Sebatas Ibu Sambung

Sebatas Ibu Sambung
Bab 71


__ADS_3

Hari ulang tahun Kinara akhirnya berlalu. Meski keadaan yang Kinara rasakan masih sama seperti tahun sebelumnya. Setidaknya di hari itu ia tidak melewatkan hari ulang tahunya seorang diri dengan mengurung diri di kamar dalam kegelapan. Kali ini ada Tama yang selalu menemaninya. Menggenggam tangan dan memeluknya.


Kinara membuka matanya. Kemarin hampir seharian penuh wanita itu menangis dan sekarang ia merasa kedua matanya bengkak. Kinara bangun dari posisinya dan duduk di depan cermin sambil menatap pantulan wajahnya di sana.


"Wajahku kelihatan jelek sekali," ucap Kinara sambil mengamati wajahnya di cermin. Dia kemudian terdiam sambil mengingat kejadian kemarin. Helaan napas berat keluar dari bibir berwarna pink alami itu.


"Taki dan Maki pasti masih ketakutan gara-gara peristiwa kemarin," lirih Kinara. "Apa mereka akan membenciku ya?"


Ceklek!


Pintu kamar terbuka dan itu adalah Tama


"Sudah bangun, Sayang?" tanya Tama sambil berjalan mendekati Kinara. Memeluk tubuh ramping istrinya itu dari belakang lalu mengecup pucuk kepalanya.


"Baru saja," jawab Kinara. "Mas."


"Hm."


"Bagaimana keadaan anak-anak? Apa mereka baik-baik saja?" tanya Kinara. Dia menatap wajah suaminya melalui pantulan cermin.


"Seharusnya aku yang menanyakan hal itu kepadamu. Apa yang kamu rasakan sekarang? Apa kamu baik-baik saja?" Tama balik tanya sambil membalas tatapan Kinara yang juga melalui pantulan cermin.


Kinara tersenyum. Dia kemudian memutar badan menghadap tubuh suaminya. "Ku kira aku sudah melupakan kejadian hari itu. Tapi, ternyata tidak. Kejadian hari itu masih terekam jelas di memoriku dan itu... sangat menyakitkan. Rasanya di sini sangat sesak hingga aku sulit bernapas." Kinara menunjuk dadanya. Matanya berkaca-kaca memperlihatkan kesedihan yang mendalam.


Tama menarik Kinara ke dalam dekapan. Mengusap rambut dan memberikan kecupan ringan di sana. Ia tahu apa yang Kinara rasakan saat ini karena ia pun pernah di posisi itu, terkurung dalam rasa bersalah atas kepergian Kiara.


"Kamu tidak salah, Nara. Kamu tidak bersalah. Bukan kamu penyebab mereka meninggal, bukan kamu."


Air mata kembali meluncur di pipi Kinara yang mulus.

__ADS_1


"Aku juga ingin berpikir seperti itu, Mas. Berpikir bahwa semua yang terjadi di hari itu bukan salahku. Tapi... aku tidak bisa karena nyatanya mereka buru-buru pulang demi bisa meniup lilin bersamaku. Karena aku terus merengek meminta mereka segera pulang. Padahal Tante Reni sudah menyuruhku untuk meniup lilin terlebih dulu dan nanti bisa tiup lilin saat mama-papa pulang. Tapi, aku tetap memaksa. Aku, Mas. Aku penyebab kecelakaan itu terjadi." Kinara mengeluarkan semua yang ia rasakan di hatinya selama ini.


Tama menangkup wajah istrinya dengan kedua tangan. Menatap kedua bola mata berbulu lentik itu dalam.


"Kamu hanya anak kecil berusia sepuluh tahun. Wajar, jika kamu ingin merayakan hari bahagiamu itu bersama kedua orang tuamu. Kedua orang tuamu pun pasti ingin melakukan hal yang sama. Mereka ingin cepat sampai rumah bukan hanya karena rengekanmu. Tapi... karena memang ingin merayakan hari bahagia itu bersamamu, bersama putri mereka satu-satunya. Jadi, jangan salahkan dirimu. Mereka mengalami kecelakaan karena takdir. Itu sudah ketentuan dari Sang Pencipta dan kamu harus ikhlas," tutur Tama. Dia menghapus air mata yang jatuh di pipi Kinara menggunakan ibu jarinya.


"Lepaskan diri kamu dari rasa bersalah itu. Kamu selalu bilang padaku bahwa Kiara pasti akan sedih jika melihatku terus-terusan terbelenggu dengan perasaan bersalahku dulu. Kini kata-kata itu aku kembalikan kepadamu. Mama-papamu pasti akan sangat bersedih melihat putri kesayangan mereka terus hidup dengan perasaan bersalah. Lepaskan beban itu dan hiduplah dengan bahagia." Tama mengecup kening Kinara dengan begutu intens.


Kinara memejamkan kedua matanya. Menikmati hangatnya kasih sayang yang Tama salurkan lewat kecupan itu.


"Aku sudah membuatkanmu janji dengan psikolog. Nanti siang kita akan kesana bersama-sama. Demi aku, demi anak-anak, dan demi dirimu sendiri, kamu harus sembuh dari trautama itu. Hm?"


Kinara membuka matanya. Menatap manik mata suaminya, lalu tersenyum. Kinara mengangguk. Iya, dia memang harus lepas dari rasa trauma itu. Ada Tama dan kedua anaknya yang ingin melihatnya bahagia.


"Tapi, Mas. Apa kamu tidak kerja? Siapa yang akan menghandle pekerjaanmu kalau kamu nggak kerja?" tanya Kinara sambil menatap wajah suaminya lagi.


"Kamu lupa ya? Suamimu ini pemilik perusahaan. Jadi, bebas mau berangkat kerja atau tidak. Lagian aku sudah suruh si Doni untuk mengurus perkerjaanku hari ini. Hari ini juga akan ada sekretaris baru yang membantu pekerjaan Doni. Jadi tidak masalah," jawab Tama.


"Umurnya baru 30 tahun Sayang. Jadi, masih wajarlah membujang. Apalagi dia cowok," jawab Kinara.


"Tapi, kasihan karena dia tidak pernah bisa pergi kencan gara-gara sibuk mengurusi pekejaanmu," balas Kinara lagi. "Tunggu!"


"Ada apa?" tanya Tama bingung.


"Sekretaris baru? Cowok apa cewek? Siapa namanya? Berapa usianya? Sejak kapan?" Kinara memberondong Tama dengan berbagai pertanyaan.


"Iya, dia baru masuk hari ini. Cewek, namanya kalau nggak salah Lita. Usianya... 22 tahun," jawab Tama sambil mengingat-ngingat nama sekretaris yang baru direkrut kemrin.


"Cantik?"

__ADS_1


"Hmm... lumayan. Setidaknya bisa untuk cuci mata," jawab Tama yang langsung membuat Kinara menekuk wajahnya.


"Ada apa? Jangan bilang kalau kamu cemburu?" tanya Tama saat melihat ekspresi wajah istrinya.


"Dia duduk di meja yang sebelumnya aku tempati?"


Tama mengangguk. "Kan itu memang meja untuk sekretaris."


"Ganti!" ucap Kinara tiba-tiba.


"Ganti? Apanya yang mau diganti?"


"Sekretarianya lah. Aku mau sekretaris yang menggantikan aku itu laki-laki. Atau kalau mau perempuan, cari yang usianya lebih dari 40 tahun, kalau perlu yang seusia Bik Sumi," jawab Kinara.


Tama terkekeh. "Kalau seusia Bik Sumi, sebentar lagi dia pensiun dong? Masa aku harus memberikan dana pensiun kepada orang yang baru bekerja sih? Bisa rugi dong," jawab Tama.


"Pokoknya aku nggak mau kalau sekretarismu wanita muda. Nanti kalau dia ganjen gimana?" Kinara bersungut-sungut. Padahal baru beberapa saat yang lalu wanita itu terlihat sangat sedih karena mengingat masa lalunya. Tapi, sekarang wanita itu malah memperlihatkan perasaan cemburunya hanya karena mendengar ada sekretaris baru yang bakal menggantikannya sebagai sekretaris dari suaminya.


"Kamu cemburu?" Tama kembali melontarkan pertanyaan yang sama sambil menatap kedua bola mata cantik Kinara.


Kinara tidak menjawab, dia hanya melengos menghindari tatapan dari suaminya.


"Sayang, siapa pun wanita yang akan menjadi sekretarisku. Tidak akan membuatku berpaling darimu. Kalau aku tipe orang yang mudah berpaling, pasti sudah dari dulu aku menjalin kasih dengan wanita. Tapi, buktinya? Kamulah wanita pertama yang berhasil mencuri hatiku setelah kematian Kiara."


"Itukan karena kamu mengira kalau aku lebih baik dari mereka. Tapi, sekarang kamu tahu kalau aku memiliki kekurangan. Aku sakit mental."


"Aku juga dan kita sama," jawab Tama. Tama mendorong dagu Kinara dengan jari telunjuk untuk membuat istrinya itu kembali menatap wajahnya.


"Aku mencintaimu, Nara. Sangat mencintaimu," ucap Tama sambil menatap kedua bola mata Kinara. Kedua tangannya bergerak turun memeluk pinggang ramping istrinya tersebut agar lebih mendekat ke arahnya.

__ADS_1


Hembusan napas Tama menyapu wajah Kinara. Tama sedikit memiringkan kepalanya dan perlahan memangkas jarak wajahnya dengan wajah Kinara. Dia menatap bibir berwarna pink yang sejak tadi begitu menggodanya. Namun, saat Tama ingin mendaratkan bibirnya di sana, tiba-tiba Kinara menutup mulutnya dengan telapak tangan.


Kinara menggeleng dan itu membuat dahi Tama bertaut menatapnya dengan penuh tanda tanya.


__ADS_2