Sebatas Ibu Sambung

Sebatas Ibu Sambung
Bab 81


__ADS_3

"Sadar, Mas!" bentak Reni.


Susanto yang mengerti jika istrinya itu salah paham buru-buru menjelaskan.


"Kamu salah sangka, Ren. Aku bertanya soal uang itu karena aku takut ditagih sama Tama. Biar bagaimana pun uang itu dirampas saat berada di tanganku. Padahal buat ngembaliin uang yang udah aku gunakan untuk beli barang-barang saja aku gak tahu akan dapat darimana. Terus biaya perawatanmu dan biaya perawatanku.... "


"Om, tidak perlu khawatirkan soal itu. Semua akan kami tanggung," potong Kinara.


Susanto langsung terdiam kemudian memejamkan mata. Tubuhnya bergetar dan tidak lama kemudian suara tangis itu pun pecah.


"Huwa... Nara, Tama, entah terbuat dari apa hati kalian. Om sungguh malu dengan perbuatan Om selama ini sama kalian, terutama sama kamu Nara. Om minta maaf, tolong maafin Om, Nara, Tama. Maafin, Om!" Om Susanto memohon sambil sesegukan. Dia hendak bangun dan memegangi perutnya yang baru saja dioperasi. Namun, Tama buru-buru mencegah.


"Om, baru saja dioperasi jadi jangan banyak gerak!" suruh Tama.


"Aku hanya ingin bersimpuh di kaki kalian untuk memohon maaf."


"Tidak perlu, Om. Kami bukan Tuhan. Jadi, jangan lakukan itu," ujar Tama. "Jika, Om benar-benar menyesali perbuatan Om. Mulai sekarang berubahlah, jangan menjadi pemalas! Om pikir, aku bisa banyak uang hanya dengan leha-leha? Tidak, Om! Aku juga bekerja keras, kedua orang tuaku juga bekerja keras. Jadi, jika Om memang ingin memiliki banyak uang, bekerja keraslah! Jangan jadi pemalas!"


Tama adalah orang yang tegas, meskipun saat ini Susanto sedang sakit dan belum pulih, dia tetap ingin memberitahu bahwa menjadi seorang pemalas tetap salah. Apalagi pemalas yang suka memanfaatkan orang lain.


Susanto mengangguk. Dia paham akan hal itu dan berjanji akan mulai merubah kebiasaan buruknya tersebut.

__ADS_1


"Dan soal uang yang 500 juta itu, Om tidak perlu mengembalikannya. Lagi pula uang itu bukankah sudah tidak berada di tangan Om lagi? Jadi, jangan pikirkan soal uang itu," lanjut Tama.


"Terima kasih, Tama. Om janji, mulai sekarang Om akan berubah. Setelah sembuh nanti Om akan mulai mencari pekerjaan. Om janji akan bekerja keras mulai sekarang. Om janji," ucap Susanto dengan sungguh-sungguh.


"Aku harap kamu bisa membuktikan kata-katamu itu!" balas Tama.


"Tante, Om, karena sekarang sudah lewat tengah malam, kalian istirahatlah lagi. Besok aku akan jenguk Om ke sini," pamit Kinara.


"Nara," panggil Tante Reni.


"Iya, Tante," jawab Kinara.


"Kamu sakit? Kenapa kamu duduk di kursi roda? Maafkan Tante karena baru menyadari keadaanmu," ucap Tante Reni. Dia merasa bersalah karena lagi-lagi dia tidak perhatian terhadap keponakannya tersebut.


"Tidak kok, Tante. Aku tidak sakit. Mas Tamanya saja yang lebay."


"Tama tidak mungkin menyuruhmu menggunakan kursi roda kalau kamu tidak sakit. Maafin Tante dan Om-mu ya, meski dalam keadaan sakit. Kamu masih harus repot mengurus kami," ucap Tante Reni lagi. "Kami memang selalu menyusahkanmu." Tante Reni menunduk malu.


"Tidak, Tante. Aku beneran tidak sakit kok."


"Benarkah?" Tante Reni masih tidak percaya.

__ADS_1


Kinara mengangguk. "Aku tidak sakit, Tante. Hanya saja.... " Kinara mengusap perutnya masih datar sambil tersenyum.


"Kamu hamil?" potong Tante Reni.


"Iya, Tante, baru 3 minggu," jawab Kinara.


"Alhamdulillah. Tante ikut senang mendengarnya." Tante Reni mengulurkan tangannya untuk mengusap perut Kinara.


"Hallo calon cucu, Nenek. Kamu baik-baik ya di perut mama kamu. Jangan nyusahin mama kamu karena sejak kecil, nenekmu ini sudah sering nyusahin dia. Kelak nenek pasti akan ikut merawat kalian dengan baik," ucap Tante Reni.


"Astaga, pasti kamu harusnya bedrest. Tapi, gara-gara Om dan Tante kamu jadi harus begadang begini. Maafin kami ya, Nara. Kami memang selalu menyusahkanmu." Tante Reni kembali merasa bersalah.


"Tidak kok, Tan. Dokter bilang kandunganku baik-baik saja. Mas Tamanya saja yang lebay, masa dari kamar sebelah ke sini, aku harus menggunakan kurai roda?" Kinara mencebik.


"Itu karena dia sangat mencintai kamu. Makanya dia protektif," cicit Tante Reni.


"Tuh, denger! Aku nggak salah kan berbuat seperti ini," sahut Tama.


"Aish." Kinara mendesis.


"Selamat malam, ini sudah waktunya pasien istirahat. Jadi, kembalilah ke kamar mas... sing-masing." Perawat yang baru saja datang itu tidak melanjutkan perkataannya.

__ADS_1


Sementara Kinara, berusaha menutup wajahnya dengan telapak tangan.


__ADS_2