Sebatas Ibu Sambung

Sebatas Ibu Sambung
Bab 49


__ADS_3

Kinara tertawa terbahak dan membuat dahi Tama berkerut sambil menatap Kinara dengan tatapan bingung.


"Mulutnya saja bilang aku murahan, tapi lihat wajah kamu berubah merah seperti itu," sindir Kinara. "Kamu bahkan kelihatan sangat gugup. Lalu.... " Kinara menjeda kalimatnya. Dia mendekatkan mulut di telinga Tama.


"Bagian bawahmu juga berkata lain, dia bereaksi melihat tubuhku," bisik Kinara sambil melirik bagian bawah Tama yang jelas sudah kelihatan menyembul. "Mau aku lanjutin?" tawar Kinara dengan sorot mata yang dibuat menggoda.


Tama kembali melengos.


"Kalau nggak mau ya sudah. Aku juga tidak mau menghabiskan malam dengan laki-laki yang tidak menginginkan aku, meski dia adalah suamiku." Kinara menjauhkan kepala dari telinga Tama dan melepas kedua tangan yang tadi sempat ia kalungkan pada leher suaminya tersebut. Kemudian mengambil piyama yang teronggok di lantai dan memakainya.


"Karena kamu tidak menginginkanku, aku keluar ya, Mas. Jangan lupa mandilah sebelum tidur agar besok bangun lebih fresh." Kinara berujar. Dia memegang handle pintu dan sebelum memutar knocknya, ia kembali memutar badan dan berkata, "Jangan lupa tidurkan itumu juga."


Tanpa berkata apa-apa lagi Kinara keluar dari kamar suaminya. Dia menyandarkan kepala pada daun pintu sambil menghela napas panjang.


"Apa aku kuat terus begini? Meski aku tahu sikap dingin dan perkataan pedasmu terhadapku karena janji, tetap saja itu rasanya sakit." Kinara meremas dadanya yang terasa sakit meski tak berdarah. Entah sudah keberapa kali, pria yang sudah mulai menguasi relung hati terdalamnya tersebut melakukanya. Hembusan napas berat kembali keluar dari mulut mungil Kinara. Ia kemudian berbalik badan manatap sendu pintu kamar kerja suaminya sebelum akhirnya masuk ke kamarnya sendiri.


Tama sudah mengunci pintu ruang kerjanya sesaat setelah Kinara keluar. Dia tidak mau kejadian yang hampir menggoyahkan pertahananya itu terulang lagi. Bagaimana pun, Tama adalah seorang laki-laki normal yang masih memiliki hasrat yang harus disalurkan. Dia segera ke kamar mandi dan masuk ke dalan bathup tanpa melepas pakaianya. Dia harus segera mendinginkan tubuhnya yang mulai panas, juga kepala agar tidak berpikiran kemana-mana.


Tama memang berhasil memendam semua hasrat itu selama 5 tahun ini karena memang tidak ada satu wanita pun yang berhasil menarik pikiran apalagi hatinya. Namun, berbeda dengan Kinara. Wanita itu mulai merasuki pikiran bahkan hati pria yang selalu bersikap dingin itu. Ketulusan Kinara dalam mencintai kedua anaknya dan perjuanganya dalam meraih perhatiannya mampu membuat hati Tama mencair bahkan mulai menghangat. Bahkan perasaan ingin memiliki Kinara seutuhnya itu seringkali menggoda iman. Terlebih malam ini, apalagi ini bukan pertama kalinya Kinara merayunya. Meski ia tahu rayuan tersebut hanya untuk sekedar menggodanya, tetap saja hal itu perlahan memporak-porandakan hatinya. Seperti malam ini. Akal logis Tama berusaha mati-matian menahan hasrat itu untuk tidak keluar, namun nyatanya tubuh tidak sejalan. Bagian bawahnya malah bereaksi bahkan minta untuk segera disalurkan. Hampir saja dia ingin menahan Kinara dan melampiaskanya. Namun, janjinya kepada sang mantan mertua menggema di kepala dan membuatnya urung melakukan hal tersebut.


"****! Kalau dia terus bersikap seagresif itu bisa tiap hari aku terpaksa menidurkan ini sendiri," umpat Tama. Dia memukul air yang ada di dalam bathup dengan sekuat tenaga.


Lima belas menit sudah Tama berendam di dalam bathup dan akhirnya mulai bisa mengendalikan tubuh. Namun, itu tak berlangsung lama. Bibir berwarna merah menyala dan lekuk tubuh Kinara yang berbungkus pakaian haram itu kembali terbayang di pelupuk mata dan tentu saja hal tersebut kembali menyiksanya. Tama yang awalnya ingin mengakhiri mandinya, terpaksa harus kembali berendam.


"Kia, apa kamu akan marah jika aku memiliki keinginan untuk memiliki Kinara? Tidak hanya hati, aku pun mulai menginginkan dia seutuhnya." Tama bermonolog.


Tama menyandarkan kepala pada pinggiran bathup sambil memejamkan mata.

__ADS_1


*


"Mas bangun! Ini sudah siang, apa kamu tidak kerja?" Mata Tama membola saat melihat Kiara berdiri di hadapanya.


"Kia, ini kamu? Ini beneran kamu?" tanya Tama dengan mata berkaca-kaca. Dia segera bangun dan memeluk erat tubuh istrinya tersebut.


"Mas, aku bahagia karena anak-anak sudah menemukan sosok penggantiku. Dan... aku akan lebih bahagia kalau kamu juga bisa melanjutkan hidupmu dengan bahagia."


Tama merenggangkan pelukan dan menatap kedua bola istrinya itu.


"Ikuti kata hatimu, Mas. Jangan sampai kamu menyesal. Kamu boleh terus mengenangku, tapi jangan menjadikan kenangan itu sebagai ganjalan untukmu meraih kebahagiaan. Aku akan berbahagia saat melihatmu juga bahagia. Jadi, tolong dengarkan kata hatimu!" ucap Kiara. Wanita itu tiba-tiba bangkit kemudian tersenyum sambil melambaikan tangan.


"Kia, kamu mau kemana? Kia," panggil Tama. Bayangan Kiara itu seolah terbang ke atas dan makin lama makin hilang.


*


"Kia!"


Tama terbangun dengan napas tersengal. Dia memperhatikan sekeliling dan ternyata dia ketiduran di dalam bathup.


"Astaghfirullah hal adzim, ternyata itu mimpi," lirih Tama dengan napas yang masih tidak beraturan. Dia kemudian keluar dari bathup dan menyalakan kran air yang ada di sebelah bathup untuk membilas tubuh.


Tama mengguyur seluruh tubuhnya dengan air yang keluar dari kran tersebut. Perkataan terakhir Kiara sebelum pergi dan menghilang di dalam mimpinya barusan, kembali terngiang di telinga.


"Mendengarkan kata hati? Apa aku boleh melakukanya?" Satu tangan Tama memegang dada sebelah kanan. Dia memejamkan mata sambil meresapi apa yang sebenarnya hatinya inginkan.


Mata Tama kembali terbuka saat bayangan wajah Kinara dengan berbagai ekspresi tiba-tiba muncul. Kinara yang pernah dilihatnya diam-diam menangis, Kinara dengan wajah bersemangat, dan Kinara dengan senyum manis saat menggodanya, semua ekspresi itu berputar di pelupuk mata dan membuat Tama tanpa sadar menarik kedua sudut bibirnya.

__ADS_1


"Apa aku benar-benar boleh melakukanya, Kiara?" ucap Tama.


***


Pagi sudah tiba, seperti biasa sebelum mandi dan berangkat bekerja. Kinara membantu Buk Sumi di dapur untuk menyiapkan sarapan.


Tidak lama Mirna muncul, dia menguap sambil mengikat rambut panjangnya ke atas.


"Bik Sumi, sarapanya udah matang belum?" tanyanya seolah merasa menjadi Tuan Rumah. "Aku lapar karena semalam nggak makan."


"Hei, Mirna! Kamu udah mandi belum? Bangun-bangun bukanya bantu masak malah nanyain makanan. Nggak malu kamu sama Nyonya rumah ini?" omel Bik Sumi.


"Apaan sih, Bik! Aku kan cuma nanya, memang nggak boleh? Lagian nih ya sudah aku bilang kalau sampai kapanpun aku nggak akan mengakui sekretaris itu sebagai nyonya rumah ini, apalagi sebagai istrinya Pak Tama. Big no!"


Bik Sumi langsung mencubit lengan Mirna dengan sangat kuat.


"Aw," teriam Mirna. "Bik Sumu apaan sih? Kenapa kamu nyubit aku? Sakit tahu!" ucap Mirna kesal. Dia mengusap-ngusap tanganya dengan wajah merengut.


Bik Sumi berusaha memberitahu Mirna kalau ada Kinara disana dengan menggunakan isyarat mata. Sayangnya Mirna yang tidak paham malah bingung dengan kode yang ditunjukan oleh Bik Sumi. Meski Bik Sumi tidak menyukai sikap Mirna, tapi dia tahu persis bahwa Mirna seorang single parent yang masih harus membiayai anaknya yang ada di kampung halaman karena mantan suaminya tidak mau bertanggung jawab. Bik Sumi tidak mau, Mirna dipecat gara-gara halunya yang terlalu tinggi.


"Apa sih Bik Sumi ini, kagak jelas!" Mirna malah mengomel. Mungkin efek bangun dari tidur dan nyawa belum terkumpul. Makanya dia tidak melihat keberadaan Kinara disana.


Kali ini Bik Sumi sedikit mendekatkan diri pada Mirna. Dia kembali mencubit lengan Mirna sambil berbisik, "Nyonya Nara ada di.... "


"Ehem!" Kinara yang sejak tadi diam mendengar ocehan tidak jelas Mirna, sengaja mengeraskan suara dehemanya. Sontak saja hal tersebut membuat Mirna terkejut dan sedikit berjungkat.


Mirna melirik Bik Sumi, seolah protes kenapa orang tua itu tidak memberitahu bahwa Kinara ada di sana. Bik Sumi hanya mengedikan bahu. Salah sendiri kenapa dari tadi nyerocos aja, kena batunya kan? Itulah yang ada di hati Bik Sumi.

__ADS_1


"Nyo... Nyo... Nyonya.... " ucap Mirna terbata. Wajah songong yang sempat diperluhatkan di hadapan Bik Sumi, raib seketika. Dan berubah menjadi pucat pasi. Dia menunduk dan ketakutan saat Kinara mulai berjalan mendekat ke arahnya.


__ADS_2