
Tama menatap malas pada orang yang bertamu ke rumahnya pagi ini. Kedatangan mereka sudah dapat dipastikan memiliki niat terselubung.
"Dari mana kalian tahu alamat rumahku?" tanya Tama kepada sepasang suami-istri yang tidak memiliki malu tersebut.
"Menemukan alamat rumah seorang Tama Wijaya mah soal mudah. Hampir semua orang di kota ini juga tahu," jawab Susanto.
"Ohya, ini saya bawakan buah rambutan untuk anak-anak Anda." Reni menunjukan satu kantong keresek berukuran besar berisi buah rambutan kepada Tama dengan menentengnya ke atas. "Tapi kami boleh masuk kan? Di luar gerah."
Sebelum diizinkan suami istri yang tidak tahu malu tersebut nyelonong masuk ke dalam rumah. Mereka langsung duduk di sofa tanpa dipersilakan. Reni kemudian meletakan kantong plastik tersebut di dekat sofa.
"Boleh minta minum nggak, kami haus?" pinta Reni dengan pedenya.
"Siapa yang datang, Mas?" tanya Kinara.
"Hallo Nara, apa kabar?" Reni dan Susanto melambaikan tangan. Mengetahui yang datang bertamu adalah om dan tantenya membuat Kinara menghela napas panjang.
"Ada apa kalian datang ke sini?" tanya Nara dengan nada malas.
"Ish, dasar keponakan tak tahu adab. Ada om dan tantenya datang malah bertanya ada apa? Memang tidak boleh kami datang mengunjungimu?"
Kinara memilih tak menjawab karena malas berdebat.
"Mentang-mentang sudah tinggal di rumah mewah kamu lupa sama om dan tantemu ini. Tapi, tidak apa-apa kami tidak marah," ujar Reni yang kemudian tersenyum. Kinara yang tahu persis dengan sifat om tantenya sudah bisa menebak pasti ada sesuatu yang mereka inginkan darinya.
"Oh iya, tante bawakan buah rambutan buat anak-anak tirimu. Itu kami petik dari pohon buah rambutan di samping rumahmu." Reni menunjuk kantong plastik yang dia bawa.
Mendengar om dan tantenya menyinggunggung soal pohon buah rambutan di samping rumahnya, Kinara paham maksud dari kedatangan mereka. Pasti tidak jauh-jauh dari urusan rumah.
"Jadi Tante sudah tahu kalau rumah itu sudah ditebus?" tanya Kinara sambil menatap om dan tantenya. Selama ini Kinara sengaja merahasiakan kepada om dan tantenya bahwa rumah peninggalan almarhum kedua orang tuanya tersebut sudah ditebus oleh Tama sebelum mereka menikah karena tidak ingin mereka menempati rumah itu kemudian menggadaikanya lagi. Karena yang kemarin bukanlah hal pertama yang mereka lakukan. Sebelumnya mereka pernah menggadai rumah dengan nominal 50 juta. Dan untuk mencicilnya Kinara terpaksa harus meminjam uang di bank.
Reni mengangguk. "Kebetulan kemarin tante ada perlu sama Pak RT, rencananya mau buat surat pindah. Tapi, Pak RT bilang kalau rumah itu sudah ditebus dan beberapa hari yang lalu kamu dan suamimu pernah kesana. Kenapa kamu nggak ngasih tahu om dan tantemu ini kalau rumah itu sudah ditebus sih?" protes Reni.
"Buat apa aku ngasih tahu kalian, gak penting juga kan?" jawab Nara.
"Ya pentinglah, Nara. Kan kami bisa tinggal di sana buat jaga rumah kamu," balas Reni dengan tidak tahu malunya. "Kami kesulitan tinggal di rumah kontrakan yang kecil itu, rasanya engap dan gerah karena tidak ada ac-nya."
__ADS_1
"Sayangnya aku tetap nggak akan ngizinin kalian tinggal di rumah itu lagi. Lagi pula, meski rumah itu sudah ditebus, bukan aku yang menebusnya. Jadi, dengan kata lain rumah itu sudah bukan miliku lagi," jelas Kinara.
"Lho kok bisa?" Reni dan Susanto melotot.
"Rumah itu sekarang menjadi milik Mas Tama, semua sertifikatnya juga masih ada sama dia. Karena dia memang hanya meminjamkan aku uang dan aku bisa memiliki rumah itu lagi kalau sudah mengembalikan uang yang Mas Tama gunakan untuk menebus rumah," jawab Kinara berbohong.
Awalnya Tama ingin protes saat mendengar penjelasan Kinara kepada om dan tantenya karena semua hal yang Kinara jelaskan tak satu pun benar. Ia menebus rumah itu memang untuk Kinara, bukan hanya meminjamkanya. Namun, saat melihat Kinara memberikan kode dengan isyarat mata, ia akhirnya mengiyakan.
"Tapi... bukankah kalian sudah menikah? Berarti harta suami juga harta istri dong?" Reni masih berusaha mencari celah.
"Itu kalau harta yang dihasilkan setelah menikah. Kan Mas Tama menebus rumah itu sebelum kami menikah, jadi rumah itu bukan termasuk harta kami, tapi harta Mas Tama." Kinara menekankan kata 'Harta Mas Tama.'
"Tapi, Nara... masa sih Tama nggak mau ngasih rumah itu ke kamu?" ucap Reni.
"Kalau aku ngasih rumah itu ke Kinara kalian mau apa memangnya?" ini bukan Kinara yang menjawab melainkan Tama.
"Setidaknya kami bisa numpang tinggal di sana," jawab Reni yang masih tak tahu diri itu.
Tama menggeleng. "Apa uang 100 juta yang aku berikan waktu itu sudah habis?" pertanyaan Tama kepada Reni dan Susantu membuat Kinara menatap Tama dengan tanda tanya.
"Tante kembalikan uang yang diberikan Mas Tama kepada kalian! Cepat kembalikan!" suruh Kinara. Dia sangat malu karena tahu ternyata om dan tantenya juga menerima uang dari Tama dengan jumlah yang lumayan besar.
"Kenapa kami harus mengembalikanya? Dia sendiri yang tiba-tiba ngasih uang itu ke kami, lagian uang itu juga habis digunakan sama om-mu buat judi online," jawab Reni yang entah kemana rasa malunya itu pergi, mungkin sejak lahir tantenya tersebut memang lupa diberi rasa malu oleh Tuhan.
"Kalian tidak lupakan dengan janji kalian waktu menerima uang tersebut kan?" Tama menatap tajam sepasang suami istri yang duduk di sofanya.
Reni dan Susanto gelapan, keduanya salah tingkah seolah bingung harus memberikan jawaban seperti apa.
"Sekarang keluar dari rumah ini dan jangan pernah kalian menemui Kinara lagi! Satu lagi, jangan pernah meminta apa pun kepada Nara atau aku akan menjebloskan kalian berdua ke penjara. Cepat pergi dari sini!" usir Tama kepada sepasang suami istri itu.
"Nara, tolong bantu kami. Tante mohon, kami benar-benar tidak punya uang sama sekali!" Reni terus menghiba meminta belas kasihan.
"Maaf, aku tidak bisa," jawab Kinara. Sebenarnya dia agak kasihan dengan om dan tantenya jika memang mereka sama sekali tidak memiliki uang. Tapi, jika kedua orang itu terus dikasihani keduanya tidak akan pernah bisa berpikir untuk bekerja dan akan terus meminta bantuannya.
"Nara, kamu tega melihat kami jadi gelandangan?" kini giliran Susanto yang memasang wajah memelas.
__ADS_1
Kinara menghembuskan napas berat lalu menatap om dan tantenya. "Kalian punya tangan dan kakikan? Tubuh kalian juga masih sehat, jadi gunakan anugerah yang Allah kasih itu untuk mencari uang," jawab Kinara.
"Cepat pergi dari sini dan jangan pernah injakan kaki kalian di rumah ini!" kembali Tama mengusir mereka.
"Awas ya kalian, suatu saat kami pasti akan membalas ini!" cicit Reni. Dia bersama denhan suaminya lalu pergi meninggalkan rumah Tama.
"Jadi, kamu memberi mereka uang Mas? Kenapa kamu tidak bilang kepadaku?" protes Kinara setelah om dan tantenya sudah benar-benar tak lagi terlihat.
"Untuk apa?" Tama justru balik tanya.
"Kamu sudah mengeluarkan banyak uang untuk menikah denganku. Dari menebus rumah, bayar hutang kepada rentenir dan sekarang aku tahu kalau kamu juga memberikan uang 100 juta kepada om dan tanteku. Aku benar-benar malu karena merasa sudah memanfaatkanmu," jawab Kinara.
"Sudah. Tidak perlu dipikirkan! Lagian uangku banyak dan uang segitu tidak ada apa-apanya dibanding dengan kebahagiaan kedua putraku," jawab Tama.
"Sebentar!" suruh Kinara.
"Mau apa kamu?"
Kinara kemudian menaiki tangga menuju ke kamarnya. Beberapa saat kemudian dia sudah kembali berdiri di hadapan Tama dengan sertifikat di tangan.
"Terima ini dan simpanlah!"
Dahi Tama berkerut dengan hal yang dilakukan oleh Kinara.
"Peganglah itu sebagai jaminan. Aku akan mengembalikan semua uang yang kamu berikan meski dengan cara mencicil."
"Nara, sertifikat itu milikmu. Lagian bukankah itu adalah hal yang sudah kita sepakati sebelumnya?"
"Iya, aku tahu itu kesepakatan kita. Tapi, sekarang aku benar-benar jatuh cinta kepadamu. Jadi, aku tidak mau hanya dianggap sebagai sebatas ibu sambung bagi Taki dan Maki. Tapi, aku juga ingin kamu menganggapku istri. Dan aku akan memulainya dengan mencicil semua uang yang sudah kamu keluarkan untuk menikah denganku," jawab Kinara panjang lebar.
Tama tak tahu lagi harus berkata apa. "Baiklah, terserah kamu." Tama menerima sertifikat rumah dari tangan Kinara.
Kinara tersenyum. Dia berjanji akan mengembalikan semua uang yang Tama keluarkan sebelum menikah denganya. Ia ingin bisa mencintai Tama dengan bangga dan bukan karena merasa berhutang budi.
"Ayo kita kembali ke meja makan! Taki dan Maki pasti nyari kita!" ajak Kinara.
__ADS_1
Tama dan Kinarapun kembali ke ruang makan. Dari balik tembok, seseorang mendengarkan pembicaraan Kinara dan Tama tadi. Dia menyeringai karena akhirnya menemukan senjata yang bisa digunakan untuk membuat Kinara menjauhi Tama. Siapa lagi kalau bukan Mirna. Pengasuh Taki dan Maki tersebut masih berharap bisa menjadi Nyonya Tama Wijaya.