Sebatas Ibu Sambung

Sebatas Ibu Sambung
Bab 36


__ADS_3

Akhirnya Tama bersama dengan Kinara dan kedua putranya tiba di rumah. Ketika sampai ternyata kedua orang tua Tama (Rangga dan Bintang) sudah menunggu kepulangan mereka di depan rumah, termasuk om, tante, dan sepupu-sepupu Taki dan Maki.


"Selamat datang cucu grandma." Bintang menyambut hangat kedua cucu kembarnya.


"Grandma." Taki dan Maki menghambur ke pelukan Bintang.


"Maaf ya karena grandma dan grandpa nggak datang jengukin kamu kemarin. Kebetulan kemarin Grandma menemani Grandpa keluar kota dan saat kami tahu, hari sudah terlalu larut. Tadinya kami mau jenguk kalian di rumah sakit hari ini, tapi karena dokter sudah memberitahu kami dan katanya kalian sudah diizinkan pulang, makanya Grandma dan grandpa memilih menyambut kalian di rumah. Tidak apa-apa kan kami tidak datang ke rumah sakit?" Bintang memberitahu alasan kenapa kemarin dia tidak langsung datang menjenguk.


"Tidak apa-apa, Mom. Tama ngerti kok, Taki dan Maki juga pasti ngerti. Iya kan sayang?" Tama menatap kedua putranya.


"Iya, Grandma. Tidak apa-apa, lagian sekarang kami juga sudah sembuh dan sudah pulang ke rumah," balas Taki.


"Terima kasih cucu-cucu, Grandma." Bintang mencium pipi kedua cucunya bergantian.


"Taki, Maki, Om dan Tante Dira juga minta maaf ya karena baru datang." Kini giliran Keenan yang ikut meminta maaf kepada dua ponakanya.


"Tante Mikha dan Om Dion juga minta maaf ya," Mikha juga ikut meminta maaf.


"Kenapa semua jadi minta maaf? Ini kan belum lebaran," celetuk Maki.


"Ya sudah Mom, Dad, dan yang lainya kita masuk saja kasihan Taki dan Maki kalau harus terus berdiri. Mereka masih harus beristirahat!" ajak Tama.


"Maaf, kami lupa," jawab Bintang. "Ayo sayang grandma gendong!"


Bintang menggendong Taki, sedangkan Rangga menggendong Maki. Semua orang kemudian masuk ke dalam rumah.


"Bik Sum tolong bawakan minuman dan camilan kesini!" suruh Tama kepada pembantunya.


"Iya, Tuan. Sebentar," jawab Bik Sumi dari dapur.


"Ohya Tama, apa Dewi sudah datang menjenguk?" tanya Bintang.


"Sudah tadi, Mom. Tapi, beliau langsung pulang," jawab Tama.


"Dia tidak menyalahkanmu atas insiden ini kan?" tanya Bintang lagi.


Bintang tahu sejak kematian Kiara hal apapun yang menimpa Taki dan Maki, meskipun itu bukan kesalahan Tama, Dewi selalu menyalahkanya.


Tama bergeming.


"Qilla, bawa Marvel dan sepupu-sepupumu ke kamar si kembar ya! Biar Taki dan Maki juga bisa sekalian beristirahat!" Mikha berinisiatif menyuruh putri sulungnya membawa sepupu-sepupunya ke kamar Taki dan Maki.


"Iya, Mom," jawab Qilla. "Ayo!" ajak Qilla pada adik dan sepupu-sepupunya.


Anak-anak itu pun naik ke lantai dua menuju ke kamar Taki dan Maki.


"Mbak Mirna, tolong temani anak-anak di kamar ya!" pinta Mikha lagi pada pengasuh Taki dan Maki.


"Iya, Nyonya Mikha." Mirna ikut ke lantai dua menyusul anak-anak. Dia sedikit kesal karena gara-gara disuruh mengawasi anak-anak, dia jadi tidak bisa menguping.


"Aku yakin Tante Dewi menyalahkan istrimu kan?" tebak Mikha begitu anak-anak sudah tidak ada di sana.


Tama mengangguk.


"Sudah kuduga, sejak Kiara meninggal kelakuan Tante Dewi semakin menjadi-jadi, dia seolah lupa bahwa kematian adalah takdir yang sudah ditentukan oleh Tuhan kapan datangnya." Mikha begitu kesal dengan sikap Dewi yang terus menyalahkan saudara kembarnya.


"Nara, pasti ini cukup berat untukmu." Bintang berbicara kepada menantunya.


"Tidak kok, Tante. Saya tidak masalah dengan itu selama Mas Tama percaya sama saya," jawab Kinara.


"Tante?" Bintang cemberut. "Nara, kamu ini istri Tama, menantuku. Masa kamu manggil Mommy ini dengan sebutan Tante. Harusnya kamu juga manggil mommy dengan mommy juga dong sama seperti Tama dan anak-anak mommy yang lain," protes Bintang.


"Apa boleh saya memanggil Tante dengan sebutan itu?" Kinara justru balik bertanya.


"Tentu saja boleh dan harus, karena menantu sama seperti anak sendiri bukan?" jawab Bintang.


Kinara menatap Tama sebentar seolah meminta persetujuan. Setelah mendapat anggukan dari Tama. Kinara pun akhirnya memanggil Bintang dengan sebutan Mommy.


"Mommy, Mommy," panggil Kinara dengan mata berkaca-kaca. Akhirnya setelah dua belas tahun kedua orang tuanya meninggal dia merasa kembali memiliki ibu dan ayah. Apalagi Bintang mendekat ke arahnya dan memeluknya.


"Kalau Tama berbuat jahat sama kamu adukan sama Mommy ya, Mommy pasti akan berada di pihakmu dan marahi dia," ujar Bintang.


"Kalau Tama berani mengangkat tangannya kepadamu, Daddy juga yang akan balik memukulnya," Rangga menimpali.


Kinara mengangguk dan kali ini ia tidak dapat lagi membendung air matanya.

__ADS_1


"Lho kok kamu malah nangis?"


Kinara menggeleng. "Saya hanya terharu karena setelah sekian lama akhirnya saya bisa merasakan kasih sayang seorang ibu dan juga ayah," jawab Kinara sambil mengusap buliran bening yang terus jatuh tanpa bisa dibendung.


"Nara, kamu jangan anggap kami orang lain. Anggaplah kami ini seperti ibu dan ayah kamu. Kalau kamu memiliki masalah apa pun jangan dipendam, ceritakan pada kami. Hm?" tutur Bintang panjang lebar.


Kembali Kinara mengangguk.


"Jangan lupa juga kalau kamu memiliki saudara," Mikha juga ikut menyahut. "Aku, Mas Dion, Dira dan Kee juga saudaramu sekarang," tambahnya.


"Iya, Kak. Benar apa kata Mikha, sekarang kami semua di sini adalah keluargamu. Jika Kakak punya masalah apa pun jangan sungkan untuk meminta bantuan pada kami," cicit Keenan.


"Ohya, apa Tante Dewi mengatakan hal buruk kepadamu? Kalau iya cuekin saja, perempuan tua itu sejak Kiara meninggal memang kelakuanya makin nyebelin. Aku aja kesel ngelihat Tama selalu disalahkan. Herannya si Tama diam saja, nggak ngebalas ataupun membela diri kan aku yang jadi geregetan." Mikha menyampaikan keluhanya tentang Dewi.


"Mikha! Jangan berbicara tidak sopan seperti itu tentang Dewi," tegur Bintang.


"Tapi, Mom. Tante Dewi itu memang sudah keterlaluan. Sampai kapan coba dia mau terus nyalahin Tama atas kematian Kiara, kalau Tama seorang perempuan pasti mentalnya udah kena karena terus-terusan disalahin," ujar Mikha.


"Mikha benar Bintang. Sampai kapan kita harus terus memaklumi Dewi?" Rangga juga sebenarnya tidak tahan dengan kelakuan istri dari sahabat sekaligus mantan asisten pribadinya itu. Kalau tidak ingat semua kebaikan Nando dan tidak ingat Dewi itu perempuan dia pasti sudah memberi pelajaran kepada sahabat dari istrinya itu.


"Mommy tahu, kapan-kapan Mommy akan mengajaknya bicara soal ini," ujar Bintang.


"Tidak usah, Mom. Urusan Mama Dewi, biarlah itu menjadi urusanku. Mommy, Daddy atau siapa pun itu tidak berhak ikut campur," pungkas Tama.


"Tapi, Tam.... " Mikha rasanya sebal dengan sikap Tama yang selalu mengalah dengan mantan mertuanya ini.


"Terutama kamu, Mikha. Jangan mencampuri urusanku!" Tama menatap sinis saudara kembarnya.


"Terserah kamu deh. Aku nggak akan ikut campur," jawab Mikha. Dia benar-benar dongkol dengan sikap lembek Tama bila menyangkut keluarga almarhum Kiara.


Dion menepuk pundak istrinya sambil menggeleng. Mikha hanya menghela napas panjang dan tidak lagi mengatakan apa pun.


"E... silakan diminum, pasti Mommy dan yang lainya haus." Kinara mencoba mengurai ketegangan yang terjadi dengan mempersilakan semua yang datang untuk minum.


Setelah itu tidak ada lagi pembicaraan tentang Dewi. Mereka semua membicarakan tentang hal lain seperti pekerjaan, pendidikan, dan hal-hal lain yang bisa mereka bahas.


Akhirnya Bintang dan yang lainya berpamitan untuk pulang. Tapi, sebelum pulang Rangga mengajak Tama untuk berbicara empat mata denganya.


"Sampai kapan kamu akan terus menghukum dirimu atas kematian Kiara dan diam dengan sikap mertuamu itu?" tanya Rangga.


"Tama! Kematian Kiara bukan karena kesalahanmu, itu takdir. Kita sudah melakukan yang terbaik yang bisa kita lakukan sebelum dia meninggal. Jadi, jangan terlalu keras pada dirimu sendiri." Rangga memberikan nasehat.


"Tapi... Kiara mungkin masih hidup kalau dia mau menggugurkan kandunganya. Dia mempertahankan kandunganya demi diriku."


"Kalau kamu menyesal dengan keputusan Kiara mempertahankan kandunganya, itu berarti kamu juga menyesal akan kehadiran dua malaikat kecilmu, begitu?"


"Tentu saja tidak, Dad. Kehadiran mereka menjadi sumber cahaya dalam hidupku. Aku tidak mungkin menyesal atas hadirnya mereka di dunia ini," sanggah Tama.


"Tapi, sikapmu yang terus menyalahkan diri sendiri seolah berkata sebaliknya. Jika kamu bersyukur dengan kehadiran mereka, maka kamu akan melangkah maju bukan terus meratapi kematian Kiara dan hidup di masa lalu."


Tama kembali diam.


Rangga menghela napas berat. "Daddy tidak mau ikut campur dengan masalahmu dengan Dewi, tapi... jangan kamu libatkan Kinara. Dia berhak bahagia dan sebagai suami kamu wajib menguasahakan kebahagiaan untuk istrimu, meski Daddy tahu kalian menikah karena sebuah kesepakatan."


Tama mendelik. Dia tidak percaya kalau sang ayah mengetahui hal ini. Padahal dia tidak pernah cerita tentang kesepakatan dirinya dengan Kinara.


"Daddy pulang dulu. Ingat pesan Daddy jangan terlalu keras pada diri sendiri!" Setelah mengatakan itu Rangga pergi meninggalkan putranya.


**


"Dadah." Taki dan Maki melambaikan tangan saat mobil yang membawa nenek, kakek, tante, om, dan sepupu-sepunya mulai melaju meninggalkan halaman rumah.


"Ingat ya Nara, kapan-kapan ajak Taki dan Maki main ke tempat Mommy," teriak Bintang dari dalam mobil yang mulai menjauh.


"Iya, Mom," jawab Kinara yang juga dengan berteriak.


Kinara begitu bahagia karena ternyata keluarga besar Tama menyukainya. Tadinya dia pikir mertua dan saudara iparnya itu tidak akan menyukai dirinya karena mereka dari keluarga miskin yang tentu tidak sederajat dengan keluarga besar Wijaya. Namun, ternyata Keluarga Wijaya tidak pernah memandang orang dari status sosialnya.


Dari perbincangan dengan seluruh keluarganya tadi Kinara juga baru tahu kalau ternyata pernikahan ayah dan ibu mertuanya berawal dari sebuah kontrak pernikahan. Dan hal tersebut membuat Kinara semakin yakin untuk berjuang mendapatkan cinta Tama. Meski sulit, ia yakin tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini selama ia mau berusaha dan berdoa.


**


"Kenapa kamu senyum-senyum sendiri?" tanya Tama ketika melihat Kinara terus tersenyum.


Setelah semua keluarganya pulang, Kinara membawa kedua anaknya ke kamar untuk beristirahat setelah keduanya tidur ia kemudian masuk ke kamarnya. Saat itu Tama sedang sibuk dengan laptop di pangkuanya. Kinara mendaratkan bokongnya di sebelah Tama sambil terus tersenyum.

__ADS_1


"Tidak apa-apa. Aku hanya senang karena berkat kamu aku bisa memiliki ayah dan ibu," jawab Kinara.


"Kamu?"


"Kenapa?" Kinara balik tanya.


"Hei, sekarang kita ini sedang berdua. Jadi, kamu harus ingat posisimu," jawab Tama.


"Justru karena aku ingat posisiku makanya mulai sekarang aku tidak akan lagi berbicara formal kepadamu kecuali saat di kantor," balas Kinara.


"Ckck." Tama hanya berdecak.


"Aku tidur dulu ya suamiku, selamat malam."


"Hei!" Tama mendelik.


"Kenapa? Kamu kan memang suamiku," ujar Kinara sambil mengerlingkan mata.


"I love you."


Lagi. Tama mendelik. "Dasar tidak waras!" umpatnya.


Kinara tidak peduli dengan umpatan sang suami. Dia tetap tersenyum kemudian menarik selimut lalu tidur.


***


Keesokan harinya....


Tama menyuruh Kinara dan Mirna datang menemuinya di ruang kerja. Ia juga meminta Bik Sum untuk menemani Taki dan Maki di kamarnya.


"Ada apa ya, Pak, Bapak menyuruh saya ke sini?" tanya Mirna.


"Kamu mau bicara denganku, Mas?" tanya Kinara.


Tama masih merasa canggung dengan sikap manis Kinara.


"Iya, aku ingin membahas soal insiden yang terjadi pada Taki dan Maki beberapa hari yang lalu," jawab Tama.


Gleg.


Mirna menelan ludahnya. Ia kira masalah soal bekal makanan itu sudah dilupakan oleh majikanya. Tapi ternyata tidak.


"Aku tidak ingin menuduh, aku ingin siapa pun orang yang sudah memasukan obat pencuci perut ke bekal milik Taki dan Maki segera mengakui kesalahanya." Tama memberikan tatapan tajamnya kepada Kinara dan Mirna.


"Mas, ku kira kamu percaya kalau bukan aku pelakunya. Tapi ternyata.... "


"Aku hanya ingin memberikan keadilan pada kedua putraku yang sudah menjadi korban. Apa itu salah?" potong Tama.


"Baiklah kamu benar, Mas. Aku juga ingin keadilan buat mereka," balas Kinara.


"Bekal itu disiapkan olehmu kan, Nara?" tanya Tama dengan sorot mata mengintimidasi.


"Iya, benar. Aku tidak akan mengelak itu karena memang aku yang membuat bekal tersebut," jawab Kinara.


"Mirna kamu yakin tidak ada makanan lain yang Taki dan Maki makan di hari itu?" kini giliran Mirna yang mendapat pertanyaan.


"Yakin, Pak. Mereka hanya makan bekal dari Nyonya. Kalau Pak Tama tidak percaya Pak Tama bisa bertanya sama mereka," jawab Mirna. Dia berusaha untuk bersikap tenang.


"Baiklah, kalau begitu aku tahu siapa yang bersalah dalam hal ini," ucap Rangga.


Mirna cukup senang mendengar perkataan Tama barusan. Bukankah itu berarti bahwa tuanya itu percaya bahwa penyebab Taki dan Maki masuk ke rumah sakit karena bekal yang dibuat oleh Kinara?


"Aku yakin, kali ini Pak Tama akan mengusir Nyonya Nara. Akhirnya kesempatan untuk mendekati Pak Tama terbuka lebar. Aku tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini." Mirna membatin.


"Aku benar-benar kecewa. Aku kira kamu menyayangi Taki dan Maki dengan tulus, tapi ternyata kamu tega mencelakainya." Tama kembali membuka mulut.


"Mas, tapi aku banar-benar menyayangi mereka," sahut Kinara.


"Kalau Nyonya menyayangi mereka nggak mungkinlah Taki dan Maki dirawat di rumah sakit kemarin. Ngaku saja, Nyonya cuma pura-pura sayang sama mereka." Mirna kembali memprovokasi.


"Ku kira kamu akan menyadari kesalahanmu, tapi ternyata aku salah. Kamu malah semakin menjadi-jadi. Maaf karena sepertinya aku harus mengusirmu dari sini."


Mata Mirna berbinar. "Iya, Pak usir saja. Ngapain istri seperti itu dipertahanin!"


"Mas.... " lirih Kinara dia tidak percaya kalau Tama akan mengusirnya.

__ADS_1


__ADS_2