susanto." Tama memberi tahu.


"Terima kasih, Mas," ucap Kinara.


"Padahal aku lebih suka kalau dikasih kiss di bibir dari pada ucapan terima kasih," gumam Tama yang berpura-pura cemberut.


"Mas," panggil Kinara.


"Apa?" jawab Tama.


"Aku mau ngomong sesuatu sini!" Kinara menyuruh Tama untuk mendekat.


"Mau ngomong apa sih?"


"Lebih deket lagi dong!" seru Kinara.


Tama pun semakin mendekat ke arah Kinara.


"Sayang, kamu ngomong ap.... "


Tenggorkan Tama tercekat saat tiba-tiba Kinara mendaratkan bibir di atas bibirnya. Saat Kinara hendak menjauhkan bibirnya, Tama justru menahannya. Dia memagut bibir berwarna pink itu dengan lembut. Hingga tiba-tiba.....


Klomprang!


Suara benda jatuh dari arah pintu mengagetkan keduanya.

__ADS_1


__ADS_2