Sebatas Ibu Sambung

Sebatas Ibu Sambung
Bab 48


__ADS_3

Kinara mendesah ketika Tama tidak membalas pesanya. Padahal dia sudah bersusah payah memakai baju seksi kado pernikahan dari teman kantornya. Bahkan dia juga sudah mewarnai bibirnya dengan warna merah menyala. Katanya jika memakai baju dan riaasan seperti itu, suami kita pasti akan langsung pulang dimana pun dia berada. Sayangnya hal itu tidak berlaku bagi seorang Tama Wijaya. Sudah satu jam sejak ia mengirim pesan gambar itu, Tama belum juga membalasnya.


"Apa hasrat kelaki-lakianya ikut hilang bareng mantan istrinya? Masa aku sudah dandan seseksi ini dia masih belum tertarik juga?" keluh Kinara. Dia menatap pantulan dirinya di depan cermin meja rias.


"Tidak ada yang salah dengan diriku. Tubuhku juga lumayan ****. Meskipun wajahku gak cantik-cantik amat, tapi masih bisa lah dinikmati. Tapi, kenapa dia tetap tidak tertarik ya?" Kinara membatin. "Sudahlah! Dari pada aku menunggu yang nggak tahu kapan pulangnya, mending aku tidur saja."


Kinara mengambil piyama dari dalam lemari untuk membalut tubuh. Ia kemudian menghempaskan dirinya di atas tempat tidur.


***


Mirna sampai di depan gerbang pintu rumah Tama sekitar jam dua pagi. Gara-gara kelamaan di rumah Reni dan Susanto, dia jadi ketinggalan bus terakhir yang menuju ke alamat rumah majikanya. Apalagi dia tidak bisa memesan angkutan lewat apliksai online karena ponselnya masih di tukang service. Dan untuk mendapatkan angkutan umum yang bisa membawanya, dia harus berjalan selama hampir satu jam. Beruntung tidak ada begal atau semacamnya hingga akhirnya ia bisa tiba di rumah ini dengan selamat.


"Hah." Mirna menghela napas panjang. Wanita itu terpaksa merogoh kocek lebih banyak demi bisa menggaet om dan tante Kinara agar mau bekerjasama denganya. Sayangnya pasangan rakus itu tidak mau menjanjikan apa pun padahal ia sudah memberi DP 5 juta.


"Awas saja kalau ternyata mereka gak mau bantuin aku," gumam Mirna. Dia segera memanggil security yang sedang duduk di pos keamanan untuk membuka gerbang. "Pak, Pak Darmo! Tolong bukain pintu gerbangnya!" suruh Mirna.


"Lho Mbak Mirna. Darimana toh? Kenapa jam segini baru pulang?" Pak Darmo yang mengenali Mirna sebagai pengasuh dari Si Kembar Taki dan Maki segera membuka pintu. Apalagi kebetulan, Tama juga baru saja. pulang.


Laki-laki berwajah dingin itu pun turun dari dalam mobil. "Pak Mo, tolong bawa masuk mobilku ke garasi samping!" suruh Tama sambil menyerahkan kunci kepada Pak Darmo.


"Baik, Pak," jawab Darmo.


Tama melirik sinis Mirna yang masih berdiri di dekat pagar.


"Maaf, Pak saya.... "


"Istirahatlah, aku tidak suka pekerja yang bangun kesiangan!" Tama mengatakan itu tanpa melihat ke arah Mirna. Dia langsung berjalan masuk ke dalam rumah.


"Sudah sana, Mirna. Masuk dan istirahatlah, jangan sampai besok bangun kesiangan kalau kamu nggak mau dipecat." Pak Mo ikutan berkomentar.


"Iya, ini juga aku mau masuk," ketus Mirna. Dia begitu kesal karena Tama tidak mempedulikanya. Pengasuh dari Taki dan Maki itu pun ikut masuk ke dalam rumah.

__ADS_1


"Darimana sih kamu, Mir. Kok jam segini baru pulang? Aku dari tadi khawatir kamu kenapa-napa, mana hp kamu rusak kan ya." Bik Sumi yang sejak tadi memang menunggu kepulangan Mirna itu berkata.


"Pokoknya banyak deh alasanya," jawab Mirna. "Ohya, Bik Sum. Ada makanan nggak? Aku laper belum makan malam."


"Wah, sayang sekali. Tadi Bibik pun nggak masak karena harus gantiin kamu jagain si kembar," jawab Bik Sumi.


"Lha terus tadi Bik Sumi, Den Tama, dan Den Maki makan apaan?"


"Kami berempat tadi makan nasi goreng yang kami buat bersama-sama, rasanya menyenangkan," jawab Bik Sum sambil senyum-senyum.


"Berempat? Kan kalian kan cuma bertiga?" Mirna mengerutkan dahi.


"Ish, kowe kuwi apa gak ingat kalau di rumah ini ada Nyonya Nara?" protes Bik Sumi.


"Ouh, perempuan yang udah merebut posisiku. Aku nggak ingat karena sampai kapan pun aku nggak akan ngakuin dia sebagai nyonya rumah ini, apalagi istrinya Pak Tama," jawab Mirna dengan nada tidak suka. Karena memang dari awal ia sudah tidak menyukai Kinara bahkan sejak awal bertemu dengan wanita itu.


"Hust! Jangan gitu. Kalau Pak Tama atau Nyonya Nara denger bisa dipecat kamu!" Bik Sumi memukul lengan Mirna. "Lagian... kamu tuh masih ngigau atau gimana sih? Darimana ceritanya Nyonya Nara merebut posisi kamu wong kamu bukan apa-apanya Pak Tama selain pengasuh dari Den Taki dan Den Maki? Makanya jangan kebanyak halu biar sadar diri!" omel Bik Sumi.


"Sadar, Mirna! Sadar! Mimpi tuh yang wajar! Jangan sampai kamu jatuh karena terlalu tinggi berkhayal!" Bik Sumi berusaha menyadarkan rekan sejawatnya itu.


"Apaan sih, Bik Sumi! Udah ah kalau emang nggak ada makanan, aku mau tidur mau mimpiin Pak Tama," jawab Mirna sambil berlalu dari perempuan berumur lebih dari setengah abad itu.


Bik Sumi hanya bisa menggeleng melihat tingkah laku Mirna yang semakin tidak sadar diri. Wanita itu pun kembali masuk ke kamarnya.


***


Kinara menggeliat saat mendengar pintu ruang kerja suaminya dibuka. "Apa Mas Tama sudah pulang ya?" gumam Kinara. Dia pun segera bangun dari posisinya dan segera masuk ke ruang kerja itu.


Tama tersentak kaget kala melihat Kinara sudah berdiri di depanya. "Kalau masuk ke ruang kerjaku harusnya ketuk pintu dulu!" tegur Tama.


"Iya, maaf. Aku kan cuma mau mastiin aja kalau kamu beneran sudah pulang," jawab Kinara sambil tersenyum.

__ADS_1


Tama yang sedang melepas kancing kemejnya langsung menghentikan ativitasnya tersebut saat melihat Kinara msih berdiam diri di tempatnya. "Apa ada sesuatu yang ingin kamu tanyakan kepadaku?" tanyanya.


"Kamu beneran nyoba wanita-wanita itu, Mas?" tanya Kinara.


"Apa?" Tama menatap wajah wanita yang menjadi istrinya tersebut.


"Tidak. Lupakan saja," jawab Kinara. "Sebelum tidur mandilah dulu. Aku akan siapkan air hangat untuk kamu mandi."


Kinara hendak meninggalkan ruang kerja suaminya. Namun, baru satu kali melangkah, Tama sudah menghentikan langkahnya dan mencekal pergelangan tanganya.


"Aku tidak tahu apa yang kamu pikirkan dengan mengirim foto seperti itu. Tapi, jangan pernah lakukan itu lagi karena aku tidak suka. Kamu terlihat... murahan dengan melakukan hal bodoh itu." Kinara menatap lekat kedua bola mata suaminya. Dia tidak percaya kalau laki-laki yang berdiri di hadapanya tega mengatakan hal seperti itu.


"Murahan?" Kinara mengulang perkataan Tama barusan, terutama di bagian kata


'murahan'. "Apa itu yang kamu pikirkan tentangku?" sinisnya. Ada sesuatu yang serasa diremas saat mendengar kata itu dari mulut suaminya.


Tama melengos.


"Baiklah, karena kamu sudah menganggapku murahan. Maka akan tunjukan bagaimana murahnya diriku dihadapanmu."


Tama kembali menetap Kinara dengan dahi berkerut.


Perlahan Kinara melepas tali kimono yang dipakainya, kemudian menghempaskan begitu saja di lantai.


"Mau apa kamu?" tanya Tama. Dia gugup karena melihat hal yang sama dengan foto yang Kinara kirimkan tadi.


"Menunjukan bagaimana murahnya aku dihadapan suami sendiri," jawab Kinara sambil menyeringai.


"Ap... apa yang mau kamu lakukan?" tanya Tama gugup. Suaranya seolah tercekat di tenggorakan kala Kinara malah mengalungkan kedua tangan di lehernya.


"Menurutmu apa yang dilakukan dua orang dewasa yang sudah sah menjadi pasangan suami istri?" tanya Kinara sambil mengedipkan sebelah mata.

__ADS_1


Dan tiba-tiba.....


__ADS_2