Sebatas Ibu Sambung

Sebatas Ibu Sambung
Bab 56


__ADS_3

Hari itu Kinara langsung menjalankan rencanya. Begitu tiba di kantor hal pertama yang langsung dia lakukan adalah mengerjakan pekerjaan secepat dan seefisien mungkin. Setidaknya jika nanti anak-anak ikut bersamanya ke perusahaan, dia sudah tidak terlalu repot. Dan ditengah-tengah kesibukanya tersebut, Kinara mendapat notifikasi dari M-Banking. Mata Kinara membulat ketika membuka notifikasi tersebut, sebanyak 125 juta rupiah masuk ke nomor rekeningnya.


"Bukankah gaji pokokku cuma sekitar 5 jutaan karena masih baru? Tapi, kenapa saldo yang masuk lebih dari seratus juta ya?" gumam Kinara.


Tak mau menduga-duga, Kinara memilih langsung bertanya ke bagian administrasi. Dia takut kalau pihak administrasi keuangan di perusahaan tersebut salah mentransfer gajinya. Dan setelah ditanyakan ternyata perusahaan hanya menrranfer gajinya sebesar 25 juta, itu sudah termasuk lembur dan tunjungan lainya dari perusahaan. Perusahaan Wijaya memang dikenal sebagai perusahaan yang memiliki gaji di atas rata-rata dari perusahaan lain. Itulah alasan kenapa banyak yang ingin bekerja di perusahaan besar tersebut. Apalagi perusahaan itu memiliki banyak sektor usaha.


"Ini uang yang seratus juta uang darimana ya?" gumam Kinara. Dia masih bertanya-tanya uang 100 juta yang masuk ke rekeningnya.


Saat itulah Tama mengiriminya pesan.


[Aku mengirim uang ke nomor rekeningmu sebesar 100 juta. Kamu bisa gunakan uang itu semaumu]


Akhirnya terjawab sudah dari mana uang 100 juta itu berasal.


[Itu uang apa ya, Mas?]


Kinara memberikan pesan balasan.


[Itu uang nafkah dariku]


Satu pesan dari Tama kembali masuk.


[Apa ini termasuk uang gaji untuk pekerja di rumah?]


Tanya Kinara lagi. Uang sebanyak itu tidak mungkin untuk dirinya sendiri kan?


[Gaji semua pekerja rumah sudah aku kirim ke nomor rekening mereka masing-masing]


Satu balasan kembali muncul di layar.


[Uang listrik? Air? Belanja bulanan?]


[Kalau iya, kirim saja uang itu ke Bik Sumi. Bukankah selama ini Bik Sumi yang mengatur itu?]


Kinara mengirim dua balasan.


[Bukan]


[Uang untuk semua hal yang kamu sebutkan sudah aku kirim ke nomor rekening lain yang kartunya sudah kuberikan sama Bik Sum]


[Uang 100 juta itu adalah nafkah dariku untukmu, bulan ini]


[Kamu bisa gunain uang itu sesukamu. Aku tidak akan bertanya atau pun ikut campur karena itu uangmu]


[Kalau masih kurang, kamu tinggal bilang saja kepadaku. Aku akan langsung kirim tambahanya]

__ADS_1


Beberapa pesan balasan dari Tama kembali muncul di layar.


"Jadi, uang ini adalah nafkah dari Pak Tama buatku?" Gumam Kinara tak percaya. Kinara beranjak dari tempat duduk untuk menemui pria yang berstatus sebagai suaminya tersebut.


"Ketuk pintu kalau mau masuk ke ruang kerjaku," tegur Tama dengan pandangan yang masih fokus dengan komputer di hadapanya.


Kinara yang sudah terlanjur melangkahkan kakinya masuk, kembali mundur beberapa langkah untuk mengetuk pintu.


"Masuklah," jawab Tama.


Kinara duduk di kursi kosong yang ada di depan meja bertuliskan Direktur Utama.


"Ada apa? Apa ada hal yang ingin kamu tanyakan?" Tama menyandarkan punggung pada sandaran kursi.


"Kenapa kamu memberiku nafkah? Maksudku... kamu kan nggak pernah nganggap aku istri, jadi gak ada kewajiban bagi kamu untuk memberikanku nafkah."


"Ya, memang benar aku belum menganggapmu istri. Tapi, fakta kita sudah menikah tidak bisa dielakan begitu saja. Setidaknya meski aku belum bisa memberikan nafkah batin kepadamu, aku masih bisa memberikan nafkah yang lainnya. Dan uang itu salah satunya. Kamu bisa manjakan diri kamu menggunakan uang itu," tutur Tama.


"Tapi... ini terlalu besar. Lagian aku kan juga kerja. Aku bisa memenuhi kebutuhanku yang lain dengan gajiku sendiri. Aku juga sudah makan enak di rumahmu. Jadi, kamu tidak perlu memberikan aku uang lagi. Kamu ambil lagi gih uang yang barusan kamu transfer!" seru Kinara.


"Terserah kamu mau gunain atau mau buang uang itu. Yang jelas uang itu milikmu sekarang." Tama mengakhiri perdebatan soal uang yang dikirmkanya. "Nona Kinara, ini adalah kantor. Kita tidak bisa membicarakan hal pribadi selama di kantor. Mengerti?"


Kinara mengangguk. Dia terpaksa mengakhiri pembicaraan tentang uang tersebut.


"Oh iya, lupa. Ini beberapa dokumen sudah selesai aku buat. Silakan dicek! Kalau ada hal yang masih harus kuperbaiki, Bapak bisa panggil saya. Saya ke meja saya sekarang."


***


Taki dan Maki sudah berada di ruang kerja Kinara sekarang. Sepulang sekolah tadi, Kinara menyuruh supir untuk menjemput mereka dan membawanya ke perusahaan. Untuk membuat kedua bocah itu anteng dan tidak keluyuran selama di perusahaan, Kinara sengaja memberikan mereka mainan rubrik dan buku teka-teki silang.


"Kalian selesaikan itu! Mama akan menemani kalian main setelah semua itu selesai," ujar Kinara.


"Serius, Ma? Kita bisa main bareng Mama setelah ini?" tanya Taki dan Maki bersamaan. Keduanya terlihat antusias mendengar perkataan Kinara tersebut.


"Iya. Makanya kalian selesaikan itu dan mama akan segera menyelesaikan pekerjaan mama. Jadi, setelah itu kita bisa main di taman dekat kantor. Bagaimana? Setuju?"


"Setuju," jawab kedua bocah kembar itu kompak.


"Ya sudah, ayo kita mulai selesaikan pekerjaan kita. Oke?"


Taki dan Maki mengangguk. Mereka pun mulai melakukan pekerjaan mereka masing-masing.


Kurang dari setengah jam, Taki dan Maki sudah menyelesaikan mainan rubrik dan menjawab buku teka-teka silang yang Kinara berikan. Keduanya langsung menyerahan mainan dan buku itu kepada Kinara.


"Kalau mainan rubrik ini, mungkin kalian bisa mudah menyelesaikanya karena sudah biasa memainkan itu. Tapi... untuk buku TTS nya, masa iya kalian sudah selesai mengerjakanya?" ujar Kinara.

__ADS_1


"Kami memang sudah selesai kok, Ma," jawab Maki.


"Kalian serius sudah menjawab semua soal di buku TTS itu?" tanya Kinara memastikan. Taki dan Maki mengangguk.


"Beneran serius?" Kinara masih tidak percaya. Soal TTS di sana cukup banyak karena tadi Kinara sempat membacanya sekilas.


"Serius, Ma. Lihat saja kalau tidak percaya!" jawab Taki.


Kinara pun mulai membuka buku TTS milik Taki dan Maki. Dan benar saja, mereka sudah menjawab semua soal di dalamnya.


"Sekarang kita sudah bisa main di luar kan, Ma?" tanya Maki dan Taki.


"Tunggu 10 menit lagi. Setelah mama menyelesaikan ini, Mama akan langsung menemani kalian main. Kalian bisa sabar sedikit kan?"


Taki dan Maki mengangguk.


"Ya sudah. Sambil nunggu mama nyelesaiin ini. Kalian bisa menggambar apapun." Kinara memberikan dua kertas HVS dan spidol kepada kedua putra sambungnya.


***


Akhirnya Kinara membawa kedua anak-anak kembarnya itu bermain di taman dekat kantor sesuai dengan janjinya.


"Ohya kalau Mama boleh tahu kenapa kalian bisa menjawab soal di buku TTS itu dengan mudah? Cepat lagi." Kinara masih penasaran bagaimana anak sekecil itu bisa menjawab soal yang ada di buku TTS itu dengan cepat dan mudah.


"Ouh... sebenarnya. Buku TTS yang mama berikan tadi, sudah pernah kami selesaikan sebelumnya," jawab Taki.


Terjawab sudah. Akhirnya ia tahu alasan kenapa kedua putranya itu bisa menyelesaikan soal tersebut dengan mudah.


"Kalian mau es krim tidak?" tanya Kinara kepada Taki dan Maki.


"Mau-mau," jawab Taki dan Maki bersemangat.


"Baiklah, kalau begitu kalian kejar mama dulu. Kalau kalian berhasil, mama akan berikan kalian masing-masing dua eskrim. Bagaimana? Setuju?"


Taki dan Maki saling melempar pandangan setelah itu keduanya pun mengangguk.


"Baik. Mama hitung sampai tiga, terus kalian kejar mama. Oke?"


"Oke."


"Satu... dua... tiga!"


Kinara mulai berlari. Taki dan Maki pun mulai mengejarnya. Sayangnya saat berada di persimpangan, Kinara yang tidak melihat ke depan tanpa sengaja menabrak seseorang.


"Maaf-maaf, saya tidak sengaja," ucap Kinara.

__ADS_1


"Nara, apa kabar?"


Mata Kinara membulat saat melihat wajah orang yang tidak sengaja ditabraknya tersebut.


__ADS_2