Sebatas Ibu Sambung

Sebatas Ibu Sambung
Bab 66


__ADS_3

Malam harinya Tama dan Kinara sengaja mengadakan makan malam bersama keluarga kecil mereka. Meski disiapkan secara dadakan tak mengurangi kebahagiaan yang mereka rasakan.


Iya, untuk pertama kalinya Tama menunjukan kepedulian dan rasa cintanya kepada Kinara tanpa embel-embel demi anak-anak. Semua ia lakukan dengan tulus dan tanpa paksaan demi melihat wajah bahagia Kinara.


"Mau mencoba ini?" tanya Tama sambil menunjuk steak miliknya.


"Aku juga punya, Mas. Nih sama saja kan?" jawab Kinara yang juga menunjuk steak miliknya yang juga masih utuh.


"Beda lah," ujar Tama.


"Apanya yang beda? Kan sama-sama steak daging dan bikinan resto kalau Mas lupa." Kinara mencebik.


"Tetap bedalah. Yang ini sudah dibumbui dengan cinta. Coba saja kalau kamu tidak percaya." Tama menyuapkan steak ke dalam mulut Kinara.


"Aku baru tahu kalau kamu suka ngegombal, Mas. Ku kira kamu cowok dingin yang tidak suka ngegombal."


"Aku hanya bisa mengucapkan kata-kata manis di hadapan wanita yang aku cintai."


"Benarkah?"


"Tentu saja benar. Mulai sekarang aku tidak akan segan untuk menunjukan perasaan cintaku padamu. Jadi bersiaplah!" Tama berujar.


"Akan aku tunggu. Aku mau lihat bagaimana suamiku yang biasanya bersikap dingin dan kaku ini menunjukan perasaan cintanya," balas Kinara.


"Papa dan Mama dari tadi bicara apa sih Maki nggak ngerti?" tanya Maki. Dia menatap kedua orang tuanya dengan polos.


"Mereka itu sedang sayangan-sayangan, Maki. Masa gitu aja nggak ngerti sih," sahut Taki.


"Tapi di drama yang ditonton Mbak Mirna kalau orang dewasa saling cinta pasti ada adegan kissing. Kenapa Mama dan Papa tidak melakukan itu?"


Perkataan Maki barusan sontak membuat Tama dan Kinara tersedak.


"Maki, ingat ya mulai sekarang kamu dilarang nonton drama seperti itu! Tontonan itu belum waktunya kamu tonton! Kamu juga Taki belum boleh nonton drama atau film yang seperti itu! Ngerti!" Tama memberi peringatan kepada kepada kedua putranya.


"Tenang, Pa. Aku lebih suka film action," jawab Taki.


"Film action pun belum saatnya kamu tonton. Lebih baik kalian cari film yang seusia kalian saja. Kayak kartun yang botak kembar itu kek atau apa saja. Yang pasti harus sesuai dengan usia kalian. Mengerti!"


"Iya, Pa," jawab Taki dan Maki.


"Dan kamu Nara mulai sekarang awasi tontonan mereka!" Kinara pun ikut mendapat peringatan.


"Iya, Mas," jawab Kinara. "Baru beberapa detik yang lalu jadi suami romantis, eh sekarang udah marah-marah lagi. Memang watak tidak bisa dirubah." Kinara menggerutu.


"Aku mendengarnya," sahut Tama.


"Sengaja biar kamu mendengar," balas Kinara.


Keempat orang itu pun kembali menikmati makan malam mereka di selingi tawa.

__ADS_1


Pukul sepuluh malam acara berakhir. Anak-anak tertidur setelah Kinara membacakan cerita. Setelah membetulkan selimut dan memberikan kecupan di kening ia pun keluar dari kamar si kembar.


Kinara masuk ke kamarnya dan saat tiba di sana ia melihat Tama masih duduk sambil membaca buku di atas ranjang.


"Anak-anak sudah tidur, Sayang?" tanya Tama sambil menutup buku yang barusan ia baca.


"Sudah. Mereka tidur setelah aku membacakan dua buku cerita," jawab Kinara. Dia duduk di depan meja rias untuk melepas kalung yang dipakainya. Hal yang biasa ia lakukan sebelum tidur.


Kinara kaget ketika Tama tiba-tiba memeluknya dari belakang dan menyandarkan dagu di bahunya.


"Kamu cantik," puji Tama sambil menatap pantulan wajah Kinara di cermin.


"Baru tahu? Aku dari dulu memang sudah cantik, Mas. Kamu saja yang baru sadar," jawab Kinara.


"Hm... Kamu benar. Seharusnya aku sadar sejak dulu." Tama memberikan kecupan di ceruk leher Kinara.


"Mas geli." ucap Kinara.


Tama menuntun istrinya untuk berdiri. Memutar tubuh Kinara agar menghadap ke arahnya.


"Aku mencintaimu, Nara."


"Aku tahu. Aku juga mencintaimu," balas Kinara.


Tama menarik tubuh pinggang Kinara dan membuat tubuh mereka menempel. Perlahan dia memangkas jarak wajah keduanya. Sedikit memiringkan kepala agar bisa mendaratkan bibirnya dengan sempurna di atas bibir Kinara.


Tama mulai menggerakan bibirnya. Menyesap dan ******* bibir pink milik Kinara dengan rakus. Kinara yang awalnya diam mulai mengikuti insting. Kedua tanganya melingkar di leher Tama dengan bibir yang ikut menari-menari. Ciuman yang awalnya biasa saja tersebut berubah menjadi ciuman panas. Hal itu membuat gairah keduanya membuncah.


Kinara mengangguk. "Lakukan saja, Mas. Jadikan aku milikmu seutuhnya," jawab Kinara.


Keduanya kembali menempelkan bibir mereka. Lidah keduanya menelusup masuk kedalam mulut dan mulai mengabsen isi didalam sana.


Tanpa sadar sebuah lenguhan lolos begitu saja dari bibir Kinara dan itu membuat Tama semakin di bakar gairah. Sekarang tidak hanya bibir Tama yang bergerak kedua tangan Tama pun mulai aktif dan membuka satu per satu kancing baju yang istrinya itu kenakan. Hal yang sama pun dilakukan oleh Kinara. Dia juga mulai membuka kancing piyama yang Tama kenakan. Kini tubuh bagian atas keduanya sudah terbuka.


Wajah Kinara memerah saat Tama menatap tubuh bagian atas Kinara yang masih tertup kain bertali itu.


"Mas, jangan menatapku seperti itu. Aku malu," ucap Kinara sambil menggigit bawahnya.


"Kenapa harus malu, bukankah selama ini kamu selalu mencoba merayuku?" Tama mengerlingkan matanya.


"Saat itu aku tahu kamu tidak akan tertarik makanya aku tidak malu," jawab Tama.


"Kata siapa aku tidak tertarik? Aku hanya menahannya. Tapi sekarang aku tidak akan menahannya lagi." Tama menyeringai nakal.


Tama mendudukan Kinara di atas meja rias, menatap wajah malu-malu Kinara yang membuatnya gemas.


"Melihatmu aku jadi haus," ujar Tama.


"Kamu haus? Mau aku ambilkan minum?" Kinara menawarkan.

__ADS_1


Tama menggeleng.


"Aku ingin minum di wadahnya," jawab Tama dengan kilatan gairah.


"Maksud kamu?"


Tama menunjuk gundukan kembar yang masih tertutup itu dengan telunjuknya. Benda yang dari tadi membuatnya sudah tidak sabar ingin melahapnya.


"Dasar mesum."


"Mesum sama istri sendiri tidak dilarang sayang bahkan malah dianjurkan," jawab Tama. Kedunya kemudian terkekeh.


"Sayang, boleh kan?" tanya Tama sambil melirik dua gundukan itu.


Kinara mengangguk. "Lakukan apa pun terhadapnya. Karena aku adalah milikmu," jawab Kinara. Dia meraih kedua tangan Tama dan menaruhnya di sana.


"Lakukan sesukamu, Mas!"


Suami istri yang sedang dilanda kabut gairah itu pun melanjutkan aksi mereka untuk memberikan rangsangan sebelum keduanya benar-benar melakukan penyatuan.


Tama tersenyum senang saat Kinara mendapatkan pelepasan pertamanya.


"Bagaimana? Enak?" Kinara mengangguk malu.


"Aku akan memberimu yang lebih enak lagi." Dia pun kembali melanjutkan aksinya.


Kini keduanya sudah sama-sama polos. Dan Tama segera membawa istrinya untuk berbaring di atas ranjang. Penyatuan itu pun dimulai. Namun, saat benda itu baru masuk sebagian, pintu kamar mereka diketuk dari luar.


"Ma, Pa, buka pintunya!" teriak si kembar dari luar.


"Mas, kita tunda dulu ya? Anak-anak memanggil kita," ucap Kinara.


"Tapi, Sayang ini tanggung."


"Tapi, anak-anak sudah di depan pintu kalau tidak segera dibukakan, mereka pasti akan bikin kegaduhan. Nanti kalau mereka sudah tidur kembali, kita lanjutkan lagi. Oke," bujuk Kinara.


"Ma, Pa, kalian sedang apa? Buka pintunya! Kami mau bobo bareng Mama."


"Mas. Plis!"


Terpaksa Tama mengakhiri kegitan yang belum selesai itu. Dia dan Kinara segera memakai pakaian mereka kembali. Setelah itu Kinara pun membuka pintu untuk kedua anaknya.


"Ada apa?" tanya Kinara kepada kedua putranya.


"Kami mah bobo bareng mama dan papa," jawab Taki dan Maki.


Tanpa merasa berdosa kedua bocah kembar itu naik ke atas ranjang dan tidur di sana.


"Sayang.... " rengek Tama.

__ADS_1


"Maaf ya," ucap Kinara sambil terkekeh. Ia ikut naik ke atas ranjang dan tidur diantara Taki dan Maki.


"Terpaksa aku harus menidurkanya sendiri." Tama menghela napasnya.


__ADS_2