
"Mas, bener ini rumahnya?" tanya Reni kepada Sang Suami.
Susanto melihat ke arah kertas yang ia pegang. Kertas itu adalah alamat rumah Reno yang diberikan oleh tetangganya pagi tadi.
"Kalau yang tertera di sini sih iya, Ren. Tuh, nomor rumahnya sama kan?" jawab Susanto sambil menunjuk nomor rumah yang mereka datangi saat ini.
"Kalian yakin, nggak? Jangan-jangan ntar kita salah masuk ke rumah orang lain lagi?" Mirna yang ikut sertapun ikut bertanya untuk memastikan. Pasalnya ini sudah rumah ketiga yang mereka bertiga datangi.
"Kali ini pasti bener," jawab Susanto dengan percaya diri.
"Beneran, Mas, ini rumahnya? Kamu gak salah kayak tadi kan?" Reni pun ikut bertanya kembali.
"Kali ini percaya deh, ini pasti bener. Kan tadi tetangga juga bilang kalau rumahnya berwarna putih dengan pagar warna coklat. Nah, ini rumahnya warna putih dan pagarnya juga berwarna coklat. Pas kan?" jawab Susanto.
"Tapi, Mas. Gak hanya rumah ini saja yang berwarna putih, pagarnya coklat. Tuh rumah di sebelah rumah ini juga sama, sebelahnya lagi juga sama. Yang bener yang mana nih, Mas?" tanya Reni.
Susanto yang awalnya begitu percaya diri bahwa rumah itu adalah rumah milik Reno. Kini ikutan bimbang setelah melihat rumah-rumah yang ditunjuk oleh istrinya. Ternyata hampir seluruh rumah yang ada di kompleks ini berwarna sama. "Kalau gini gimana nyarinya ya," gumam Susanto.
Kemudian Susanto kembali mengingat-ingat informasi yang diperoleh dari tetangganya pagi tadi.
"Warna kompleks perumahan di sana memang rata-rata putih coklat, tapi, yang membedakan di depan rumah si Reno ada mobil sport warna merah. Katanya itu mobilnya si Reno. Dari yang saya denger, dia baru membuka cabang hotel bintang 5 di Jakarta setelah sebelumnya dia memiliki hotel yang cukup besar di luar negeri tempat ayahnya menjadi seorang konsulat."
Susanto kembali melongok di teras depan rumah tersebut dari balik pagar dan akhirnya dia melihat mobil warna merah itu.
"Ini memang benar rumahnya si Reno, Ren. Lihat itu mobil mewahnya si Reno," ujar Susanto penuh keyakinan setelah melihat sebuah mobil mewah berwarna merah terparkir di sana.
"Ren, Ren, itu si Reno!" tunjuk Susanto saat melihat pemuda yang dikenalinya sebagai Reno itu baru saja keluar dari dalam rumah.
"Cepet tekan belnya!" seru Reni.
Mirna ikut gelagapan mencari bel yang biasanya terpasang di samping pagar. "Belnya mana sih? Ini nih kalau buru-buru," keluh pengasuh yang berstatus janda beranak satu itu.
"Itu di depan kamu apa, Mir? Makanya kalau punya mata tuh dipakai," oceh Reni.
__ADS_1
Mirna akhirnya menekan bel yang berada tepat di samping kanan pagar. Tidak lama seorang satpam datang membuka pintu. Sebenarnya dia membuka pintu bukan untuk rombongan Susanto cs, tetapi untuk mobil Reno. Pemuda yang memiliki umur 3 tahun dari Kinara itu sudah duduk di belakang kemudi.
"Eh, kalian siapa? Sana minggir Bos saya mau lewat!" usir Sang Satpam yang baru menggeser pintu pagar.
"Kami mau ketemu dengan Pak Reno. Penting," jawab Reni buru-buru. Dia tidak mau kehilangan kesempatan untuk berbicara dengan Reno.
"Maaf, Pak Renonya sedang ada urusan," jawab Si Satpam sambil berusaha menghalau Reni dan Mirna yang ingin menerobos masuk.
Reno menurunkan kaca mobil dan melongok ke arah satpam. "Ada apa, Pak?" tanyanya.
"Gak ada apa-apa, Pak. Biasa tamu tak diundang," jawab Si Satpam. Reno kembali menutup kaca mobilnya.
"Gimana sih, Pak. Saya kan sudah bilang mau bertemu dengan Pak Reno. Kenapa malah jawab nggak ada apa-apa," omel Reni. "Dasar satpam gak ada ahklak!"
"Pak Renonya sedang sibuk. Sudah sana minggir!" Si Satpam malah mengusir Reni dan yang lainya. Dia menghalagi Reni dan Mirna yang ingin menerobos masuk ke halaman.
Reno yang memang merasa tidak memiliki kepentingan dengan orang-orang itu pun mulai melajukan mobilnya.
Namun, tiba-tiba Susanto sudah berdiri di depan mobil tersebut dengan kedua tangan yang direntangkan. Beruntung, Reno berhasil menginjak rem tepat waktu.
Susanto tak mau kehilangan kesempatan, dia langsung menghampiri mobil Reno tersebut.
"Nak Reno, Nak Reno lupa sama saya dan istri saya?" tanya Susanto. Dia menarik Reni agar lebih dekat denganya.
Mata Reno memicing. Hampir 10 tahun meninggalkan kota Jakarta membuatnya kadang tak mengenali siapapun lagi.
"Kami, kami ini om dan tantenya Kinara," Susanto memberitahu.
Reno memindai wajah dua orang yang saat inu berdiri di hadapannya. "Kalian ternyata," desis Reno.
"Iya, Nak Reno. Ini kami. Ada yang ingin kami bicarakan soal Kinara," ucap Susanto. Dia menjawil lengan istrinya untuk memintanya berbicara.
"Maaf, aku sibuk. Lain kali saja kita bicara," tolak Reno.
__ADS_1
"Tapi, Nak Reno. Kami benar-benar harus bicara dengan Nak Reno. Ini demi Nara, kasihan dia." Reni yang sudah terbiasa akting, mulai memasang wajah sedihnya.
Reno menghela napas panjang. "Baiklah, kita bicara sekarang. Tapi, aku nggak bisa lama karena hari ini aku ada pertemuan penting," jawabnya yang akhirnya setuju untuk berbicara dengan Reni.
Reno hanya membawa tamunya duduk di teras rumah. "Silakan bicara!" Reno mempersilakan.
Reni menatap Susanto dan Mirna, setelah dua orang itu mengangguk dia pun mulai membuka suara. "Kinara sudah menikah."
Reno terdiam. Dia tidak percaya, jika kabar pertama yang ia dengar tentang teman kecilnya adalah kabar tentang pernikahanya. Padahal, salah satu alasan Reno kembali ke Indonesia adalah ingin mengungkapkan perasaan cintanya terhadap teman masa kecilnya tersebut.
"Lalu apa hubunganya denganku?" tanya Reno.
"Sebenarnya... sebenarnya dia menikah karena terpaksa." Reni kembali berlagak sedih.
"Maksudnya?"
"Itu karena kesalahan kami. Demi menebus rumahnya dan membayar hutang-hutang kami, Nara rela menikah dengan duda kaya. Dia mengorbankan perasaanya demi kami. Kasihan dia." Reni bercerita sambil tergugu. Tentu saja semua itu adalah air mata palsu.
"Iya, Mas Reno. Kasihan Mbak Nara, dia dinikahi cuma untuk dijadikan pengasuh," sahut Mirna.
"Kamu siapa?" tanya Reno. Dia merasa tidak mengenal wanita yang datang bersma dengan Reni dan Susanto tersebut.
"Perkenalkan nama saya Mirna, saya dulu adalah pengasuh anak dari suami Mbak Kinara. Tapi, karena sudah ada Kinara yang menggantikan saya. Saya dipecat," jawab Mirna dengan ditambahi bumbu kebohongan. "Jujur saya kasihan sama Mbak Kinara, dia dinikahi hanya untuk dijadikan ibu sambung dan pengasuh. Padahal dia masih muda, masih bisa mengejar cita-citanya. Tapi, harus terbelenggu dalam ikatan pernikahan tanpa cinta. Dan asal Anda tahu, sampai sekarang Tuan saya itu bahkan belum pernah sekalipun menyentuh Mbak Kinara."
"Tidak mungkin seorang Tama Wijaya memperlakukan wanita seperti itu," ujar Reno yang masih belum mempercayai cerita dari ketiganya.
"Jadi, kamu sudah tahu kalau suami Kinara itu adalah Tama Wijaya?" tanya Reni memastikan.
"Iya, aku tahu setelah aku tiba di sini. Karena berita pernikahan mereka ditulis di media bisnis," jawab Reno. "Itulah alasan kenapa aku tidak mencarinya. Aku yakin dia hidup bahagia dengan Tama. Karena setahuku Tama adalah tipe laki-laki yang bertanggung jawab dan baik."
Reni dan Mirna saling lirik.
"Itu kan hanya di berita saja. Semua orang juga bisa berbohong di depan media dan saya yakin Pak Tama juga demikian. Buktinya saya dipecat karena dia merasa sudah ada Mbak Kinara yang bisa jagain kedua anaknya," sanggah Mirna. "Kalau kamu tidak percaya, silakan saja datangi rumahnya dan tanyakan pada Kinara apa dia bahagia menikah dengan Pak Tama?"
__ADS_1
Reno menatap Mirna dan yang lainya. Jika semua yang diceritakan oleh Mirna barusan adalah benar, maka dia tidak mungkin diam saja dan membiarkan teman masa kecilnya itu menderita. Apalagi, Reno tahu bagaimana menderitanya Kinara setelah diasuh oleh om dan tantenya itu.