
"Beneran, Ren. Kamu mau bantu si Mirna buat ngedapetin Tama?" tanya Susanto kepada istrinya yang sedang menggoreng tempe mendoan di dapur.
"Bisa dibilang iya, bisa dibilang tidak," jawab Reni sambil mengangkat mendoan yang sudah matang dan meniriskan. Tanganya kemudian memasukan lagi tempe berlumuran tepung yang masih mentah lagi ke dalam wajan berisi minyak goreng di hadapanya.
"Maksudnya, Ren?" tanya Susanto bingung. Dia tidak mengerti maksud dari jawaban istrinya tersebut.
"Kamu ingat ekspresi si Tama waktu acara pernikahan?" Reni menatap lekat wajah suaminya.
Susanto kembali menggali mengingat wajah orang yang dimaksud istrinya di hari itu. Setelah berhasil mendapatkan bayangan ekspresi Tama di hari itu, ia pun mengangguk sambil berkata, "Sombong, cuek, dingin, dan terkesan tidak memiliki perasaan apa pun terhadap Nara. Ekspresi itu berbeda jauh dengan ekspresi yang ia tunjukan ke kita saat dia mendatangi kita dengan membawa amplop tebal itu."
"Right. Terus apa lagi?"
"Saat mendatangi kita waktu itu, jelas banget kalau dia marah karena kita memanfaatkan Nara. Dia juga terlihat sangat perhatian dan tidak ingin siapa pun membuat Nara terluka." Susanto menjabarkan hal yang ia tangkap dari ekspresi Tama itu. "Terus inti dari itu apa?" Susanto masih tidak mengerti.
"Mas, Mas, makanya yang dipikiran jangan cuma duit, duit, dan duit mulu. Makanya tuh otak jadi lemot mikir. Sekali-kali gunain tuh otak buat nyari duit," jawab Reni sekalian menyindir.
"Apaan sih, Ren? Kita ini lagi bahas soal si Tama, kenapa jadi merembet bahas tentang aku?" protes Susanto.
Reni mengangkat kembali goreng mendoan yang sudah matang dari dalam wajan dan meniriskanya lagi. Dia kemudian mematikan kompor, lalu menatap wajah suaminya lagi.
"Kok udah kelar aja, Ren? Memangnya menu sarapan kita pagi ini cuma goreng mendoan doang?" tanya Susanto karena melihat Reni mematikan kompornya.
"Karena bahan makanan yang kita punya cuma ini, makanya buruan kerja," jawab Reni.
"Lho memang uang 5 juta dari Mirna semalam sudah habis?"
"Mas, lupa kita nunggak belum bayar kontrakan? Tadi subuh-subuh yang punya kontrakan dateng minta uangnya ya aku kasih lah, dari pada palaku pusing denger ocehannya."
"Kan bayar kontrakan rumah cuma 3 juta, masih sisa 2 juta. Berarti masih ada dong?"
__ADS_1
"Hei, Mas. Kamu lupa kalau selain belum bayar kontrakan, kita juga punya utang di warung?" Reni melotot. "Tadi itu rencananya aku mau beli daging ayam buat lauk kita pagi ini, eh yang punya warung nyindir-nyindir katanya kepinakannya nikah sama pemilik perusahaan gede kok belanja aja kas bon? Mana udah numpuk utangnya? Karena aku kesel ya aku bayar lah utang itu pakai sisa uang yang dari Mirna 2 juta."
"Memangnya utang kita di warung sebanyak itu? Perasaan nggak sampai segitu kan?" tanya Susanto mulai menghitung berapa kali ia ngutang ke warung.
"Nggak sih cuma 500 rebu."
"Terus kenapa habis? Harusnya masih sisa 1,5 juta dong? Sini bagi aku 500 rebu!" pinta Susanto dengan tangan menengadah.
"Itu aku belum selesai jelasin, bambang," ujar Reni yang mulai emosi.
"Ren, kamu kasih uang itu ke Bambang?"
"Ya Allah, Mas. Gini nih kalau otak nggak pernah buat mikir, jadi tumpul."
"Apaan sih, Ren? Udah jelasin aja siapa itu Bambang dan kemana uang 1,5 juta itu habis!" ujar Susanto tanpa rasa bersalah.
"Tadi itu waktu aku ngambil uang buat bayar utang di warung, kebetulan ada istrinya Pak RT dateng, dia minta kita bayar iuran kas RT yang udah setahun gak dibayar. Di tambah lagi tuh pemilik angkringan yang jualan di depan pasar sana, dia juga ikutan nagih utang kamu. Katanya kamu kalau nongkrong di ankringannya suka gak bayar dan total utang kamu di ankringan itu hampir 1,5 juta. Memangnya kamu ngerokok berapa bungkus semalam sampai habis segitu banyak dalam waktu cuma seminggu?" Reni menatap Susanto dengan tatapan menyelidik.
"3-4 orang? Rokok yang kamu isep sebungkusnya itu 30 ribuan lebih, kali 3-4 orang berapa tuh, belum kali seminggu. Pantas aja habis habis segitu banyak. Makanya sisa uang itu langsung ludes. Untung masih ada sisa buat beli tempe, tepung, sama minyak goreng. Makanya kita bisa makan pakai itu, kalau enggak hari ini kita cuma makan lauk pakai garam," jawab Reni dengan gemas.
"Kenapa gak ngutang lagi sih, Ren. Kan kamu udah ngelunasi utang kamu di warung?"
"Tukang warungnya udah nggak mau ngutangin lagi," jawab Reni.
"Terus berasnya dari mana kalau kamu sudah nggak dibolehin utang lagi?" tanya Susanto.
"Itu beras lama, waktu Nara belanja bulanan buat kita bulan kemarin. Dan utang di warung itu juga kebanyakan utang kita yang sudah lama. Kan selama ada duit dari Si Tama itu kan, kita selalu makan di luar. Beli ini itu, padahal semuanya bukan barang penting. Makanya duit 100 juta itu cepet habis," keluh Reni. "Aku nyesel gak bisa memenage keuangan kita. Makanya semua jadi kayak gini."
Susanto hanya bisa diam, tidak berani berkomentar lagi. Hening. Itulah yang terjadi untuk beberapa saat. Setelah beberapa menit Susanto mengangkat satu tanganya.
__ADS_1
"Ada apa? Masih mau menanyakan kemana uang-uang itu pergi?" tanya Reni kesal. Susanto menggeleng.
"Terus?"
"Kamu belum memberikan aku penjelasan soal maksud omongan kamu tentang Mirna, Nara, dan Tama," jawab Susanto.
"Oh iya, lupa. Kita kan lagi bahas itu yak? Kenapa jadi merembet ke yang lain-lain." Reni menepuk jidat.
"Maksud aku gini, Mas. Kayaknya hubungan Nara dan Si Tama itu belum benar-benar harmonis. Mungkin saja mereka nikah karena terpaksa, demi anak mereka mungkin. Padahal kalau dilihat dari ekspresi si Tama pas kemari, laki-laki itu peduli banget sama Nara. Itu artinya dia cinta kan sama Nara? Nah, aku pingin menghadirkan sosok laki-laki lain diantara Nara dan Tama."
"Lho kok?"
"Ya... kalau Nara akhirnya kepincut sama laki-laki ini, artinya dia dan Tama nggak jodoh. Tapi, kalau laki-laki ini bisa membuat si Tama sadar Nara berarti buat dia, Si Tama pasti bakalan makin bucin kan sama Nara? Siapa tahu setelah itu kita bisa manfaatin Nara lagi. Nara itu kan orangnya gak tegaan, dia bilangnya gak akan peduli sama kita lagi. Tapi, coba deh lihat nanti kalau kita bilang kita menderita, dia pasti bakal ngasih uang ke kita lagi."
"Memangnya kamu mau ngehadirin laki-laki mana? Lagian kalau laki-laki itu dibawah Tama, mana Nara tertarik lah dan mana mungkin si Tama bakal cemburu." Susanto mengambil satu mendoan dan memasukanya ke dalam mulut.
"Kamu ingat si Reno? Teman Nara yang dari SD itu lho?"
Susanto kembali mengingat-ingat sosok Reno ini. "Maksud kamu Reno yang anaknya konsulat itu? Yang dulu sering datang ke rumah dan bawa lari Nara kalau kita lagi ngomelin si Nara?" tanya Susanto. Reni mengangguk. "Tapi, bukanya si Reno ikut orang tuanya ya ke luar negeri?"
"Tadi, aku dengar di warung katanya Reno udah balik dari luar negeri. Mereka juga pada bilang, kalau Reno lagi buka cabang perusahaan baru di Jakarta."
"Jadi, kita akan nyari Reno gitu? Terus kalau ternyata Reno udah punya calon gimana?" tanya Susanto lagi.
"Ah, masa bodoh sama calonya. Yang penting kita dekatkan lagi si Reno sama Nara. Lagian tujuan kita kan cuma bikin buat si Tama cemburu."
"Iya juga ya," sahut Susanto sambil manggut-manggut.
"Nah dengan begini kan artinya kita bantuin si pengasuh ganjen itu dan Nara sekaligus. Jadi, meski duitnya kecil sementara kita juga bisa manfaatin si Mirna."
__ADS_1
Reni dan Susanto pun tertawa senang. Setidaknya untuk sementara mereka tidak akan pusing soal uang.
"Nanti Mas mulai cari tahu dimana Reno tinggal, kalau sudah ketemu aku kasih tahu rencana selanjutnya." Reni mengakhiri pembicaraan.