
"Jadi, kamu nggak nganggap aku nyonya rumah ini?" tanya Kinara dengan tatapan mengintimidasi. "Pantas ya kamu selalu bersikap tidak hormat kepadaku dan lebih terkesan kurang ajar. Jadi, karena kamu nggak pernah nganggap aku ini nyonya rumah. Begitu?"
Awalnya Mirna diam saja, tapi beberapa detik kemudian mulai menjawab dengan nada mengejek. "Kan sampai sekarang memang benar kalau Tuan Tama juga nggak pernah nganggap kamu ini istri. Dia itu cuma menganggap kamu ini hanya sebatas ibu sambung dari Den Taki dan Den Maki. Aku denger kok waktu Pak Tama mengatakan hal itu."
"Wah, jadi selama ini kamu suka nguping pembicaraan kami? Hah?"
Mirna melengos.
"Bener-bener ya pengasuh nggak tahu diri!" Kinara menghela napas sebentar. Kemudian dia kembali menatap sinis Mirna. "Anggaplah semua yang kamu katakan tadi bener. Tapi, memang kamu bisa menyangkal kalau baik secara agama maupun secara negara Mas Tama sudah menikah denganku? Nggak kan? Lagian yang tahu bagaiman hubungan kami berdua ya kami berdua yang tahu. Orang luar sepertimu nggak akan pernah tahu apa-apa."
"Halah! Buat apa tercatat sebagai istri toh sampai sekarang aku yakin kok kalau kamu masih perawan karena Pak Tama belum sekalipun menyentuh kamu? Burung Pak Tama belum pernah nancep di sarang kamu." ungkap Mirna dengan tatapan mengejek. "Gitu saja kok bangga!"
Bukan hanya Kinara yang melongo mendengar perkataan Mirna yang semakin kurang ajar, Bik Sumi juga melongo mendengarnya.
Ingin sekali Kinara maki-maki Mirna yang semakin tidak tahu diri ini. Tapi, sayang dia tidak dapat berkata apa-apa karena semua yang pengasuh itu katakan benar.
"Denger ya sekalipun Mas Tama bener belum nganggap aku ini istrinya. Aku bisa meminta dia memecatmu sekarang juga."
Mendengar kata 'memecatmu' membuat Mirna gelapan. Dia takut kalau Kinara benar-benar akan meminta Tama untuk memecatnya sekarang juga. Mau tinggal mana dia? Belum lagi gimana dia bisa ngirim uang untuk anak semata wayangnya di kampung.
"To... tolong jangan pecat saya." Kepongahan yang sempat ditunjukan di hadapan Kinara tadi runtuh seketika. Soal itu dia juga sadar, Tama masih mempertahankan dia di sini dan membiarkanya tetap menjadi pengasuh Taki dan Maki salah satunya juga karena Kinara yang ikut membujuk Tuannya tersebut untuk mempertahankanya setidaknya sampai pengasuh baru datang.
"Ternyata kamu masih punya rasa takut juga ya?" ejek Kinara. "Tenang saja aku masih punya belas kasih sama kamu. Lagi pula aku bukan tipe orang yang suka memanfaatkan kekuasaan."
__ADS_1
Mirna bernapas lega. Namun kelegaan itu tak berlangsung lama saat Tama tiba-tiba datang dan menanyakan hal yang terjadi.
"Ada apa ini? Kenapa tadi aku denger suara ribut-ribut?" tanya Tama yang sudah berdiri diantara mereka. Dia menatap mereka satu per satu.
"Mirna bisa kamu jelaskan ada apa ini!" tanya Tama kepada pengasuh anaknya itu.
Mirna tidak berani menjawab.
"Bik Sumi! Bik Sumi pasti tahu kan hal apa yang sebenarnya terjadi di sini, jelaskan padaku ada apa!" titah Tama kepada wanita paling tua diantara mereka bertiga itu.
Bik Sumi menatap Kinara dan Mirna untuk meminta persetujuan. Mirna menggeleng pelan, sementara Kinara tidak memberikan respon apa pun.
"Bik Sumi, tolong ceritakan saja! Jangan takut!" pinta Tama.
"Sudah Bik Sum, Bibik tolong taruh saja makanan yang udah jadi di atas meja!" potong Kinara. "Aku mau mandi dulu."
Kinara langsung melanggang pergi dari dapur.
"Baik, Nyonya," jawab Bik Sumi. "Permisi, Tuan!" Bik Sumi mulai membawa satu persatu makanan yang sudah matang itu ke atas meja makan.
Tama segera mengikuti Kinara yang ternyata masuk ke dalam kamar.
"Ada apa? Apa yang Mirna katakan!" tanya Tama kepada Kinara.
__ADS_1
"Tidak penting. Lagian, semua yang dikatakan Mirna itu benar kok," jawab Kinara. Dia duduk di tepian ranjang sambil menatap lurus ke depan.
"Apa yang dia katakan?"
"Dia bilang kalau kamu hanya menganggapku sebatas ibu sambung untuk anak-anakmu. Kamu tidak pernah menganggapku istri. Jangankan menganggapku istri, memikirkanku saja tidak pernah kan?" Kinara tersenyum getir.
"Kamu kan memang ibu sambung buat kedua anakku."
"Iya, aku tahu. Tidak usah diingatkan karena Mirna sudah mengatakanya tadi," sahut Kinara dengan wajah kesal.
"Aku memang belum bisa menganggap dan memperlakukanmu sebagai seorang istri sekarang, tapi bukan berarti aku tidak pernah memikirkanmu."
Kinara menoleh, menatap wajah suaminya. "Jadi... kamu memikirkan aku, Mas?" tanya Kinara dengan mata berbinar.
Tama tidak menjawab.
"Mas? Kamu benar-benar pernah memikirkan aku?" tanya Kinara lagi.
Tama masih bungkam.
Kinara bangkit dari posisinya dan berdiri tepat di sebelah kanan suaminya. "Mas, jawab! Benar kamu pernah memikirkan aku? Jawab, Mas! Ayo jawab!" rengek Kinara.
Wajah kesal Kinara seketika luntur. Dia terus menggoyang-goyangkan lengan Tama dan meminta pria itu menjawab pertanyaanya.
__ADS_1